Friday, June 22, 2018

Jalan-Jalan ke Singapura: Bugis - ArtScience Museum - Garden by the Bay - Suntec City

Selasa, 29 Mei 2018

Happy Waisak Day to all my Buddhist Friends ^^

Yup hari ini hari Waisak dan itu juga berarti tanggal merah di Singapura. Pagi-pagi kami berangkat dari hotel pukul 8 naik bus menuju Bugis+. Rencananya kami mau beli oleh-oleh di pasar Bugis, setelah itu cus deh ke ArtScience Museum. Buat kalian yang mau beli oleh-oleh berupa tas bergambar Merlion atau I Love SG dan kaus dengan sablonan tentang Singapura, pasar Bugis ini adalah tempat yang tepat untuk membelinya. Selain di Bugis, kalian juga bisa belanja di Chinatown sih. Berhubung saat ke Chinatown kami tidak membeli apapun untuk dibawa ke Indonesia, jadi kami memutuskan untuk membelinya di Bugis.

Thursday, June 21, 2018

Jalan-Jalan ke Singapura: Main di Universal Studio

Senin, 28 Mei 2018

Hari ini kami pergi ke Sentosa Island. Tentu kalian sudah tahu dong Sentosa Island tuh tempat untuk apa??? Yup!!! Tempat buat bermaiiiiinnnn. Yuuuhuuuu.
Kami jalan pagi-pagi, sekitar jam 9, berjalan kaki ke stasiun MRT Jalan Besar. Dari situ tujuan akhir stasiun kami adalah Stasiun HarbourFront. Nah sesampainya di HarbourFront, kami masuk ke dalam Vivo City, semacam pusat perbelanjaan gitu. Tapi di dalam sini ada akses monorail menuju pulau Sentosa.

Wednesday, June 20, 2018

Movie Review: Ocean's 8 (2018)

Sebenarnya film ini bisa dibilang sekuel dari film Ocean's sebelum-sebelumnya (Ocean's Eleven, Ocean's Twelve, dan Ocean's Thirteen).  Kalau tak salah ingat sih aku sudah nonton yang Ocean's Eleven. Dan karena sudah nonton film ini, aku jadi pengen nonton semua film Ocean's sebelumnya. Hahaha.
Berhubung sedang libur Lebaran, aku nonton Ocean's 8 di bioskop dekat rumahku di Karawang, yaitu di XXI Resinda Park Mall. Sepertinya film ini bukan film favorit di bioskop Karawang. Habis jadwal tanyangnya cuma ada dua, yaitu jam 13.00 WIB dan 21.00 WIB. Belum lagi studionya juga studio kecil. Beda banget ya sama bioskop Jakarta yang jam tayangnya banyak. Nah sisi bagusnya dari ini, aku ga perlu booking tiket online, hanya walk in saja. Untuk mendapatkan tiket dengan tempat duduk strategis pun tidak pakai ngantri mengular loh. Enak kan??
FYI, aku nonton film ini berlima, dengan mamaku yang kubujuk-bujuk buat nonton, mamanya Grace yang ikut karena mamaku ikut, Grace, sahabat masa kecilku, dan Brian, adik Grace. Mamaku sebenarnya bukan orang yang suka nonton. Berhubung lagi liburan dan mamanya Grace ini juga suntuk dan butuh hiburan bersama teman, jadi kubujuk deh si mama buat ikut juga biar mama Grace juga ga suntuk. Terus si mama juga jadi bisa gosipan sama mamanya Grace. Hehehe.

Sumber: IMDb
Ocean's 8
Sutradara : Gary Ross
Produksi : Warner Bros, Village Roadshow Pictures, Rahway Road Productions, Smokehouse Pictures
Jenis Film : Action, Komedi, Crime
Censor Rating : PG-13
Durasi : 1 jam 50 menit
Sinopsis :
Debbie Ocean (Sandra Bullock) adik dari Danny Ocean merencanakan sebuah perampokan akbar setelah keluar dari penjara dengan dibantu oleh sekelompok geng pimpinannya. Mereka merencanakan pencurian perhiasan senilai $150 juta yang dikenakan oleh artis terkenal (Anne Hathaway) di sebuah acara Met Gala di kota New York.

Friday, June 8, 2018

Jalan-Jalan ke Singapura: Chinatown - Merlion Park - Bugis+

Kali ini aku mau share pengalamanku jalan-jalan ke negeri tetangga, Singapura. Jalan-jalan kali ini bersama papa mama, Olen, Kibo, dan Ray. Kami berenam memang sudah merencanakan pergi ke sini dari beberapa bulan yang lalu dan puji Tuhan kami dapat tiket murah. So happy.
Cerita ini akan aku bagi menjadi empat bagian sesuai dengan jumlah hari liburanku di Singapura. Untuk yang ini aku cerita hari pertama kuberangkat ya. Tujuannya sih biar bisa aku ceritakan dengan detil aktivitasku selama di Singapura. Hehehe. So jangan bosan-bosan mampir di blogku ya! (/◕ヮ◕)/

Minggu, 27 Mei 2018

Kami naik pesawat Scoot dengan fasilitas ekonomi. Scoot ini merupakan anak perusahaan dari Singapore Airline. Dia memberikan tiga pilihan pelayanan, yaitu tiket saja dengan bagasi kabin 7 kg, tiket beserta bagasi 20 kg, dan tiket dengan bagasi 20 kg plus makan. Nah kami memesan tiket dengan bagasi kabin 7 kg saja karena memang itu harga yang paling murah. Tentunya dengan pilihan tersebut, barang-barang terutama yang cream dan cairan memiliki ketentuan sendiri supaya bisa dibawa masuk dalam pesawat. Ketentuannya adalah tempat dari barang cair atau cream tersebut maksimal berukuran 100 ml dan apabila semua barang-barang cair tersebut digabung, tidak melebihi 1 lt kapasitasnya. Berhubung ini penerbangan internasional, tentunya kami harus lebih memperhatikan aturan tersebut. Kalau penerbangan domestik sih bawa air mineral dalam pesawat masih bisa-bisa saja. Hihihi. Perlu diingat, apabila membawa barang cair dengan tempat berukuran lebih dari 100 ml namun isinya memang sudah tinggal sedikit, tetap saja ini dilarang loh guys! Karena ketentuannya memang maksimal tempatnya berukuran 100 ml. Jadi ingat ya ga boleh bawa barang yang lebih dari 100 ml untuk cairan dan cream. Lalu ga boleh juga loh bawa barang berbentuk aerosol atau yang mudah meledak (hair spray). Bahaya! Selain itu, ukuran dari koper yang kita bawa juga tidak boleh melebihi dimensi 54 cm x 38 cm x 23 cm (total dimensi linear tidak boleh melampaui 115 cm). Tujuannya tentu agar koper yang kita bawa bisa masuk ke dalam kabin di dalam pesawat. ^^

Pesawat kami berangkat sekitar pukul 9.45 WIB. Kami (aku, Olen, Papa, Mama) berangkat dari kos Olen (dan kosku sekarang) pagi-pagi sekitar pukul 6 WIB supaya tidak terkena macet. Kami ke bandara Soekarno-Hatta menggunakan jasa taksi online yang bernama Grab Hitch. Lumayan loh guys kalau pakai fitur Grab yang satu itu. Lebih hemat jauh ketimbang memesan Grab Car. Tapi perlu diingat butuh waktu memesan yang lebih lama ketimbang Grab Car. Jadi kalau memang tidak buru-buru, opsi Grab Hitch merupakan pilihan yang bagus!

Kami sampai cukup cepat di bandara terminal 3. Ini kedua kalinya aku menginjakkan kaki di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta. Suasananya begitu berbeda dari terminal yang lama karena desainnya lebih modern. Tidak seperti terminal 1 dan 2 yang menggunakan kayu-kayu jadi terkesan vintage gitu. Di sana kami bertemu dengan Ray dan Kibo yang sudah sampai duluan.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya kami bisa terbang juga ke Singapura. Perjalanan dari Jakarta ke Singapura memakan waktu sekitar satu setengah jam. Waktu di Singapura sendiri lebih cepat satu jam ketimbang waktu di Jakarta. Jadi kami sampai di sana sekitar pukul 13.00 waktu Singapura. Setibanya di sana, yang kami lakukan pertama kali adalah membeli Sim Card agar bisa internetan di Singapura. Ya mau ga mau kami harus beli supaya kami bisa lihat peta dan berkomunikasi. Harga sim card di sana mahal guys! Beda banget sama harga sim card di Indonesia. Untuk membeli satu sim card dengan kuota 12 GB (kalau tak salah) dengan jangka waktu pemakaian hanya 12 hari saja dikenakan biaya $36 yang setara dengan Rp 380.700. Mahal kan?! Jadi kami memutuskan untuk membeli dua sim card saja. Satu untuk papa dan satunya lagi untuk aku. Tapi kalau dipikir-pikir mustinya beli satu saja sih karena dengan satu sim card pun sudah lebih dari cukup. Huhuhu.

Setelah beli sim card, kami pun pergi ke loket tiket MRT untuk membeli tiket MRT. Kami membeli tiket yang satu trip gitu dari Changi ke Stasiun Jalan Besar. Harga perjalanannya sih tidak terlalu mahal. Tidak seperti kereta bandara dari Sudirman ke Soekarno-Hatta. Kalau tak salah hanya $4 saja. Nah setibanya di Stasiun Jalan Besar yang merupakan stasiun terdekat dengan hotel tempat kami menginap, kami pergi ke jalan Berseh untuk menikmati Sungei Road Laksa. Maklum perut kami super keroncongan, jadi check in hotelnya nanti saja setelah kami selesai makan. Hihi. Habis kami harus menentukan pilihan antara makan atau check in dulu karena kalau mau check in kami ke arah kanan, sedangkan kalau mau makan, kami harus ke arah kiri.

Nah Sungei Road Laksa ini berada di kawasan food court gitu guys. Sudah terlihat antrian panjang untuk membeli laksa di sana. Wah wah laksa di situ sepertinya memang terkenal deh. Aku tahu tempat ini dari hasil browsing sebelum pergi ke Singapura. Katanya sih Sungei Road Laksa ini merupakan salah satu tempat makan terkenal di Singapura yang tak boleh terlewatkan. Jadilah aku bela-belain ke sana.

Ternyata laksanya ini memang beda dari laksa-laksa Singapura yang pernah aku coba. Enak! Laksanya pakai kerang rebus gitu dan kaldunya muantap! Harganya semangkok $3 saja. Ini harga yang cukup murah loh untuk makanan di Singapura. Lalu selain laksa, kami juga memesan carrot cake, semacam kue beras gitu berwarna coklat dan dicampur pakai scramble egg. Mirip kwetiau goreng bentukannya, tapi rasanya lebih manis. Hihi. Kibo sendiri memesan chicken rice dengan porsi yang aduhai banyaknya. Olen dan Ray juga makan chicken rice sepiring berdua, sedangkan papa mama memesan dumpling soup gitu. Untuk minumnya kami memesan hot tea dan kalian tau apa yang diberikan kepada kami?? Semacam teh tarik gitu! Teh yang pakai susu. Salah pesan nih kami...sebenarnya kalau mau pesan teh tawar hangat, kita harus bilangnya "hot tea kosong" alias teh tawar hangat kalau di Indonesia. Begitu juga kalau pesan kopi. Harus sebut "kopi kosong" kalau tidak nanti akan dikasi kopi susu. Hihihi.
Sungei Road Laksa
Setelah perut kenyang, kami pun pergi ke Hotel Dickson 81 di Little India untuk check in. Hotel ini cukup nyaman dengan harga yang cukup bersahabat juga. Kami memesan hotel ini lewat aplikasi Traveloka. Pesannya tiga bulan sebelum berangkat kali biar dapat hotel yang murah. Kamar hotelnya kecil tapi masih nyaman untuk ditinggali berdua dan tidak ada jendela. Hahaha. Jadi ruangannya terasa lembab gitu guys kalau AC-nya dingin. Tapi masih oke kok.

Beres check in kami pergi kembali untuk berpetualang ke Chinatown. Nah kali ini kami beli EZ Link, semacam e-money untuk menggunakan MRT dan bus di Singapura. Harganya $12, dengan $5 harga kartunya dan $7 isi dari kartunya. Sebenarnya ada juga tourist card gitu yang tidak dikenakan biaya kartu. Jatuhnya sih lebih murah, namun hanya bisa dibeli di stasiun tertentu saja. Yah sudahlah terpaksa kami harus beli EZ Link.

Sri Mariamman Temple
Sesampainya di Chinatown, kami keliling untuk melihat-lihat. Di Chinatown banyak sekali kios-kios yang menjajakan souvenir seperti kaos I  SG, tas dengan gambar Merlion, pulpen, dan masih banyak lagi. Di sana kami mengunjungi Sri Mariamman Temple, meski hanya lihat dari luar saja, dan Buddha Tooth Relic Temple. Nah kalau Buddha Tooth Relic Temple ini kami masuki. Isinya seribu patung Buddha gitu. Berhubung esok adalah hari raya Waisak, temple ini cukup ramai dikunjungi saat itu. Kalau masuk sini dan pakai baju yang terbuka, kita diwajibkan untuk mengenaikan selendang untuk menutupi bagian terbuka. Berhubung aku pakai baju tanpa lengan dan topi, sebelum masuk aku langsung dipanggil-panggil petugas "No cap and please use this" dengan mempraktekkan tangan menyilang di dada maksudnya harus ditutupi badanku dengan selendang. Oke pak oke saya langsung ke tempat selendang untuk mengambil satu selendang guna menutupi bagian lenganku.

Di dalam banyak sekali patung Buddha guys dan ada Deity untuk masing-masing Shio gitu loh. Terus ruangannya ber-AC jadi enak banget deh bisa ngadem di sini. #plak 


Buddha Tooth Relic Temple
Bentuk ruangannya persegi panjang gitu. Luas dan pengunjung bisa berkeliling memutari satu ruangan ini. Saat memutari temple ini, kita bisa melihat patung-patung Buddha untuk masing-masing Shio diurutkan gitu. Nah ini nih Deity untuk shioku, shio Ayam.
Deity untuk Shio Ayam
Setelah selesai berkeliling temple, kami beristirahat di Chinatown Food Market. Berhubung cuaca panas dan rasanya hauuusss sekali. Aku dan Kibo memesan semacam es campur nangka.
Chinatown Food Street
Es Campur Nangka
Nah anehnya, nangka di es campur itu kaya bukan nangka! Kaya artificial gitu loh. Tapi tetap saja kami nikmati bersama-sama. Untuk rasa masih enakan es campur di Indonesia guys!

Perjalanan balik menuju stasiun MRT Chinatown, kami melihat ada penjual Chestnut panggang. Tertarik, kami pun membelinya setengah kg seharga $8. Lumayan mahal ya guys. Tapi rasanya enak!
Roasted Chestnut
Oh ya, sebelum berangkat, kami juga mampir ke tempat beli dendeng babi, Fragrance. Di sana kami membeli dendeng untuk dibawa pulang. Sebenarnya untuk oleh-oleh sebaiknya beli di bandara guys karena harganya jauh lebih murah. Kenapa? Harga di sana itu tidak terkena pajak 8% guys! Aku agak menyesal sih beli dendengnya di Chinatown. Huhuhu.

Dari Chinatown kami berangkat menuju stasiun Raffles Place untuk pergi ke Merlion Park. Jarak dari stasiun Raffles Place cukup jauh loh. Selama perjalanan menuju ke sana, kami melewati tempat-tempat yang oke juga loh buat foto. Ada patung anak-anak yang hendak nyebur ke sungai. Ada juga patung bapak-bapak dari berbagai ras sedang asik mengobrol. Kemudian ada juga patung kerbau yang sedang narik gerobak. Semuanya spot-spot foto yang unik gitu deh.

Sesampainya di Merlion Park, lokasi tersebut sudah ramai dikunjungi orang. Suasana saat malam hari bagus loh. Penuh lampu-lampu kota gitu. Padahal Kibo awalnya ragu untuk pergi ke sana malam hari. Tapi ternyata memang ramai pengunjung juga loh malam-malam.

Tan Family

Berhubung kami cukup lama berada di sana, panggilan alam untuk buang air kecil pun mampir. Aku mencari toilet terdekat dari Merlion Park ini. Puji Tuhan ada!! Agak tersembunyi sih, tapi ada papan petunjuknya kok. Lokasinya dekat dengan 7 Eleven gitu. Daaaan di toilet ini ber-AC dan bersih guys!! Malah di WC gw jadi ngadem bentar sembari cuci muka biar segar. Kasian cowo-cowo yang nunggu di luar kepanasan. Hihihi.

Di perjalan pulang menuju hotel, kami mampir dulu di Bugis +. Kebetulan kalau mau balik ke hotel, bisa mampir dulu di stasiun Bugis yang berarti dekat dengan Bugis +. Di sini kami beli makan malam di area semacam food court gitu. Kata Kibo, dulu doi biasa makan malem di situ sehabis pulang les. Cieee yang nostalgia jaman kecil dulu. Kibo bilang area itu tidak berubah. Masih begitu-begitu saja. Tempat makannya juga itu-itu juga.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke hotel dengan berjalan kaki. Iya jalan kaki. Jaraknya 900 meter loh guys. Kaki rasanya mau patah ketika sampai di hotel. Huuaaah sungguh perjalanan yang panjang. Satu hari itu aku bisa berjalan sebanyak 16.000 langkah loh guys. Padahal biasanya aku jalan kaki sebanyak 3000-5000 langkah saja. Ini tiga kali lipatnya! Ga heran kalau kakiku sampai sakit-sakit. Hihihi.

Yak begitulah hari pertama liburanku di Singapura. Nanti dilanjut lagi ya dengan hari-hari berikutnya. ^^

Tuesday, June 5, 2018

Jalan-Jalan ke Bali: See You Again Bali

13 Mei 2018

Tak terasa hari ini adalah hari terakhir liburanku di Bali bersama teman-teman Kembar5. (ಥ﹏ಥ) Berhubung di Bali kami masih punya beberapa waktu untuk beli oleh-oleh dan kuliner sesaat, kami memutuskan untuk menghubungi mamang Grab kemarin yang menawarkan jasa mengantar kami selama setengah hari. Kami janjian untuk berangkat pukul 09.00 WIT. Namun si bapak agak terlambat nih. Tapi tak apa deh, yang penting kami bisa keliling Bali sebentar.

Tujuan pertama kami ya ke Warung Sate Babi Bawah Pohon. Kalau ke Bali jangan sampai kelewatan tempat yang satu ini ya. Sate babinya wuiiih uenak tenan!!! Kata Devi sih dulu tempatnya benar-benar di bawah pohon. Makanya dinamakan Sate Babi Bawah Pohon. Nah pas kami ke sana, tempatnya sudah ada lapak sendiri. Cukup besar loh dan lahan parkirnya lumayan lah. Namun sudah tidak di bawah pohon lagi. Hihi. Oh ya, yang menarik logo babi koki di sini. Wajahnya bukan ngegemesin, malah nyeremin. Kalau anak kecil yang lihat sepertinya akan bikin doi nangis. Saat di sana sih memang tidak ada anak kecil yang berseliweran sih.

Sate Babi Bawah Pohon
Setelah puas makan sate babi pakai lontong dengan harga Rp 30.000 saja, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat beli oleh-oleh. Devi menyarankan ke Larissa. Katanya di sana beli oleh-olehnya lebih murah dibanding kalau beli di Krisna. Lokasinya sebrang Joger guys. Jadi mudah banget kan menemukannya?! Dan memang, di sana harganya lebih bersahabat dan tentunya di sana juga menjual kerupuk samcan Rejeki. Buat kalian yang ke Bali dan memakan babi, jangan sampai juga deh ga beli kerupuk samcan Rejeki ini. Harganya untuk ukuran besar sekitar Rp 80.000, sedangkan untuk ukuran kecil Rp 40.000. Di Larissa juga menjual Pia Legong yang terkenal itu loh. Namun sayangnya saat kami ke sana, stok Pia Legongnya sedang habis. Huhuhu. Padahal Devi dan Elis ingin membawa buah tangan tersebut. Jadi seusai dari sana kami mampir ke toko oleh-oleh lain untuk mencari Pia Legong. Sayangnya di sana juga tak ada. Berhubung kami harus pergi ke bandara, jadinya diurungkan deh niat pergi ke tempat pusat Pia Legongnya.

Kami sampai bandara sekitar pukul 12.00 WIT, sedangkan pesawat kami berangkat kira-kira pukul 15.20 WIT. Masih ada waktu sejenak untuk keliling-keliling di bandara dan mengisi perut. Untuk itu kami nongkrong di Starbuck sebelum masuk ke dalam. Devi dan Iren tak lama pergi ke warung sebelah untuk makan siang ayam betutu. Berhubung perutku masih kenyang dengan sate babi, jadi aku tak makan siang. Aku hanya membeli Bread Papa yang Cream Puff Vanilla seharga Rp 22.000 di dalam sembari menunggu pesawat. Hehe.

Oh ya, di dalam bandaranya juga ada yang menjual Pia Legong loh. Namun harganya dua kali lipat dari beli di pusat. Waw waw. Aku sendiri si tak mau membelinya karena memang waktu kadaluarsanya yang cepat dan aku tak begitu suka pia. Hehehe. Selain karena harganya mahal sih. Hihihi. Yak begitulah perjalanan kami selama di Bali. Ini ringkasan itinerary selama di Bali:

#Kembar5Trip

Monday, June 4, 2018

Review: Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Produk ini sebenarnya sudah lama aku miliki. Namun aku belum sempat mengulas produk magic satu ini. Jadi marilah sekarang disimak ya ulasan tentang Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser.

Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Deskripsi Singkat tentang Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Penampakan Kemasan Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Baby Skin® Instant Pore Eraser® is rated 3.4 out of 5 by 95. Instant Pore Eraser® leaves skin with a smooth matte finish and moisturizes all day.

Benefit:
This lightweight and breathable pore-blurring makeup primer leaves skin with a smooth matte finish. Non-comedogenic and fragrance-free.

How to Use/Apply:
Step 1. Apply a thin layer to skin.
Step 2. Can be worn with or without a moisturizer.

Ingredients:
DIMETHICONE DIMETHICONE CROSSPOLYMER STEARYL HEPTANOATE CAPRYLYL GLYCOL SILICA SILYLATE PROPYLENE GLYCOL PENTAERYTHRITYL TETRAISOSTEARATE PRUNUS CERASUS EXTRACT / BITTER CHERRY EXTRACT 
[+/- MAY CONTAIN / PEUT CONTENIR, CI 73360 / RED 30, CI 77492 / IRON OXIDE]

Source:

[Review] Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser
Dari segi kemasan, Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser ini menarik dan bikin penasaran sama produk ini. Buat aku sih saat pertama kali lihat produk ini, aku langsung ambil dan baca-baca deskripsi di belakang kemasannya. Habis kemasannya cute gitu menurutku. Warnanya juga warna kesukaan aku. Hahaha. Tutupnya berupa tutup putar gitu ya. Tapi mudah untuk dibuka dan ditutup. Ga bikin repot deh.

Aroma dari produknya sendiri seperti lilin sih menurutku. Tapi tidak berbau menyengat kok dan tidak mengganggu indra penciumanku. Warnanya bening dan teksturnya seperti cream gitu. Nih bisa kalian lihat sendiri dari foto yang aku kasih:

Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser

Foto di sebelahnya itu merupakan foto saat aku aplikasikan di tangan. Sebelah kiri tidak pakai produknya dan di sebelah kanan diaplikasikan produknya. Kelihatan tidak bedanya? Agak sulit sih memang. Tapi kalau pakai produk ini, pori-pori di tanganku memang jadi terlihat blur gitu. Cukup ampuh buat memudarkan pori-pori sih.

Buat lebih jelasnya, aku coba pakai di area dahi deh. Kelihatan kan setelah dipakaikan Maybelline Baby Skin Instant Pore Eraser ini dahiku jadi terlihat lebih mulus seperti kulit bayi??


Seperti penjelasan deskripsi singkat, produk ini bisa dipakai setelah menggunakan pelembab ataupun tak pakai pelembab sama sekali. Aku sendiri menggunakan pelembab terlebih dahulu, baru menggunakan produk ini sebelum mulai ber-make up. Hasilnya ya memang lebih matte dan bedak jadi lebih tahan lama gitu. Namun karena kondisi kulitku yang berminyak, produk ini tidak membantu untuk mengurangi minyak di wajahku. But it's okay.

Oh ya, kulit tuh beda banget loh sebelum pakai ini dan sesudah pakai ini. Kalau sebelum kulitku kan keset-keset gimana gitu. Nah setelah pakai produk ini jadi licin gitu deh dan halus kaya kulit bayi. Bedak pun jadi lebih nempel di wajah. Menurutku sih produk ini merupakan primer yang oke buat kulit berminyak. At least kemarin aku make up seharian pakai foundation dan two way cake, make up-nya masih bertahan baik. Meski memang di area T-zone berminyak, namun ga membuat cracking alias bedaknya nemblok-nemblok gitu. Padahal sebelumnya saat aku cuma pakai BB Cream dan two way cake (bedak padat), area jidatku pasti sudah hilang gitu deh dan hasilnya jadi kelihatan nemblok-nemblok gitu. Iuuuh jelek deh!

Untuk harga, produk ini bisa dibeli dengan harga yang cukup lumayan tapi masih terjangkau dibanding primer-primer lainnya. Harganya sekitar Rp 89.000 guys. Meski harga terbilang lumayan, tapi cukup awet banget loh. Soalnya pakainya kan memang tidak butuh banyak-banyak. Hanya sebesar biji jagung saja sudah satu muka.

Produk ini bisa dibeli di outlet-outlet macam Guardian atau Watson terdekat. Di Supermarket juga ada kok selama supermarket tersebut memiliki counter Maybelline. Selain itu di toko-toko kosmetik juga sudah banyak yang menjualnya. Apalagi kalau beli online...wah sudah menjamur deh. Jadi mudah banget buat mendapatkan produk ini.

Kalau kalian, pakai primer merk apa? Punya rekomendasi yang lebih oke?? Ayo ceritain di kolom komentar biar aku juga bisa ikutan coba >.<