Tuesday, January 22, 2019

Sampah Plastik

Kalian pernah baca kan berita paus mati di perairan Wakatobi dan sampah plastik 5,9 kg ditemukan dalam perut paus tersebut? Jujur aku miris banget baca berita itu. Negara kita ini sudah darurat sampah guys! Selain mendengar berita paus mati dan perutnya berisi sampah plastik itu, aku juga suka kepoin instagram story temanku yang melakukan 31dayschallenge dari zerowaste.id_official. Nah dari situ aku jadi mulai aware akan sampah plastik yang sulit terurai.

Tau sih kalau sampah plastik itu akan lamaaaa banget ilang dari muka bumi. Uda tau juga kalau sampah plastik ini akan menimbulkan bahaya ke manusia apabila terkubur dalam tanah dan nanti microplastic-nya malah ikut masuk ke dalam buah atau sayuran yang ditanam dekat tanah berisi plastik. Juga bahaya polusi udara dari pembakaran sampah plastik. Yup aku pun masih saja buang sampah-sampah plastik pada tempat sampah. Tapi itu saja tidak cukup! Kenapa? Karena itu tadi, sampah plastik itu cuma berpindah tempat saja dari tangan kita ke tempat sampah lalu ke TPA. Pada akhirnya diapain? Dibakar jadi polusi udara, dikubur jadi microplastic ke buah atau sayuran, dibuang ke laut jadi merusak ekosistem laut. Hhhh... Baiklah akupun mulai melakukan zerowaste.

Banyak sebenarnya hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah plastik ini. Yang awalnya biasa belanja ke manapun masih dibungkus plastik, sekarang harusnya sudah mulai bilang "ga usah pake plastik ya, saya bawa kantong sendiri". Terus kalau pergi beli jajanan, kita bawa wadah makanan sendiri. FYI, wadah makanan dari styrofoam itu bahaya loh buat kita karena bisa membuat kanker. Lalu kalau lagi di restoran atau di warung, minta agar tidak usah pakai sedotan. Sekarang juga sudah banyak loh orang-orang yang bawa botol minum sendiri untuk beli milk tea or minuman kesukaan di mall. Jadi tidak perlu malu or gengsi lagi. Kita harus membuat kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah hal yang normal dan malah membuat orang yang pakai plastik tuh merasa berdosa karena sudah nambah-nambahin sampah plastik di bumi.

Jujur, aku masih ditertawakan loh kalau pergi belanja dengan wadah atau kantong sendiri. Kemarin saat aku menemani mama ke pasar, penjual sayurnya ketawa gitu ngeliat aku minta dia masukin sayur-sayuran yang dibeli ke tempat yang sudah aku bawa dari rumah. "Ada-ada aja nih si eneng. Pake bawa wadah sendiri." Aku pun cuma tersenyum saja sambil nyaut "Biar plastik bapak bisa dipakai sama pelanggan yang lain". 

Puji Tuhan mamaku juga cukup mendukung gerakan zerowaste ini. Dia kalau belanja sudah bilang "ga usah pakai plastik, saya bawa kantung sendiri". Meski kadang karena belanjanya ga terencana, masih tetap butuh kantong plastik buat ngewadahinnya. Tapi pelan-pelan semoga aja uda ga mau pakai plastik lagi.

Selain ngurangin pemakaian plastik, aku juga memilah sampah-sampah yang ada di rumah. Tidak bisa dipungkiri, aku ga mungkin benar-benar jauh dari plastik. Secara plastik itu adalah bahan murah dan dipakai di mana saja. Yang aku lakukan adalah memilah sampah-sampah anorganik di rumah. Saat ini aku mengelompokkan sendiri-sendiri sampah yang ada. Botol plastik sendiri, tutup botolnya sendiri, kertas duplex atau karton sendiri, dan botol-botol bekas shampoo atau kosmetik. Botol beling juga aku kumpulkan sendiri. Nantinya kalau sudah banyak, bisa aku setorkan ke bank sampah. Puji Tuhan ya di Karawang ini sudah ada bank sampah. Jadi nanti sampah-sampah anorganik yang ada ga langsung dibuang ke tempat sampah deh. Tapi bisa disetor ke bank sampah untuk nanti bisa diolah kembali. ^^

Selain mengolah sampah, aku juga mencoba untuk membuat ecobrick dan eco enzyme. Ecobrick itu adalah bata ramah lingkungan yang terbuat dari botol plastik bekas dan diisikan berbagai macam sampah plastik kering dan bersih. Sedangkan ecoenzyme itu adalah cairan pembersih yang terbuat dari sampah buah dicampur dengan gula merah dan air. Disimpan di botol bekas.

Cara membuat ECOBRICK

Untuk bikin ecobrick ini mudah kok. Sampah-sampah plastik di sekitar kalian dibersihkan dan dikeringkan. Setelah itu botol bekas minuman kalian cuci dan keringkan juga. Setelah semua sampah plastik itu kering, masukkan sampah-sampah plastik tadi ke dalam botol dengan menggunakan tongkat. Padatkan sampah-sampah plastiknya. Isi terus sampai penuh. Untuk satu botol 1500ml itu bisa memuat 500 gram sampah plastik loh. Ini adalah cara terakhir untuk membuat sampah plastik itu tidak berceceran di bumi.

Sumber: DispatchLIVE
Kok cara terakhir? Intinya sih jangan malah berlomba-lomba membuat ecobrick. Kan kita ingin mengurangi sampah plastik. Berarti ecobrick ini juga harusnya lama penuhnya dong karena kita sudah kurangi sampah plastik. Jadi ecobrick ini adalah cara terakhir untuk mengelola sampah plastik.

Cara membuat ECO ENZYME

Untuk membuat eco enzyme ini yang kita butuhkan adalah botol plastik bekas, sampah sayur dan buah-buahan, gula merah, dan air.

Sumber: zerowaste.id_official
Perbandingan campurannya adalah 3 : 1 : 10 seperti pada gambar. Artinya kalau kita punya 30 gr sampah buah-buahan, kita butuh 10 gr gula merah dan 100 gr air. Setelah mencampurkan ketiga item itu, kita tunggu selama 3 bulan. Pada bulan pertama, kita harus sering membuka botolnya supaya gas di dalam botol bisa keluar. Lengkapnya bisa baca di sini.

Lalu larutannya bisa dipakai apa? Bisa dipakai sebagai cairan pembersih. Saat ini aku sudah coba bikin dari sampah kulit pisang. Ga sabar nih nunggu 3 bulan. Hihihi

Next step aku juga pengen bikin komposter untuk mengolah limbah organik di rumah. Tapi masih terkendala karena bikinnya agak ribet ya. Hahaha.

Nah sebenarnya ga begitu sulit kan buat memilah dan mengelola sampah-sampah kita?! Kalau dari diri sendiri tidak mulai, siapa lagi???

Friday, January 18, 2019

Movie Review: Bumblebee (2018)

Tepat tanggal 25 Desember 2018, aku diajak Mr. Kibo dan RS buat nonton Bumblebee di Pluit Junction. Awalnya si mau di Mall Emporium Pluit. Tapi ternyata, harga tiketnya jauh lebih murah di PJ. Jadilah kami memutuskan untuk nonton di PJ saja yang merupakan mall di seberang Emporium Pluit. Kami nonton jam 4 sore saat itu. Dapat posisi strategis pula. Nice.

Sejujurnya aku ga pernah nonton film Transformer sebelumnya. Jadi film Bumblebee ini film seri Transformer pertamaku. Hihi.


Bumblebee (2018)

Sutradara
:
Penulis
:
Produksi
:
Jenis Film
:
Aksi, Petualangan, Sci-Fi
Censor Rating
:
PG-13
Durasi
:
1 jam 54 menit
Sinopsis

Sumber: IMDb

:
Dalam pelarian pada tahun 1987, Bumblebee si Autobot, mencari tempat berlindung di tempat barang rongsokan di kota kecil California. Charlie, yang sebentar lagi berumur 18 tahun dan mencoba untuk mencari jati dirinya, menemukan Bumblebee, Autobot yang sudah rusak dan tak dapat bertempur. Ketika Charlie menghidupkannya kembali, dia akhirnya sadar bahwa mobil ini bukanlah Volkswagen kuning yang biasa.

On the run in the year 1987, Bumblebee the Autobot seeks refuge in a junkyard in a small California beach town. Charlie, on the brink of turning 18 years old and trying to find her place in the world, soon discovers the battle-scarred and broken Bumblebee. When Charlie revives him, she quickly learns that this is no ordinary yellow Volkswagen.

Thursday, January 17, 2019

Kursus Mengemudi di Karawang

Aku rasa tempat kursus mengemudi di Karawang yang cukup tersohor itu adalah Cepat Tepat. Kenapa aku bisa bilang begini? Karena apabila aku cerita ke orang-orang di sekitarku bahwa aku sedang ikut kursus mengemudi di Karawang, pasti mereka langsung nyaut begini:
"Les di Cepat Tepat ya?"
Padahal kan ada banyak ya tempat kursus mengemudi alias les nyetir di Karawang. Tapi entah mengapa, nama Cepat Tepat lah yang langsung terlintas di benak orang-orang Karawang. Hihi. Hal ini menunjukkan juga bahwa Cepat Tepat memang tempat les nyetir terkenal di Karawang. Waktu aku ketikan kata kunci "Kursus Mengemudi", yang muncul di pencarian Google pertama kali adalah Cepat Tepat, diikuti LKP Ely Stir, dan Privat Atma Stir. Wah wah wah. Mantap tenan ini Cepat Tepat.

Kalau aku sendiri les mengemudi di mana?

Jawabannya ada dua, yaitu di Cepat Tepat dan di LKP Ely Stir. Kok bisa? Baik aku ceritakan ya pengalaman les mengemudi di Karawang yang pernah aku alami. Sekalian aku review dan bandingkan juga kualitas les nyetir di dua tempat kursus mengemudi itu ya. ^^

Cepat Tepat

Aku kursus mengemudi di Cepat Tepat tahun 2011, saat aku belum lama selesai Ujian Nasional SMA. Kan sudah cukup umur dan kupikir sudah saatnya nih aku les mengemudi supaya aku bisa menyetir mobil sendiri. Aku lupa biaya kursus mengemudi di Cepat Tepat itu berapa. Kalau tidak salah ingat sih sekitar Rp 600.000 deh kalau mau dibarengi dengan pembuatan SIM. Ah atau berapa ya. Aku benar-benar lupa biayanya. Namun kalau bikin SIM lewat Cepat Tepat, harganya mahal saudara-saudara. Jadi saat aku konsultasi dengan papa, papa bilang tidak usahlah bikin SIM lewat Cepat Tepat. Nanti saja urus SIM sendiri. Oke baik.

Belajar di Cepat Tepat ini tidak private ya. Karena akan dibarengi dengan murid lain. Maksimal 3 murid lah sekali jalan. Hitungannya bukan per jam, tapi per KM. Jadi rutenya tuh murid 1 nyetir mobil dari Cepat Tepat sampe pos A (daerah Klari gitu kalau aku ga salah ingat), dari situ gantian dengan murid 2. Dia nyetir sampe pos B (daerah mepet-mepet Rengas Dengklok deh), nah terakhir si murid 3 dari pos B kembali lagi ke Cepat Tepat. Jujur ya karena ganti-gantian gini, rugi waktuku karena nunggu 2 orang pengemudi lain. Pernah beberapa kali aku kebelet pipis karena lama di jalan. Makanya aku harus selalu pipis dulu sebelum kursus mengemudi biar ga kebelet pipis di jalan. Ah tapi karena dingin, tetap saja aku jadi pengen pipis. Huft.

Oh ya, di Cepat Tepat ini bisa pilih mau kursus dengan mobil manual atau matic. Lalu pilih juga mau ber-AC atau tidak. Tapi kalau kursus mengemudi mobil matic sih otomatis ber-AC karena saat itu mobil matic di Cepat Tepat hanya ada yang ber-AC. Aku sendiri sih pilihnya mobil manual dan ber-AC. Mobil manualnya sendiri adalah mobil Xenia. Pengajarku saat itu ada dua orang. Maksudku bukan dalam satu mobil ada dua orang ya. Tapi di hari A pengajarnya adalah X. Di hari berikutnya pengajarnya si Y. Ganti-ganti aja antara dua orang itu. Kalau mobil sih selalu Xenia.

Saat itu aku ikut kursus tidak sendirian. Temanku si M dan si A juga ikutan kursus mengemudi. Lalu adikku si O juga ikut les. Jadi kalau pergi kursus tuh kami janjian. Supaya nanti di dalam mobil tidak ada stranger. Hehehe. Kan agak gimana juga gitu ya kalau ada stranger di dalam mobil dan melihat cara mengemudi kita yang buruk.

Satu kali kursus itu terdiri dari 20 kali pertemuan. Untuk jadwalnya harus diatur terlebih dahulu supaya tidak nunggu lama di Cepat Tepat. Dari 20 kali pertemuan itu, 4 kali pertemuan khusus latihan parkir.Latihan parkir ini sekitar 1 jam. Lokasi latihan parkir ini di tanah kosong dekat RS Dewi Sri. Saat itu aku cuma 2 kali latihan parkir d. Tidak selesai karena apa ya. Entah karena tidak ada jadwal yang pas atau aku sudah keburu harus pergi meninggalkan Karawang ya...Hmm...

Pengajar di sana sih cukup baik ya mengajarkan. Cuma yang aku rasakan kalau kita ga kasih uang rokok, perlakuan dia tuh jadi kurang baik ke kita. Dia akan baikin murid yang suka kasih uang rokok. Jadi pilih-pilih gitu. Hahaha. Tapi gatau deh pengajar sekarang gimana.

Buat mobilnya sendiri, kopling dari Xenia itu sangat ringan. Diinjak dikit juga uda masuk tuh koplingnya. Beda banget sama mobil Honda Stream si papa. Pas aku coba mengemudi mobil Stream papa, buset koplingnya keras banget bro! Pasti deh aku mati mesin saat starter. Padahal selama mengemudi tuh engga mati mesin pas starter. Papa bilang sih mungkin karena kopling di sana sudah di modifikasi, makanya jadi lebih ringan. Hmm ga tau deh.

Hasil dari kursus mengemudi ini belum sanggup membuat aku dipercaya papa untuk mengemudikan mobilnya. Papa bilang aku masih harus les mengemudi lagi. Huft sedih.

Beberapa tahun pun berlalu, aku harus meninggalkan Karawang karena harus kuliah di kota Bandung. Selama di Bandung aku benar-benar tidak pernah mengemudi. Pernah beberapa kali di simulator mobil karena Tugas Akhir alias skripsiku berkaitan dengan pengemudi mobil. Hihihi. Jadi saat nunggu respondenku datang ke simulator, aku mainin aja simulator-nya sekalian latihan mengemudi. Soalnya memang ada mode untuk beginner gitu dan memang buat latihan mengemudi. Lumayan kan.

Lulus dari kuliah, aku pun mulai memasuki dunia kerja. Karena kerja ini, waktuku tersita dan aku sama sekali tidak sempat untuk membuat SIM. Alhasil aku pun tetap tidak bisa mengemudikan mobil karena belum resmi punya SIM. Weleh-weleh...

Sampai akhirnya aku bisa kembali ke kota asalku di Karawang dan aku memutuskan untuk kursus mengemudi kembali sembari membuat SIM. Ya, tahun 2019 ini aku ikut kursus mengemudi kembali.

LKP Ely Stir

Les mengemudiku kali ini di LKP Ely Stir. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin les di sini. Dari Mei 2018 deh. Tapi baru kesampaian sekarang. Aku tahu LKP Ely Stir ini dari temanku si DC yang memang belum lama selesai kursus mengemudi di sana. Selain itu waktunya sesuai janjian kita gitu, jadi kan enak ya ga tergantung jadwal yang diberikan si tempat les. Lesnya pun bisa di hari Sabtu dan Minggu. Hal inilah yang membuatku tergiur buat les mengemudi di sana. Aku pikir tiap akhir pekan aku mau balik ke Karawang supaya di Sabtu Minggu ini bisa les mengemudi. Eh tapi kenyataan berkata lain. Aku ga bisa! Jadilah baru Januari 2019 ini aku bisa les mengemudi kembali dan membuat SIM. Yeay!

Kalau mau les di LKP Ely Stir, cukup kontak via WA ke nomor +62 857-7666-0888. Nanti kita tinggal bilang saja mau paket yang mana dan transfer uang lesnya. Setelah itu mulai deh atur jadwal mau les kapan. Untuk informasi lengkapnya, bisa lihat di gambar ya.


Aku sendiri memilih paket lancar dengan 8 jam pengajaran alias 8 kali pertemuan karena satu jam untuk satu pertemuan. Awalnya aku mau paket pemula, tapi setelah dipikir-pikir, aku pilih yang lancar saja deh soalnya dulu kan perla les mengemudi di Cepat Tepat. Lalu kalau ingin bikin SIM via LKP Ely Stir, dikenakan biaya Rp 550.000. Hmm mahal cuy. Soalnya kan kalau bikin SIM A sendiri cukup bayar Rp 120.000 untuk cetak kartu SIM dan Rp 30.000 untuk dicek dokter. Jadi aku memilih untuk bikin SIM sendiri saja.

Tanggal 2 Januari 2019 kemarin aku mulai kursus mengemudi. Langsung saja datang ke lokasi LKP Ely Stir ini yang berada di Jl. Arief Rahman Hakim No.47, Nagasari, Karawang. Lokasinya dekat dengan RS Dewi Sri. Dari rumah aku berjalan kaki saja ke sana. Maklum tidak begitu jauh dan hitung-hitung bakar lemak. Hehe.

Di hari pertama ini aku diajarkan oleh pak Yusup yang ternyata adalah pemilik dari tempat kursus mengemudi LKP Ely Stir ini. Karena baru pertama, pak Yusup ini menjelaskan teori dulu sebelum memulai praktek. Mobilnya pakai Ertiga. Setelah satu jam pertemuan, kita tinggal paraf dan kita bisa tahu selama praktek tadi berapa nilai yang kita dapatkan. Terus aku dapat D dong. Doh! Jelek bener ye...

Selama les mengemudi di sini, aku diajar oleh 5 pengajar. Wow banyak juga ya. Tapi ada 2 pengajar sih yang cuma pernah ketemu sekali. Misalnya pak Yusup di hari pertama dan pak R (aku lupa siapa yaowoh), di hari terakhir. Pengajar lainnya adalah pak X yang aku gatau siapa karena aku lupa, padahal sudah ada 2 kali diajar olehnya, lalu pak Toto dan pak Nurul yang juga ngajarin aku 2 kali.

Masing-masing pengajar pegang mobil sendiri-sendiri. Makanya kadang aku harus penyesuaian gitu sama mobilnya karena kan beda-beda. Ada yang injek sedikit gas, sudah melaju kencang. Ada juga yang butuh diinjak agak dalam supaya bisa melaju kencang. Terus ada juga mobil yang kacanya retak. Ini cukup mengganggu penglihatan nih! Soalnya di tengah-tengah kaca gitu.

Karena diajar sama pengajar yang beda-beda, sebenarnya progress kita jadi ga begitu bisa dievaluasi betul sama si pengajar. Tapi it's ok karena aku merasa aku ada peningkatan. Terutama saat belok, tanjakan, dan parkir. Oia, materi parkirnya sendiri diajarkan 3 kali saja kalau kalian ambil paket lancar ya. Itu pun benar-benar sebentar buat parkir. Yang diajarkan ya parkir kepala dan parkir buntut. Total sih aku belajar dua kali parkir kepala dan tiga kali parkir buntut. Untuk tanjakan juga total 3 kali dan hasilnya belum bisa membuat aku mahir di tanjakan. Aku masih mati mesin saudara-saudara. Kata pak pelatih sih kuncinya di kopling. Injak sedikit, buka sedikit, lalu injak lagi. Jangan direm. Hmm baik pak. Aku masih harus latihan lagi nih materi ini. Tapi apadaya si papa ga mau nemenin. Hiks.

Yak begitulah pengalamanku kursus mengemudi di dua tempat les mengemudi berbeda. Kalau ada yang mau tanya-tanya, langsung saja komen ya! Doakan aku ya supaya lancar mengemudi mobil biar bisa gantiin papa nyetir. Hehe.

Wednesday, January 16, 2019

Movie Review: Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018), awalnya sih ga ada niatan untuk nonton film ini karena  niatnya ingin nonton Aquaman. Eh ternyata belum jodoh nonton Aquaman sebab jumlah penontonnya tiba-tiba jadi banyak gitu, so ga kebagian kursi PW. Padahal sebelumnya saat masih di Purwakarta, aku dan kawan-kawan cek via situs XXI, kursi available-nya masih banyak. Pas sampe XXI Resinda Park Mall di Karawang, ternyata sudah penuh. Huft. Padahal selang satu jam saja loh guys. Huhu. Ternyata bioskop di Karawang saat akhir pekan ramai dikunjungi penonton ya... Padahal kukira bioskop di Karawang ini tidak sepadat bioskop Jakarta. Jadi pasti masih kebagian lah kursi PW kalau go show (datang antri beli tiket langsung, tidak booking online).

Duh yang baca pasti bingung deh aku cerita apaan. Maafin tata bahasaku yang jelek ini ya. Jadi ceritanya gini...
Hari Sabtu, 15 Desember 2018, temanku si TS melangsungkan resepsi pernikahannya di Harper Hotel Purwakarta. Saat itu aku masih berdomisili di Jakarta, jadi aku, Mr. Kibo, RH, JR, KE, dan ER berangkat sama-sama ke Purwakarta naik mobil RH. Di acara resepsi TS tersebut, kami bertemu dengan K3 dan VH yang sudah menginap di Harper Hotel sejak Jumat malamnya, serta PN yang memang saat itu berdomisili di Karawang, jadi doi dekat banget ke Purwakartanya.
Usai menghadiri acara resepsi TS, PN ide untuk nonton Aquaman dulu di bioskop Karawang.
"Nonton yuk di Karawang sebelum ke Jakarta. Dijamin deh sepi!"
Begitulah kira-kira perkataannya yang kuingat...Tertarik, kami pun mengiyakan ajakan PN dan mampir dulu ke Karawang, kota asalku. Hihihi. Yes aku jadi bisa mampir ke rumah dulu tengok mama papa. ^^

Kami berencana untuk nonton Aquaman jam 4 sore. Sebelumnya saat masih di Harper, kami cek ketersediaan kursi dan memang masih banyak yang kosong kursi PW-nya. Eh ternyata apes. Sesampainya di XXI Resinda Park Mall, kursi PW itu sudah ludes dibeli. Daripada sia-sia, akhirnya kami memutuskan untuk nonton Spider-Man: Into the Spider-Verse. Kalau tak salah K3 bilang rating untuk film animasi satu ini tinggi dan harusnya sih bagus karena review mengatakan film ini adalah film animasi terbaik 2018. Oke marilah kita cek ya apakah film ini sebagus itu??

Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)
Sutradara
:
Penulis
:
Produksi
:
Jenis Film
:
Animasi, Aksi, Petualangan
Censor Rating
:
PG
Durasi
:
1 jam 57 menit
Sinopsis

Sumber: IMDb


:
Digigit oleh laba-laba radioaktif di kereta bawah tanah, seorang remaja Brooklyn bernama Miles Morales tiba-tiba memiliki kekuatan misterius yang mengubahnya menjadi satu-satunya Spider-Man. Ketika dia bertemu dengan Peter Parker, dia segera sadar bahwa ada banyak orang yang juga memiliki kekuatan spesialnya tersebut. Miles sekarang harus menggunakan kekuatan barunya tersebut untuk melawan Kingpin, raksasa gila, yang dapat membuka portal alam semesta lain dan menarik versi berbeda dari Spider-Man kedalam dunianya.

Bitten by a radioactive spider in the subway, Brooklyn teenager Miles Morales suddenly develops mysterious powers that transform him into the one and only Spider-Man. When he meets Peter Parker, he soon realizes that there are many others who share his special, high-flying talents. Miles must now use his newfound skills to battle the evil Kingpin, a hulking madman who can open portals to other universes and pull different versions of Spider-Man into our world.

Saturday, January 12, 2019

Movie Review: Milly & Mamet (2018)

Saat liburan Natal 2018 kemarin, adikku si O mengajakku untuk nonton bioskop karena doi sudah bosan diam di rumah. Awalnya sih dia mau nonton film Bollywood bareng si mama karena si mama lebih pengen nonton film India yang dibintangi om Shahrukh Khan kece itu daripada film lainnya. Tapi karena mama ga jadi ikut, jadi nonton film tanah air  bareng aku deh karena aku gamau nonton film Bollywood. Biar lebih nasionalis gitu. Eh.

Saat itu film tanah air yang sedang tayang adalah Milly & Mamet, Asal Kau Bahagia, dan Suzzana: Bernapas dalam Kubur. Aku langsung saja minta si O buat beli tiket film Milly & Mamet karena film Milly & Mamet ini ber-genre komedi. Biar ketawa-ketawa gitu daripada meringis ketakutan atau nangis tersedu-sedu.

Kami memilih untuk nonton di XXI Resinda Park Mall sekitar jam 16.00 WIB. Buat belinya kami pakai applikasi TIX ID. Untuk pengguna baru, bisa dapet voucher diskon gitu dengan men-top up Dana. Benar saja, kami nonton film Milly & Mamet ini dengan harga kurang dari Rp 30.000 berdua! Mantep ga tuh?!


Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga) (2018)
Sutradara
:
Penulis
:
Produksi
:
Jenis Film
:
Komedi, Romance
Censor Rating
:
13+
Durasi
:
1 jam 41 menit
Sinopsis
:
Mamet bermimpi membuka restoran sendiri suatu saat nanti. Ketika Alex, sahabatnya menawarkan kesempatan untuk menjadi koki di sebuah restoran, hubungannya dengan istrinya, Milly, pun jadi terganggu.

Sumber: IMDb

Wednesday, January 9, 2019

Vaksin HPV, perlukah?

Sumber: hellosehat.com
Human Papilomavirus (HPV) adalah suatu grup virus yang terdiri dari 130 tipe HPV. Infeksi HPV ini bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia dan jenis kelamin. HPV 6 dan HPV 11 adalah virus HPV yang menyebabkan penyakit kutil kelamin. Kutil kelamin (Kondiloma Akuminata) adalah salah satu gejala yang paling umum muncul akibat infeksi menular seksual. Virus HPV yang menjadi penyebab penyakit ini biasanya ditularkan lewat hubungan seks, baik oral, vaginal, maupun anal. HPV juga kadang dapat menular ke bayi saat proses persalinan dari ibu yang terinfeksi sejak sebelum atau saat hamil. Sedangkan HPV 16 dan HPV 18 adalah virus HPV yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kanker serviks atau kanker mulut rahim. Infeksi HPV ini juga ditularkan melalui kontak seksual, termasuk vagina, seks oral, dan anal.
Sumber referensi: hellosehat.com

Tahun 2018 kemarin teman-temanku mulai ramai membahas soal virus HPV dan kanker serviks. Yang awalnya aku tidak tahu apa-apa soal ini, sampai akhirnya aku kepoin lewat mbah Google. Hasil pencarianku menyimpulkan bahwa di Amerika, banyak para remajanya divaksinasi HPV dengan diadakannya vaksin di sekolah-sekolah. Meanwhile di Indonesia, vaksin HPV ini rasanya belum terlalu disosialisasikan dengan gencar ke sekolah-sekolah. Yang ada malah lebih ditargetkan kepada wanita muda. Padahal vaksinasi HPV ini dianjurkan dilakukan sedini mungkin pada usia remaja 9 hingga 14 tahun. Rentang usia ini dinilai efektif karena pada masa inilah tubuh memberikan proteksi respon imun yang lebih baik dibanding usia di atasnya.

Satu lagi yang aku dapat dari hasil kepo mbah Google, vaksin HPV ini sebaiknya diberikan pada orang yang belum pernah berhubungan seksual karena akan bekerja lebih efektif daripada orang yang sudah berhubungan seksual. Lalu untuk orang yang sedang masa vaksin HPV ini juga tidak boleh berhubungan seksual dulu sampai 6 bulan. Maksudnya? Ya jadi misal kamu divaksin hari ini nih. Sebaiknya kamu jangan melakukan hubungan seksual sampai 6 bulan ke depan supaya kerja vaksinnya efektif sis! Nah terus gimana dong buat yang sudah berhubungan seksual? Ya tentu saja masih bisa mendapatkan vaksinasi HPV ini karena hal ini masih merupakan cara terbaik untuk melindungi diri dari virus yang mungkin belum berkembang.

Perlu diingat, vaksin HPV ini diberikan sebanyak 3 kali, masing-masing pada bulan 0, 2, dan 6. Tapi untuk remaja usia 10-13 tahun cukup diberikan sebanyak 2 kali. Harga vaksinnya sendiri bervariatif antara Rp 800.000 sampai Rp 1.300.000. Mahal? Iya ceu!!! Tapi lebih mahal kalau sampai kena kanker serviks kan daripada bayar vaksinnya?

Aku sendiri membayar seharga Rp 800.000 untuk vaksin pertama dan seharga Rp 1.230.000 untuk vaksin kedua dan ketiga. Lah kok beda? Iya jadi ceritanya saat melakukan vaksin pertama kali, aku melakukannya di rumah seorang dokter kenalan temanku gitu. Jadi cukup bayar biaya vaksinnya saja. Sedangkan untuk kedua dan ketiga, aku melakukannya di RS Graha Kedoya, which I need to pay administration fee and doctor fee. Harga jasa dokternya sendiri saja Rp 250.000 (kalau tidak salah ingat). Maklum dokternya kan dokter spesialis kandungan.

Terus aku juga mendapatkan tes USG gitu untuk mengecek kondisi mulut rahimku apakah normal atau tidak. Hasilnya normal ya puji Tuhan. Dokter juga mengecek kondisi telurku, hasilnya pun subur. Puji Tuhan ga aneh-aneh. Selain itu, aku juga bisa konsultasi apapun ke dokternya yang berkaitan dengan rahim. Contohnya saja, aku menanyakan kenapa saat menstruasi ada orang yang  merasakan sakit begitu hebat dan ada yang ga sakit sama sekali. Menurut pak dokter sih itu memang beda-beda tergantung orangnya. Tapi ada cara supaya mengurangi rasa sakit saat menstruasi, yaitu dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung asam folat (kalau tidak salah ingat sih ini namanya) menjelang hari H. Dokter bilang sih coba kurangi makan tahu atau tempe atau makanan yang mengandung kacang kedelai saat menjelang menstruasi supaya nanti saat periode menstruasi, aku tidak merasakan nyeri perut. Saran dokter ini kulakukan dan hasilnya memang jadi tidak sakit guys.

Sebenarnya temanku yang kerja di Kalbe sudah menawarkanku untuk ambil paket vaksin HPV dari Kalbe gitu. Lagi promo khusus karyawan katanya. Berhubung dia itu cowo, dia mau berbagi benefit yang ia dapatkan ke teman-teman perempuannya. yang ia rasa lebih prioritas untuk vaksin HPV lah daripada dia. Tapi aku ragu untuk vaksin karena merasa penting ga penting gitu saat itu. Sampai akhirnya saat aku memutuskan untuk vaksin, promonya sudah berakhir dan alhasil aku vaksin di RS deh dengan harga yang lebih mahal. Ugh menyesal.... Tapi hal ini nih yang memicu aku untuk aware soal vaksin HPV ini. Makasih ya TS! ^^

Oia, vaksin HPV ini ada banyak jenisnya. Jenis pertama adalah vaksin yang umum digunakan untuk mencegah kanker serviks dan pra kanker. Vaksin jenis ini akan mencegah infeksi HPV 16 dan HPV 18 yang umum menyebabkan kanker. Vaksin ini ditujukan untuk wanita berusia 10-25 tahun. Jenis kedua adalah Gardasil. Nah sepertinya vaksin jenis ini nih yang aku beli. Vaksin ini digunakan untuk mencegah kanker dan pra kanker serviks, vulva, vagina, dan anus. Selain mencegah infeksi yang disebabkan HPV 16 dan HPV 18, vaksin ini juga menangkal infeksi HPV 6 dan HPV 11 yang menyebabkan kutil kelamin. Jenis ketiga adalah Gardasil 9. Cakupan pencegahan infeksi HPV dari vaksin ini lebih luas karena mencakup HPV 31, HPV 33, HPV 46, HPV 52, dan HPV 58 yang merupakan penyebab kanker serviks. Untuk laki-laki, Gardasil 9 ini dapat digunakan untuk usia 9 hingga 15 tahun.
Sumber referensi: alodokter.com

Terus kira-kira ada ga sih efek samping vaksin HPV?
Efek samping yang aku rasakan paling reaksi lokal saja, yaitu sakit di tempat suntikan dan  eritema/kemerahan. Berhubung aku disuntik di lengan kiri, jadi saat aku tidur menyamping ke kiri pasti jadi terasa sakit. Ya rasa sakitnya sekitar 1-2 hari gitu kok. Ga lama. Itu saja sih efek samping yang aku rasakan setelah vaksin HPV ini. Oia, FYI, aku melakukan vaksin ini saat aku sedang mestruasi loh. Tidak apa-apa kok melakukannya saat menstruasi. Menstruasiku masih berjalan lancar. Tidak ada pengaruhnya dari vaksin HPV ini.

Lalu apa masih ada efek samping lainnya dari vaksin HPV ini?
Menurut hellosehat.com sih ada dua jenis efek samping dari vaksin HPV ini, yaitu:
  1. reaksi lokal: sakit di tempat suntikan, eritema/kemerahan, dan bengkak;
  2. reaksi sistemik: sakit kepala, pireksia, mual, fatigue (kelelahan).
Jadi kalau ditanya vaksin HPV ini perlu atau tidak? Menurutku sih perlu ya. Mencegah lebih baik daripada mengobati bukan? Apalagi kanker serviks merupakan jenis kanker nomor empat yang paling sering menyerang wanita menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO) atau kalau menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua untuk jenis kanker yang paling banyak ditemui setelah kanker payudara. Ngeri kan??! Makanya vaksin! ^^

Wednesday, January 2, 2019

Dari Karawang ke Jakarta, Naik Angkutan Umum Serasa Naik Mobil Pribadi

Hai hai, sudah lama banget ya aku ga update. Padahal banyak banget yang ingin kutuliskan. Salah satunya pengalamanku pergi ke Jakarta dari Karawang naik mobil pribadi umum. Namun semenjak kerja di APP, waktu luangku jadi berkurang jauuuhhh. Jadi terbengkalai deh blogku ini. Hiks.

Oke untuk nebus mangkirnya aku dari blog ini, aku mau kasih info buat kalian yang suka berpergian ke Jakarta dari Karawang, kota kecil yang sedang berkembang. Pada pos sebelumnya kan aku pernah kasih tahu opsi-opsi angkutan umum apa saja yang bisa digunakan untuk ke Jakarta dari Karawang. Nah aku menenukan satu opsi lagi nih selain opsi-opsi yang kuceritakan di pos sebelumnya.

Opsi lainnya adalah naik mobil omprengan. Maksudnya?! Iya jadi ada mobil-mobil seperti mobil pribadi yang siap mengantarkan kita ke Jakarta atau sebaliknya ke Karawang. Kalau aku sih pernahnya naik ini dari Karawang ya. Kalau dari Jakarta sih katanya ada di daerah UKI tapi aku ga pernah nemu ini mobil. Jadi aku biasanya selalu naik dari Karawang karena tempat mangkalnya pasti. Lokasi untuk naik dari Karawang itu ya di depan Gerbang Jalan Raya Perumnas. Buat yang bingung di mana, bisa klik aja di link ini buat melihat lokasinya.
Link: Pool Omprengan



Nah biasa di dekat situ ada mobil seperti APV dan Grand Max yang lagi nongkrong. Kalau penumpangnya sudah lumayan penuh, mobil tersebut akan berangkat ke Jakarta dari Karawang. Kapasitas penumpangnya satu di paling depan sebelah supir, tiga orang di tengah, dan enam orang dewasa di bagian belakang. Posisi duduk yang paling enak menurutku sih di tengah. Lebih nyaman. Kalau di depan suka panas kena terik matahari (kalau berangkat siang ya). Kalau duduk di belakang kursinya macam kursi angkot gitu. Berjejer hadap-hadapan. Kurang nyaman aja karena senderannya ga empuk.

Untuk tarif dari Karawang ke Jakarta atau sebaliknya, sama seperti tarif WB Trans, yaitu Rp 20.000 per orang. Tujuan akhirnya juga sama persis seperti WB Trans, yaitu di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang. Poin plus kalau naik ini, dia ga ke rest area gitu, jadi kalau mau cepat sampai Jakarta, opsi ini lebih baik dari naik WB Trans. Tapi buat kalian yang jatungnya ga kuat kalau naik mobil ngebut, sebaiknya jangan coba deh. Supir-supir mobil omprengan ini seperti pembalap F1 alias nyetirnya ngebut-ngebut. Tapi menurutku sih masih dalam batas toleransiku.

Emmm, apalagi ya info yang belum kuberikan soal angkutan umum dari Karawang ke Jakarta satu ini. Kalau ada pertanyaan, langsung saja ya isi di kolom komentar, Aku akan dengan senang hati menjawab pertanyaan kalian. ^^

Please di-share dan like juga ya kalau kalian merasa pos ini bermanfaat. Terima kasih.