Thursday, August 9, 2018

Punya Adik, Mesti Bersyukur atau Elus-Elus Dada?

Adik (n) 1 saudara kandung yang lebih muda (laki-laki atau perempuan); --kandung; 2 kerabat yang lebih muda (dari pertalian kekeluargaan);
Sumber: KBBI

Bicara soal adik sebenarnya ga melulu terkait dengan pertalian darah. Selama seperempat abad hidupku ini, bisa dibilang aku punya banyak adik beda ibu dan bapak. Kalau adik yang berhubungan darah sih cuma satu-satunya, sebut saja O. Bukan karena dia bergolongan darah O. Tapi kerap kali aku memanggilnya dengan inisial O. Jadi kalian terima saja ya dia disebut O. Wong adikku sendiri saja ga protes toh?

Sebagai informasi tambahan, si O ini berjenis kelamin perempuan, sama sepertiku. Sampai saat ini sih dia masih fine-fine saja dengan jenis kelaminnya. Tidak ada pikiran dalam benaknya untuk mengubah jenis kelamin. Hmm. Ini sih yang ada di pikiranku saat ini. Tapi aku berharap dia bersyukur dengan jenis kelaminnya dan tetap terus mempertahankan jenis kelaminnya tersebut hingga maut memisahkan kita. #eh.

Sebut Saja O
Info lainnya lagi adalah umurnya beda satu tahun PERSIS di bawahku, cuma beda beberapa jam saja. Persis di sini mengartikan tanggal lahir aku dan si O sama, yaitu 19 Juli, hari baik dan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh ibu kami untuk akhirnya bisa lega mengeluarkan beban beberapa kilogram dalam tubuhnya. Lumayan kan bisa turun beberapa kilogram dalam sekejam. Meski memang semasa hamil pasti massa tubuhnya sudah jauh bertambah lebih banyak dari massa tubuhnya sebelum hamil.

Karena tanggal lahir kami sama, orang bilang kami ini anak kembar beda tahun. Kerap kali saat masih kecil, orang-orang menyatakan muka kami memang mirip seperti anak kembar. Padahal dalam hatiku yang terdalam, mukaku ga ada sama-samanya dengan muka O. Semakin bertambahnya usia, orang mulai bilang muka kami ga ada sama-samanya. Kalau aku tak mengenalkan O sebagai adikku, orang pasti mengiranya dia adalah temanku. Tapi kalau aku kenalkan, orang-orang kerap menyebutnya dia adalah kakakku. Maklum muka dia lebih terlihat tua dibandingkan dengan mukaku. Untuk hal ini somehow aku merasa senang karena dianggap punya muka yang lebih muda. Hehe. (๑˃̵ᴗ˂̵)ﻭ

Ada hal lucu terkait samanya tanggal lahir kami. Holycow kan punya promo menggratiskan makanan bagi konsumen yang datang ke sana di hari ulang tahunnya. Tentunya ada syarat dan ketentuan berlaku ya. Tahun 2016 kemarin, aku dan si O sudah berencana untuk mampir ke Holycow Kebon Jeruk setelah pulang kerja. Berhubung tanggal lahir kami sama, tentu saja kami makan gratis dong.  Sebelum mendapatkan makanan gratis kami, kami wajib menunjukkan KTP kami sebagai bukti kami lahir di tanggal tersebut. Karyawan yang melayani kami pun sampai senyum-senyum sendiri karena mendapatkan pelanggan yang makan gratis bersama. Memang agak malu-maluin sih menurutku, tapi kan memang promonya bilang begitu. Kalau makan ke sana saat tanggal ulang tahun, bisa mendapatkan satu menu gratis. Ya kami pun melakukannya dong! Emang dasar ga mau rugi aja sih. Hehehe.

Orang bilang punya adik perempuan itu mengasikkan karena bisa punya teman bermain dan curhat. Menurutku pernyataan ini benar. Apalagi perbedaan umur kami memang terpaut dekat. Jadi kalau lagi sendirian, aku suka minta ditemani si O. Apalagi saat masih kecil, ke mana-mana kami pasti akan selalu bersama. Istilahnya ke mana aku pergi, si O pasti ngintilin di belakangku. Sejujurnya aku senang sih saat si O melakukan hal itu. Lucu saja melihat tingkahnya yang begitu....Rumah kami kan panjang. Jadi saat itu aku memang sengaja jalan-jalan dari belakang rumah ke depan balik lagi ke belakang. Terus si O dengan lugunya ngintilin di belakangku. Bahkan sampai apa yang aku lakukan pun ia tirukan.... Ya kalau sekarang sih tentu sudah ga begitu lagi. Dia sudah punya prinsip sendiri dong dalam hidupnya. Ga akan niru plek sama dengan prinsip hidupku.

Saat masih kecil, sepertinya dia ini subjek pertama yang mendapatkan bully dariku. Namanya juga anak kecil ya...pasti tak jauh-jauh dari kata berantem. Semasa kecil sepertinya mama dan papa sudah lelah deh misahin kami dan ngajarin kami supaya ga berantem. Berhubung aku lebih tua, tentu saja saat ajang berantem itu aku yang menang dan membuatnya menangis. Entah menangis karena aku bikin benjol di kepalanya atau karena saking kesalnya aku colok matanya pakai kedua jariku. Duuh kok kayanya aku sadis bener ya... Tapi insiden bejol di kepala itu karena pure lingkungan kok. Bukan karena aku jedotin kepalanya sampai benjol segede telor rebus.

Ceritanya tuh begini....aku sedang bermain lompat-lompat di kamar..Lompat-lompatnya agak ekstrim sih karena aku lompat dari kepala ranjang ke kasur/matras di bawah. Pendaratan pertama tentu aku duluan dong dan sukses karena kasur menyelamatkanku dari benturan ke lantai. Naasnya si O ini ikut lompat setelah aku lompat. Padahal matrasnya tuh belum siap untuk menopang tubuhnya. Jadilah pendaratan dia tak mulus karena harus kepalanya duluan yang menyentuh lantai bukan kasur. Sontak ia menangis kencang sekali dong karena kepalanya benjol. Aku panik dan bingung harus berbuat apa. Mendengar tangisan si O, mama dengan sigap langsung masuk ke kamar untuk melihat perbuatan macam apa lagi yang sudah aku lakukan terhadap si O. Aku diomelin deh sama si mama karena sudah bikin si O benjol. Saat itu sih aku tak merasa bersalah sepenuhnya. Habis kan kasurnya belum rapi, dia malah main lompat, ga lihat-lihat tempat pendaratannya mulus atau tidak. Setelah kejadian itu, aku sudah tidak pernah bermain lompat-lompat ekstrim lagi.

Meski dari cerita di atas kesannya aku itu sadis sama si O, tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam aku sayang sama dia. Makanya kami tuh kalau bertengkar, tak lama pasti sudah baikkan lagi. Seperti sudah melupakan apa yang tadi kami ributkan. Oleh sebab itu aku heran waktu mendengar cerita kalau ada kakak adik yang tidak ngomong sama sekali karena berantem. Bahkan mogok ngomongnya tuh sampai satu tahun!!! Ga habis pikir aku...

Ah kalau ngomongin si O, bisa-bisa pos ini ga ada habisnya!!!! Mungkin cerita-cerita lainnya tentang O atau saat bersama O akan aku ceritakan di pos lain...See yaa

Wednesday, August 8, 2018

Cerita Kopi

Kemarin ini aku post di Instastory tentang ide pos apa yang mau dibaca sama netijen (Re: Follower Instagram-ku). Nah salah satu topik usulan netijen adalah tentang kopi. Bicara tentang kopi, jujur aku sendiri bukanlah pecinta kopi, lebih tepatnya aku ini tidak menyukai kopi. Bisa sih kuminum, tapi kalau disuruh pilih minuman, pasti aku tidak akan pilih kopi. Kecuali memang mampir ke warung kopi dan kopi di sana wajib dicoba, baru deh aku pesan kopi hanya untuk sekedar mencicipi kekhasan kopi dari warung tersebut. Atau kalau memang aku sedang butuh asupan cafein...aku baru bertemu dengan kopi.

Sumber: http://coffeetoffee.co.id
Nah kemarin ini saat aku sedang main ke IFRA di JCC, aku mampir ke booth Coffee Toffee untuk mencicipi kopi signature dari Coffee Toffee, yaitu Avocado Cream Joe. BTW IFRA itu adalah pameran franchise internasional yang besar gitu deh. Di sana banyak sekali bisnis-bisnis yang siap untuk diajak franchise. Kapan-kapan nanti aku ceritakan soal IFRA ini deh.

Balik lagi ke kopi khas dari Coffee Toffee...Berhubung nyobainnya tester, tentu yang disuguhkan hanya di cup kecil dan tanpa cream. Tapi rasanyaaa...beuuhhh!!! Kopi terenak yang pernah aku minum. Ini beneran bukan aku endorse loh. Tapi pas cobain Avocado Cream Joe-nya Coffee Toffee, cup kecil yang aku dapatkan itu jadi terasa kurang karena aku ketagihan!

Sejujurnya aku mengenal warung kopi Coffee Toffee ini sudah sejak di bangku kuliah. Buat anak ITB pasti tahu dong warung kopi satu ini yang terletak di labtek biru. Yak satu-satunya cafe di ITB ya si Coffee Toffee ini. Terus aku juga pernah loh menjadikan Coffee Toffee sebagai objek penelitian dari tugas perancangan sistem informasi. Jadi berasa punya hubungan khusus gitu sama Coffee Toffee. Apalagi saat aku ikut projek bersama Kementerian Perdagangan, aku bisa ketemu langsung sama Direktur Ekspansi dari Coffee Toffee. Semakin bikin aku punya hubungan khusus sama si Coffee Toffee ini deh. Kalau kalian penasaran sama menu Coffee Toffee, bisa langsung klik ke situs miliknya di sini. Selain Avocado Cream Joe, signature lain milik Coffee Toffee yang harus dicoba adalah Java Jimmie Joe. Kalau kalian berkesempatan untuk mencicipi kopi khas Coffee Toffee, jangan lupa ya pesan dua varian itu!

Pengalaman terkait kopi lainnya adalah saat aku pergi ke Pontianak. Di sana aku dibawa untuk mencicipi kopi khas Pontianak di Warung Kopi Asiang, warung kopi yang wajib dijambangi kalau pergi ke Pontianak. Aku pesan kopi susu, namun reaksinya tak bagus buat perutku. Langsung mulas ingin ke toilet. Untuk rasa sih aku kurang begitu suka karena cafeinnya begitu kuat. Dan tentu rasanya pahit, padahal sudah pakai susu ==" Itulah yang membuatku tak menyukai kopi. Rasa pahit yang tak enak buatku.

Bentukan Kopi Susu di Warung Kopi Asiang

Baca juga: Achievement Unlock: Berada di Dua Belahan Dunia dalam Satu Waktu

Selain di Pontianak, aku juga pernah ke warung kopi Kongdjie di Belitung. Ini juga salah satu warung kopi yang wajib didatangi kalau sedang liburan ke Belitung. Di sana aku memesan kopi susu juga. Maklum sebagai orang yang tidak suka kopi, aku tak akan berani minum kopi hitam. Bisa-bisa ga habis kuminum kali.



Baca juga: Jalan-Jalan ke Belitung : City Tour Belitung Timur

Untuk rasa sih menurutku masih lebih enak kopi susu di Warung Kopi Kongdjie. Cenderung tidak begitu pahit. Perutku pun aman setelah menghabiskan satu gelas kopi susu di sini. Berbeda sekali saat aku selesai menghabiskan secangkir kopi susu di Warung Kopi Asiang. Perutku langsung mulaas!!!

Kalau kopi yang kucoba di cafe mall selain Starbucks adalah kopi dari Caribou Coffee. Di sana aku memesan Honey Vanilla Budino seharga Rp 60.000 untuk ukuran Regular. Cukup besar sih menurutku. Aku sampai kembung meminumnya. Tapi kopi di sini cukup aman buat perutku karena perutku tidak mulas seusai menyelesaikan segelas besar kopi vanilla itu. Untuk rasa sih menurutku mirip seperti kopi Good Day dalam kemasan botol. Agak ga rela juga sih mengeluarkan kocek Rp 60.000 untuk kopi yang rasanya mirip kopi instant. Hmmm.


Selain kopi di warung kopi, aku juga pernah mengkonsumsi kopi instant seperti Torabika Cappuccino, Top Coffee rasa Kopi Susu, Luwak White Coffee, dan Good Day baik yang dalam sachet maupun dalam kemasan botol (semua rasa sudah kucoba dan aku paling suka rasa Funtastic Mocacinno).  Untuk Good Day sachet aku suka varian Coffee Freeze dan bikinnya di-shake dalam botol khusus yang dikeluarkan oleh Good Day. Hal ini kulakukan saat aku kelas 4 SD. Tapi semenjak tren minum kopi shake sudah hilang, kebiasaan minum kopi ini pun sudah tidak kulakukan lagi. Apalagi botol shake-nya sudah pecah jadi tak dapat kugunakan lagi. Hmmm.

Selain merk kopi instant di atas, aku juga suka kopi Nescafe French Vanilla. Kopi jenis ini kukonsumsi saat aku di bangku kuliah. Sempat beberapa kali aku membeli Nescafe French Vanilla dikala aku butuh asupan cafein untuk menjagaku tetap terjaga saat mengerjakan tugas kuliah. Selain itu aku juga pernah coba Kopiko 78゜saat sedang booming baru diluncurkan dan aku sempat beberapa kali mengkonsumsi kopi tersebut saat aku masih di bangku kuliah juga. Selepas lulus kuliah, rasa-rasanya aku sudah jaraaaaangg sekali minum kopi. Beberapa kalinya ya saat kejadian yang kuceritakan di atas.

Itu saja sih pengalamanku bersama kopi selama seperempat abad hidupku di Bumi ini. Kalau kalian gimana? Ada yang sampai addict dan ga bisa lepas dari kopi??

Tuesday, August 7, 2018

Akhirnya Pasang Kawat Gigi dengan drg. Linus Boekitwetan

Sebelumnya aku sudah pernah cerita tentang awal mula aku pasang kawat gigi di drg. Linus Boekitwetan. Nah sekarang aku mau ceritain kelanjutannya. Jadi keesokan harinya, drg. Linus langsung WA aku untuk berdiskusi menentukan jadwal selanjutnya ke sana. Hasilnya, hari Senin  tanggal 30 Juli 2018 jam 19.00 aku akan ke sana lagi untuk melakukan pemasangan kawat gigi.


Sejujurnya aku agak galau untuk pasang kawat gigi lagi atau tidak. Apalagi Q kurang setuju apabila  saat dilakukan foto prewedding, aku masih menggunakan kawat gigi. Jadi saat aku datang kembali ke Linus Boekitwetan Dental Care Center, aku berdiskusi dengan drg. Linus apakah pemasangan kawat gigi ini bisa selesai sebelum Februari 2019. Menurut drg. Linus sih gigiku bisa sudah rapi saat Februari 2019. Apalagi dulu aku sudah pernah dikawat kan. Jadi ini seperti menerusi yang dulu gitu. Ya kita lihat saja ya saudara-saudara. Tapi kalau memang tidak bisa secepat itu, pelepasan kawat dan pemasangan kembali bisa dilakukan. Namun akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 1.000.000.

Yasudah deh hari Senin malam itu akhirnya gigiku dikawat lagi. Untuk pemasangan kawat gigi dengan metal braces itu butuh waktu sekitar 1,5 jam. Seusai dipasang, ternyata gigi taring kanan atas itu nubruk metal brace yang bawah. Kalau dibiarkan nanti akan membuat metal brace tersebut copot. Jadi drg. Linus menyarankan untuk dipasang ganjelan di geraham kiri dan kanan supaya taring atas tidak nubruk. Tentu saja rasanya akan jadi tidak nyaman karena dipasang ganjelan di geraham. Huft. Karena ganjelan itu, sekarang kalau aku mengunyah makanan, cuma bisa dikunyah seadanya. Tak bisa dikunyah dengan sempurna. Ganjelannya sebenarnya berupa tambelan sinar itu loh. Warnanya putih menyerupai warna gigi.

Setelah selesai, drg. Linus memberikanku seperangkat alat untuk merawat gigi berkawat. Alatnya antara lain: sikat gigi khusus gigi dikawat, wax semacam pelindung apabila ada metal brace yang tajam dan membuat sariawan di bibir, pickster semacam tusuk gigi dengan bulu untuk membersihkan sisa makanan yang nyelip di kawat, cetakan gigiku sebelumnya, dan terakhir aku diberi coklat! Wuaaaa
Coklat dari drg. Linus
Kemudian kami pun menentukan jadwal untuk kontrol gigi. Ditentukanlah hari Senin, 13 Agustus 2018 untuk jadwal selanjutnya. Oh ya, untuk pemasangan kawat ini aku sudah tidak keluar uang lagi. Soalnya kemarin kan sudah DP Rp 5jt. Nah nanti untuk pertemuan selanjutnya, aku mulai bayar cicilan dan biaya kontrol deh. Sekian dulu cerita tentang pemasangan kawat gigi dengan drg. Linus Boekitweta. Nanti aku akan cerita lagi saat aku sudah kontrol gigi pertama kali.

Thursday, August 2, 2018

Hari Pertama Ke Jakarta Wedding Festival (JWF)

Tanggal 13-15 Juli 2018, Jakarta Wedding Festival (JWF) mengadakan kembali pameran pernikahan terbesar dengan menggaet Vera Kebaya untuk menampilkan kebaya-kebaya keren bikinannya di panggung busana tanggal 15 Juli 2018 jam 20.00. Aku sendiri hadir di pameran pernikahan tersebut tanggal 14 dan 15 Juli-nya. Apa saja yang dilakukan di pameran pernikahan??? Nih aku bagiin ceritaku.



Tuesday, July 31, 2018

Pasang Kawat Gigi di Linus Boekitwetan Dental Care Center

Hai hai...kali ini aku mau ceritain pengalamanku perawatan gigi dengan menggunakan ortho metal braces alias kawat gigi dengan tipe metal di Linus Boekitwetan Dental Care Center. Kenapa aku pilih metal braces? Soalnya perawatan ini yang paling murah di antara semua perawatan kawat gigi guys. Daripada kantongku bolong, mending aku pilih yang bisa bikin kantong lebih adem aja deh.

Hmm sebenarnya perawatan kawat gigi atau behel sendiri ada banyak tipenya. Buat yang penasaran perbedaan-perbedaannya bisa dicek di sini. Di situs itu dijelaskan deh perbedaan dari masing-masing treatment kawat gigi beserta pro dan kontranya. Namun sayangnya situs tersebut menggunakan Bahasa Inggris. Aku harap kalian tetap bisa mengerti deh ya. Soalnya aku ga mau bahas tipe-tipe kawat gigi di sini. Nanti ceritanya jadi kepanjangan.