Wednesday, April 17, 2019

Pemilu 2019: Adilkah??

Hari ini, hari penting bagi rakyat Indonesia....Ya tentu kalian sudah tahu lah ya kalau hari ini sedang diadakan pesta demokrasi bagi rakyat Indonesia. Aku pun ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi tersebut. Mamaku apalagi...dari jam 6 kurang 15 menit aku sudah dibangunkan oleh mama supaya bersiap-siap pergi ke TPS. Gila ga?! Uda kaya mau ke mana aja...padahal buat nyoblos yang jarak TPS dari rumah saja ga sampai 5 menit....

Okelah, pagi-pagi lebih baik. Jadi jam 7 lewat dikit aku dan mama sudah siap buat pergi ke TPS. Bahkan si mama sudah rapi gitu dan ber-makeup dengan lipstik merahnya. Mama mengenakan tank top putih dengan ditutup oleh blazer merah. "Bendera Indonesia", pikirku. Aku sendiri cuma memakai terusan biru donker dengan motif owl, disertai celana jins biru muda.

Sesampainya di TPS yang berlokasi di SD Al-Ikhlas, aku dan mama duduk di kursi yang sudah disediakan. Ternyata petugas di sana masih siap-siap sehingga belum bisa registrasi. Maklum, kotak suara ada 5, surat suara juga ada 5. Jadi lebih lama buat siap-siapnya. Meski agak molor sedikit, tapi para pemilih yang sudah pada datang tetap menunggu dengan sabar.

Tak seberapa lama, petugas telah siap untuk melaksanakan pemilihan umum. Langsung saja kertas A6 yang kubawa kuletakkan di meja petugas. Kemudian aku dan mama menunggu nama kami dipanggil. Yang dipanggil duluan namaku. Jadi aku masuk ke TPS duluan deh daripada si mama. Saat masuk ke ruangan, aku diberikan 5 kertas suara oleh petugas. Kemudian aku berjalan ke bilik suara yang kosong. Satu yang kurang dari TPS tempatku nyoblos, lampunya ga terang...Jadi saat milih-milih caleg, aku malas membaca nama-nama yang tertera. Habisnya gelap-gelap gimana gitu. Jadi kucoblos saja partainya.

Dari kemarin aku memang sudah lihat-lihat calon legislatif untuk periode 2019-2024 ini. Hatiku sudah mantap untuk memilih partai tersebut. Habis visi dan misinya menurutku oke meski umurnya masih terbilang seumur jagung. Ah sudah tahu dong kalian partai mana yang kupilih untuk mewakili suaraku di kursi legislatif?

Setelah kucoblos-coblos semua kertas suara, langsung saja kumasukkan ke kotak yang sesuai. Dibantu oleh petugas juga supaya tidak salah masukin kertas suaranya. Baru deh aku menuju ke tempat tinta untuk menyelupkan kelingkingku. Tanda bahwa aku sudah berpartisipasi pada pemilu 2019 ini. Lalu aku pun menunggu mama selesai nyoblos dan balik ke rumah.

Lah si papa ga nyoblos? Nyoblos kok. Cuma doi lama gitu siap-siapnya, jadi si mama pergi duluan. Hihihi. Maklum mama pengen lanjut masak, biar ga kesiangan....

Sumber: Tunas Bangsa
Jadi gimana kesan pesannya dalam pemilu 2019 ini? Puji Tuhan di TPS tempatku memberikan suara berlangsung dengan baik dan lancar. Tidak ricuh dan tidak ada tindakan tidak adil. Saksi-saksi di sana melakukan tugasnnya dengan baik. Tak luput dengan petugas-petugas yang ada. Terlihat netral dan tidak berpihak pada kubu manapun. Namun sayang, kudengar di TPS Jakarta Pusat, tempat temanku memberikan suaranya, keadaan tidak berjalan dengan baik. Kenapa? Para petugas di sana berlaku tidak adil! Kok bisa ga adil? Iya, soalnya para pemilih dipaksa untuk mencoblos satu kubu. Bahkan sebelum surat suara dimasukkan ke kotak suara, surat suaranya dibuka dulu untuk memastikan yang tercoblos adalah kubu yang dikehendaki oleh petugas di sana. GILA KAN?!

Ya kuberharap TPS-TPS yang ada bisa berlaku adil. Sesuai dengan peraturan sehingga suara yang didapat ya memang benar-benar dari hati masing-masing pemilih. Bukan karena paksaan. Mari kita nantikan hasil pemilu 2019 ini...

Tuesday, April 16, 2019

Pemilu 2019, Sejarah Baru bagi Rakyat Indonesia


Rabu, 17 April 2019 rakyat Indonesia mencatat sejarah baru karena menggabungkan dua jenis pemilu yang dilaksanakan dalam satu waktu secara bersamaan. Begitu juga denganku karena ini pertama kalinya aku akan nyoblos presiden, DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten, dan DPD. Kok bisa baru nyoblos?? Iya, tahun lalu aku golput karena ga sempat buat daftar pemindahan lokasi nyoblos. Saat itu aku sedang kuliah praktek di dekat bandara Soetta dan tak sempat untuk pulang kampung supaya bisa nyoblos. Alhasil aku ga ikutan pesta demokrasi di tahun 2014 lalu.

Untuk tahun 2019 ini, aku semangat nih buat ikutan nyoblos di TPS dekat rumah! Ya karena ini untuk pertama kalinya aku nyumbang suaraku buat milih presiden yang akan mengatur negeri ini dan wakil rakyat yang akan menampung semua aspirasi rakyat (apa iya?). Kulihat di berita juga sepertinya rakyat Indonesia saat ini begitu antusias untuk nyoblos pemilu 2019 ini. Terlebih lagi warga yang tinggal di luar negeri. Wah luar biasa banget mereka rela antri dan panas-panasan buat nyoblos loh! Salut sama mereka!!

Terkait soal golput alias golongan putih alias ga mau ikutan nyoblos, sebenarnya aku agak kurang setuju dengan sikap itu ya. Terlepas dari milih siapa, sebenarnya yang penting tuh ikutan milih. Kalau merasa tidak ada calon yang bagus, ya pilih saja yang sekiranya pilihan terbaik dari yang terburuk. Daripada ga milih sama sekali kan? Pandangan lainku adalah ya coblos saja dua-duanya sehingga surat suara tersebut tidak sah. At least surat suara kamu tuh dipakai. Bukan dipakai oleh orang lain, ya ga?

Oiya, temanku ada kirim link tentang kira-kira siapa calon yang sesuai dengan aspirasi kita. Di situ kaya semacam kuis gitu nanti hasilnya akan keluar kira-kira calon mana yang bisa dijadikan pilihan kita besok. Bisa klik di sini. Buat yang bingung mau pilih siapa, bisa tuh ikutan kuis tersebut supaya bisa memantapkan hati. Aku sendiri sih sudah mantap dengan pilihanku. Meski saat aku coba kuis tersebut, hasilnya malah ga sesuai dengan pilihanku. Hahaha. Kocak. Apakah aku ganti haluan saja ya??? #eh

Aku harap di pemilu 2019 ini bisa berjalan dengan baik, lancar, dan ga ricuh. Beberapa hari ini aku mendengar sih bisikan-bisikan untuk waspada kalau-kalau pemilu 2019 ini bakal ricuh. Apalagi aku ini etnis yang suka didiskriminasi karena minoritas. Wah bisa jadi sasaran empuk dah kalau terjadi ricuh. Tentu aku ga lupa akan kerusuhan Mei 1998 itu... Siapa coba yang bakal lupa akan kejadian menyakitkan itu? Apalagi etnisku yang jadi sasarannya. Wah ga bisa lupa deh. Meski aku saat itu masih berumur 5 tahun, tapi aku masih ingat cuplikan-cuplikan kejadian yang kualami saat itu. Puji Tuhan sih aku aman ya dan karena masih kecil, belum ngerti lah ketegangan yang dirasakan saat itu. Tapi ya kejadian itu tetap terekam di dalam memoriku. Bahkan ya, untuk pemilu 2019 ini, beberapa orang sudah kabur ke luar negeri dan ga ikut pemilu supaya bisa menghindar kalau-kalau nanti ricuh. Gila ga?! Sampe sebegitunya loh! 

Ah jadi ngelantur ke mana-mana kan....Intinya sih aku berdoa, siapapun yang nanti bakal menang di pemilu 2019 ini, aku percaya mereka memiliki hati yang mau memajukan bangsa Indonesia. Mau sampai kapan negara ini cuma gini-gini aja dan dipandang sebelah mata oleh negara lain? Kalau ricuh apalagi..wah bakal makin jelek deh nama Indonesia di mata dunia. Bahkan bisa jadi jelek juga di mata warganya sendiri...

Monday, April 15, 2019

Wedding: Hasil Foto Pre-Wedding dengan Vendor Kuang Yee Bridal

Halo guys! Beberapa hari yang lalu, tim Kuang Yee Bridal akhirnya kirim hasil 35 foto yang akan dicetak dalam album. Sebelumnya, melalui chat WA dengan tim Kuang Yee Bridal, kami memang meminta supaya sebelum album dicetak, foto-fotonya dikirimkan kepada kami terlebih dahulu untuk dicek. Habisnya kami kan ada minta satu foto untuk dikirimkan ke kami duluan karena akan dicetak kanvas lewat vendor Tracy Bridal (paket dari Tracy Bridal). Nah setelah lihat hasil fotonya, sedikit gregetan karena beberapa spot butuh diedit lagi. Misalnya saja di background ada kelihatan kabel lampu, lampu-lampu neon di balik pintu, dan pintu dengan cat yang timbul sehingga terkesan pintu itu dicat seadanya gitu. Jadi kami minta edit ulang kan. Apalagi foto tersebut akan dicetak dengan ukuran 60 x 90 cm. Wah bakalan kelihatan deh tuh hal-hal yang kusebutkan tadi.


Awalnya tanggapan dari ci Elly tentang kami yang minta diedit ulang gitu disambut dengan kurang baik. Somehow kalau aku baca chat dari doi, isinya seolah-olah bilang "ga bisa diedit lagi". Tapi ga lama aku dapat email yang berisikan hasil foto yang sudah diedit ulang sesuai dengan permintaanku dan Kibo. Hahaha. Baiklah, yang penting hasilnya oke, ya ga?

Nah balik lagi ke soal hasil foto pre-wedding dengan vendor Kuang Yee Bridal. Secara keseluruhan, foto-foto yang ada di dalam album tersebut sudah teredit dengan baik. Ya ada si satu yang pengen aku minta diedit lagi. Tapi ga perlu-perlu amat juga sih. Mungkin akunya kali yang terlalu berlebihan, jadinya gatel pengen minta diedit. Hahaha.

Ini aku kasih liat sedikit ya...hihi..



Gimana?? Bagus ga??

Sebenarnya si Kibo agak sebel karena foto dengan background putih doang itu ga dipilih sebagai foto yang akan dicetak di kanvas. Habis aku dan mama Kibo berpendapat "masa backgroudnya putih doang?? Sayang ah". Jadi suara dia saat itu kalah dengan suara kami berdua. Haha...Tapi menurut kakak ipar Kibo dan adiknya Kibo, foto dengan background putihlah yang paling bagus setelah mereka lihat hasil fotonya dari foto-foto yang dikirimkan ke kami beberapa hari lalu. Hmm...selera sih emang...tapi sudah pilih foto yang lain buat dicetak kanvas...gimana dong??

Ya tapiii intinya sih aku sukaaa sama hasil-hasil foto dari Kuang Yee Bridal ini. Meskipun cuma foto studio dan ada satu foto outdoor di hutan Penang, tapi hasil fotonya sesuai dengan ekspektasiku. Hihihi. Terima kasih Kuang Yee Bridal sudah membuat foto pre-wedding impianku terwujud ^^

Friday, April 12, 2019

Cara Dapat Uang dari Nulis Blog dengan Google AdSense

Cara dapat uang dari nulis blog?? Emangnya bisa dapat uang dari nulis blog? Ah pertanyaan itu tentunya dapat dijawab dengan "YES", bisa loh dapat uang dari menulis blog. Buat para blogger yang sudah lama berkecimpung dengan dunia blog pasti tahu akan hal ini. Gimana caranya dapat uang dari nulis blog doang??

Buatku sih dengan menggunakan Google AdSense. Fitur iklan di Google yang bisa dimanfaatkan oleh para blogger untuk menghasilkan sedikit tambahan uang. Ya kubilang sedikit, karena emang dapet uangnya sedikit cik. Tapi tetap aja itu uang toh? Seperti peribahasa, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Ya itulah yang aku percayai dengan memasang Google AdSense pada blogku.

Jadi gimana caranya?

Cara yang kutempuh untuk bisa menghasilkan uang dari blogku ini adalah dengan melihat pada pengaturan blogger-ku dan klik pada menu earnings/penghasilan:

Awalnya sih aku iseng-iseng pencet menu earnings ini. Habis kan pengen dong bisa dapat uang dari nulis blog sajaa..Jadilah aku pencet menu earnings tersebut dan tick "Yes" pada pertanyaan "show ads on blog". Kalau dalam Bahasa Indonesia, pertanyaannya jadi "Tampilkan iklan pada blog". Langsung saja diklik pilihan "Ya" saudara-saudara.

Setelah itu di bawahnya akan ada pengaturan tampilan iklan pada blog. Pilihannya ada 3, yaitu:
  1. menampilkan iklan di bawah pos dan di samping pos;
  2. menampilkan iklan di bawah pos; atau
  3. menampilkan iklan pada samping pos.
Aku sih pilihnya yang pertama ya, jadi iklannya muncul di samping, maupun di bawah posku. Kemudian untuk mengatur tampilan iklan dalam versi website, kita musti mengunjungi menu Layout/ Tata Letak.


Pada bagian yang ingin kalian masuki iklan, klik saja "Add a Gadget" kemudian pilih AdSense. Kalau aku, kupilih supaya iklan tampil di sebelah kanan atas pada posku. Jadi kuatur demikian deh.

Nah gampang kan cara nampilin Google AdSense di blog kita?

Ini salah satu pos tentang cara memasang iklan di blog yang cukup bagus juga buat dibaca. Bisa langsung saja klik ke sini.

Untuk kasus tertentu, ada juga pengaturan blog yang ga ada menu "Earnings" sepertiku. Hal ini karena blog Anda belum terkoneksi dengan Google AdSense. Oleh sebab itu, Anda harus daftar terlebih dahulu di Google AdSense dan memasukkan ID Akun blog Anda ke Google AdSense.

Tentunya ada syarat-syarat blog Anda bisa terdaftar dalam Google AdSense ini karena Google ga sembarangan juga ngasih duitnya. Syarat-syaratnya bisa kalian baca sendiri di sini.

Ingat ya, buat di Indonesia, para blogger harus mencapai nilai Rp 1.300.000 dulu baru bisa dicairkan uangnya. Terus jangan juga kalian sengaja ngeklik-ngeklik iklan di blog kalian supaya bisa dapat duitnya cepat. Nanti bakal dihukum loh sama Google. Bisa dengan cara pengurangan uang yang sudah masuk ke deposit kita gitu deh salah satunya. Parahnya ya nanti kita ga bisa masang iklan di blog kita lagi. Jadi cara terbaik, ya sering bikin pos menarik, sering blog walking supaya banyak juga blogger lain yang mampir ke blog kita, juga dengan berdoa supaya viewer makin banyak. Hehe

Happy Blogging!

Thursday, April 11, 2019

Belajar Bahasa Jepang dengan Duo Lingo

Dari sejak jaman sekolah dulu aku sudah suka dengan Jepang. Padahal Jepang ini penjajah kejam tanah air ya. Tapi gimana dong...aku suka dengan hal-hal tentang Jepang karena suka baca manga (まんが) alias komik Jepang. Cita-citaku saat SMP tuh ya pengen pergi ke negeri sakura itu. Puji Tuhan kesampean.. >.<

Nah ga cuma sampe situ aja, aku juga niat untuk mempelajari Bahasa Jepang. Bahkan ayahku sampai membelikanku buku untuk belajar Bahasa Jepang loh...yang pada akhirnya kupelajari untuk menghafal hiragana dan katakana. Emang cuma niat aja ya, pelaksanaannya nihil! Eh ga nihil-nihil amat kok, at least aku sudah lumayan dalam menghafal hiragana.

Hiragana adalah daftar suku kata Jepang dan merupakan salah satu komponen dalam sistem penulisan Bahasa Jepang, beserta dengan katakana, kanji, dan untuk beberapa kasus romaji (Latin Script) (dalam Wikipedia). Hiragana berarti "ordinary" atau "simple". And yes, menghafal hiragana itu ga sesulit katakana apalagi kanji.

Oke balik lagi ke soal belajar Bahasa Jepang. Semenjak disibukkan oleh tugas-tugas sekolah dan berlanjut ke bangku kuliah, aku sudah lama tidak mempelajari Bahasa Jepang. Paling-paling untuk kata-kata yang umum sih masih bisa kuingat seperti わたし は フリスカ です, atau あなた gitu. Untuk tulisan わたし は フリスカ です terutama, so pasti kuingat karena setiap kali aku ujian di bangku SMA, aku pasti akan menuliskan hal tersebut di halaman paling belakang lembar jawabanku. Itung-itung ngapalin tulisan Jepang gitu. Hehe. Tapi pas kuliah udah ga kulakukan itu lagi...boro-boro sempet, bisa nyelesaiin ujiannya dalam waktu yang diberikan aja udah syukur....Kalo jaman SMA sih aku termasuk yang cepet nyelesein soal-soal ujian. Makanya karena ga boleh keluar sebelum waktu habis, aku suka nulis-nulis itu di akhir lembar jawabanku. Iseng ya. Hehe.

Ah kan jadi ngelantur ke mana-mana lagi. Maaf mudah terdistraksi pikiran ini. #plak. Oke, jadi untuk belajar Bahasa Jepang kembali, aku menggunakan aplikasi Duo Lingo namanya. Bisa diakses di play store maupun app store. Kaya gini nih icon-nya:


Awalnya aku pakai Duo Lingo ini untuk belajar Bahasa Prancis. Maklum saat pertama kali install, Bahasa Jepang belum ada nih course-nya. Eh pas liat-liat course buat mempelajari bahasa yang lain, ternyata Bahasa Jepang sudah ada dalam applikasi Duo Lingo ini. Makin seneng deh pake Duo Lingo untuk belajar Bahasa Jepang.


Nah saat pertama kali masuk course, tentunya cuma bisa pencet Hiragana 1 karena harus level up dulu untuk bisa lanjut mempelajari hal yang lain. Tapi buat yang udah expert sih bisa lakukan test supaya bisa ngebuka semua course yang ada. Ga semua sih, paling 10 courses gitu. Berhubung aku ini newbie, aku mempelajarinya satu per satu dan sekarang aku sudah level 89 dong dengan 9438 XP dalam mempelajari Bahasa Jepang ini. Mantap ga tuh??

Habisnya asik banget belajar Bahasa Jepang ini lewat Duo Lingo. Interaktif gitu loh. Jadi kan aku mudah buat belajarnya. Terus setiap hari ada batasan XP yang harus kukejar supaya aku ga lose streak gitu deh. Makanya tiap hari aku pasti rutin buka Duo Lingo ini untuk belajar Bahasa Jepang.

Kalian lihat kan masih ada icon yang berwarna abu-abu, itu tandanya aku belum bisa mempelajari course tersebut. Supaya bisa ke course itu, aku harus menyelesaikan course tentang Direction 2. Tapi aku lagi males nih...makin ke bawah makin susah cuy belajarnyaa... iyalaaaah. Terus karena saat ini aku belajarnya malam-malam, aku pengen cepet-cepet selesein gitu biar bisa cepet bobo. Makanya yang kupelajari lagi-lagi course yang mudah-mudah aja. Jadi yang bawah-bawah ga dibuka-buka. Dasar pemalas.


Kalau klik icon bendera Jepang di pojok kiri atas, akan muncul tuh bahasa-bahasa apa saja yang kupelajari. Saat ini sih aku sudah mencoba belajar Bahasa Jepang, Bahasa Mandarin, Bahasa Korea, Bahasa Perancis, dan Bahasa High Valyrian. Iya High Valyrian, bahasa yang digunakan Daenerys di series Game of Throne. Tapi yang rutin kupelajari sih ya Bahasa Jepang. Bahasa Perancis juga udah lumayan sih kebuka 10 courses, yang menandakan aku cukup rutin belajar Bahsa Perancis dahulu.

Meski asik belajar Bahasa Jepang dengan Duo Lingo, tapi masih ada beberapa kekurangan nih. Contohnya saja nih ya, aku suka disalahin gitu karena tidak sesuai dengan terjemahannya. Ah belibet amat jelasinnya. Gini nih. Misal di satu soal aku disuru menerjemahkan tulisan jepang berikut ke Bahasa Inggris. Oia, belajarnya Bahasa Inggris sebagai mother tongue ya, ga bisa tuh pake Bahasa Indonesia, ga ada course-nya. Nah misal aku tulis terjemahannya adalah "She watches movie" dan aku pasti akan disalahin karena kurang kata hubung the atau a. Jadi aku harus benar-benar lengkap gitu nulisnya jadi "She watches the movie" atau "She watches a movie". Baru deh akan dianggap betul. Huhuhu.

Terus kekurangannya lagi, saat sudah menekan tombol next buat ngeliat hasil jawaban kita bener atau engga, Duo Lingo tuh cuma menampilkan tulisannya saja gitu. Ga disebutin lagi kalimat dalam Bahasa Jepangnya. Menurutku sih harusnya bisa dibunyikan juga dalam Bahasa Jepangnya. Jadi bisa listening gitu kan. Lewat Duo Lingo kayanya lebih pas buat reading gitu deh. Buat listening-nya masih kurang.

Terus buat cara penulisan pun ga dikasih tau. Makanya kalau di Duo Lingo ini kita ga akan bisa jago writing deh. Lebih fokus supaya bisa baca gitu...Kekurangan lainnya adalah misal soalnya itu dalam Bahasa Inggris, masing-masing kata itu bisa dipencet untuk melihat apa Bahasa Jepang untuk kata tersebut. Tapi kadang ada kata yang ditampilkan dalam huruf kanji. Ga bisa lah aku menuliskan Bahasa Jepangnya....tau Bahasa Jepangnya aja engga, begimana baca kanji-nya kan?? FYI, ketika harus menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Jepang, Duo Lingo akan langsung mengubah keyboard yang digunakan ke dalam keyboard Bahasa Jepang. Jadi nanti yang keluar ya huruf-huruf Jepang gitu. Bisa hiragana, katakana, maupun kanji. Buat pengguna Apple sepertiku sih begitu ya prakteknya. Daaan aku juga memang sudah mengunduh keyboard Bahasa Jepang. Mungkin karena itu juga kali ya si Duo Lingo langsung mengubah keyboard-ku jadi keyboard Bahasa Jepang.

Secara keseluruhan sih, aku senang menggunakan Duo Lingo untuk mempelajari Bahasa Jepang. Ingat ya, ga cuma Bahasa Jepang, tapi ada juga bahasa-bahasa lainnya yang bisa kalian pelajari. Fitur lain Duo Lingo adalah club. Jadi kita bisa join club atau membuat klub untuk orang-orang yang sedang mempelajari bahasa yang sama dengan yang kita pelajari. Seru kan jadi belajarnya ga sendirian lagi??

Lalu ada juga badge-badge gitu sebagai tanda kalau kita sudah menyelesaikan (accomplish) tugas-tugas yang ditetapkan Duo Lingo. Jadi makin semangat buat belajar bahasanya deh!!

Jadi, kalian tertarik juga ga untuk belajar Bahasa Jepang dengan Duo Lingo?? Aku bukan lagi endorse loh. Tapi ini pure ulasanku karena aku benar-benar terbantu dengan aplikasi ini supaya aku bisa belajar Bahasa Jepang. Gratis juga pula!? Mantap toh?

Wednesday, April 10, 2019

Kontemplasi

Akhir-akhir ini kayanya isi posku tentang review semua. Kebanyakan sih review tentang film yang kutonton atau drama Korea yang sudah kutonton. Kali ini mau kontemplasi sedikit...


Kontemplasi. Kontemplasi adalah renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh (KBBI, 2019). Berkontemplasi adalah merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian. Apa yang mau aku kontemplasikan?

Sebenarnya aku sedang nonton series Barat berjudul Y O U yang diputar di Netflix. Episode pertama dari You ini sudah mencuri perhatianku. Bukan, aku bukan mau membuat ulasan tentang series YOU ini. Sudah bosan kan buat kalian yang mampir ke blogku, isinya tentang review doang??

Jadi kontemplasi soal apa? Cinta. Semua orang tentu senang dengan cerita cinta. Cinta ada berbagai macamnya. Ada cerita cinta dari orang tua kepada anak. Ada cinta anak kepada orang tua. Ada cinta masa-masa di sekolah. Ada cinta bertepuk sebelah tangan. Ah, tidak ada habisnya kalau ngomongin soal cinta. Aku pun sudah bosan dan sedikit banyak ngerti lah soal cinta. Kenapa bisa bilang gitu? Soalnya aku diajarin soal cinta. Hah? Diajarin? Ya, aku ditatar soal cinta...lewat kelas katekisasi pra nikah...atau yang kadang disebut orang BPN a.k.a. Bimbingan Pra Nikah.   Tsaah. So iye banget ga??

Satu kali di kelas BPN tersebut aku diajari mengenal beragam jenis cinta. Ada cinta yang pamrih, ada cinta karena nafsu, juga ada cinta yang tanpa pamrih (unconditional love). Tapi buatku sendiri apa sih arti cinta? Aku pernah ditanyai pertanyaan tersebut. Pernah beberapa kali sama mamaku. Yang kujawab dengan diam. Pernah juga ditanyai saat care group (semacam grup untuk saling sharing dan menguatkan satu sama lain). Untuk pertanyaan yang dilontakan kepadaku saat care group ini harus kujawab. Ga bisa ga kujawab karena setiap anggota care group harus jawab soal itu.

Apa yang ada di otakku?? Jawaban apa yang aku lontarkan? Saat pertanyaan "apa itu cinta" dilontarkan, kalian tahu apa yang ada di isi kepalaku? Ya mana tau lah ya, siapa juga yang bisa baca pikiran orang.

Isinya blank. Ga bisa mikir. Sampai akhirnya giliranku untuk menjawab. Yang bisa kujawab saat itu adalah jawaban teoritis karena aku sudah mendapatkan modal teori tentang cinta dari kelas BPN yang sudah kuikuti. Balik lagi soal kontemplasi. Setelah nonton 8 episode series YOU ini aku jadi mikir. Kok bisa ya si tokoh pria mencintai si tokoh wanita sampai sebegitunya?? Tapi cintanya si pria ini tidak sehat. Terlalu berlebihan...sampai menggunakan cara tidak baik hanya untuk bisa mendapatkan cinta sang wanita. Untuk kasusku?

Bisa dibilang kehidupan cintaku ini bukan yang drama FTV gitu ya. Aku sama Kibo dekat karena main bareng saat tingkat satu. Karena satu jurusan dan punya kesukaan yang sama, kami pun jadi semakin dekat. Sampai akhirnya jadian dan sekarang, kami berencana untuk ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan. Jadi apa arti cinta buatku?

Jawabannya cukup ada dalam pikiranku saja dan aku terapkan dalam kehidupanku sehari-hari....

Tuesday, April 9, 2019

Series Review: Memories of Alhambra (2018)


Memories of Alhambra (2018)
Sumber: IMDb

Sutradara
:
Penulis
:
TV
:
tvN
Jenis Film
:
Romance, Drama
Total Episode
:
16 episode
Tanggal Rilis
:
1 Desember 2018 – 20 Januari 2019
Cast
:

Sumber: asianwiki






































Sinopsis Memories of Alhambra (2018):

Yoo Jin Woo (Hyun Bin) adalah seorang CEO dari perusahaan investasi. Dia memiliki sense yang baik dalam hal kerjaannya dan memiliki spirit yang kuat dalam berpetualang dan memiliki keinginan tinggi untuk menang. Istilah gaulnya mah AMBIS (ambisius). Yoo Jin Woo sedang melalui waktu yang berat secara emosi karena hal-hal seperti pengkhianatan oleh temannya sendiri. Dia mengunjungi Granada, Spayol, untuk urusan bisnis dan menginap di hostel tua yang dikelola oleh Jung Hee Ju (Park Shin Hye). Di sana, Yoo Jin Woo terlibat dalam peristiwa yang aneh.

Review Memories of Alhambra (2018)

Sejujurnya aku cukup ketinggalan untuk nonton drama korea Memories of Alhambra ini. Aku tahu adikku sudah menonton drama ini, tapi somehow aku tidak begitu tertarik buat nonton. Sampai akhirnya aku baca review dari blog temanku soal drama korea ini. Akhirnya aku pun tertarik juga buat nonton. Apalagi ada Hyun Bin dan Park Shin Hye yang main sebagai tokoh utama dalam Memories of Alhambra ini. Bikin makin tertarik kan jadinya.

Curhat dikit, aku suka sama Hyun Bin karena nonton drama korea Secret Garden, sedangkan untuk drama korea yang dibintangi Park Shin Hye sih aku cukup sering menontonnya, seperti You're Beautiful, The Heirs, Pinocchio, dan Doctors. Makanya ketika Memories of Alhambra dibintangi oleh Hyun Bin dan Park Shin Hye, aku cukup excited dibuatnya. Cuma sayang, mengapa di cover drama Memories of Alhambra ini wajah ganteng Hyun Bin sangat berbeda??? Aku ga mengenali si tokoh pria di poster itu Hyun Bin loh! Aneh banget jadi kaya yang tuaaaa banget...sayang sekali...

Episode pertama aku sudah dibuat suka buat ngikutin episode selanjutnya. Soalnya membicarakan tentang game AR gitu. Terus aku menemukan hal menarik juga dari satu cuplikan berikut:


Apa hayo yang aku temukan??? Yak! Tulisan "RAMEN GRATIS". Aku langsung ngeh gitu loh pas ada Bahasa Indonesia. Uwooow jadi tamu Hostel Bonita ini ada juga orang Indonesia ya? Hehehe.

To be honest, aku kurang suka sih sama alur Memories of Alhambra ini. Alurnya lambat. Banget. Untuk dapetin adegan yang klimaks gitu nge-shoot-nya tuh kaya sinetron gitu, liat-liatan antar tokoh yang diganti-ganti kameranya buat nyorot masing-masing tokoh secara close up. Adegan itu bisa 1 menit kali. Makanya aku sering nge-skip adegan yang cuma liat-liatan atau nangis doang gitu. Habis bisa 1 menit sis! Buang-buang waktu aja kan, padahal emosinya ga dapet gitu, malah bikin aku berkata dalam hati "Apaan dah gini doang adegannya lama bener." Di episode akhir malah adegan nangisnya Jung Hee Ju bisa sampe satu lagu dong. Gila ga tuh?! Terus ending Memories of Alhambra ini kurang memenuhi ekspektasi. Gantung. Entah mengapa lagi-lagi film yang ditulis oleh Song Jae Jung ini cuma membuatku penasaran di awal tapi makin ke belakang tuh makin ga menarik jalan ceritanya.

Baca juga: Series Review: W - Two Worlds (2016)

Somehow di film ini juga ada Kim Eui Sung sebagai pemeran antagonis di sini. Aku langsung ngeh dia pasti tokoh jahat karena di drama korea W - Two Worlds dia juga jadi antagonisnya gitu. Aku kurang suka deh sama acting beliau. Maaf ya. Sebenarnya mimik wajah jahatnya udah dapet buat tokoh jahat. Tapi gimana ya, peran villain-nya kurang aja gitu buat aku. #apadah

Kisah cintanya juga kurang dapet. Chemistry Park Shin Hye sama Hyun Bin ga sebagus Ha Ji Won sama Hyun Bin di Secret Garden. Padahal aku berharap bisa kayak gitu chemistry romance-nya. Aaah...sayang sekali. Habis di alur buat dapetin feel kalo Jung Hee Ju dan Yoo Jin Woo ini tuh terasa dipaksakan. Masa tiba-tiba jadi suka? Mungkin maksudnya Hee Ju jadi jatuh cinta karena Jin Woo udah baik banget sama keluarga Hee Ju kali ya? Tapi gimana ya...pembawaan cinta berseminya tuh ga dapet buatku. Soalnya titik berat film ini kan ke pencarian Se Ju dan tentang game AR bikinan Se Ju. Terus saat ada adegan nangis kehilangannya gitu tuh ga dapet loh. Aku ga sampai nangis, malah ga nangis sama sekali saat menonton seluruh episode drama ini. Masih dapet feel sedihnya saat nonton W- Two Worlds deh. Seperti yang kubilang sebelumnya, mungkin karena kebanyakan dalam drama ini tuh nyeritain misteri di balik games AR-nya. Jadi ya gitu, emosi penonton which is emosiku tidak sampai dikocok-kocok kaya nonton Another Miss Oh. Wah gela sih kalo Another Miss Oh tiap episode aku dibikin nangis. Ngenesnya dapet banget coy!

Terus acting dari Chanyeol juga sebenarnya kurang dapet sih. Nerd-nya programmer belom bisa diperankan dengan baik kalau menurut opiniku.

Baca juga: Series Review: Another Miss Oh atau Oh Hae Young Again (2016)

Aku juga menemukan keanehan dalam series Memories of Alhambra ini. Ponsel Jung Hee Ju itu tiba-tiba ganti. Kayanya kru film lupa deh ngeganti ponselnya Hee Ju. Maklum setting tempatnya kan beda negara. Saat sedang main di Granada kan mereka syuting untuk episode awal dan episode tengah-tengah gitu, jadi loncatnya jauh banget pasti. Ga sesuai alurnya. Makanya ada keanehan di situ.

HP saat di Korea
HP saat di Granada
Jadi ceritanya tuh Hee Ju sedang mengemudi dan mendapat telepon dari Jin Woo. Ponsel Hee Ju saat itu berwarna putih kan? Terus kan doi terbang ke Granada buat ketemu sama Jin Woo, eh ponselnya tiba-tiba jadi warna hitam. Daebak. Doi ganti hp secepat itu??

Secara keseluruhan, aku cukup menikmati adegan film yang menampilkan saat pemain sedang memainkan game. Sudut pandang yang diambil kamera bagus lah. Penonton jadi berasa ikutan main gitu. Tapi mungkin karena isi film ini terlalu berat ke pengungkapan misteri dalam game, jadi aspek lainnya kurang gitu. #banyakmaunya

Kayanya kalau dijadikan novel bakalan lebih menarik deh daripada dijadiin film. Soalnya kan kalo berupa novel pembaca tuh punya imajinasi masing-masing saat membayangkan adegan demi adegan. Saat di film tuh adegan-adegannya kurang bisa tersampaikan dengan baik, terutama adegan jatuh cintanya ya. Rasanya kan dipaksakan tiba-tiba suka aja gitu tanpa sebab.

Aku kasih bintang 7 dari 10 buat drama Memories of Alhambra ini. Cukup menarik karena setting film di Granada jadinya kan bisa ngeliat kaya apa Granada itu. Terus efek-efek dalam film juga bagus kok. Tokoh-tokoh NPC-nya juga "didandani" dengan bagus. Terutama buat NPC di Granada. Ciamik banget deh. Satu hal yang bikin aku suka ya saat episode-episode awal. Seru banget ngikutinnya. Apalagi saat Jin Woo dikejar-kejar musuhnya. Wah, aku dibuat tegang. Adegan itu satu-satunya yang bikin emosiku terpancing. Cuma sayangnya itu, makin ke belakang tuh emosiku dibuat datar-datar aja. Ga greget. Ya karena alur ceritanya terlalu lambat kali ya. Itu lagi itu lagi. Jadi kan bosen.

 (7/10)

Monday, April 8, 2019

Book Review: The Proposal of Love

Sumber: iJakarta

Judul
:
The Proposal of Love
Penulis
:
Mayya Adnan
Jumlah Halaman
:
344 halaman
Tahun Terbit
:
2014
Penerbit
:
Elex Media Komputindo
Kategori
:
Contemporary Romance
Sinopsis
:
Aira Maharani, gadis manis nan cerdas yang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Konsultan Politik. Sayangnya kerumitan dalam bertugas mendampingi Vivian Mahesa selama jelang Pemilukada, dianggap belum cukup. Dia masih harus dihadapkan pada tugas baru yang menjengkelkan.

Raditya Putra Mahesa, putra bungsu dari Reynaldi dan Vivian Mahesa adalah sosok pria yang sempurna. Tampan, pintar, dan CEO Mahesa grup. Tapi sikapnya yang playboy dan gemar bersenang-senang sering membuat keluarganya pusing bukan kepalang.

Mampukah Aira menghadapi sikap arogan Raditya? Terlebih setelah Dimas Arya Mahesa, yang tak lain adalah sepupu Raditya, ikut campur?

Mampukah Aira menyelesaikan tanggung jawabnya untuk memenangkan Vivian Mahesa?

Ataukah Raditya justru menambah kekacauan dalam karier, hidup, dan jiwa Aira?

Iseng-iseng cari bacaan di iJakarta, nemulah novel karya Mayya Adnan satu ini, The Proposal of Love. Awal-awal baca sebenarnya agak bingung sih dengan susunan bahasanya. Apa aku yang terlalu dodol ya jadi ga ngerti sama apa yang diceritain? Intinya sih pas aku baca, aku harus baca ulang lagi biar jadi paham maksud yang disampaikan Mayya. Huhu.

Untuk awal cerita sih cukup seru ya. Soalnya aku ngebayangin aja gitu kalau ada di posisi Aira. Meeting pagi dateng telat terus nubruk orang sampai numpahin kopi ke bajunya. Eh mau bantu nolongin malah diomelin abis-abisan. Sudah begitu, malah ketemu orang itu lagi dan baru sadar kalau doi adalah bosnya. Jeng jeng jeng. Typical kejadian drama di Korea gitu dah...

Cerita awal novel ini cukuplah buatku tertarik membaca terus sampai akhir. Meski sebenarnya konfliknya tuh masih dibilang biasa ya. Drama-drama perkantoran gitu deh. Standar. Terus sepertinya novel ini belum di-edit kali ya? Soalnya masih menemukan beberapa kata-kata yang ga pas gitu susunannya. Typo juga. Entahlah, setelah liat review orang-orang di GoodReads, memang banyak yang bilang seperti tidak di-edit dari karya Mayya di wattpad. Hmm mungkin ini kali ya yang bikin baca novel ini agak aneh. Kurang dalam susunan bahasa maksudku.

Karakternya juga somehow ga konsisten. Di sinopsis kan dibilang kalau Raditya ini playboy dan gemar bersenang-senang. Tapi di novelnya sendiri tuh ga begitu keliatan kalau dia tuh playboy. Pacarnya ga banyak. Hahaha.

Secara keseluruhan sih novel ini cukup asik untuk dibaca. Bahkan kayanya aku baca ini lumayan cepat deh. Habis aku kepo gitu sama akhirnya, karena dibuat geregetan karena si Radit dan Aira ini sama-sama gengsi ga mau nanya gitu deh.

Untuk novel The Proposal of Love ini aku kasih bintang 3 deh dari lima. Lumayan lah menghibur meski konflik yang diangkat sebenarnya belum cukup bikin emosiku teraduk-aduk. Hahaha.

(3/5)

Friday, April 5, 2019

Movie Review: Mantan Manten (2019)


Jarang-jarang nih aku nonton film Indonesia di bioskop. Dasar ga cinta produk negeri sendiri #plak. Sebenarnya aku tuh ga ada niatan sama sekali nonton Mantan Manten ini. Tapi mamaku pengen banget nonton Mantan Manten ini setelah lihat trailer-nya di TV. Dengan semangatnya ngajakin aku buat nonton Mantan Manten. Oke-oke, sebagai anak yang berbakti, aku pun mengiyakan ajakan mama. Langsung saja kupesan dua tiket bioskop Mantan Manten pakai TixID. Nontonya sih di Resinda Park Mall, mall besar di Karawang. Kupilih yang jam 19.00 WIB karena jam segitu sudah santai lah buat kami berdua. Nontonya pun kemarin, 4 April 2019, yang merupakan tanggal tayang perdana Mantan Manten ini. Gila niat banget ga tuh?!

Sedikit review buat XXI Resinda Park Mall...pengunjung di sana saat weekdays itu terhitung sedikit. Jadi sebenarnya aku ga perlu beli tiket online karena beli tiket langsung pun tidak antri panjang kaya di Jakarta. Tapi yasudahlah...

Mantan Manten (2019)

Sutradara
:
Penulis
:
Produksi
:
Jenis Film
:
Drama
Censor Rating
:
13+
Tanggal Rilis
:
4 April 2019
Durasi
:
1 jam 42 menit
Sinopsis

Sumber: detikhot

:
Sebagai manajer investasi terkenal, Yasnina (Atiqah Hasiholan) punya segalanya. Kehidupan glamor, kekayaan dan Surya (Arifin Putra), tunangan yang sangat mencintainya. Namun ketenangan hidup Yasnina harus berakhir ketika ia dikhianati oleh Iskandar (Tyo Pakusadewo) dalam sebuah kasus di perusahaannya.

Dalam sekejap harta Yasnina habis tak bersisa. Tak hanya itu, rencana pernikahannya dengan Surya juga di ujung tanduk. Ardy (Marthino Lio), asisten Yasnina mengingatkan bahwa ia masih memiliki sebuah villa di Tawangmangu yang tidak disita karena belum pindah nama. Villa itu kini menjadi harapan satu-satunya Yasnina untuk bangkit lagi.

Namun untuk mengambil kembali villa tersebut, Yasnina harus menjadi asisten seorang dukun manten bernama Marjanti (Tutie Kirana). Bisakah Yasnina memenuhi syarat dari Marjanti dan bangkit dari keterpurukannya?

Review Mantan Manten (2019)

Berhubung aku ini bukan penonton yang emang pengen nonton Mantan Manten, jadi aku memang tidak punya ekspektasi apapun akan bagusnya film ini. Yang kutahu film ini ada si ganteng Arifin Putra eh dan bercerita drama akan pernikahan. Mungkin karena tentang pernikahan, mama jadi semangat ngajak aku nonton ini karena aku memang sebentar lagi akan menikah #curhat.

Alur permulaan untuk menjelaskan konflik yang ada menurutku sih belum bisa dibilang bagus. Mungkin karena durasi juga kali ya. Jadi penonton dibuat menerka-nerka saja kenapa si Yasnina tiba-tiba ketakutan dan minta pertolongan sama Arifin Iskandar, which is bapaknya Surya Iskandar. Awal-awal aku bahkan ngira-ngira siapa itu Arifin Iskandar..eh belakangan baru tahu kalau dia itu bapaknya Surya Iskandar. Kupikir si Arifin ini bosnya Yasnina saja..ternyata ada hubungan darah sama Surya, tunangan Yasnina.

Terus aku juga bingung, kenapa si Yasnina mau-mau saja gitu nurutin syarat yang diberikan budhe Marjanti. Padahal harusnya si Yasnina ini lebih kuat karena memang dia sudah membeli villa tersebut dari budhe Marjanti. Ah aku juga kurang ngerti sih hukum jual beli properti begini..Apa karena villa tersebut masih atas nama budhe Marjanti kali ya jadi si Yasnina ini tidak kuat di mata hukum. Maka dari itu Yasnina mau tidak mau menuruti syarat yang diberikan Marjanti, yaitu menjadi asisten dukun manten.

Sebagai orang yang tidak mengerti adat Jawa, aku dibuat terpukau dan memahami apa itu pekerjaan seorang dukun manten. Awalnya aku bingung, kok disebutnya dukun manten. Yang ada di kepalaku, seorang dukun manten tuh paling kasih doa-doa gitu buat calon pengantin supaya nanti langgeng pernikahannya. Ternyata ga cuma itu cik. Dia adalah orang yang berperan penting bagi pasangan pengantin budaya Jawa. Kalau ga ada dukun manten yang juga membantu membuat paes, pernikahan Jawa itu ga bisa dilaksanakan. Bahkan untuk bisa melaksanakan tugasnya, seorang dukun manten itu harus semedi, mutih, dan mandi di 7 jenis mata air. Wah wah....Sebegitunya ya ternyata...terus ternyata paes itu begitu sakral loh. Bukan cuma make up yang menandakan pengantin Jawa. Tapi paes itu ga bisa sembarangan dibuat. Harus orang khusus yang bisa melakukannya, yang kita sebut dukun manten itu.

Menjelang puncak film, aku dibuat berurai air mata. Gila!! Film ini bagus banget! Mengajarkan kita untuk ikhlas. Ga paham lagi laaah. Kalau aku jadi Yasnina, aku ga bisa sampai seikhlas itu. Tapi Yasnina punya tanggung jawab dan harus merasa ikhlas untuk melakukannya. The best banget lah buat karakter Yasnina ini.

Intinya sih aku suka sama film ini...Mengajarkan keikhlasan dan juga mengingatkan kita akan budaya Jawa. Bahkan meski jaman sudah modern begini, kita jangan sampai lupa akan budaya Jawa, terutama paes tersebut. Harus diturunkan terus. Jangan sampai ga ada penerusnya.

Rating dari IMDb sebenarnya masih belum bisa dipercaya karena baru 5 users yang kasih rate. Jadi aku bakal tulis rating dariku saja deh kali ini. Buat film Mantan Manten ini kukasih bintang 8 dari 10! Mantap sekali mengocok-ngocok isi hatiku. Huhuhu.
(8/10)

Oh ya, ada adegan Nina bersama Ardy sedang bertemu di kedai kopi. Baristanya adalah Chicco Jerikho loh. Mentang-mentang ya si Chicco ini sekarang memang jadi barista kopi, dimasukkan pula ke dalam film ini. Hihihi.

Thursday, April 4, 2019

Movie Review: Captain Marvel (2019)


Aku termasuk orang yang terlambat buat nonton Captain Marvel ini. Untunglah masih ada bioskop di Jakarta yang memutarkan Captain Marvel. Aku nonton ini bareng Kibo di XXI Pluit Junction hari Minggu, 31 Maret 2019 kemarin. Padahal Captain Marvel sudah tayang dari awal bulan Maret ini. Euforia akan film Captain Marvel ini pun sudah surut deh pastinya. Hahaha. Tapi tak apa, yang penting aku masih bisa sempet nonton Captain Marvel. Aku pengen banget nonton ini karena kupikir biar nanti saat nonton Avenger: End Game jadi ga bingung gitu akan sosok Captain Marvel ini.

Captain Marvel (2019)
Sutradara
:
Penulis
:
Produksi
:
Marvel Studios, Walt Disney Pictures, Animal Logic
Jenis Film
:
Aksi, Adventure, Sci-Fi
Censor Rating
:
PG-13
Tanggal Rilis
:
8 Maret 2019
Durasi
:
2 jam 3 menit
Sinopsis
:
Carol Danvers (Brie Larson), anggota Angkatan Udara Amerika Serikat, mendapatkan kekuatan super setelah sebuah ledakan yang diciptakan oleh ras alien Kree.

Carol menjadi salah satu pahlawan paling kuat di alam semesta ketika Bumi terperangkap di tengah perang galaksi antara dua ras alien.
Sumber: IMDb

Review Captain Marvel (2019)

Sejujurnya aku tahu sosok Captain Marvel ini dari post credit film Avengers: Infinity War (2018). Maklum aku bukan fans berat Marvel Universe, jadi kalau ga muncul di film, aku ga bakal tahu ada hero apa saja. Hehehe.

Lalu ekspektasiku akan film Captain Marvel ini juga tidak tinggi. Aku pikir bakal nyeritain sekilas kelanjutan dari Avengers: Infinity War, eh taunya mengisahkan tentang siapa itu Captain Marvel. Kupikir dia ini kaya Superman-nya DC loh. Alien gitu...eh ternyata eh ternyata....

Aku sih puas ya dengan film ini. Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang dari si Vers (Brie Larson), anggota pasukan bintang planet Kree. Penonton jadinya diajak berpetualang akan pencarian jadi diri si Vers ini. Pembawaan filmnya sih asik menurutku. Satu-satu rahasia dibalik ingatan Vers pun terbongkar.

Buat aksi-aksi dalam film ini sih sudah ga usah ditanya ya pasti bagus. Terus juga ada sedikit selipan komedi karena sosok Goose, kucing milik Dr. Lawson. Ah suka banget deh sama Goose.
Sumber: IMDb
Paling epic sih saat adegan *spoiler alert* Vers, Fury, serta Goose ditawan oleh Skrulls. Saat dipindai untuk menentukan tingkat bahaya, Fury dikategorikan sebagai tingkat yang paling rendah, sedangkan si Goose dikategorikan sebagai makhluk dengan tingkat bahaya paling tinggi. Sumpeh ini lucu banget pas liat reaksi Fury. Aku pun yang nonton juga tertawa, habisnya masa kucing lebih berbahaya daripada manusia. Eh ternyata si Goose ini bukan kucing biasa, melainkan makhluk yang disebut Flerken.

Setelah semua jati diri Vers terbongkar, aku sebenarnya masih meragukan kenapa Vers malah tidak berpihak pada Kree. Maklum ya negatif thinking-nya aku muncul. Habis kupikir Vers akan dikibulin dan berpihak pada pihak yang salah. Eh ternyata...tidak begitu saudara-saudara. Ada drama di siniiih~

Secara keseluruhan sih aku suka sama film Captain Marvel ini ya. Terasa jelas sekarang siapa itu sebenarnya sosok Captain Marvel yang nanti akan ikut main di film Avengers: Endgame yang sebentar lagi akan rilis.

Rating dari IMDb untuk Captain Marvel adalah 7,2/10. Wah masih belum terpuaskan berarti ya. Padahal menurutku film Captain Marvel ini cukup bagus kok. Kukasih bintang 8 dari 10 deh.
 (8/10)

Terakhir, jangan lupa sama post credit-nya! Cuplikan singkat tentang Captain America dan Black Widow yang sedang berusaha untuk mengirimkan sinyal dari pager milik Fury. Padahal mereka sendiri pun tak tahu kepada siapa sinyal tersebut dikirim. Sampai akhirnya pager tersebut mati dan saat mereka berusaha untuk menghidupkan kembali pager tersebut, datanglah sosok Captain Marvel menanyakan keberadaan Fury.

Post credit terakhir baru muncul benar-benar di akhir kredit. Karena aku dan Kibo males nunggunya, yang terakhir ga kami tonton. Katanya sih cuma cuplikan lucu gitu tentang aksi Goose yang memuntahkan Tesseract.

Wednesday, April 3, 2019

Review: Clinique Moisturizer Gel

Saat jalan-jalan ke Singapura bulan Mei tahun lalu, aku menyempatkan untuk jalan-jalan di Changi Airport. Tentunya itu hari terakhirku berada di Singapura jadi sekalian nunggu pesawat, sekalian jalan-jalan di bandara terkeren sedunia.

Namanya juga cewe ya, gatel liat merchant-merchant yang ada di Changi. Salah satu merchant yang aku jambangi adalah merchant skin care. Di situ aku lihat-lihat skin care dari Clinique. Aku tertarik nih buat menjadikan Clinique sebagai skin care rutinku sehari-hari. Apalagi kalau beli di airport jadi ga kena tax dan ada paket hematnya. Jadilah aku makin kepincut untuk beli Clinique Moisturizer Gel ini.

Deskripsi Singkat Clinique Moisturizer Gel

3-Step Skin Care: Step 3
Combination Oily to Oily Skin
Dermatologist-develop. Allergy Tested.
100% Fragrance Free.
Oil-free formula works to soften, smooth and improve the texture and condition of your skin. Contains skin-strengthening ingredients. Spread over face/throat twice daily all over, or where needed. For best results, use after Facial Soap and Clarifying Lotion.

Deskripsi Singkat versi aku:
Clinique Moisturizer Gel ini merupakan step ketiga dari rangkaian perawatan wajah dari Clinique. Makanya pada label tertera Step 3. Hal ini karena Clinique Moisturizer Gel ini dipakai setelah menggunakan Clinique Facial Soap (Step 1) untuk cuci muka dan setelah pakai Clinique Clarifying Lotion (Step 2).

Clinique Moisturizer Gel ini dikhususkan untuk kulit berminyak kombinasi maupun untuk kulit berminyak. Makanya aku pilih yang gel karena cocok untuk kulit wajahku yang berminyak. Clinique Moisturizer Gel ini juga dikembangkan oleh pakar kulit dan sudah dites alergi. Clinique juga dengan bangganya bilang bahwa pelembab ini 100% tidak mengandung pewangi.

Kegunaan dari Clinique Moisturizer Gel ini untuk melembutkan dan meningkatkan tekstur dan kondisi dari kulit kita. Mengandung bahan-bahan yang mengencangkan kulit.

Cara pakainya dioleskan pada seluruh wajah/tenggorokan dua kali sehari atau pada area yang dibutuhkan. Untuk hasil terbaik, gunakan setelah Clinique Facial Soap dan Clinique Clarifying Lotion.

Paket Clinique Moisturizer Gel Beli di Bandara Singapura

Review Clinique Moisturizer Gel
Kemasan dari Clinique Moisturizer Gel ini adalah berupa botol kotak dengan pompa. Jadi buat pakainya cukup pompa saja dua kali sudah cukup buat seluruh wajahku. Botol plastiknya juga mantap, bukan menggunakan plastik yang tipis, jadi kalau jatuh pun ga gampang pecah lah. Menurutku sih kemasannya elegan ya. Terus dia pakai warna bening samar gitu. Jadi aku bisa tahu kapan pelembab ini sudah habis. Cuma satu kelemahan dari kemasan ini, kalau sudah tinggal dikit, ga bisa dipompa lagi. Jadi aku harus cari akal buat ngeluarin isi yang tinggal dikit itu. Sayang banget kan kalo dibuang... 

Seperti tagline Clinique Moisturizer Gel ini, 100% Fragrance Free. Yup, dia ga pakai parfum sama sekali. Wanginya ya alami wangi dari kandungan Clinique Moisturizer Gel ini. Baunya sih aku suka ya, tidak menyengat dan enak aja gitu. Seperti wangi susu gitu menurutku. Enak deh baunya.

Ketika aku oleskan di wajahku, gilee mantap lah sensasinya Clinique Moisturizer Gel ini. Langsung berasa lembabnya. Tidak meninggalkan rasa lengket dan juga bukan rasa kesat. Ketika aku pilek, biasanya area hidungku ini jadi kering karena sering tergesek oleh tissue. Karena aku rutin pakai Clinique Moisturizer Gel ini pagi dan malam hari, kuit hidungku yang biasanya kering bisa beberapa hari, cukup semalaman saja sudah ga kering lagi loh. Memang benar-benar melembabkan deh ini Clinique Moisturizer Gel. Terus juga muka berminyakku sudah tidak separah sebelumnya. Ya kalau sudah siang atau sore masih sih berasa minyaknya, cuma yang aku rasakan tuh minyaknya ga kaya dulu. Lebih terkontrol gitu deh.

Buat harga sih Clinique Moisturizer Gel ini terbilang mahal. Saat aku beli itu lagi promo paket beli dua dapat diskon gitu. Jadi jatohnya kalau dirupiahkan sekitar Rp 400rb satu botol ukuran 125ml. Mahal ya?  Tapi karena aku pengen menjaga kulitku agar tetap bagus saat hari tua, jadi ga apa deh aku rogoh kocekku cukup dalam. Huhuh. Maka dari itu juga aku ga pakai sabun muka dan lotion-nya. Kalau aku beli itu juga, waduuuww bisa tepos dompetku.. Huhuhu.

Untuk pembelian Clinique Moisturizer Gel, bisa dibeli di department store seperti Sogo dan Seibu. Kusarankan sih belinya agar di bandara luar negeri, harga yang ditawarkan akan jauh lebih murah cik daripada beli di department store Indonesia. Maklum Clinique Moisturizer Gel ini adalah produk dari USA. Tapi kulihat diketerangan botolnya sih made in UK. Namun setahuku Clinique adalah brand dari Amerika.

FYI, untuk satu botol Clinique Moisturizer Gel ukuran 125ml ini bisa kugunakan hampir satu tahun loh. Jadi Rp 400rb bisa buat setahun which is sekitar Rp 33rb untuk sebulan. Yah lumayan lah ya.

Overall aku suka sama Clinique Moisturizer Gel ini. Cocok sama kulitku, tidak bikin aku jerawatan dan minyak di wajahku bisa terkontrol. Tentunya juga wajahku jadi tetap lembab. Hehehe.