Monday, July 31, 2017

Journal: My August Layout and Need Any Idea for My August Cover

Mayday! Mayday!
I confuse to make my August 2017 cover. I don't have any idea at all. I need your help guys (somebody who read my post here)!!!! 
I have done my monthly log, habit tracker, sleep tracker, and my weekly layout for 1-6 Aug. But I still don't have any cover for August. Ugh! 
My August theme is Independence day because at Aug 17 is Independence day for Indonesia. I want to celebrate it on my journal. But I still don't have idea for my cover. I want to draw Garuda Pancasila but I think it's so difficult to draw Garuda. I have ever drawn Garuda on PROKM (like "ospek" in my Campus) as a nametag for me because the task is made a nametag with Garuda as a background. And my senior mocked me by saying "Itu Garuda apa ayam? (It's Garuda or Chicken?)"  After that, I never drawn any kind of bird.  (Orangnya mudah menyerah setelah diejek ).
BTW, here's my monthly log:
Monthly Log
I separate it between personal and work. I forget to change the layout by place the date in the middle. Better do this next month. Hope I don't forget this. 
Next page is my habit tracker and sleep tracker. I made it horizontal so I don't have to rotate the book if I want to fill it. This month I don't make mood tracker because I think it's not work on me. I fill like everyday is a smile day or a flat day, so it's just a flat trend I get with just sometime a high and low pattern. So my mood tracker didn't work well and I just skip it for this month.
Habit and Sleep Tracker
Next is my weekly layout. When I made this, I contemplate to choose between made it like my first weekly layout or just like the picture. Finally I chose to make it like that. I make a note "B L D" on the bottom of each day. It means Breakfast, Lunch, and Dinner. So I can see the overview of my food. I start to make a BLD from July and I think it's really good for me.
Weekly Layout
Overall, my August layout is full of red and white like my country flag, red white flag. Happy Independence Day Indonesia. I love this country and the history behind it. 
So, I hope I can make a good cover for my August log. Any idea from you guys?

Saturday, July 29, 2017

Snake Dish, Wanna Try?

Ular Goreng Asam Manis
Have you ever try eat snake? Yup, snake, not snack 
First time I ate snake in Nara Restaurant, Bandung with Kibo. This place is near Bandung Trade Center. Their tagline are Snake dish and Steam Gabus. Gabus is kind of a fish and their specialty is Steam Gabus.  But I never try steam gabus here. On the picture, I also order Kailan cah Bawang Putih. I ate these with rice.
Price for one portion of Ular Goreng Asam Manis (Fried Snake with Sweet Sour Sauce) is Rp 30.000,- You can eat this with two friends because the portion is enough for 3 persons.
The place is nice and not crowded (in the afternoon, because I always go there in the afternoon). Have a big round table for around 8 persons I think. But I don't feel hesitate to use that table because it's only me and Kibo when I go there . Most of people who go there in the afternoon always take away their food. So, I feel free to eat slowly and killing time there.
Oh, if you like to drink mineral water after eat, you can get it for free. So, you can save your money without buy drink here. ^^
Don't forget to check my Instagram on @furisukabofood . You can see other food review there. See ya

Tuesday, July 25, 2017

Radang Tenggorokan

Radang tenggorokan. Ya penyakit yang satu ini entah mengapa demen banget nyantol di gw. Bulan kemarin gw baru sembuh dari penyakit satu ini. Eh bulan ini kena lagi.  Jadi ceritanya hari Minggu, 16 Juli 2017, gw terbangun dengan rasa tak enak di tenggorokan. Tapi kali ini agak berbeda dari sakit tenggorokan yang sebelumnya. Gw merasa biasa aja. Kaya ada yang mengganjal saja di area sebelah kiri saat menelan air. Kalau makan sih biasa saja. Cuma saat minum air saja berasa ga enaknya. Jadi gw pikir ini biasa aja lah. Paling asal minum banyak juga sembuh. Beda sama sebelumnya, gw terbangun dengan keadaan tak enak badan dan berakhir meriang. Jadi gw pikir yang ini sih sepele. FYI, sebelumnya gw kena radang tenggorokan karena makan comro setan . Sedangkan yang ini gw bingung karena apa. Gw makan ga pedes-pedes banget dan makanannya pun bukan yang goreng-goreng gitu. Jadi aneh gw bisa kena radang tenggorokan begini.
Nah karena gw menyepelekan, gw biarkan saja sampai seminggu. Padahal di saat gw biarinin itu, gw kena sariawan, trus gw obatin saja dengan obat kumur telan Enkasari dan dikasi obat ijo juga. Hasilnya sembuh dalam 2 hari. Selain sariawan, anehnya area kepala gw sebelah kiri itu kalau disentuh sakit. Ini aneh banget! Jadi setiap dipegang atau disentuh pasti sakit. Padahal cuma sentuh rambut loh. Aneh banget kan. Lalu setiap gw menggelengkan kepala, rasa sakit itu juga muncul. Kadang-kadang pun saat berjalan, sakit di kepala itu juga muncul. Bukan sakit kepala seperti pusing nyut-nyutan atau migran ya. Tapi sakit seperti luka memar di tubuh jika disentuh. Bahkan hingga hari ini gw menuliskan ini pun gw masih merasa sakit jika menyentuh kepala bagian kiri gw. Cuma sudah lebih mending karena setiap gw menggeleng sudah tidak sakit lagi. Puji Tuhan. 
Nah karena tak kunjung sembuh, dari hari Jumat gw sebenarnya sudah memutuskan untuk pergi ke dokter. Cuma karena sibuk, mau apa dikata, gw tunda sampai hari Senin. Jadi gw baru konsultasi ke dokter hari Senin kemarin. Gw pergi ke Puskesmas Cikoko dan pakai kartu BPJS. Lumayan kan gratis jadinya. Gw ga keluar uang sepeser pun untuk biaya dokter dan obat. Cuma bayar ongkos transportasi ke sana saja.
Saat itu gw pergi jam 8 kurang. Sesampai di sana sudah ramai oleh pasien. Baik itu pasien dokter gigi, maupun dokter umum. Gw menunggu cukup lama sampai dipanggil. Setelah diukur tekanan darah dan dicatat berat badan serta tinggi badan, gw menunggu lagi untuk selanjutnya konsultasi dengan dokter. Setelah dipanggil, gw cerita kalau gw sakit tenggorokan dan kepala gw kalau disentuh sakit. Dokter meminta gw membuka mulut dan bilang "aaa". Lalu dokter bilang gw kena radang tenggorokan. Tenggorokan gw merah. Mendengar itu, gw sebel juga ya karena kena radang tenggorokan lagi. Padahal gw pikir cuma sakit ringan saja. Eh kata dokter merahnya di dua-duanya, bukan cuma di bagian kiri saja. Lalu gw disuruh pantang minum air es dan makanan instan, terutama yang gurih-gurih. Selain itu, gw juga ga boleh makan cabe. Oh Tuhan, gw sedih banget ga bisa makan pake sambel. 
Dokter meresepkan gw antibiotik. Gw mendapat 3 obat, yaitu Amoxicillin 500 (antibiotik), Prednison tablet 5 mg, dan Vitamin C. Oia diresepkan juga parasetamol 500mg untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Cuma gw ga minum parasetamolnya. Hahaha bandel 
Obat buat Gw
Oia, sebelumnya saat gw kena radang tenggorokan juga, dokter yang sama meresepkan gw Prednison juga. Obat ini pahit saat diminum. Sebelumnya gw sempat takut minum obat ini karena efek sampingnya mengerikan. Trus pas gw browsing tentang Prednison, menurut seorang penulis artikel, kadang dokter suka asal meresepkan obat ini karena murah, mudah didapatkan, dan bisa menyembuhkan radang tenggorokan memang. Padahal menurutnya dokter bisa saja meresepkan obat lain untuk menyembuhkan radang tenggorokan dengan efek samping yang lebih mending daripada si Prednison ini. Tapi setelah gw tanya sohib gw yang seorang apoteker, dia bilang tak apa. Efek sampingnya akan timbul apabila diminum berkepanjangan. Fiuh lega.
Saat ini tenggorokan gw sudah agak mendingan lah daripada seminggu kemarin. Sudah tidak sakit lagi saat terbangun di pagi hari. Terutama saat gw minum setelah bangun tidur. Biasanya gw pasti merasa sakit untuk menelan air putih di pagi hari. Semoga gw benar-benar pulih d dari radang tenggorokan ini. Gw sudah lelah kena radang terus. Gw kangen makan cabe  Padahal mestinya gw kapok ya makan cabe. Mungkin ini salah satu yang membuat gw kena radang tenggorokan terus. Hahahaha (。>﹏<。)

Monday, July 24, 2017

Book Review: The Girl on The Train

iJak
Judul                       : The Girl on the Train
Penulis                    : Paula Hawkins
Jumlah Halaman   : 440 Halaman
Tahun Terbit          : 2015
Penerbit                  : Noura Books Publishing (PT. Mizan Publika)
Sinopsis:
Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. �Jess dan Jason,� begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.
Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait. Apakah dia telah melakukan kejahatan alih-alih kebaikan?


Tentang Penulis 
Paula Hawkins bekerja sebagai jurnalis selama lima belas tahun, sebelum mulai menulis fiksi. Lahir dan dibesarkan di Zimbabwe, Paula pindah ke London pada 1989 dan tinggal di sana semenjak itu. The Girl on the Train adalah novel thriller pertamanya. 

"Novel thriller ini menjanjikan perjalanan yang mengejutkan" - US Weekly
"Novel suspense baru yang sangat menggelisahkan... sebuah thriller psikologis yang menakutkan dan kompleks...Inilah jenis novel yang akan terus membuat kita membalik halamannya meski sebenarnya tak tahan. Benar-benar mengerikan dan mengejutkan." - New York Daily News
"Benar-benar sebuah novel suspense yang hebat. Membuatku tak bisa tidur hampir sepanjang malam. Karakter sang narator yang alkoholik sungguh sempurna." - Stephen King, penulis bestseller 54 novel horor kontemporer, supranatural, suspense, sci-fi, dan fantasi
"Sangat menegangkan, menggelisahkan, dan sungguh tak dapat ditebak. Membacanya menghabiskan seluruh sisa hariku. Jangan lewatkan!" - Tess Gerritsen, penulis bestseller 19 novel thriller
"Sekumpulan karakter yang wow, situasi yang wow, buku yang wow! Ini adalah Alfred Hitchcock untuk generasi baru." - Terry Hayes, penulis bestseller novel I am Pilgrim dan novelisasi Mad Max
"Cerdas, menegangkan, dan memuaskan secara menyeluruh! Membuatku menebak-nebak sampai akhir." - Lisa Gardner, penulis bestseller 20 novel thriller
"Perjalanan yang berkecapatan tinggi, penuh putaran dan belokan. Kini, menatap ke luar jendela kereta tak akan sama lagi." - Colette McBeth, penulis novel thriller psiklogis, The Life I Left Behind
"Menyebabkan kecanduan." - Vanity Fair
"Narasi yang penuh kejutan mengantarkan pada klimaks yang menggoncangkan, seperti halnya sebuah kekacauan, novel ini menakutkan sekaligus menarik." - Publisher's Weekly, resensi berbintang
"Seperti kereta api, kisahnya meluncur cepat menembus stagnansi kehidupan di pinggiran London dan pembaca tak akan bisa berhenti membalik halamannya." - The Boston Globe
"Pembaca yang paling cerdas sekali pun akan terkejut saat Hawkins perlahan melepaskan gulungan fakta-fakta, memaparkan kenyataan pahit tentang keterkaitan yang tak terhindarkan antara cinta dan obsesi dengan kekerasan." - Kirkus, resensi berbintang
"Novel yang memiliki alur sempurna, dari awal yang memukau sampai akhir yang tak terduga...yang membuat novel ini sangat mengagumkan adalah pemahaman Hawkins yang luar biasa mengenai batas dari pengetahuan manusia, dan derajat ketika ingatan dan imajinasi bisa menciptakan keraguan." - NPR.org
"Novel ini mengawinkan gaya film noir dengan muslihat sastrawi...berpeganganlah. Anda akan terkejut melihat kengerian yang bersembunyi di dalamnya." USA Today
"Ditulis dengan sangat baik dan dirancang dengan genius." - The Washington Post
"Menampilkan muslihat paling sulit di dalam sebuah novel thriller: dirancang dengan sangat lihai sehingga kita merasa tahu semuanya, sampai akhirnya mengungkapkan sesuatu yang tak kita sadari kehadirannya sama sekali." - Entertainment Weekly

Friday, July 21, 2017

Tolong Belikan Rokok, Dek!

“Dek, beli rokok ya di sana.”, ujar seorang ayah setelah memberi seorang anak kecil uang untuk membeli rokok.
Hasil FanArt (doodle sendiri) referensi dari Oleksandr Melnyk

Pagi ini gw tergelitik untuk menuangkan pikiran gw tentang ini. ROKOK. Objek yang menjadi pengeluaran ketiga tertinggi orang Indonesia menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional 2016 (dalam Wahyudi, 2017) ini merupakan hal yang gw benci. Bau asap rokok cukup membuat gw terganggu. Terutama di kala gw lagi kurang sehat. Duduk berlama-lama di ruangan penuh asap rokok saja juga sudah cukup membuat gw sakit kepala. Di sisi lain, gw juga tetap harus kompromi karena gw pun terkadang harus berada di lingkungan yang didominasi oleh perokok. Gw bahkan terkadang menahan nafas di kala gw harus berada di lingkungan yang penuh asap rokok. Bukan ini sih sebenarnya yang mau gw bahas. Tapi poin tentang menyuruh “anak kecil” beli rokok di warung.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, khususnya pasal 46, mengatakan bahwa setiap orang DILARANG menyuruh anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun untuk menjual, MEMBELI, atau mengonsumsi Produk Tembakau. Ya di peraturan tersebut ternyata sudah diatur loh teman-teman sekalian. Tapi kenyataan yang terjadi, masih ada loh orang tua yang menyuruh anaknya beli rokok di warung. *tepok jidat*. Entah ini karena pemerintah kurang sosialisasi atau emang si ayah yang bodo amat sama peraturan itu. Setelah gw baca-baca di peraturan itu pun memang cuma bilang dilarang saja dan ga ada sanksi tertulis apabila pasal 46 tersebut dilanggar. Hmmm (◑_◑)
Kemudian sebenarnya pada pasal 25, ditulis bahwa setiap orang dilarang menjual Produk Tembakau menggunakan mesin layan diri, kepada anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun, dan kepada perempuan hamil. Peraturan ini sendiri pun juga dilanggar oleh si penjual rokok. Padahal sebenarnya di pasal 21 mengatakan bahwa pada sisi samping lainnya dari Kemasan Produk Tembakau wajib dicantumkan pernyataan, "dilarang menjual atau memberi kepada anak berusia di bawah 18 tahun dan perempuan hamil". Tapi tulisan hanyalah tulisan. Kenyataannya masih ada tuh penjual yang menjual pada anak di bawah umur.
Pengalaman gw di Jepang, convenience store di sana itu tidak akan menjual rokok ataupun minuman beralkohol apabila si pembeli masih di bawah umur. Pembeli harus menyatakan bahwa dirinya bukan anak di bawah umur dengan menekan layar sentuh yang tersedia di kasir. Gw melakukan itu saat gw membeli beberapa kaleng bir. (◔◡◔) Gw sempat kagum juga sama hal itu dan senyum-senyum sendiri saat menekan layar sentuh yang menyatakan bahwa gw memang sudah cukup umur untuk membeli bir. 
Sebenarnya Indonesia sendiri sudah lumayan mau memerangi rokok. Buktinya dengan dibuatnya Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 ini. Di situ tercantum bahwa perusahaan rokok harus memberikan peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan. Peraturan ini tercantum pada pasal 14 dan 15, bahkan lebih detil lagi tertuang pada pasal 17, yaitu
  1. Gambar dan tulisan peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dicantumkan pada setiap Kemasan terkecil dan Kemasan lebih besar Produk Tembakau.
  2. Setiap Kemasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencantumkan 1 (satu) jenis gambar dan tulisan peringatan kesehatan.
  3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Rokok klobot, Rokok klembak menyan, dan cerutu Kemasan batangan.
  4. Pencantuman gambar dan tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata "Peringatan" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, bagi sebagian atau seluruhnya; b. gambar sebagaimana dimaksud pada huruf a harus dicetak berwarna; dan c. jenis huruf harus menggunakan huruf arial bold dan font 10 (sepuluh) atau proporsional dengan Kemasan, tulisan warna putih di atas latar belakang hitam.
  5. Gambar dan tulisan peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak boleh tertutup oleh apapun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Setelah gw baca itu, wow, cukup membuat pusing perusahaan rokok toh. Gw juga jijik liat bungkus rokok sekarang. Seram-seram booo! Ternyata sejumlah negara Asean seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand sudah menerapkan peringatan kesehatan berbentuk gambar itu loh (Kompas.com, 2009). Menurut para pengambil kebijakan di sejumlah negara Asean, peringatan kesehatan berbentuk gambar pada semua bungkus rokok ini dinilai sebagai cara efektif untuk mengurangi dampak buruk tembakau bagi kesehatan. Menurut mereka, peringatan kesehatan dalam bentuk tulisan saja belum cukup mengurangi niat perokok untuk berhenti merokok mengingat ancaman kesehatan yang akan terjadi padanya di kemudian hari.

Ya setidaknya negara ini sudah benar-benar take action untuk memerangi rokok, meski masih ada saja masyarakatnya yang entah memang bandel tidak mematuhi atau pemerintah yang kurang sosialiasi akan Peraturan Pemerintah ini. Memang sih rokok ini sering diributkan apabila benar-benar diberantas. Bagaimana tidak, rokok ini merupakan salah satu barang yang banyak dikonsumsi masyarakat dan memiliki andil cukup besar terhadap angka kemiskinan dan daya beli masyarakat (Kompas.com, 2017). Jadi kalo benar-benar diperangi, ditakutkan akan berdampak buruk terhadap negara, khususnya terhadap finansial. Meski di satu sisi dampak buruk yang benar-benar terasa adalah pada sektor kesehatan. Baik kesehatan si perokok maupun kesehatan yang memang tidak merokok.
Semoga saja ke depannya masyarakat Indonesia benar-benar aware untuk tidak menyuruh anak kecil membelikan rokok atau penjual pun juga taat untuk tidak menjual rokok ke anak di bawah umur. Setidaknya langkah kecil ini cukup membuat si anak itu tidak tergiur untuk merokok. Kalau akses untuk mendapatkannya saja mudah, tidak heran banyak anak di bawah umur yang malah jadi pecandu rokok. Anak kecil kan biasanya rasa ingin tahunya tinggi. Dari melihat orang tuanya merokok, ga heran dong mereka pengen nyicipin gimana sih merokok itu. Gw aja dulu pengen tau rasanya ngerokok, saat itu gw masih SD dan ayah gw sedang jadi perokok. Rokok mudah banget gw dapetin di rumah. Sudah di jari gw tinggal dinyalakan. Berhubung gw ga bisa nyalain korek, jadinya gw cuma sok bergaya layaknya menghisap rokok. Untungnya kejadian itu cuma gw lakukan sekali dan ayah gw ga lama berhenti jadi perokok. In the end, gw ga jadi perokok dan malah sekarang benci bau rokok. Jujur gw miris loh lihat berita tentang balita atau anak kecil yang sangat-sangat masih muda tapi sudah jadi pecandu rokok. Mungkin orang tuanya bangga kali ya karena anaknya bisa menghebohkan masyarakat Indonesia dengan masuk berita seperti itu. Jadi mereka membiarkan si anak jadi pecandu rokok. Sedih sih gw melihat hal ini. (︺︹︺) Yaah sekali lagi, gw berharap Peraturan Pemerintah tersebut benar-benar bisa dipatuhi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Gw berharap udah ga ketemu lagi tuh kasus ayah (orang tua) minta dibelikan rokok oleh anaknya. Kasus papa minta proyek saja bisa heboh, kasus papa minta dibelikan rokok mestinya bisa heboh juga dong. Ehehe..(├┤‿├┤)

Referensi:

  • Kompas.com. (15 Mei 2009). Perangi Rokok Lewat Sepotong Gambar. Dipetik 21 Juli 2017 dari Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2009/05/15/16505839/perangi.rokok.lewat.sepotong.gambar
  • Kompas.com. (8 Januari 2017). Mengungkit Pendapatan Negara dari Pajak Rokok. Dipetik 21 Juli 2017 dari Kompas.com: http://nasional.kontan.co.id/news/mengungkit-pendapatan-negara-dari-pajak-rokok
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Dipetik 21 Juli 2017 dari http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/173643/PP1092012.pdf
  • Wahyudi, M Zaid. (6 Maret 2017). Rokok Menjerat Keluarga Indonesia. Dipetik 21 Juli 2017 dari Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2017/03/06/23382241/rokok.menjerat.keluarga.indonesia

Monday, July 17, 2017

Cara Parkir Paralel untuk Mobil Matic

Gimana sih Cara Parkir Paralel Mobil Matic ??? Gw pengen bagi pengalaman gw yang ditegur oleh tukang parkir kemarin karena mobilnya ternyata tidak di-"pere"-in alias tidak bisa didorong karena rodanya terkunci atau kondisi seperti mengaktifkan rem tangan padahal mobil diparkirkan paralel.
Jadi begini ceritanya.....saat itu gw beserta papa, mama, dan adik gw mau makan di sebuah restoran di kawasan Jakarta Pusat. Karena tidak ada gedung parkir, jadi kami harus parkir di pinggir jalan yang memang sudah ramai sekali mobil-mobil yang terparkir. Kebetulan ada mobil yang baru keluar dan kami langsung tancap gas untuk menempati lapak parkir mobil tersebut sebelumnya. Kondisinya saat itu parkir paralel. Tukang parkir pun sudah mengingatkan agar mobilnya di-"pere"-in supaya bisa didorong dan tidak menghalangi mobil lain yang hendak keluar.
Karena tidak baca buku manual #plak dan ga biasa pakai mobil matic, cara membuat mobil dalam kondisi "pere" itu masih belum benar-benar diketahui. Gw dengan sotoy-nya bilang kalau kondisi "pere" itu ya posisi tuasnya di P tapi rem tangan tidak diaktifkan. Ya sudah tuh ya kami berempat pergi ke tempat makan.
Sekembalinya kami ke mobil, bapak-bapak (ini bapaknya beneran lebih dari 1 loh ya) tukang parkir langsung menegur kami karena mobilnya tidak bisa didorong. Hal ini mengakibatkan tiga orang pengendara mobil lain memarahi mereka karena kesulitan untuk mengeluarkan mobilnya. Dari situ barulah kami tahu bahwa ternyata mobil kami masih belum dalam kondisi bisa didorong. Tuas dalam posisi P dan tidak menarik rem tangan saja tidak cukup sobat untuk membuat mobil bisa didorong! Setelah gw browsing, tuas dalam posisi P itu ternyata tetap mengunci roda mobil agar tidak bisa bergerak. Jadi gimana dong supaya bisa parkir paralel??
Nah ini nih caranya!
  1. Posisikan tuas ke posisi P.
  2. Matikan mesin.
  3. Tekan tombol switch lock yang ada di dekat tuas. Biasanya di dekat tuas itu ada tombol untuk dipencet gitu. Nah dalam kondisi gw, tombol itu ga ada, yang ada adalah lubang yang ada di atas huruf P. Jadi yang harus dilakukan adalah memasukin key yang biasanya ada di key remote ke dalam slot lubang tersebut.
  4. Setelah menekan tombol switch lock atau memasukkan key ke dalam slot lubang, ubah posisi tuas ke huruf N.
  5. Cabut key dari lubang dan masukkan kembali ke key remote. (Langkah ini bisa dilompati bagi pengendara mobil matic yang ada tombol switch lock-nya).
  6. Keluar dari mobil.
  7. Kunci mobil.
Lubang untuk Menetralkan Mobil Matic pada Kijang Innova
Nah gitu ternyata cara parkir paralel mobil matic! Mohon maaf sekali atas ke-sotoy-an gw jadi bikin bapak-bapak tukang parkir repot dan kena marah. Plus pengendara mobil yang terhalang mobil kami jadi kesulitan keluar. Huhuhu Ini benar-benar tidak maksud menyusahkan loh. Jadi buat pengendara mobil matic yang masih belum tahu cara parkir paralel, semoga benar-benar memarkirkan mobil maticnya secara paralel dengan benar ya! Jadi tidak menyusahkan orang lain kaya cerita gw ini (╥﹏╥).
For your information, mobil (bapak) gw itu Kijang Innova yang tidak ada tombol switch lock-nya. Jadi agak ribet gitu harus colok-colok pake key khusus dari kunci mobilnya kalau mau parkir paralel. Gw bingung kenapa dibuat ribet begini. Katanya sih ini teknologi terbaru, Tapi kok malah mempersulit penggunanya untuk parkir paralel ya? Hmmm mungkin readers ada yang tau maksud perubahan teknologi ini? (◑_◑)

Wednesday, July 12, 2017

Different Language

Here a funny story from my experience when I live in different city. As I grew up in a small district called Karawang and I went to collage in Bandung, I usually use Bahasa Sunda on my daily life, okay okay I admit that I use a little Bahasa Sunda combine with Bahasa Indonesia (◔◡◔). So, it’s funny for me if there’re other people who don’t understand the words that I use. It’s like “belok (not like turn right or turn left but you read this “be” like you said “burn” but without "n"), “leho”, “melempep”, “gening”, and so on. These other people is usually from Jakarta because they’re not using Bahasa Sunda. So I try to explain that words to them and we laugh at the ending when they know the meaning. We laugh because they think it’s strange meaning, so they tell me what word for that in their daily language.

Tuesday, July 11, 2017

Traveler's Notebook or Simple Notebook?

Traveler’s notebook or simple notebook?
Right now I’m using a simple notebook because I’m new to bullet journal world and I think it is useless for a fancy notebook for the first time. As I saw Boho Berry Post about transferring to traveler’s notebook, I thought it was cool and I also want to have one. In Indonesia, I find an online shop that sell it. With leather as a cover but also there is a shop who sell a cover with Japanese Cotton as a fabric.

Monday, July 10, 2017

Headache

Why do I always get a headache? I don’t know since when I always get a headache. Not every time, but almost at the weekend. Since I live in Bandung, I sometimes get a headache in the evening. I think it’s because I’m not in a good condition, so when the wind blow hard on me, my body can’t take it and then I get a headache. Or I'm starving and late to eat, then my head aching. Even I also puke and can’t eat at all because I want to puke again if I begin to eat. Haaaaa....I hate being like this. Now, when I live in Jakarta. At weekend, I get a headache again. I don’t know why this symptom always appear on me. So, I always prepare a paracetamol (panadol or sanmol) in my wallet or my bag. So if I feel “nyut-nyutan” (headache) I soon eat that medicine. Beside that, I always get a headache when I’m on PMS. One day before my first period, I always get headache. Meh. My boyfriend suggest me to consult with the doctor. I hope it’s just a normal condition because my body is weak. Do you also have a condition like me? Please give a comment below, I like to read it and reply to your comment. Maybe you have same condition like me?
https://pixabay.com/en/headache-pain-head-1910710/

Friday, July 7, 2017

Libur Lebaran 2017

Tahun ini libur lebaran gw tidak sepanjang tahun-tahun sebelumnya. Maklum tahun lalu kan gw masih kerja freelance gitu dan emang di bulan Ramandhan 2016 itu, proyek yang sedang gw geluti sudah pada tahap selesai, tinggal para petinggi-petinggi saja yang mempresentasikan hasilnya ke klien. Sedang tahun 2015 dan sebelum-sebelumnya kan gw masih kuliah. So, liburan gw bisa 3 bulan buat lebaran aja. Makanya untuk tahun ini, libur lebaran terasa sebentar sekali. Gw mulai libur dari tanggal 23 Juni 2017 dan mulai masuk kerja kembali kemarin, 3 Juli 2017. Yap 10 hari gw libur. Ngapain aja sih selama libur lebaran kemarin?
Keluarga gw bukan tipe keluarga yang kalo ada libur panjang pasti pergi ke luar kota atau ke luar negri. Keluarga gw lebih suka untuk berdiam di rumah dan leha-leha. Hahaha.. Karena itu, libur lebaran tahun ini pun sebagian besar gw habiskan di rumah. Tapi ada beberapa hari gw di Jakarta dan gw sempat juga jalan-jalan ke Bogor buat menikmati kulinernya. Nanti gw cerita d tentang wisata kuliner gw di Bogor. Pas hari-h lebaran gw masih di Jakarta karena akses ke Karawang super macet menurut Google. Papa mama juga datang ke Jakarta karena memang mau liburan di Jakarta. Maklum, lebaran gini kan Jakarta lengang gitu. Jadi enak gitu d buat jalan-jalan di Jakarta. hehe
Kalau kalian, ngapain aja sih selama libur lebaran kemarin? Ayo cerita sini di kolom komen. Gw bakal seneng banget menanggapinya. Oia, tidak lupa gw mengucapkan mohon maaf lahir dan batin ya! 

Thursday, July 6, 2017

Get a Haircut

To be honest, I rare to get a haircut. It is because I’m a typical woman who don’t really care much about the hairstyle or do the hair care at salon. I prefer to do the hair care by myself at home. I’m too lazy to go to salon and I like to spend my money for other things than for the salon things. So I always feel awkward when I go to salon. (◔̯◔)

Tuesday, July 4, 2017

My Bullet Journal® Setup

Continue from my last post about bullet journal (check this), I want to share about my bullet journal setup. So, check this out! (。◕‿◕。)

UPDATE!!!!
Bullet Journal is a trademark. This was developed by Ryder Carroll, a digital product designer living in Brooklyn, New York. The Bullet Journal® brand name and system are owned by Lightcage, LLC, who reserves all rights, including intellectual property rights related to the Bullet Journal®.
Check here for other Frequently Asked Questions (F.A.Q.) about Bullet Journal® !