Friday, June 22, 2018

Jalan-Jalan ke Singapura: Bugis - ArtScience Museum - Garden by the Bay - Suntec City

Selasa, 29 Mei 2018

Happy Waisak Day to all my Buddhist Friends ^^

Yup hari ini hari Waisak dan itu juga berarti tanggal merah di Singapura. Pagi-pagi kami berangkat dari hotel pukul 8 naik bus menuju Bugis+. Rencananya kami mau beli oleh-oleh di pasar Bugis, setelah itu cus deh ke ArtScience Museum. Buat kalian yang mau beli oleh-oleh berupa tas bergambar Merlion atau I Love SG dan kaus dengan sablonan tentang Singapura, pasar Bugis ini adalah tempat yang tepat untuk membelinya. Selain di Bugis, kalian juga bisa belanja di Chinatown sih. Berhubung saat ke Chinatown kami tidak membeli apapun untuk dibawa ke Indonesia, jadi kami memutuskan untuk membelinya di Bugis.

Thursday, June 21, 2018

Jalan-Jalan ke Singapura: Main di Universal Studio

Senin, 28 Mei 2018

Hari ini kami pergi ke Sentosa Island. Tentu kalian sudah tahu dong Sentosa Island tuh tempat untuk apa??? Yup!!! Tempat buat bermaiiiiinnnn. Yuuuhuuuu.
Kami jalan pagi-pagi, sekitar jam 9, berjalan kaki ke stasiun MRT Jalan Besar. Dari situ tujuan akhir stasiun kami adalah Stasiun HarbourFront. Nah sesampainya di HarbourFront, kami masuk ke dalam Vivo City, semacam pusat perbelanjaan gitu. Tapi di dalam sini ada akses monorail menuju pulau Sentosa.

Wednesday, June 20, 2018

Movie Review: Ocean's 8 (2018)

Sebenarnya film ini bisa dibilang sekuel dari film Ocean's sebelum-sebelumnya (Ocean's Eleven, Ocean's Twelve, dan Ocean's Thirteen).  Kalau tak salah ingat sih aku sudah nonton yang Ocean's Eleven. Dan karena sudah nonton film ini, aku jadi pengen nonton semua film Ocean's sebelumnya. Hahaha.
Berhubung sedang libur Lebaran, aku nonton Ocean's 8 di bioskop dekat rumahku di Karawang, yaitu di XXI Resinda Park Mall. Sepertinya film ini bukan film favorit di bioskop Karawang. Habis jadwal tanyangnya cuma ada dua, yaitu jam 13.00 WIB dan 21.00 WIB. Belum lagi studionya juga studio kecil. Beda banget ya sama bioskop Jakarta yang jam tayangnya banyak. Nah sisi bagusnya dari ini, aku ga perlu booking tiket online, hanya walk in saja. Untuk mendapatkan tiket dengan tempat duduk strategis pun tidak pakai ngantri mengular loh. Enak kan??
FYI, aku nonton film ini berlima, dengan mamaku yang kubujuk-bujuk buat nonton, mamanya Grace yang ikut karena mamaku ikut, Grace, sahabat masa kecilku, dan Brian, adik Grace. Mamaku sebenarnya bukan orang yang suka nonton. Berhubung lagi liburan dan mamanya Grace ini juga suntuk dan butuh hiburan bersama teman, jadi kubujuk deh si mama buat ikut juga biar mama Grace juga ga suntuk. Terus si mama juga jadi bisa gosipan sama mamanya Grace. Hehehe.

Sumber: IMDb
Ocean's 8
Sutradara : Gary Ross
Produksi : Warner Bros, Village Roadshow Pictures, Rahway Road Productions, Smokehouse Pictures
Jenis Film : Action, Komedi, Crime
Censor Rating : PG-13
Durasi : 1 jam 50 menit
Sinopsis :
Debbie Ocean (Sandra Bullock) adik dari Danny Ocean merencanakan sebuah perampokan akbar setelah keluar dari penjara dengan dibantu oleh sekelompok geng pimpinannya. Mereka merencanakan pencurian perhiasan senilai $150 juta yang dikenakan oleh artis terkenal (Anne Hathaway) di sebuah acara Met Gala di kota New York.

Friday, June 8, 2018

Jalan-Jalan ke Singapura: Chinatown - Merlion Park - Bugis+

Kali ini aku mau share pengalamanku jalan-jalan ke negeri tetangga, Singapura. Jalan-jalan kali ini bersama papa mama, Olen, Kibo, dan Ray. Kami berenam memang sudah merencanakan pergi ke sini dari beberapa bulan yang lalu dan puji Tuhan kami dapat tiket murah. So happy.
Cerita ini akan aku bagi menjadi empat bagian sesuai dengan jumlah hari liburanku di Singapura. Untuk yang ini aku cerita hari pertama kuberangkat ya. Tujuannya sih biar bisa aku ceritakan dengan detil aktivitasku selama di Singapura. Hehehe. So jangan bosan-bosan mampir di blogku ya! (/◕ヮ◕)/

Minggu, 27 Mei 2018

Kami naik pesawat Scoot dengan fasilitas ekonomi. Scoot ini merupakan anak perusahaan dari Singapore Airline. Dia memberikan tiga pilihan pelayanan, yaitu tiket saja dengan bagasi kabin 7 kg, tiket beserta bagasi 20 kg, dan tiket dengan bagasi 20 kg plus makan. Nah kami memesan tiket dengan bagasi kabin 7 kg saja karena memang itu harga yang paling murah. Tentunya dengan pilihan tersebut, barang-barang terutama yang cream dan cairan memiliki ketentuan sendiri supaya bisa dibawa masuk dalam pesawat. Ketentuannya adalah tempat dari barang cair atau cream tersebut maksimal berukuran 100 ml dan apabila semua barang-barang cair tersebut digabung, tidak melebihi 1 lt kapasitasnya. Berhubung ini penerbangan internasional, tentunya kami harus lebih memperhatikan aturan tersebut. Kalau penerbangan domestik sih bawa air mineral dalam pesawat masih bisa-bisa saja. Hihihi. Perlu diingat, apabila membawa barang cair dengan tempat berukuran lebih dari 100 ml namun isinya memang sudah tinggal sedikit, tetap saja ini dilarang loh guys! Karena ketentuannya memang maksimal tempatnya berukuran 100 ml. Jadi ingat ya ga boleh bawa barang yang lebih dari 100 ml untuk cairan dan cream. Lalu ga boleh juga loh bawa barang berbentuk aerosol atau yang mudah meledak (hair spray). Bahaya! Selain itu, ukuran dari koper yang kita bawa juga tidak boleh melebihi dimensi 54 cm x 38 cm x 23 cm (total dimensi linear tidak boleh melampaui 115 cm). Tujuannya tentu agar koper yang kita bawa bisa masuk ke dalam kabin di dalam pesawat. ^^

Pesawat kami berangkat sekitar pukul 9.45 WIB. Kami (aku, Olen, Papa, Mama) berangkat dari kos Olen (dan kosku sekarang) pagi-pagi sekitar pukul 6 WIB supaya tidak terkena macet. Kami ke bandara Soekarno-Hatta menggunakan jasa taksi online yang bernama Grab Hitch. Lumayan loh guys kalau pakai fitur Grab yang satu itu. Lebih hemat jauh ketimbang memesan Grab Car. Tapi perlu diingat butuh waktu memesan yang lebih lama ketimbang Grab Car. Jadi kalau memang tidak buru-buru, opsi Grab Hitch merupakan pilihan yang bagus!

Kami sampai cukup cepat di bandara terminal 3. Ini kedua kalinya aku menginjakkan kaki di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta. Suasananya begitu berbeda dari terminal yang lama karena desainnya lebih modern. Tidak seperti terminal 1 dan 2 yang menggunakan kayu-kayu jadi terkesan vintage gitu. Di sana kami bertemu dengan Ray dan Kibo yang sudah sampai duluan.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya kami bisa terbang juga ke Singapura. Perjalanan dari Jakarta ke Singapura memakan waktu sekitar satu setengah jam. Waktu di Singapura sendiri lebih cepat satu jam ketimbang waktu di Jakarta. Jadi kami sampai di sana sekitar pukul 13.00 waktu Singapura. Setibanya di sana, yang kami lakukan pertama kali adalah membeli Sim Card agar bisa internetan di Singapura. Ya mau ga mau kami harus beli supaya kami bisa lihat peta dan berkomunikasi. Harga sim card di sana mahal guys! Beda banget sama harga sim card di Indonesia. Untuk membeli satu sim card dengan kuota 12 GB (kalau tak salah) dengan jangka waktu pemakaian hanya 12 hari saja dikenakan biaya $36 yang setara dengan Rp 380.700. Mahal kan?! Jadi kami memutuskan untuk membeli dua sim card saja. Satu untuk papa dan satunya lagi untuk aku. Tapi kalau dipikir-pikir mustinya beli satu saja sih karena dengan satu sim card pun sudah lebih dari cukup. Huhuhu.

Setelah beli sim card, kami pun pergi ke loket tiket MRT untuk membeli tiket MRT. Kami membeli tiket yang satu trip gitu dari Changi ke Stasiun Jalan Besar. Harga perjalanannya sih tidak terlalu mahal. Tidak seperti kereta bandara dari Sudirman ke Soekarno-Hatta. Kalau tak salah hanya $4 saja. Nah setibanya di Stasiun Jalan Besar yang merupakan stasiun terdekat dengan hotel tempat kami menginap, kami pergi ke jalan Berseh untuk menikmati Sungei Road Laksa. Maklum perut kami super keroncongan, jadi check in hotelnya nanti saja setelah kami selesai makan. Hihi. Habis kami harus menentukan pilihan antara makan atau check in dulu karena kalau mau check in kami ke arah kanan, sedangkan kalau mau makan, kami harus ke arah kiri.

Nah Sungei Road Laksa ini berada di kawasan food court gitu guys. Sudah terlihat antrian panjang untuk membeli laksa di sana. Wah wah laksa di situ sepertinya memang terkenal deh. Aku tahu tempat ini dari hasil browsing sebelum pergi ke Singapura. Katanya sih Sungei Road Laksa ini merupakan salah satu tempat makan terkenal di Singapura yang tak boleh terlewatkan. Jadilah aku bela-belain ke sana.

Ternyata laksanya ini memang beda dari laksa-laksa Singapura yang pernah aku coba. Enak! Laksanya pakai kerang rebus gitu dan kaldunya muantap! Harganya semangkok $3 saja. Ini harga yang cukup murah loh untuk makanan di Singapura. Lalu selain laksa, kami juga memesan carrot cake, semacam kue beras gitu berwarna coklat dan dicampur pakai scramble egg. Mirip kwetiau goreng bentukannya, tapi rasanya lebih manis. Hihi. Kibo sendiri memesan chicken rice dengan porsi yang aduhai banyaknya. Olen dan Ray juga makan chicken rice sepiring berdua, sedangkan papa mama memesan dumpling soup gitu. Untuk minumnya kami memesan hot tea dan kalian tau apa yang diberikan kepada kami?? Semacam teh tarik gitu! Teh yang pakai susu. Salah pesan nih kami...sebenarnya kalau mau pesan teh tawar hangat, kita harus bilangnya "hot tea kosong" alias teh tawar hangat kalau di Indonesia. Begitu juga kalau pesan kopi. Harus sebut "kopi kosong" kalau tidak nanti akan dikasi kopi susu. Hihihi.
Sungei Road Laksa
Setelah perut kenyang, kami pun pergi ke Hotel Dickson 81 di Little India untuk check in. Hotel ini cukup nyaman dengan harga yang cukup bersahabat juga. Kami memesan hotel ini lewat aplikasi Traveloka. Pesannya tiga bulan sebelum berangkat kali biar dapat hotel yang murah. Kamar hotelnya kecil tapi masih nyaman untuk ditinggali berdua dan tidak ada jendela. Hahaha. Jadi ruangannya terasa lembab gitu guys kalau AC-nya dingin. Tapi masih oke kok.

Beres check in kami pergi kembali untuk berpetualang ke Chinatown. Nah kali ini kami beli EZ Link, semacam e-money untuk menggunakan MRT dan bus di Singapura. Harganya $12, dengan $5 harga kartunya dan $7 isi dari kartunya. Sebenarnya ada juga tourist card gitu yang tidak dikenakan biaya kartu. Jatuhnya sih lebih murah, namun hanya bisa dibeli di stasiun tertentu saja. Yah sudahlah terpaksa kami harus beli EZ Link.

Sri Mariamman Temple
Sesampainya di Chinatown, kami keliling untuk melihat-lihat. Di Chinatown banyak sekali kios-kios yang menjajakan souvenir seperti kaos I  SG, tas dengan gambar Merlion, pulpen, dan masih banyak lagi. Di sana kami mengunjungi Sri Mariamman Temple, meski hanya lihat dari luar saja, dan Buddha Tooth Relic Temple. Nah kalau Buddha Tooth Relic Temple ini kami masuki. Isinya seribu patung Buddha gitu. Berhubung esok adalah hari raya Waisak, temple ini cukup ramai dikunjungi saat itu. Kalau masuk sini dan pakai baju yang terbuka, kita diwajibkan untuk mengenaikan selendang untuk menutupi bagian terbuka. Berhubung aku pakai baju tanpa lengan dan topi, sebelum masuk aku langsung dipanggil-panggil petugas "No cap and please use this" dengan mempraktekkan tangan menyilang di dada maksudnya harus ditutupi badanku dengan selendang. Oke pak oke saya langsung ke tempat selendang untuk mengambil satu selendang guna menutupi bagian lenganku.

Di dalam banyak sekali patung Buddha guys dan ada Deity untuk masing-masing Shio gitu loh. Terus ruangannya ber-AC jadi enak banget deh bisa ngadem di sini. #plak 


Buddha Tooth Relic Temple
Bentuk ruangannya persegi panjang gitu. Luas dan pengunjung bisa berkeliling memutari satu ruangan ini. Saat memutari temple ini, kita bisa melihat patung-patung Buddha untuk masing-masing Shio diurutkan gitu. Nah ini nih Deity untuk shioku, shio Ayam.
Deity untuk Shio Ayam
Setelah selesai berkeliling temple, kami beristirahat di Chinatown Food Market. Berhubung cuaca panas dan rasanya hauuusss sekali. Aku dan Kibo memesan semacam es campur nangka.
Chinatown Food Street
Es Campur Nangka
Nah anehnya, nangka di es campur itu kaya bukan nangka! Kaya artificial gitu loh. Tapi tetap saja kami nikmati bersama-sama. Untuk rasa masih enakan es campur di Indonesia guys!

Perjalanan balik menuju stasiun MRT Chinatown, kami melihat ada penjual Chestnut panggang. Tertarik, kami pun membelinya setengah kg seharga $8. Lumayan mahal ya guys. Tapi rasanya enak!
Roasted Chestnut
Oh ya, sebelum berangkat, kami juga mampir ke tempat beli dendeng babi, Fragrance. Di sana kami membeli dendeng untuk dibawa pulang. Sebenarnya untuk oleh-oleh sebaiknya beli di bandara guys karena harganya jauh lebih murah. Kenapa? Harga di sana itu tidak terkena pajak 8% guys! Aku agak menyesal sih beli dendengnya di Chinatown. Huhuhu.

Dari Chinatown kami berangkat menuju stasiun Raffles Place untuk pergi ke Merlion Park. Jarak dari stasiun Raffles Place cukup jauh loh. Selama perjalanan menuju ke sana, kami melewati tempat-tempat yang oke juga loh buat foto. Ada patung anak-anak yang hendak nyebur ke sungai. Ada juga patung bapak-bapak dari berbagai ras sedang asik mengobrol. Kemudian ada juga patung kerbau yang sedang narik gerobak. Semuanya spot-spot foto yang unik gitu deh.

Sesampainya di Merlion Park, lokasi tersebut sudah ramai dikunjungi orang. Suasana saat malam hari bagus loh. Penuh lampu-lampu kota gitu. Padahal Kibo awalnya ragu untuk pergi ke sana malam hari. Tapi ternyata memang ramai pengunjung juga loh malam-malam.

Tan Family

Berhubung kami cukup lama berada di sana, panggilan alam untuk buang air kecil pun mampir. Aku mencari toilet terdekat dari Merlion Park ini. Puji Tuhan ada!! Agak tersembunyi sih, tapi ada papan petunjuknya kok. Lokasinya dekat dengan 7 Eleven gitu. Daaaan di toilet ini ber-AC dan bersih guys!! Malah di WC gw jadi ngadem bentar sembari cuci muka biar segar. Kasian cowo-cowo yang nunggu di luar kepanasan. Hihihi.

Di perjalan pulang menuju hotel, kami mampir dulu di Bugis +. Kebetulan kalau mau balik ke hotel, bisa mampir dulu di stasiun Bugis yang berarti dekat dengan Bugis +. Di sini kami beli makan malam di area semacam food court gitu. Kata Kibo, dulu doi biasa makan malem di situ sehabis pulang les. Cieee yang nostalgia jaman kecil dulu. Kibo bilang area itu tidak berubah. Masih begitu-begitu saja. Tempat makannya juga itu-itu juga.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke hotel dengan berjalan kaki. Iya jalan kaki. Jaraknya 900 meter loh guys. Kaki rasanya mau patah ketika sampai di hotel. Huuaaah sungguh perjalanan yang panjang. Satu hari itu aku bisa berjalan sebanyak 16.000 langkah loh guys. Padahal biasanya aku jalan kaki sebanyak 3000-5000 langkah saja. Ini tiga kali lipatnya! Ga heran kalau kakiku sampai sakit-sakit. Hihihi.

Yak begitulah hari pertama liburanku di Singapura. Nanti dilanjut lagi ya dengan hari-hari berikutnya. ^^

Tuesday, June 5, 2018

Jalan-Jalan ke Bali: See You Again Bali

13 Mei 2018

Tak terasa hari ini adalah hari terakhir liburanku di Bali bersama teman-teman Kembar5. (ಥ﹏ಥ) Berhubung di Bali kami masih punya beberapa waktu untuk beli oleh-oleh dan kuliner sesaat, kami memutuskan untuk menghubungi mamang Grab kemarin yang menawarkan jasa mengantar kami selama setengah hari. Kami janjian untuk berangkat pukul 09.00 WIT. Namun si bapak agak terlambat nih. Tapi tak apa deh, yang penting kami bisa keliling Bali sebentar.

Tujuan pertama kami ya ke Warung Sate Babi Bawah Pohon. Kalau ke Bali jangan sampai kelewatan tempat yang satu ini ya. Sate babinya wuiiih uenak tenan!!! Kata Devi sih dulu tempatnya benar-benar di bawah pohon. Makanya dinamakan Sate Babi Bawah Pohon. Nah pas kami ke sana, tempatnya sudah ada lapak sendiri. Cukup besar loh dan lahan parkirnya lumayan lah. Namun sudah tidak di bawah pohon lagi. Hihi. Oh ya, yang menarik logo babi koki di sini. Wajahnya bukan ngegemesin, malah nyeremin. Kalau anak kecil yang lihat sepertinya akan bikin doi nangis. Saat di sana sih memang tidak ada anak kecil yang berseliweran sih.

Sate Babi Bawah Pohon
Setelah puas makan sate babi pakai lontong dengan harga Rp 30.000 saja, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat beli oleh-oleh. Devi menyarankan ke Larissa. Katanya di sana beli oleh-olehnya lebih murah dibanding kalau beli di Krisna. Lokasinya sebrang Joger guys. Jadi mudah banget kan menemukannya?! Dan memang, di sana harganya lebih bersahabat dan tentunya di sana juga menjual kerupuk samcan Rejeki. Buat kalian yang ke Bali dan memakan babi, jangan sampai juga deh ga beli kerupuk samcan Rejeki ini. Harganya untuk ukuran besar sekitar Rp 80.000, sedangkan untuk ukuran kecil Rp 40.000. Di Larissa juga menjual Pia Legong yang terkenal itu loh. Namun sayangnya saat kami ke sana, stok Pia Legongnya sedang habis. Huhuhu. Padahal Devi dan Elis ingin membawa buah tangan tersebut. Jadi seusai dari sana kami mampir ke toko oleh-oleh lain untuk mencari Pia Legong. Sayangnya di sana juga tak ada. Berhubung kami harus pergi ke bandara, jadinya diurungkan deh niat pergi ke tempat pusat Pia Legongnya.

Kami sampai bandara sekitar pukul 12.00 WIT, sedangkan pesawat kami berangkat kira-kira pukul 15.20 WIT. Masih ada waktu sejenak untuk keliling-keliling di bandara dan mengisi perut. Untuk itu kami nongkrong di Starbuck sebelum masuk ke dalam. Devi dan Iren tak lama pergi ke warung sebelah untuk makan siang ayam betutu. Berhubung perutku masih kenyang dengan sate babi, jadi aku tak makan siang. Aku hanya membeli Bread Papa yang Cream Puff Vanilla seharga Rp 22.000 di dalam sembari menunggu pesawat. Hehe.

Oh ya, di dalam bandaranya juga ada yang menjual Pia Legong loh. Namun harganya dua kali lipat dari beli di pusat. Waw waw. Aku sendiri si tak mau membelinya karena memang waktu kadaluarsanya yang cepat dan aku tak begitu suka pia. Hehehe. Selain karena harganya mahal sih. Hihihi. Yak begitulah perjalanan kami selama di Bali. Ini ringkasan itinerary selama di Bali:

#Kembar5Trip

Monday, June 4, 2018

Review: Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Produk ini sebenarnya sudah lama aku miliki. Namun aku belum sempat mengulas produk magic satu ini. Jadi marilah sekarang disimak ya ulasan tentang Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser.

Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Deskripsi Singkat tentang Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Penampakan Kemasan Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Baby Skin® Instant Pore Eraser® is rated 3.4 out of 5 by 95. Instant Pore Eraser® leaves skin with a smooth matte finish and moisturizes all day.

Benefit:
This lightweight and breathable pore-blurring makeup primer leaves skin with a smooth matte finish. Non-comedogenic and fragrance-free.

How to Use/Apply:
Step 1. Apply a thin layer to skin.
Step 2. Can be worn with or without a moisturizer.

Ingredients:
DIMETHICONE DIMETHICONE CROSSPOLYMER STEARYL HEPTANOATE CAPRYLYL GLYCOL SILICA SILYLATE PROPYLENE GLYCOL PENTAERYTHRITYL TETRAISOSTEARATE PRUNUS CERASUS EXTRACT / BITTER CHERRY EXTRACT 
[+/- MAY CONTAIN / PEUT CONTENIR, CI 73360 / RED 30, CI 77492 / IRON OXIDE]

Source:

[Review] Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser
Dari segi kemasan, Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser ini menarik dan bikin penasaran sama produk ini. Buat aku sih saat pertama kali lihat produk ini, aku langsung ambil dan baca-baca deskripsi di belakang kemasannya. Habis kemasannya cute gitu menurutku. Warnanya juga warna kesukaan aku. Hahaha. Tutupnya berupa tutup putar gitu ya. Tapi mudah untuk dibuka dan ditutup. Ga bikin repot deh.

Aroma dari produknya sendiri seperti lilin sih menurutku. Tapi tidak berbau menyengat kok dan tidak mengganggu indra penciumanku. Warnanya bening dan teksturnya seperti cream gitu. Nih bisa kalian lihat sendiri dari foto yang aku kasih:

Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Foto di sebelahnya itu merupakan foto saat aku aplikasikan di tangan. Sebelah kiri tidak pakai produknya dan di sebelah kanan diaplikasikan produknya. Kelihatan tidak bedanya? Agak sulit sih memang. Tapi kalau pakai produk ini, pori-pori di tanganku memang jadi terlihat blur gitu. Cukup ampuh buat memudarkan pori-pori sih.

Buat lebih jelasnya, aku coba pakai di area dahi deh. Kelihatan kan setelah dipakaikan Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser ini dahiku jadi terlihat lebih mulus seperti kulit bayi??


Seperti penjelasan deskripsi singkat, produk ini bisa dipakai setelah menggunakan pelembab ataupun tak pakai pelembab sama sekali. Aku sendiri menggunakan pelembab terlebih dahulu, baru menggunakan produk ini sebelum mulai ber-make up. Hasilnya ya memang lebih matte dan bedak jadi lebih tahan lama gitu. Namun karena kondisi kulitku yang berminyak, produk ini tidak membantu untuk mengurangi minyak di wajahku. But it's okay.

Oh ya, kulit tuh beda banget loh sebelum pakai ini dan sesudah pakai ini. Kalau sebelum kulitku kan keset-keset gimana gitu. Nah setelah pakai produk ini jadi licin gitu deh dan halus kaya kulit bayi. Bedak pun jadi lebih nempel di wajah. Menurutku sih produk ini merupakan primer yang oke buat kulit berminyak. At least kemarin aku make up seharian pakai foundation dan two way cake, make up-nya masih bertahan baik. Meski memang di area T-zone berminyak, namun ga membuat cracking alias bedaknya nemblok-nemblok gitu. Padahal sebelumnya saat aku cuma pakai BB Cream dan two way cake (bedak padat), area jidatku pasti sudah hilang gitu deh dan hasilnya jadi kelihatan nemblok-nemblok gitu. Iuuuh jelek deh!

Untuk harga, produk ini bisa dibeli dengan harga yang cukup lumayan tapi masih terjangkau dibanding primer-primer lainnya. Harganya sekitar Rp 89.000 guys. Meski harga terbilang lumayan, tapi cukup awet banget loh. Soalnya pakainya kan memang tidak butuh banyak-banyak. Hanya sebesar biji jagung saja sudah satu muka.

Produk ini bisa dibeli di outlet-outlet macam Guardian atau Watson terdekat. Di Supermarket juga ada kok selama supermarket tersebut memiliki counter Maybelline. Selain itu di toko-toko kosmetik juga sudah banyak yang menjualnya. Apalagi kalau beli online...wah sudah menjamur deh. Jadi mudah banget buat mendapatkan produk ini.

Kalau kalian, pakai primer merk apa? Punya rekomendasi yang lebih oke?? Ayo ceritain di kolom komentar biar aku juga bisa ikutan coba >.<

Friday, May 25, 2018

Review: Institut Karite Paris Pure Shea Butter

Belum lama ini sedang marak nih produk pelembab bibir dan kulit kering macem Vaseline Petroleum Gel. Nah kalau produk yang mau aku ulas sekarang mirip lah fungsinya seperti Vaseline Petroleum Gel, tapi Institut Karite Paris ini mengklaim kandungan yang digunakan 100% Shea Butter! Wah apa sih fungsinya Shea Butter??
Institut Karite Paris Pure Shea Butter
Deskripsi Singkat tentang Institut Karite Paris 100% Shea Butter

Discover all the benefits of Shea Butter... Shea Butter has been for ages the universal and irreplaceable care. This butter is composed of 100% natural Shea Butter, a ultra-nourishing care. It moisturizes, nourishes, protects, and rejuvenates the skin.
Shea Butter : 

Recognized for its nourishing, regenerating and soothing properties. Very rich in vitamin A, D, E, F and K.A real must have for daily needs!


Beauty Tips:
Apply this multiple‐purpose product 100% natural on hands, lips, face, body and hair. 

- Daily care : to hydrate the face and the body 
- Massage butter : for relaxation 
- Hair mask before shampoo or apply directly on dry hair. 

Ingredients:
BUTYROSPERMUM PARKII (SHEA BUTTER)

Size: Jar 10 ml or 0.33 fl.oz

Made in France


[Review] Institut Karite Paris Pure Shea Butter
Institut Karite Paris Pure Shea Butter

Tempatnya berupa jar alias kaleng dari metal yang kokoh dan kuat. Bagus deh tempatnya, imut-imut sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Produk ini tidak memiliki aroma. Ya ada sih dikit tapi tak begitu ketara. Meski kecil-kecil begini, tapi manfaatnya banyak juga loh. Aku menggunakan produk ini untuk menyembuhkan bibirku yang kering dan pecah-pecah, serta kugunakan di area kulit yang kering. Aku menggunakannya malam hari sebelum mau tidur  dan yak pagi harinya bibirku dan kulitku sudah lembab. Tapi tidak sejitu itu juga sih, apa karena aku menggunakannya sedikit ya?

Teksturnya sendiri seperti lip balm pada umumnya, tapi lebih "keras". Maksudnya kalau dioles-oles buat diambil, dia tuh ga semenye-menye seperti oles Vaseline Petroleum Gel. *apa sih pik?!* Duh gimana ya jelasinnya...Intinya lebih padat gitu, jadi tidak mudah terambil seperti ambil balsam. Ngerti kan maksudku??? Hahahah Karena kepadatannya ini nih, jadi kalau jariku berkuku, yang ada krimnya nyelip-nyelip dikukuku bukan di jari, jadinya makin tambah susah peng-apply-annya di bibirku. Hahaha...

Aku membelinya di C&F Central Park Mall, Jakarta. Kalau di online sebenarnya belum begitu banyak beredar ya. Atau aku yang kurang tau? Hahaha. Tapi memang produk ini sepertinya tidak begitu kedengaran di masyarakat Indonesia. Harganya sendiri terhitung cukup mahal ya. Produk ini kubeli dengan harga Rp 50.000, itupun karena dapet promo. Harga aslinya sih dibandrol seharga Rp 100.000. Mahal kan? Kalau sedang tidak promo, mungkin aku tak akan pernah membeli produk ini. Hihihi.

Thursday, May 24, 2018

Jalan-Jalan ke Bali: Ehem

Capture By Florencia O.

12 Mei 2018
Hari ini kami memutuskan untuk tidak menyewa mobil plus supir untuk mengantar kami seharian keliling Bali. Kami memilih untuk pergi ke tempat-tempat yang dapat ditempuh oleh kaki dari hotel yang kami inapi. Kami berangkat ke destinasi pertama kami sekitar pukul 10 pagi. Pertama-tama kami pergi ke Sisterfields di Jalan Kayu Cendana, Seminyak, untuk "sarapan" yang bisa dibilang brunch. Sesampai di sana, wuihhh tempatnya ramai sekali, terutama oleh bule-bule yang sedang asik brunch. Jadi kami langsung mendaftarkan nama kami di waiting list agar kami bisa dapat tempat duduk. Secara keseluruhan tempatnya bagus, dekorasinya oke, ada ruangan terbuka dan tertutupnya. Kami sih tentu pilih yang ruangan tertutup supaya adem. Panas banget bo Bali!!! Apalagi kami ke situ jalan kaki, ya sudah pasti keringetan. Hahaha.

Setelah nama kami dipanggil, kami pun menempati tempat yang tersedia buat kami. Awalnya si mba pelayannya salah. Dia malah membawa kami ke tempat duduk untuk 3 orang. Dia kira kami bertiga, padahal jelas-jelas tulisan di waiting list untuk 4 orang. Jadilah kami kembali menunggu sampai akhirnya tersedia 4 kursi. Setelah dapat meja, langsung saja kami memesan menu yang sudah kami lihat-lihat saat menunggu meja. Aku memesan roti panggang yang rasanya yummy banget dan sangat mengenyangkan! Review-nya bisa kalian lihat di @furisukabofood ya ^^

Setelah kenyang menghabiskan dua potong roti panggang dengan ham dan double cheese, kami berangkat lagi menuju Mad Pops di Jalan Kayu Ara, Seminyak. Ke sananya tentu dengan berjalan kaki ya saudara-saudari di hari terik Bali saat itu. Itung-itung nurunin makanan yang super ngenyangin deh. Hehehe. Nah Mad Pops itu apa sih? Ini adalah store untuk beli ice cream rasa unik juga gitu. Kaya Gusto Gelato, tapi Mad Pops memiliki varian rasa yang tidak sebanyak Gusto dan lebih kecil tempatnya. Bahkan store-nya ini sendiri cuma muat 3-5 orang di dalam, jadi sisanya menunggu di luar store supaya tidak sempit di dalam.

Kejadian epic di sini adalah saat kami tiba di Mad Pops, di dalam sudah ada tiga ciwi-ciwi cantik sedang mencoba varian rasa dan membeli Mad Pops tersebut. Setelah mendapatkan semua ice cream yang mereka pesan, mereka asik foto-foto dulu sebelum keluar dari store. Maklum dekorasinya cantik dan instagramable gitu. Kami pun menunggu di luar dengan sabar karena kalau kami masuk, pasti store penuh sesak. Tentunya sehabis jalan kaki, keringat sudah bercucuran apalagi cuaca saat itu sungguh panas. Wah rasanya ingin cepat-cepat masuk ke dalam store deh supaya bisa ngadem. Terlebih lagi cahaya matahari saat itu mengarah ke depan store. Jadilah kami menunggu sambil dipanggang matahari. Tak beberapa lama, datang sepasang kekasih hendak mampir ke Mad Pops juga. Si cewe sudah buka pintu untuk masuk dan langsung saja si Iren berdehem dengan keras "Ehem", dengan nada yang sinis. Si cewe pun merasa tertegur dan berkata "Oh ini ngantri ya..." dan melengos bersama si cowo untuk ikut mengantri di belakang kami. Sontak aku tersenyum geli karenanya. Tapi thanks to Iren, kalau dia tidak berdehem, tentu kami diserobot oleh sepasang kekasih dimabuk asmara tersebut.

Setelah ketiga ciwi-ciwi sudah selesai sesi foto, akhirnya kami bisa masuk untuk membeli ice cream yang kami ingini. Di sini kita cuma boleh mencoba maksimal dua varian rasa per orang. Jadi kami saling coba gitu deh biar bisa nyoba semua. Hahaha dasar ga mau rugi!
Setelah mencoba beberasa rasa, aku menaruh pilihan pada rasa Salted Caramel. Sebenarnya sih aku tidak begitu suka semua varian rasa yang ditawarkan. Aneh aja gitu rasanya. Jadi aku beli yang rasanya menurutku paling oke di antara semua. Kali ini aku beli dalam cup, habis kalau pakai cone lebih ribet karena harus cepat-cepat dihabiskan sebelum cair. Maklum aku makan es krim suka lama gitu, jadi kalau dalam cone pasti bisa luber-luber kena tangan. Apalagi habis dari Mad Pops kami harus kembali jalan kaki ke detinasi selanjutnya. Wah rebek deh!

Karena di Mad Pops tidak ada tempat untuk nongkrong, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Seminyak Village, mall yang ada di Seminyak. Di sana kami duduk-duduk di kursi yang disediakan untuk menghabiskan es krim yang kami beli. Setelahnya kami berkeliling deh untuk melihat-lihat isi mall. Karena luntang-lantung ga jelas, kami mampir ke mart gitu untuk beli air mineral dan kami memutuskan untuk foot massage di Spring Spa Seminyak Village. Awalnya si teman-teman yang lainnya ingin full body massage. Tapi aku hanya ingin foot massage saja karena aku bukan tipe orang yang suka pergi pijit. Hahaha. Jadi kan takutnya malah sakit-sakit badan bukannya malah tambah enak. Apalagi saat itu aku sedang alergi kulit. Kulitku di area tangan dan lengan ada ruamnya gitu dan sedikit gatal. Entah aku ini alergi apa jadi sampai begini ==" Jadi kalau diolesi lotion buat pijit gitu kan aku takut malah jadi makin parah. Eh kebetulan kalau mau full body massage harus menunggu dua jam lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk foot massage saja.

Pilihan foot massage-nya sendiri terbagi jadi dua. Ada yang reflexology (pijat lebih ke area telapak kaki) dan ada yang biasa. Aku memilih yang reflexology supaya dipijat di area titik-titik refleksi gitu. Hihihi. Sensasi awa dipijit sih terlalu keras gitu, jadi sakit, terutama saat dipijat di area jari. Untung si mbanya sadar kalau aku kesakitan jadi lebih dipelanin lagi pijetnya. Hahaha Aku ga bilang soalnya pasrah gitu dipijat sama si mba. Hahaha.

Seusai dari sana, kami pergi ke Kim Soo untuk foto-foto di spot foto "Instagramable". Kim Soo ini bukan cuma cafe gitu, tapi toko furniture juga. Barangnya bagus-bagus dan unik-unik, misalnya saja tas rajut dari rami (menurutku si rami), talenan marmer, mangkok dari kerang, dan sebagainya. Di Kim Soo, kami memesan hand chop french fries untuk cemal-cemil saja karena saat itu perut kami masih belum begitu lapar. Apalagi sesudah dari Kim Soo kami berniat untuk pergi makan siang (yang sudah sangat siang). Kata Elis, di bagian belakang Kim Soo, which is tempat foto-foto kece, adalah properti pribadi pemilik. Jadi itu kolam renang di belakang ya ga boleh dipakai oleh umum. Yaiyalah ya, siapa juga pengunjung yang mau nyebur di situ. Hihihi.


Setelah puas nongkrong, foto-foto, dan lihat-lihat di Kim Soo. Kami berunding deh untuk menentukan tempat kami makan siang. Devi dan Elis mengusulkan makan Mak Beng karena menurut mereka ikannya super enak sekali!!! Tapi lokasi Mak Beng ini nan jauh di sana. Sempat berpikir untuk pesan lewat Go-Food dan makan di hotel tapi akhirnya kami memutuskan makan di Warung Wahaha.

Untuk pergi ke sana dari Kim Soo kami menggunakan taksi yang lewat di jalanan depan Kim Soo. Awalnya sih mau pesan taksi daring, tapi tak ada yang mau ambil dan biar cepat langsung saja stop taksi yang lewat. Kebetulan di jalanan itu banyak banget taksi yang berseliweran, jadi mudah deh dapat taksinya. Jarak dari Kim Soo ke Warung Wahaha tidak begitu jauh. Jadi bayar taksinya juga tak mahal-mahal amat lah. Nah di Warung Wahaha ini tidak memperbolehkan membawa minuman dari luar. Jadi botol air mineral kami disita sementara gitu deh. Menu yang terkenal di sini adalah pork ribs-nya. Kami memesan setengah pork ribs, nasi goreng babi, dan samcan babi gitu. Rasanya bolehlah. Tapi aku tak begitu suka rasa dari samcan-nya. Meski lemaknya banyak tapi aku tak begitu suka. Heheh.

Seusai dari sana kami memesan Grab Car untuk pergi ke Woo Bar. Di perjalanan ke sana kami berdiskusi soal penyewaan mobil setengah hari di tempat kami pertama menyewa mobil. Katanya untuk setengah hari itu akan dikenakan biaya sebesar Rp 200.000. Mendengar hal itu, supir Grab Car kami pun menawarkan untuk mengantar kami besok setengah hari dengan harga Rp 100.000 saja. Wah lumayan banget kan? Kami pun meminta nomor WA si pak supir supaya kalau jadi, kami langsung menghubungi nomor tersebut.

Sesampainya di Woo Bar, hari sudah mendekati senja, kami bermain di pantainya sebentar untuk (akhirnya) merasakan pasir pantai dan air laut mengenai kaki kami. Setelah puas foto-foto di pantai, kami menuju ke Woo Bar untuk mencari tempat duduk. Sayangnya spot duduk-duduk cantik untuk menikmati sunset sudah penuh. Kami jadi duduk di dekat tempat bartender, jadi yang kami lihat aksi bartender meramu minuman yang dipesan gitu. Semakin senja, kami sudah tidak peduli lagi dengan sunset-nya. Habis tak bisa dapat spot okenya juga. Jadi kami duduk-duduk saja di meja kami sambil menikmati pizza dan minuman yang dipesan. Oh ya, saat itu di Woo Bar sedang ada pertunjukan DJ. Aku lupa siapa nama DJ-nya. Hahaha.

Pantai di W Hotel

Seusai dari sana, kami kembali memesan Grab Car untuk mengantar kami kembali ke hotel. Di hotel kami mandi dan yang lainnya memesan ayam betutu untuk makan malem, sedangkan aku minum Milo saja karena masih kenyang. Kami juga kembali mengorder Go-Mart untuk membeli Aqua dan camilan. Untungnya kali ini mamang Gojeknya ga kurang Aqua (fokus maksudnya). Jadi pesanan yang dibeli sesuai dengan permintaan kami. Tadinya sih seusai bersih-bersih dan makan, kami mau pergi ke La Favela. Tapi Elis tak mau ikut karena sudah malas keluar kalau sudah bersih-bersih. Yasudah jadi kami nonton TV saja di kamar hotel sambil bercengkrama sampai subuh.

BTW mau curhat dikit, alergi kulitku masih belum sembuh hari ini....Malah kadang membaik kadang memburuk gitu. Hhhh. Sepertiya aku alergi minum alkohol guys. Soalnya habis meminum Beer Bomb Shandy, malamnya aku merasa tanganku mulai alergi. Padahal aku tak makan seafood saat di Jimbaran, hanya minum air kelapa. Lalu saat di Woo Bar aku hanya mencicipi sedikit minuman Iren yang mengandung tequila dan minuman Devi berupa baileys, malamnya alergiku makin menjadi. Kemudian aku juga pernah mengalami hal serupa saat aku jalan-jalan di Jepang. Memang sih saat di Jepang aku hampir setiap hari minum beer karena cuacanya dingin sekali. Tapi apa iya alergiku ini karena alohol??? (。>﹏<。)

#kembar5trip #ehem

Monday, May 21, 2018

Movie Review: Deadpool 2 (2018)

Setelah nonton film Deadpool yang pertama...tentu aku tak mau ketinggalan film Deadpool yang kedua dong. Jadi aku langsung saja mengajak Kibo buat nonton Deadpool beberapa hari sebelum hari tayang perdananya keluar. So, si Kibo langsung pesan tiket online via M-Tix untuk mengamankan kursi supaya kami bisa nonton Deadpool 2 pada spot yang oke.

Sumber: IMDb


Deadpool 2
Jenis Film : Komedi, Action, Adventure
Censor Rating : R (17+)
Durasi : 1 jam 59 menit
Sinopsis: 
Wade Wilson (Ryan Reynolds) berusaha melindungi seorang mutan misterius yang diincar Cable (Josh Brolin). Untuk melindunginya, Wade lalu membentuk sebuah tim bernama X-Force.

Friday, May 18, 2018

Jalan-Jalan ke Bali: Gelas Petjah!!!

Untuk menjalani serangkaian acara jalan-jalan makan hari ini, kami berempat sudah sewa mobil dan supir seharian (10 jam tepatnya, kalau lebih jadi kena biaya tambahan Rp 25.000/jam). Aku tidak tahu kami menyewa mobil dan supir di mana. Soalnya untuk urusan ini, Elis yang sudah meng-handle-nya. Maklum rental mobilnya di kenalan adiknya Elis, jadi doi deh yang kontak-kontakan dengan sang pemilik sewa mobil (Namanya Ko Peter). Untuk penyewaan mobil Avanza + supir, serta biaya bensin ini, kami harus mengeluarkan uang di dompet sebesar Rp 500.000.

Jadi, ngapain saja seharian ini????
Beberapa bulan sebelum kami berangkat ke Bali, aku, Devi, dan Elis sudah mengadakan pertemuan untuk membahas lokasi-lokasi di Bali yang akan kami jambangi. Daftar lokasi-lokasi tersebut aku simpan di menu "Your Place" dalam Google Map. Untuk cara penggunaannya, mungkin lain kali akan aku bahas....
Oke kembali lagi ke rangkaian perjalan kami di Bali....kami janjian dengan Ko Andi, supir yang akan menemani kami seharian, di lobi hotel jam 9 pagi. Tapi kami terlambat dan baru siap berangkat jam 10 lebih. Hahaaha.. Maapkeun. Lokasi pertama yang kami datangi adalah Warung Cahaya di Jalan Dewi Ratih, Legian. Di sini makanan yang biasa dipesan adalah nasi babi sambal matah. Tempatnya kecil dan sederhana. Meski begitu, tempatnya didekorasi agar bisa tetap terlihat cantik. Sesampai di sana...wuih sudah ramai orang. Kami harus menunggu orang lain selesai makan terlebih dahulu supaya kami bisa dapat tempat. Tapi sebelum menunggu, tentunya kami order pesanan dulu. Jadi nanti pas sudah dapat tempat duduk, pesanan kami sudah siap diantar di meja kami. Oh ya, seporsi nasi babi sambal matah di Warung Cahaya dibandrol seharga Rp 37.000. Penampakannya bisa kalian lihat di IG-ku @furisukabofood ya.
Setelah kenyang sarapan nasi babi (astaga pagi-pagi sudah makan babi 🐷), kami lanjut ke lokasi selanjutnya...Pasti kalian akan sedikit syok pas tahu lokasi yang kami datangi selanjutnya...hihi..ya kami pergi ke Gusto Gelato untuk mencicipi gelato nikmat yang hits di Bali ini. Padahal seharusnya kami pergi ke Warung Babi Guling Pak Malen, berhubung tadi sudah "sedikit" kenyang dengan nasi babi sambal matahnya Warung Cahaya, kami jadi memutuskan ke Gusto Gelato saja dulu untuk mencicipi yang manis-manis.
Sekitar pukul 11 siang kami sampai di Gusto Gelato. Masih sepi! Yeaaah!!! (ㆁωㆁ*) Di sini, kita harus melakukan pembayaran terlebih dahulu untuk mengambil es krim yang kita ingini (yaeyalah). Jadi pas masuk, kita ke counter di sebelah kanan dulu untuk bayar, baru kemudian ke counter display ice cream di sebelah kiri. Aku dan teman-teman memesan gelato dalam cone. Harganya Rp 28.000 sudah dapat dua rasa loh! Cukup murah kalau dibandingkan ice cream rasa unik di Jakarta. Di sini aku memesan rasa karamel dan susu. Combo manis ga tuh?! Tapi gelato karamelnya ada rasa sedikit pahit kok, jadi cukup balance lah. Namun soal rasa sih aku masih lebih suka pergi ke Latteria, PIK, ya dibanding Gusto Gelato.
Sudah selesai berurusan dengan gelato masing-masing, kami lanjut pergi ke destinasi berikutnya. Pas kami keluar dari Gusto Gelato, pengunjung yang datang semakin ramai looh. Bahkan antrian bayar itu sudah hampir ke pintu masuk. Buset deh..untung saja tadi pas datang masih sepi, jadi pas nyoba-nyoba rasa gelatonya lebih enak...Setelah kami naik ke dalam mobil, koh Andi menanyakan lokasi selanjutnya, dan kami pun menjawab Warung Babi Guling Pak Malen. Sontak koh Andi bilang ,"HAAAH?!" dengan nada super kaget seakan tak percaya. Yes koh, kami ini cewe-cewe setrong yang kuat makan. Hahahaha.
Kata ko Andi, kalau pergi ke Warung Pak Malen, paling enak hari Jumat karena rasa dari babi gulingnya tuh crispy dan tidak keras. Katanya sih mereka guling babinya hari Kamis, jadi rasa babi guling di hari Jumat jadi enak gituuu... Okeh percaya saja deh sama koko, tapi enak ga enak kami akan tetap ke sini kok karena kami memang sama sekali belum pernah makan di sini. Sesampainya di sana, warung sudah dipenuhi oleh orang-orang yang asik makan daging dewa itu. Meski terlihat ramai sekali dari luar (maklum tempat parkirnya penuh bro), tempatnya ternyata memanjang ke dalam gitu jadi sebenarnya masih cukup luas untuk menampung orang-orang yang haus akan nasi babi guling di siang hari. Di sini aku dan Devi makan paroan (pesan sepiring dibagi dua) karena jujur perut ini sudah ga bisa memuat lagi makanan. Sedangkan Iren dan Elis tetap memesan satu porsi karena mereka ingin menikmati lauknya lebih banyak. Harga satu porsi dari nasi babi guling ini Rp 40.000. Untuk rasa, ini nasi babi guling yang paling gw suka. Biasanya gw tuh ga gitu suka-suka amat sama nasi campur ala Bali ini. Tapi ini beda! Bahkan untuk perutku yang sudah membuncit ini saja aku masih tetap bisa menyisihkan ruang untuk diisi oleh nasi babi guling ini. Emang sih aku cuma makan lauknya dan sedikit nasi. Habis kalau makan nasinya aku tidak sanggup lagi...
Setelah puas dengan kenikmatan nasi babi guling Pak Malen, kami minta di antar ke Ayana Resort. Tujuan kami adalah Rock Bar yang ada di dalam resort tersebut. Saat sampai di sana Rock Bar masih belum buka, karena jam bukanya adalah jam 16.00 WIT. Untuk menunggu, kami jadi foto-foto dulu saja di resort tersebut. Saat beberapa menit mendekati jam empat sore, kami pergi ke Rock Bar deh. Untuk ke sana saja kami harus mengantri. Soalnya untuk menuju ke Rock Bar harus menggunakan "lift" turun ke bawah gitu dan "lift" tersebut hanya ada dua, satu untuk turun ke Rocak Bar dan satunya digunakan untuk pergi dari Rock Bar.
Mengantri masuk Rock Bar ini merupakan suatu tantangan tersendiri. Maklum cuaca di Bali puanas sekali, sedangkan kami harus mengantri di alam terbuka yang membuat kami harus terpapar sinar matahari langsung. Weleh-weleh, sampai di Rock Bar sudah kucal dan kusam karena keringat nih. Tapi sisi positifnya kita bisa melihat pemandangan pantai dari atas tebing gitu. Keren loh!! Oh ya, biasanya orang-orang mengunjungi Rock Bar itu untuk menikmati sunset. Jadi kalau terlambat masuk ke Rock Bar, kita pasti tidak akan dapat tempat yang oke buat melihat sunset. Berhubung kami datangnya sangat tepat waktu (satu jam sebelum buka kami sudah sampai dong), kami dapat spot yang oke lah buat melihat sunset. Namun spot oke buat lihat sunset bukan berarti spot oke untuk menunggu sunset. Gila!!! Panas banget bro! Meski sudah diberi payung untuk menghalangi sinar matari, tetap saja udaranya panas sekali. Es dalam minuman yang kami pesan saja dalam beberapa menit sudah hilang karena mencair saking panasnya. Beruntung saat kami duduk di tempat masing-masing, pelayan dengan sigap memberi kami handuk dingin. Wah lumayan banget buat menyegarkan tubuh. Handuknya juga bisa dipakai buat menutupi kaki dari paparan sinar matahari langsung, maklum posisi duduk kami membuat kami terpapar sinar matahari dari arah depan. Karena kepala dan badan bisa ditutupi oleh payung, namun kaki tetap terpapar sinar matahari langsung. Oleh sebab ini juga kakiku berubah warna jadi merah layaknya kepiting rebus, maklum terpanggang matahari bro.
Akhirnya...

Pemandangan Rock Bar dari Tempat Antri Lift Pulang

Setelah puas lihat sunset, kami menuju ke Jimbaran untuk santap seafood terkenal di Bali. Ko Andi menyarankan ke Jimbaran Bay Seafood (JBS) karena menurutnya di sana memiliki rasa masakan yang paling enak di antara semua tempat makan seafood Jimbaran. Katanya sih tempat makan seafood di Jimbaran ini harganya semua sama karena dikelola oleh satu koperasi gitu yang menetapkan harga yang sama untuk semua tempat, tinggal pilih saja mau di tempat mana karena yang membedakan dari jajaran tempat makan seafood di Jimbaran tentu cara masak dan rasa. Aku sendiri tidak bisa berkomentar soal rasa seafood-nya. Habis perutku masih kenyang, jadi di JBS aku cuma makan satu buah kelapa saja, sup jagung yang disuguhkan, serta buah semangka sebagai penutup. Kalau kata teman-teman sih ikan bakarnya enak (mereka memesan ikan bakar dan kerang bakar), namun mereka kesal karena pelayan wanita di sana tidak ramah. Saat memilih ikan untuk dibakar, mbo-nya jutek gitu , sehingga membuat teman-teman jadi kesal.
Seusai dari JBS, awalnya kami ingin kembali ke Hotel untuk mandi dan beristirahat. Namun kami memutuskan untuk mampir dulu ke Motel Mexicola untuk merasakan suasana bar di Bali. Di Motel Mexicola ini lagu-lagu yang diputarnya asik-asik. Bukan lagu-lagu EDM yang jedag-jedug, tapi lagu-lagu macam Despacitto gitu. Jadi alunan musiknya membuat pengunjung bergoyang aloha. Aku sendiri di sana asik menonton pengunjung yang bergoyang. Lalu dekorasi di Motel Mexicola ini juga bagus. Namun sayangnya di sana panas tidak ada pendingin ruangan. Jadi Elis selalu komplain kepanasan. Hihih. Akhirnya kami cuma sebentar saja di sana dan berjalan kaki kembali ke hotel. Jaraknya sama hotel tempat kami menginap ini hanya selemparan batu saja. Dekat banget bo...

Yak, begitulah perjalanan makan kami hari itu. Tapi kenapa judulnya gelas petjah??? Jadi cerita epic hari ini adalah payung yang menutupi Devi dan Elis tak sengaja tersenggol oleh Devi, sehingga payung tersebut hampir jatuh. Tapi bukan payungnya yang jatuh, melainkan gelas minuman Devi yang jatuh dan pecah akibat tersenggol oleh payung. Padahal Devi baru minum dua teguk dari minumannya dan belum cukup rasa perih karena harus bayar minuman sangat mahal, tangan Devi juga ternyata tergores pecahan gelasnya. Oooh poor Devi...(ಥ﹏ಥ)  Karena kejadian ini juga, aku dan Iren jadi parno dan ganti-gantian jagain payung gitu supaya tidak terjadi kejadian serupa.

#kembar5trip #100Kfortwosipofbeer

Thursday, May 17, 2018

Jalan-Jalan ke Bali: Insiden Milo

Tanggal 10 Mei kemarin aku bersama best friends forever (BFF) aku jalan-jalan ke Pulau Dewata. Jalan-jalan ini diadakan sebelum pada nikah gitu deh. Jadi masih bisa bebas ke sana-ke sini gitu. Hahaha. *kaya yang bakal cepet nikah aja ya*
Kami liburan selama 4 hari 3 malam dengan memilih menginap di Sense Hotel Seminyak karena lokasinya yang dekat dengan pertokoan Seminyak. Kami memang sudah merencanakan liburan ini dari jauh-jauh hari dengan membeli tiket AirAsia mumpung harga tiketnya tidak mahal-mahal banget, tapi tidak bisa dibilang murah juga sih. So, ini cerita liburanku kemarin, mari disimak ya. Hehe. Kubuat biar nanti saat sudah beberapa tahun ke depan, aku dan teman-teman bisa mengingat perjalanan liburan kami ini kembali. Hihihi.

10 Mei 2018
Hari ini merupakan tanggal merah, yaitu hari Kenaikan Tuhan Yesus. Beberapa hari sebelumnya aku harus tidur larut karena harus mengerjakan tugas pelayanan dahulu. Jadilah aku baru sempat packing kemarin malam. Berhubung badan sangat lelah, jadi aku memutuskan untuk bangun lebih siang di hari ini. *ketauan banget malah ga pergi ke gereja* Huhuhu. Maafkan hamba ya Tuhan. (ಥ﹏ಥ)
Oke back to topic, flight kami ke Bali itu jam 15.20 WIB. Tapi Devi memutuskan untuk berangkat jam 9 pagi dari Karawang naik DAMRI karena jadwal tersebut yang paling pas untuknya tiba di bandara tepat waktu. Tentulah dia akan sampai paling pertama di bandara. Jadi, aku memutuskan berangkat pagian juga supaya bisa menemani Devi di bandara.
Untuk pergi ke bandara, aku menggunakan jasa Grab Hitch alias nebeng dengan pengguna Grab yang hendak pergi ke bandara juga. Dengan menggunakan jasa tersebut, aku cukup mengeluarkan kocek Rp 85.000 instead of Rp 101.000. Nice kan?
Dalam menggunakan fitur Grab Hitch tersebut, aku mengatur jadwal penjemputan jam 11.30. Aku sebenarnya agak gambling juga sih bakal ada yang mau ambil atau tidak. Namun karena aku juga memang tidak buru-buru berangkat, aku sabar saja menunggu sambil aku menghabiskan Pocky. Tak beberapa lama, akhirnya ada juga pengguna Grab yang mau mengangkutku. Sekitar jam 11.30 aku dijemput dan aku tiba di bandara sekitar jam 12.00 WIB. Di bandara aku bertemu Devi di Imperial Kitchen karena doi sedang makan siang di sana. Aku pun memutuskan untuk makan siang juga di sana karena nanti kami tiba di Bali sore hari, yaitu jam 18.00 WIT. Tentulah aku akan kelaparan kalau aku tidak makan siang terlebih dahulu. Di Imperial Kitchen aku memesan nasi goreng beef.

Nasi Goreng Sapi
Dari penampilan si nasi goreng ini terlihat si mas kokinya buru-buru gitu kali ya. Habis masih berantakan gitu plating-nya. Tapi yasudahlah, toh rasanya tetap enak. Hehe. Untuk nasi goreng sapi dan satu gelas es teh tawar aku harus mengeluarkan uang Rp 75.000. Hhhh. Maklumlah di bandara, makanannya langsung jadi mahal-mahal. Tapi daripada aku kelaparan kan?

Semakin mendakati jam 13.00 WIB, Elis dan Iren pun akhirnya tiba di bandara. Kami pun menghabiskan waktu menunggu flight di Imperial Kitchen ini. Hahaha. Setelah dekat-dekat waktu boarding, kami bergegas ke check-in counter untuk memasukkan bagasi dan menuggu di ruang tunggu pesawat. Sekitar jam 15.20 WIB akhirnya petugas pesawat sudah mulai memperbolehkan kami untuk masuk pesawat. Ternyata kami harus naik bus dulu nih buat masuk ke pesawatnya. Habis si pesawat parkirnya cukup jauh dari tempat kami menunggu.

Singkat cerita, sekitar jam 18.00 WIT kami tiba juga di bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Sehabis mengambil bagasi yang ternyata cukup cepat, kami pun keluar untuk memesan taksi. Awalnya kami memesan taksi online, namun si supir taksi online-nya meminta harganya tidak sesuai dengan applikasi dan kami harus membayar Rp 100.000. Jadilah kami membatalkan pesanan tersebut dan memesan taksi bandara. Namun jatuhnya jadi lebih mahal sih. Hahaha.

Berhubung kami sudah kelaparan, kami meminta pak supir taksi untuk mengantarkan kami ke Kilo Bali. Di sana kami terpaksa membawa-bawa koper kami ke dalam resto dan oleh pelayan, koper kami disimpan di tempat yang aman supaya tidak mengganggu lalu lintas di dalam (uda kaya mobil saja). Di Kilo aku memesan Homemade Ricotta Gnocchi seharga Rp 150.000 dan Grass Thought untuk minumannya. Harganya aku lupa berapa, tapi untuk membayar taksi dan makan di Kilo, aku harus merogoh kocek sebesar Rp 275.000. Wah wah hari pertama sudah keluar lebih dari Rp 300.000. Ya namanya juga liburan. (・∀・) Untuk foto-foto makanannya bisa kalian lihat di IG akuh ya @furisukabofood ^^

Setelah perut kenyang, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju hotel tempat kami menginap. Luar biasa ga kami wanita-wanita kuat ini?! Untuk menuju hotel, kami harus berjalan sekitar 1,4 km loh guys. Bodo amat deh dilihatin orang-orang karena kami berempat jalan berbaris dengan menarik koper-koper kami. Hihih. ヽ༼ຈل͜ຈ༽ノ Sesampainya di Hotel Sense Seminyak, kami disambut dengan pelayan resepsionis yang memberikan kami welcome drink berupa es jeruk segar. Waah gila ini sih enak banget! Pas sekali habis keringetan jalan kaki dan haus, kami disuguhkan minuman segar. Mantap! Sesudah check-in kami pun bergegas ke kamar kami masing-masing. Sebelumnya di Kilo, kami hom pim pa dulu untuh menentukan sekamar dengan siapa (bocah banget ga?). Hasilnya aku sekamar dengan Elis dan Iren dengan Devi. Wah pas banget seperti live in di Yogyakarta dulu formasinya.

Kamar kami sebrang-sebrangan. Aku dan Elis di 5211, Devi dan Iren di 5208. Sebelumnya kami meminta kepada petugas resepsionis agar esok malam kami dipindahkan ke kamar yang memiliki connecting door. Jadi kami bisa bolak balik antar kamar kami gitu deh. Hihhi. Permintaan kami pun disetujui dan esok malam dan lusa, kami serasa punya dua kamar gitu. Yeay! (/◕ヮ◕)/.

Setelah kami bersih-bersih (mandi) dan sudah siap bobo cantik, Devi dan Iren memesan Go-Mart untuk membeli air mineral 1500ml 4 botol dan satu kaleng Milo untuk Iren. Kejadian kocaknya, setelah Devi dan Iren turun ke lobby untuk mengambil pesanan, mamang Gojeknya malah membawakan satu botol air mineral 1500 ml dan 1 kaleng Milo. Sontak Devi dan Iren komplain karena pesanannya salah. Karena merasa bersalah, si mamang Gojek pun pergi kembali untuk membelikan sisa pesanan kami.

Sudah menunggu lumayan lama, akhirnya si mamang Gojek sampai dan kalian tahu apa yang dia bawa? Kali ini dengan terengah-engah si mamang Gojek menyerahkan satu plastik pesanan kami yang berisi tiga kaleng Milo. HAHAHA. Sontak Devi dan Iren kembali protes karena mamang Gojeknya salah lagi. Namun kali ini si mamang Gojeknya curhat. Untuk membeli tiga kaleng Milo tersebut, si mamang Gojeknya harus berpindah dari satu Minimart ke Minimart berikutnya karena Milo tersebut hanya ada satu di masing-masing Minimart yang ia datangi. Dengan rasa kasihan, akhirnya Iren pun menerima belajaan yang sudah dibelikan dengan susah payah oleh si mamang Gojek. Oh bahkan buat menerima belanjaannya sendiri pun ada kejadian lucu tambahan....
Jadi kan karena si mamang Gojek belinya Milo, harga belanjaannya kan jadi lebih mahal. Sehabis kesal tapi pengen ketawa juga, si Iren akhirnya membayar pesanan "salah" tersebut. Tapi Milonya masih dipegang oleh mamang Gojeknya karena Iren sibuk cari uang yang pas buat si mamang Gojek. Pikir Devi dan Iren sih tu belanjaan ga akan kelupaan diambillah. Eh benar saja, setelah bayar, mereka berdua langsung jalan menuju lift dan melupakan belajaan yang sudah dibayar tersebut. HAHAHA. Untung kali ini mamang Gojeknya ga kurang Aqua, dia pun berlari ke arah lift sambil manggil-manggil Devi dan Iren dan berkata "Belanjaannya ini kelupaan.." Sontak si Devi dan Iren tertawa dan mengambil belanjaan tersebut. Untung saja mereka berdua belum masuk ke lift, kalau tidak semakin panjang lagi kan urusannya. Hahaha.

Sekembalinya mereka ke kamar, mereka pun menceritakan kejadian tersebut. Kami berempat tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut karena kejadian tersebut. Pantas saja si Devi dan Iren lama sekali mengambil pesanannya. Awalnya aku pikir mereka jalan-jalan ke sebelah. Maklum sebelah hotel kami itu Motel Mexicola, semacam bar gitu deh kalau malam hari. Hihihi. *bercanda kok*

Begitulah hari pertama liburan kami!

#milo #kembar5trip

Tuesday, May 8, 2018

Menerima Bantuan

Sudah dua minggu lebih aku tinggal bersama adikku di Jakarta Barat. Akhirnya aku mulai menemukan ritme yang pas untuk pergi-pulang ke kantor. Awal-awal kos di JakBar, aku bangun jam 5 pagi, alhasil aku kepagian datang ke kantor. (・∀・) Jadi aku memutuskan untuk bangun jam 6 pagi saja dan berangkat sekitar jam 7 pagi. Hasilnya aku sampai kantor sekitar jam 8 pagi. Waktu yang pas buat aku datang ke kantor. Hehe.
Buat yang pernah baca posku tentang transportasi umum yang kugunakan untuk pulang pergi kos-kantor, tentu kalian tahu kalau aku harus berjalan kaki dari halte Tebet hingga ke kantor. Nah selama melakoni ritme tersebut, sudah dua kali aku bertemu dengan mamang ojek online (ojol) yang berbaik hati mengantarkanku ke kantor dengan gratis. Yaah sebenarnya ada juga sih yang simbiosis mutualisme....Hah maksudnya???

Sumber: Pickthebrain.com

Jadi gini, pengalaman pertama mendapat kebaikan hati mamang ojol itu saat aku sedang asik-asiknya jalan kaki, tiba-tiba ada satu mamang ojol menegurku dari atas motornya. Ia menanyakan apakah aku menggunakan aplikasi ojol Grab. Kujawab saja kalau aku memang punya aplikasi tersebut dan aku memang menggunakannya. Terus dia memintaku untuk menggunakan jasa Grab Now dengan tujuan Stasiun Kalibata supaya dia tidak narik kosong. Wah wah si mamang ojol ini cerdik sekali memanfaatkan celah dari sistem Grab Now tersebut untuk mendapatkan poin tambahan.
Awalnya aku tak mau, tapi yasudahlah aku mengiyakan. Jadi kupesan tuh jasanya dengan menggunakan Grab Now. Jujur ini baru pertama kalinya aku menggunakan Grab Now. Biasanya sih yang nunggu supir dulu gitu. Terus dia pun menawarkan untuk mengantarku hingga ke tujuanku karena sudah mau membantunya mendapatkan poin dari pemesanan Grab Now tersebut. Ah yasudah kunaik saja... Awalnya sih aku tak mau karena memang benar-benar sudah dekat, mungkin sekitar 200 meter lagi sampai ke kantor. Tapi dia tetap menawarkan karena mungkin ia tak enak hati sudah memintaku memenuhi permintaannya tersebut. Yasudah deh aku mengiyakan kembali.

Pengalaman kedua itu mirip. Tapi kali ini yang menegurku adalah mamang ojol dari Gojek. Berhubung Gojek tidak punya sistem seperti Grab Now, jadi si mamang Gojek ini memang pure mau membantuku karena ia merasa sayang saja kalau penumpangnya kosong. Sebelumnya sih si mamang Gojek ini menanyakan tujuanku ke mana. Kalau searah dengan Stasiun Kalibata (lagi-lagi mamang Ojolnya ke Stasiun), ia mau mengantarkanku. Awalnya sih aku menolak. Tapi dia tetap menawarkan dan akhirnya yasudah (lagi-lagi pasrah) aku naik juga.
Dia bercerita kalau ia memang sering menawarkan pejalan kaki untuk naik motornya dengan alasan sayang saja penumpangnya kosong. Dia juga memang bilang suka ada yang menolak karena mungkin si pejalan kaki takut. Terus dia bilang, buat apa takut, toh saya juga sudah tua, bukan mau godain gitu maksudnya. Hahaha si bapak... Menurutku sih wajar ada yang takut, secara di kota Jakarta ini kan tingkat kriminalnya tinggi. Jadi terkadang maksud baik dari seseorang suka disalahartikan sebaliknya. Hmmm. Awalnya juga aku mikir gitu pas aku pertama kali ditawari. Tapi karena itu masih pagi dan kalau diapa-apain aku bisa teriak, jadi aku ikut-ikut saja. Hahaha.

Dari kedua pengalaman tersebut, yah buat pengalaman kedua sih tentunya...ternyata di Jakarta ini masih ada orang berbaik hati. Kupikir di Jakarta ini orang-orangnya sudah individualis gitu. Tapi masih ada orang baik yang mau peduli kepada orang lain. Memang sih pasti yang awal ada di dalam pikiran si penerima bantuan adalah hal-hal negatif. Tapi begitulah...efek mendengar berita-berita kriminal yang berseliweran pasti jadi begitu. Mungkin kalau kalian di posisiku juga akan melakukan hal yang sama. Menolak pada awalnya. Hehe.

Thursday, May 3, 2018

Movie Review: Cek Toko Sebelah (2016)

Sumber: Wikipedia

Astaga ternyata film ini sudah tayang dari dua tahun yang lalu. Aku baru saja menontonnya hari Minggu kemarin berkat kokonya Kibo memutarkan film hasil streaming di TV rumahnya agar mamanya bisa nonton film ini. Jadilah aku ikutan nonton karena memang aku belum nonton filmnya juga. Hehe. (ㆁωㆁ*)


Cek Toko Sebelah

Sutradara : Ernest Prakasa
Produksi : Starvision Plus
Jenis Film : Komedi, drama, family
Censor Rating : 13+
Durasi : 1 jam 44 menit

Sinopsis: 
Saat segalanya berjalan baik untuk Erwin (Ernest Prakasa), ayahnya, Koh Afuk (Kin Wah Chew) jatuh sakit dan memintanya untuk meninggalkan pekerjaannya sekarang untuk menggantikannya mengelola toko keluarga setelah sebelumnya Koh Afuk dikecewakan oleh Yohan (Dion Wiyoko), anak pertamanya yang tak bertanggungjawab.