Tuesday, April 30, 2019

Berobat ke Dokter THT di Penang

Jujur ini pertama kalinya aku berobat di rumah sakit luar negeri. Gile emangnya rumah sakit Indonesia ga bagus apa? Bukan maksud hati untuk merendahkan kualitas rumah sakit dalam negeri. Kemarin ini saat aku pergi ke Penang untuk melakukan photo shoot, aku juga disuruh sekalian berobat ke salah satu rumah sakit yang ada di Penang, Malaysia karena orang tua Kibo juga memang sedang melakukan medical check up di sana. Rumah sakit apakah itu? Namanya RS Lam Wah Ee. RS Lam Wah Ee ini beralamat di Jalan Tan Sri Teh Ewe Lim No. 141, Jelutong, 11600 George Town, Pulau Pinang, Malaysia. Katanya RS Lam Wah Ee ini adalah rumah sakit swasta yang tidak berfokus pada profit, melainkan ke arah sosial. Makanya RS ini punya donatur supaya bisa mensubsidi biaya berobat dari pasien-pasien di sana.

Oke jadi aku cerita pengalamanku saat berobat ya. Pertama kali masuk dari pintu utama, langsung ketemu sama ruang administrasi. Di sini aku ambil nomor antrian supaya bisa daftar berobat ke dokter yang dituju. Menunggu beberapa menit, mmm agak lama sih buatku, maklum aku laper karena belum makan siang, jadi nunggu itu bikin aku tambah lapar dan mau cuma semenit juga aku bilang itu lama. Hahaha.

Oke balik lagi, setelah aku dipanggil, aku ditanya mau ke dokter apa. Karena ini rumah sakit Malaysia, petugas adminnya bisa cakap Bahasa Melayu lah. Jadi aku ngomong bahasa Indonesia pun dia ngerti kok. Tapi saat itu aku pakai Bahasa Inggris dan minta supaya diarahkan ke dokter THT alias Ear, Nose, and Throat dalam Bahasa Inggris. Lalu dia menanyakan apakah aku pasien baru atau bukan. Kubilang saja baru dan ia pun langsung meminta pasporku karena di luar negeri, KTP ga berlaku ya sis and bro. Jadi bawalah paspor sebagai ID selama bepergian di luar negeri.

Setelah dia ketik ini itu menginputkan data-dataku, jadilah kartu appointment dengan Dr. Neil Solomons. Oke, keterbatasan bahasa membuat aku ga ngerti saat petugas sebut nama dokternya. Astaga dia kaya ngomong Salemen gitu lohhh dan aku minta dia ulang sampai tiga kali baru aku ngeh kalo nama dokternya Solomons. Wkwkw  Dia pun menunjukkan arah menuju ruang Dr. Neil Solomons ini dan menyebutkan baru bisa berobat jam 2 siang. Oh man, nunggu lagi...Memang sih uda tinggal bentar lagi jam 2. Tapi disuruh nunggu saat lapar itu rasanya...ugh! Apalagi AC di RS dingin banget. Untung aku mengenakan jaket, tapi sayang, aku pakai celana pendek. Kedinginan dah jadinya.

Saat waktu menunjukkan pukul 2 siang, dokternya masih belum ada cuy. Sial!!! Makin lama deh menunggu. Terus mana aku bukan pasien yang dipanggil nomor satu. Untungnya sih dipanggil sebagai pasien ketiga. Kalau tidak aku bisa tewas kelaparan kali. #lebay.

Oke setelah dipanggil oleh perawat, sang dokter ternyata orang kulit putih atau yang biasa disebut bule (bukan bermaksud rasis ya). Dokternya ramah dan dia menanyakan aku dari mana. Tentu sebelumnya dia tanya aku bisa ngomong Bahasa Inggris atau tidak karena dua pasien sebelumnya tidak bisa sama sekali. Jadi dia senang kita aku bisa Bahasa Inggris. Kubilang begini karena raut wajahnya sumringah ketika kubilang "Yes, I can speak English." dan langsung dibarengi dengan kalimat "Oh Thanks God you can speak English." Seperti suatu hal yang ajib gitu. Hahaha. Dia sepertinya sering kedapatan pasien  orang Indonesia yang tidak bisa Bahasa Inggris. Terus kebanyakan model-model orangnya tuh kaya aku. Orang Indonesia keturunan Tionghoa. Makanya ketika kubilang aku dari Indonesia, dia langsung memastikan apakah aku dari Medan. Hmm sepertinya banyak nih orang Medan berobat ke RS Lam Wah Ee.

Oke selesai ice breaking-nya, langsung si dokter nanya apa yang kukeluhkan. Jadi aku ini punya penyakit hidung berair alias ingusan ketika pagi hari atau tengah malam kalau aku begadang. Langsung saja si dokter menanyakan warna dari ingusku. Kok kesannya menjijikan ya pembicaraan kami. Ah tapi namanya juga konsultasi soal hidung. Ya begitu dah. Kujawab ingusku warna putih. FYI, ini semua dalam Bahasa Inggris ya percakapannya. Wkwkw. Jadi pembicaraannya lebih elegan gitu, kalo diceritakan versi gaul Bahasa Indonesia kesannya jadi menjijikan begini.  Aku cerita saja kalau sebelumnya saat aku masih kecil, aku pernah berobat juga ke dokter di Indonesia. Dokter tersebut cuma bilang kalau aku ini alergi dingin atau AC. Makanya pagi-pagi aku ingusan jadi kaya pilek setiap hari. Langsung Dr. Neil ini nanya apakah aku kerja di tempat yang terpapar AC. Kujawab ya. Terus dia nanya kembali apakah hidungku berair selama kerja. Kujawab tidak karena cuma saat pagi hari saja hidungku berair dan kadang bersin-bersin. Dengan mantap Dr. Neil bilang aku tidak alergi AC ataupun dingin. Karena kalau aku alergi, selama aku kerja di ruangan AC, hidungku akan terus berair. Oh baiklah, betul juga omongan dokter ini. Aku selama ini ngiranya alergi AC di pagi hari saja. Hahaha.

Setelah itu Dr. Neil menyuruhku duduk di kursi periksa. Hidungku dicolok oleh alat gitu supaya Dr. Neil bisa lihat isi hidungku. FYI, saat dicolok itu rasanya sakit. Ga nyaman deh. Ya namanya juga benda asing masuk hidung. Haha. Untung saja ga lama, jadi sakitnya pun cuma sebentar. Setelah itu Dr. Neil menanyakan kembali apakah aku pernah pakai obat spray di hidung. Aku sih selama ini ga pernah pakai obat seperti itu. Oleh sebabnya ia pun meresepkanku obat spray yang harus kupakai rutin pagi dan malam selama satu bulan. SATU BULAN??? Dalam hati aku sedikit kaget. Kuiyakan sajalah. Dia bilang aku harus semprotkan obat itu selama satu bulan. Setelahnya sepuluh hari stop ga pakai sama sekali. Nah kalau dalam masa 10 hari tersebut gejala ingusanku kembali terjadi, aku harus semprotkan kembali obat itu dan menghubungi Dr. Neil via email.

Oke setelah itu, suster mengantarkanku ke tempat apotik. Aku disuruh menunggu sesuai nomor antrian dan membayar uang berobat di loket saat dipanggil. Untuk berobat di RS Lam Wah Ee, biaya administrasinya hanya RM 10. Kalau dikali dengan kurs Rp 3.500, berarti cuma Rp 35.000. Wow, cukup murah ya kalau dibandingkan biaya admin RS Jakarta. Tapi biaya nasal scope alias hidungku dicolok untuk diperiksa itu cukup mahal guys, yaitu RM 190 = Rp 665.000. Namun ada subsidi gitu deh, jadi diskon RM 130, sehingga biayanya hanya RM 60 = Rp 210.000. Selain itu, untuk biaya konsultasi dengan dokternya sepertinya standar biaya konsultasi dengan dokter di Jakarta deh, yaitu RM 80 = Rp 280.000. Nah yang mahal ini obatnya. Huhuhu. Nama obatnya adalah Dymista Nasal Spray 120 ml, seharga RM 114.75 = Rp 401.625. Maaak, bangkrut mendadak...


Oh ya, untuk biaya sarung tangan yang dipakai oleh dokter juga pasien yang tanggung loh. Biasa uda include biaya konsultasi ya. Ini dipisahkan lagi, yaitu sebesar RM 1.50. Total-total dompetku langsung tepos karena berobat di RS Lam Wah Ee ini. Tapi ga tau deh, apa aku yang lebay atau harga segitu adalah wajar.

Setelah selama sebulan aku pakai Dymista, memang sudah tidak mampet atau ingusan dan bersin-bersin di pagi hari sih. Aku bisa merasakan indahnya menarik napas menggunakan kedua lobang hidungku. Puji Tuhan ya. FYI, aku sudah memasuki fase hari ke-9. Besok adalah hari terakhir dari fase 10 hari tanpa Dymista. Jadi seharusnya kalau besok hidungku normal-normal saja, mustinya aku sudah bisa dikatakan sembuh dong?

Ah kucoba iseng email ke dokternya deh....Nanti ku update kalau dijawab oleh Dr. Neil yoowss..

Wednesday, April 24, 2019

Bangun Daerah 3 T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) untuk Indonesia yang Lebih Baik

Sumber: Dokumen Pribadi
Indonesia disebut sebagai negara maritim karena sepertiga bagian dari negara Indonesia adalah lautan. Tentu hal ini menjadi keuntungan bagi Indonesia karena banyaknya sumber daya alam dari lautan yang bisa dimanfaatkan. Selain itu, potensi pariwisata bagi Indonesia juga menjadi besar dan bisa mendatangkan devisa besar bagi negara. Kalian tentu sudah mengetahui betapa cantiknya pantai-pantai yang ada di Indonesia. Wisatawan asing pun mengakui akan kecantikan alam Indonesia ini, sehingga pantai-pantai Indonesia menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan asing. Namun bentuk negara kepulauan ini juga membuat pembangunan untuk masing-masing wilayah tidak merata. Mengapa? Biaya transportasi untuk mengantarkan barang dan penduduk antar pulau menjadi besar karena setiap pulau terpisah, sehingga harus menggunakan transportasi laut dan udara yang lebih mahal daripada transportasi darat. Oleh sebab itu, tak heran pembangunan  di Indonesia selama ini hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa yang merupakan lokasi ibukota Indonesia berada.

Lalu bagaimana dengan pulau-pulau di luar Pulau Jawa? Pemerintah saat ini sudah memperhatikan daerah-daerah di luar Pulau Jawa untuk meningkatkan pemerataan pembangunan di setiap wilayah. Tak luput juga dengan wilayah perbatasan yang harus bisa dijaga dengan baik oleh pemerintah. Wilayah perbatasan ini merupakan wilayah terdepan, terluar, tapi juga wilayah yang tertinggal (daerah 3 T). Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, menyebutkan bahwa Indonesia mempunyai batas wilayah dengan panjang 99.000 kilometer dan merupakan batas wilayah terpanjang kedua setelah Kanada (Ristianto, 2019). Namun sangat disayangkan bahwa wilayah perbatasan Indonesia ini masih rapuh karena tidak terjaga dengan baik. Kerapuhan wilayah perbatasan Indonesia ini terjadi karena kurangnya transportasi, tidak ada jaringan listrik, sulitnya telekomunikasi, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2019, pemerintah pun berupaya membangun 11 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) pada tahun 2019 ini. PLBN tersebut diharapkan berfungsi sebagai pertahanan keamanan dan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi bagi wilayah perbatasan tersebut.

Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Danis H. Sumadilaga, dalam keterangan tertulis menjelaskan bahwa empat PLBN yang akan dibangun adalah PLBN Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat; PLBN Sota di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua; PLBN Sei Pacang Sebatik di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimatan Utara; dan PLBN Long Midang, yang juga berada di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Hutapea, 2019). Untuk tujuh PLBN lainnya akan dibangun pada tahap selanjutnya, yaitu PLBN Serasan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau; PLBN Oepoli di Kabupaten Kupang dan PLBN Napan di Kabupaten Timur Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur; PLBN Yetetkun Distrik Waropko di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua; PLBN Long Nawang di Kabupaten Malinau, PLBN Jasa-Sei Kelik di Kabupaten Sintang, dan PLBN Labang di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimatan Timur.

Sumber: Bisnis.com
Sebelumnya pada tahun 2018, Kementerian PUPR telah membangun tujuh PLBN Terpadu. Ketujuh PLBN Terpadu ini adalah PLBN Entikong, PLBN Badau, dan PLBN Aruk, yang berada di Provinsi Kalimantan Barat; PLBN Motaain, PLBN Motamassin, dan PLBN Wini, yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur; serta PLBN Skouw di Provinsi Papua. Ketujuh PLBN yang telah dibangun tersebut menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan yang terpenting menjadi pertahanan keamanan negara karena berada di wilayah perbatasan, serta menjadi pusat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Selain pembangunan PLBN tersebut, saya juga setuju dengan upaya pemerintah dalam menggaet para pelaku usaha untuk melakukan investasi pada daerah 3 T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) tersebut. Upaya tersebut dilakukan karena pemerintah tentu membutuhkan dukungan dari pihak swasta dalam pengembangan hulu hingga hilir, termasuk juga pembagunan infrastruktur di daerah 3 T. Untuk bisa mendapatkan investor bagi daerah 3 T tersebut, pemerintah menggelar kegiatan berupa Forum Bisnis dan Investasi Daerah Perbatasan (Kurniawan, 2016). Dalam forum tersebut, disajikan potensi-potensi bisnis yang terdapat pada 23 kabupaten wilayah perbatasan Indonesia untuk bisa dilirik oleh sejumlah investor swasta, BUMN/BUMD, dan investor dari luar negeri yang hadir mengikuti forum tersebut.

Program pemerintah tersebut tidak berakhir sia-sia. Adapun KORINDO merupakan salah satu perusahaan swasta di Indonesia yang turut dalam melakukan investasi kondusif di daerah perbatasan, yaitu di Boven Digoel dan Merauke, Provinsi Papua (KORINDO, Bangun Perbatasan Jadi Terasnya Indonesia, 2019) . KORINDO Grup merupakan perusahaan yang bergerak dalam bisnis perkebunan, produk kertas dan kehutanan, konstruksi dan insdustri berat, logistik, layanan finansial, dan Real Estat (KORINDO, Tanpa Tahun). Fokus utama dari KORINDO sendiri adalah pengembangan hardwood yang kemudian beralih ke plywood/veneer pada tahun 1979, kertas koran di tahun 1984, perkebunan kayu di tahun 1993, dan terakhir perkebunan kelapa sawit di tahun 1995. Bisa dibilang KORINDO memfokuskan bisnisnya pada bidang kehutanan. Oleh sebab itu, dipilihnya kawasan Papua oleh KORINDO karena kawasan Papua merupakan daerah primadona dalam pengembangan industri kehutanan. Disebut primadona karena Papua memiliki bentang alam yang luas, subur, dan kebanyakan masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Minimnya infrastruktur yang ada di daerah tersebut tidak membuat KORINDO gagal dalam membangun usaha dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.

Bukan hanya ikut melakukan investasi kondusif, KORINDO juga turut andil dalam membangun perbatasan menjadi terasnya IndonesiaKORINDO telah mengembangkan konsep industri yang ramah lingkungan melalui pembangunan bidang kehutanan dan perkebunan kelapa sawit. Saya sangat berharap agar para pelaku industri pun mulai menggerakkan pengembangan industri yang ramah lingkungan tersebut. Tentu hal ini tidaklah mudah. Apalagi untuk pengembangan industri di daerah 3 T yang minim infrastruktur, sulitnya transportasi, dan lain sebagainya. Namun kita harus tetap berusaha untuk bisa mengembangkan industri ramah lingkungan tersebut dan memang sudah dibuktikan oleh keberhasilan KORINDO dalam pembangunan industri di kawasan Papua. Sehingga hal ini bukanlah tidak mungkin untuk terlaksana.

Selain mengembangkan konsep industri ramah lingkungan, hal positif lain yang bisa diberikan bagi daerah 3 T tersebut adalah dengan terserapnya tenaga kerja. Sebagai contoh, KORINDO telah merektrut 10.000 tenaga kerja di kawasan Papua. Dengan berdirinya industri pada daerah 3 T tersebut, tentu masyarakat daerah tersebut bisa memiliki lapangan pekerjaan yang berimbas dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada daerah tersebut. Selain itu, dampak positif pengembangan industri di daerah 3 T adalah dengan dibangunnya infrastruktur pada daerah tersebut. Dalam hal ini, contoh konkret yang ada adalah KORINDO telah membangun infrastruktur dan juga mendirikan fasilitas pendidikan dan medis bagi masyarakat Papua.

Dari contoh yang sudah saya sebutkan tersebut, tentu bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menciptakan perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik, khususnya untuk daerah 3 T. Perubahan ke arah yang lebih baik pasti sudah dirasakan oleh masyarakat sekitar saat ini. Oleh sebab itu, saya berharap agar program pemerintah tersebut bisa disambut baik oleh para pelaku usaha lain agar pembangunan daerah 3 T dapat terlaksana, sehingga bukan hanya Pulau Jawa saja yang bisa maju, tetapi daerah-daerah lain pun bisa sama majunya seperti Pulau Jawa.

Referensi:
Hutapea, E. (2019, Maret 31). Bangun 11 PLBN, Pemerintah Kucurkan Rp 1,7 Triliun. Diakses dari Kompas.com: https://properti.kompas.com/read/2019/03/31/083429121/bangun-11-plbn-pemerintah-kucurkan-rp-17-triliun
KORINDO. (2019, April 1). Bangun Perbatasan Jadi Terasnya Indonesia. Diakses dari KORINDO News: https://korindonews.com/border-building-to-becomes-a-terrace-of-indonesia/?lang=id
KORINDO. (2019, April 1). Perubahan untuk Indonesia yang Lebih Baik. Diakses dari KORINDO News: https://korindonews.com/change-for-indonesia/?lang=id
KORINDO. (n.d.). Group Profile. Diakses dari KORINDO: https://www.korindo.co.id/group-profile/
Kurniawan, A. (2016, November 28). Kemendesa Ajak Pelaku Usaha Investasi di Perbatasan. Diakses dari wartakotalive.com: http://wartakota.tribunnews.com/2016/11/28/kemendesa-ajak-pelaku-usaha-investasi-di-perbatasan
Ristianto, C. (2019, Januari 28). Wiranto: Wilayah Perbatasan Indonesia Masih Rapuh. Diakses dari Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2019/01/28/12012871/wiranto-wilayah-perbatasan-indonesia-masih-rapuh


Monday, April 22, 2019

Series Review: You Season 1 (2018)


Pertama kali nonton series You ini pas sore-sore di rumah Kibo. Nontonnya rame-rame gitu sama dedenya dan mamanya juga. Kibo sangat merekomendasikan series You ini. Pas ditonton, episode satu sudah membuatku ingin segera lanjut nonton episode duanya...

YOU Season 1 (2018)

Sutradara
:
Marcos Siega (3 episodes, 2018);
Lee Toland Krieger (2 episodes, 2018);
Marta Cunningham (1 episode, 2018);
Kellie Cyrus (1 episode, 2018);
Erin Feeley (1 episode, 2018);
Victoria Mahoney (1 episode, 2018);
Martha Mitchell (1 episode, 2018);
Penulis
:
TV
:
Netflix
Jenis Film
:
Romance, Drama, Crime
Total Episode
:
10 episode
Tanggal Rilis
:
9 September 2018 – 11 November 2018
Cast
:




ABOUT : A clever bookstore manager relies on his savvy Internet know-how to make the woman of his dreams fall in love with him.

Baca juga: Series Review Stranger Things Season 1 (2016)

Review
Wah gila gila gila... Si Joe Goldberg (Penn Badgley) sukses banget lah bikin aku ternganga-nganga melihat kelakuannya. Bikin aku tersadar juga akan efek buruk dari sosial media. Semua informasi bisa didapatkan dengan mudah. Nah makanya, kita harus bijak kalau mau post sesuatu di sosial media. Kalau hal yang sifatnya pribadi (banget), mending dipikir ulang deh buat di-share ke publik lewat sosmed!

Nonton You ini tuh bikin nagih. Penasaran banget aku tuh sama alur hidup si Joe. Gimana caranya dia bisa mendapatkan pujaan hatinya lewat trik-trik yang dia buat. Aksi-aksi epic yang dilakukannya juga bikin mataku terbelalak! Wah kalian harus nonton film ini!!!! Harus!!! Dari series ini kalian akan tahu akan obsesi cinta (berlebihan) seorang pria itu seperti apa. Dari cara pedekate, terus saat jadian gimana menjaga hubungan itu, sampai akhirnya putus pun di sini diceritakan. Ga cuma itu, diceritakan juga kisah cinta lain yang merupakan cinta paksaan. Tentang bagaimana si cewe harus bertahan meski dia sudah ga cinta tapi harus tetap menerima si pria supaya ga kehilangan si buah hati. Ah....miris memang.

Acting dari para pemainnya menurutku bagus-bagus. Sesuai lah dengan perannya masing-masing. Oia, adegan dalam film ini ada adegan untuk 17++ gitu yaa.. Jadi buat yang di bawah umur, sebaiknya nanti saja nontonnya. Eh mikirnya jangan mikir adegan yang berbau seks aja loh ya! Adegan 17++ di sini maksudku juga adalah adegan kekerasan yang cukup..hmm...menjijikan buat ditonton sama anak di bawah umur. Tak baik lah. Soalnya bisa ngajarin yang ga bener. Apalagi quote yang diucapkan oleh Joe, yang sebenarnya didapatkan dari Mr. Mooney (Mark Blum), orang yang sudah membesarkan Joe seperti ayah angkat gitu. Quote-nya adalah "Some people deserve to die." Anjir! Mr. Mooney bilang kaya gitu pas si Joe abis melakukan sesuatu yang tidak baik dong. Astaga-astaga....That's why terjawab sudah kelakuan aneh si Joe itu awalnya karena siapa. Intinya sih bukan karena itu aja sih, cuma di series ini cukup diceritakan lah masa lalu si Joe ini seperti apa, sehingga membuatnya menjadi Joe yang ya begitulah...

BTW series ini diangkat dari novel berjudul You karya Caroline Kepnes loh. Makanya ga heran alurnya berasa banget gitu kaya lagi baca novel pas di bagian awal-awal nonton series ini. Meski dari novel, tapi ga semua karakternya ada dalam novel You tersebut. Misalnya saja karakter Paco (Luca Padovan) itu di novel ga ada. Tapi dia dimunculkan supaya ada side story yang greget dan bikin lebih dramatis gitu deh.

Rating untuk series ini dari IMDb adalah 7.8/10. Hmm cukup jelek ya rating-nya. Padahal menurutku bagus juga ah series You ini. Bisalah dikasih bintang 8.
(8/10)

Rangkuman
Joe Goldberg (Penn Badgley) adalah seorang manajer toko buku. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Guinevere Beck (Elizabeth Lail) saat Beck mengunjungi toko buku tempat Joe bekerja. Thanks to social media, Joe bisa tahu lebih dalam mengenai Beck. Di mana ia tinggal, siapa teman-temannya, dan ternyata...Beck sudah memiliki pacar! Langsung saja dong si Joe ini cari tahu siapa pacar Beck ini. Berkat jejaring sosial media, Joe pun bisa mencari tahu juga profil dari kekasih Beck, Benjamin 'Benji' J. Ashby III (Lou Taylor Pucci).

Hasil 'riset'-nya, Joe menemukan bahwa Benji ini bukanlah pria yang pantas mendapatkan hati Beck. Benji hanya memanfaatkan Beck saja untuk bisa memuaskan nafsu seksnya. Oleh sebab itu Joe berusaha melindungi Beck, wanita pujaannya, dari pengaruh buruk Benji. Caranya? Tentu saja dengan menjauhkan Benji dari Beck.

Joe tahu bahwa Benji ini adalah anak orang kaya, sehingga hidupnya hanya untuk pesta pora, wanita, dan narkotika. Selain sebagai pemakai obat-obatan terlarang, Benji juga seorang pengedar. Joe pun berpura-pura sebagai calon pembeli barang haram jualan Benji ini untuk memancing Benji keluar dan menemui Joe. And trap! Benji pun terperangkap tipu muslihat Joe. Oleh Joe, Benji ini dikurung dalam lemari kaca di ruang basement toko buku yang Joe kelola. Lemari kaca tebal tersebut sebenarnya berfungsi untuk menyimpan buku-buku tua first edition yang sangat berharga. Oleh sebab itu lemari kaca tersebut memiliki pengaturan kelembapan dan cukup tebal sehingga bisa juga menjadi kurugan bagi manusia yang dikunci di dalamnya.

Benji yang merasa terpojok karena ga bisa keluar dari kurungan tersebut pun menceritakan semua rahasia Beck yang ingin Joe ketahui. Harapannya agar Benji bisa dikeluarkan dari kurungan tersebut. Namun Joe tidak percaya begitu saja dengan Benji. Ia mencari tahu juga kebenaran dari kata-kata Benji tersebut. Di samping itu, Joe juga mulai melakukan pendekatan pada Beck dengan memanfaatkan ketidakberadaan Benji ini. Oia, agar orang-orang di sekitar Benji ini tidak curiga, Joe menggunakan ponsel Benji, lebih tepatnya sosial media Benji, untuk share soal kegiatan diri si Benji yang sedang pesta di luar kota.  Jadi teman-teman Benji ini menganggapnya si Benji ini lagi senang-senang di luar kota gitu. Beck pun merasa kecewa terhadap Benji yang sudah meninggalkan dirinya. Makanya si Joe bisa memanfaatkan rasa kekecawaan Beck pada Benji tersebut untuk mendapatkan hati Beck. Gimana kelanjutan kisah Joe untuk mendapatkan hati Beck? Apa saja rintangan yang harus dihadapi Joe supaya bisa bersama dengan Beck? Langsung saja saksikan kisah Joe ini di series You season 1 ini.

Wednesday, April 17, 2019

Pemilu 2019: Adilkah??

Hari ini, hari penting bagi rakyat Indonesia....Ya tentu kalian sudah tahu lah ya kalau hari ini sedang diadakan pesta demokrasi bagi rakyat Indonesia. Aku pun ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi tersebut. Mamaku apalagi...dari jam 6 kurang 15 menit aku sudah dibangunkan oleh mama supaya bersiap-siap pergi ke TPS. Gila ga?! Uda kaya mau ke mana aja...padahal buat nyoblos yang jarak TPS dari rumah saja ga sampai 5 menit....

Okelah, pagi-pagi lebih baik. Jadi jam 7 lewat dikit aku dan mama sudah siap buat pergi ke TPS. Bahkan si mama sudah rapi gitu dan ber-makeup dengan lipstik merahnya. Mama mengenakan tank top putih dengan ditutup oleh blazer merah. "Bendera Indonesia", pikirku. Aku sendiri cuma memakai terusan biru donker dengan motif owl, disertai celana jins biru muda.

Sesampainya di TPS yang berlokasi di SD Al-Ikhlas, aku dan mama duduk di kursi yang sudah disediakan. Ternyata petugas di sana masih siap-siap sehingga belum bisa registrasi. Maklum, kotak suara ada 5, surat suara juga ada 5. Jadi lebih lama buat siap-siapnya. Meski agak molor sedikit, tapi para pemilih yang sudah pada datang tetap menunggu dengan sabar.

Tak seberapa lama, petugas telah siap untuk melaksanakan pemilihan umum. Langsung saja kertas A6 yang kubawa kuletakkan di meja petugas. Kemudian aku dan mama menunggu nama kami dipanggil. Yang dipanggil duluan namaku. Jadi aku masuk ke TPS duluan deh daripada si mama. Saat masuk ke ruangan, aku diberikan 5 kertas suara oleh petugas. Kemudian aku berjalan ke bilik suara yang kosong. Satu yang kurang dari TPS tempatku nyoblos, lampunya ga terang...Jadi saat milih-milih caleg, aku malas membaca nama-nama yang tertera. Habisnya gelap-gelap gimana gitu. Jadi kucoblos saja partainya.

Dari kemarin aku memang sudah lihat-lihat calon legislatif untuk periode 2019-2024 ini. Hatiku sudah mantap untuk memilih partai tersebut. Habis visi dan misinya menurutku oke meski umurnya masih terbilang seumur jagung. Ah sudah tahu dong kalian partai mana yang kupilih untuk mewakili suaraku di kursi legislatif?

Setelah kucoblos-coblos semua kertas suara, langsung saja kumasukkan ke kotak yang sesuai. Dibantu oleh petugas juga supaya tidak salah masukin kertas suaranya. Baru deh aku menuju ke tempat tinta untuk menyelupkan kelingkingku. Tanda bahwa aku sudah berpartisipasi pada pemilu 2019 ini. Lalu aku pun menunggu mama selesai nyoblos dan balik ke rumah.

Lah si papa ga nyoblos? Nyoblos kok. Cuma doi lama gitu siap-siapnya, jadi si mama pergi duluan. Hihihi. Maklum mama pengen lanjut masak, biar ga kesiangan....

Sumber: Tunas Bangsa
Jadi gimana kesan pesannya dalam pemilu 2019 ini? Puji Tuhan di TPS tempatku memberikan suara berlangsung dengan baik dan lancar. Tidak ricuh dan tidak ada tindakan tidak adil. Saksi-saksi di sana melakukan tugasnnya dengan baik. Tak luput dengan petugas-petugas yang ada. Terlihat netral dan tidak berpihak pada kubu manapun. Namun sayang, kudengar di TPS Jakarta Pusat, tempat temanku memberikan suaranya, keadaan tidak berjalan dengan baik. Kenapa? Para petugas di sana berlaku tidak adil! Kok bisa ga adil? Iya, soalnya para pemilih dipaksa untuk mencoblos satu kubu. Bahkan sebelum surat suara dimasukkan ke kotak suara, surat suaranya dibuka dulu untuk memastikan yang tercoblos adalah kubu yang dikehendaki oleh petugas di sana. GILA KAN?!

Ya kuberharap TPS-TPS yang ada bisa berlaku adil. Sesuai dengan peraturan sehingga suara yang didapat ya memang benar-benar dari hati masing-masing pemilih. Bukan karena paksaan. Mari kita nantikan hasil pemilu 2019 ini...

Tuesday, April 16, 2019

Pemilu 2019, Sejarah Baru bagi Rakyat Indonesia


Rabu, 17 April 2019 rakyat Indonesia mencatat sejarah baru karena menggabungkan dua jenis pemilu yang dilaksanakan dalam satu waktu secara bersamaan. Begitu juga denganku karena ini pertama kalinya aku akan nyoblos presiden, DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten, dan DPD. Kok bisa baru nyoblos?? Iya, tahun lalu aku golput karena ga sempat buat daftar pemindahan lokasi nyoblos. Saat itu aku sedang kuliah praktek di dekat bandara Soetta dan tak sempat untuk pulang kampung supaya bisa nyoblos. Alhasil aku ga ikutan pesta demokrasi di tahun 2014 lalu.

Untuk tahun 2019 ini, aku semangat nih buat ikutan nyoblos di TPS dekat rumah! Ya karena ini untuk pertama kalinya aku nyumbang suaraku buat milih presiden yang akan mengatur negeri ini dan wakil rakyat yang akan menampung semua aspirasi rakyat (apa iya?). Kulihat di berita juga sepertinya rakyat Indonesia saat ini begitu antusias untuk nyoblos pemilu 2019 ini. Terlebih lagi warga yang tinggal di luar negeri. Wah luar biasa banget mereka rela antri dan panas-panasan buat nyoblos loh! Salut sama mereka!!

Terkait soal golput alias golongan putih alias ga mau ikutan nyoblos, sebenarnya aku agak kurang setuju dengan sikap itu ya. Terlepas dari milih siapa, sebenarnya yang penting tuh ikutan milih. Kalau merasa tidak ada calon yang bagus, ya pilih saja yang sekiranya pilihan terbaik dari yang terburuk. Daripada ga milih sama sekali kan? Pandangan lainku adalah ya coblos saja dua-duanya sehingga surat suara tersebut tidak sah. At least surat suara kamu tuh dipakai. Bukan dipakai oleh orang lain, ya ga?

Oiya, temanku ada kirim link tentang kira-kira siapa calon yang sesuai dengan aspirasi kita. Di situ kaya semacam kuis gitu nanti hasilnya akan keluar kira-kira calon mana yang bisa dijadikan pilihan kita besok. Bisa klik di sini. Buat yang bingung mau pilih siapa, bisa tuh ikutan kuis tersebut supaya bisa memantapkan hati. Aku sendiri sih sudah mantap dengan pilihanku. Meski saat aku coba kuis tersebut, hasilnya malah ga sesuai dengan pilihanku. Hahaha. Kocak. Apakah aku ganti haluan saja ya??? #eh

Aku harap di pemilu 2019 ini bisa berjalan dengan baik, lancar, dan ga ricuh. Beberapa hari ini aku mendengar sih bisikan-bisikan untuk waspada kalau-kalau pemilu 2019 ini bakal ricuh. Apalagi aku ini etnis yang suka didiskriminasi karena minoritas. Wah bisa jadi sasaran empuk dah kalau terjadi ricuh. Tentu aku ga lupa akan kerusuhan Mei 1998 itu... Siapa coba yang bakal lupa akan kejadian menyakitkan itu? Apalagi etnisku yang jadi sasarannya. Wah ga bisa lupa deh. Meski aku saat itu masih berumur 5 tahun, tapi aku masih ingat cuplikan-cuplikan kejadian yang kualami saat itu. Puji Tuhan sih aku aman ya dan karena masih kecil, belum ngerti lah ketegangan yang dirasakan saat itu. Tapi ya kejadian itu tetap terekam di dalam memoriku. Bahkan ya, untuk pemilu 2019 ini, beberapa orang sudah kabur ke luar negeri dan ga ikut pemilu supaya bisa menghindar kalau-kalau nanti ricuh. Gila ga?! Sampe sebegitunya loh! 

Ah jadi ngelantur ke mana-mana kan....Intinya sih aku berdoa, siapapun yang nanti bakal menang di pemilu 2019 ini, aku percaya mereka memiliki hati yang mau memajukan bangsa Indonesia. Mau sampai kapan negara ini cuma gini-gini aja dan dipandang sebelah mata oleh negara lain? Kalau ricuh apalagi..wah bakal makin jelek deh nama Indonesia di mata dunia. Bahkan bisa jadi jelek juga di mata warganya sendiri...

Monday, April 15, 2019

Wedding: Hasil Foto Pre-Wedding dengan Vendor Kuang Yee Bridal

Halo guys! Beberapa hari yang lalu, tim Kuang Yee Bridal akhirnya kirim hasil 35 foto yang akan dicetak dalam album. Sebelumnya, melalui chat WA dengan tim Kuang Yee Bridal, kami memang meminta supaya sebelum album dicetak, foto-fotonya dikirimkan kepada kami terlebih dahulu untuk dicek. Habisnya kami kan ada minta satu foto untuk dikirimkan ke kami duluan karena akan dicetak kanvas lewat vendor Tracy Bridal (paket dari Tracy Bridal). Nah setelah lihat hasil fotonya, sedikit gregetan karena beberapa spot butuh diedit lagi. Misalnya saja di background ada kelihatan kabel lampu, lampu-lampu neon di balik pintu, dan pintu dengan cat yang timbul sehingga terkesan pintu itu dicat seadanya gitu. Jadi kami minta edit ulang kan. Apalagi foto tersebut akan dicetak dengan ukuran 60 x 90 cm. Wah bakalan kelihatan deh tuh hal-hal yang kusebutkan tadi.


Awalnya tanggapan dari ci Elly tentang kami yang minta diedit ulang gitu disambut dengan kurang baik. Somehow kalau aku baca chat dari doi, isinya seolah-olah bilang "ga bisa diedit lagi". Tapi ga lama aku dapat email yang berisikan hasil foto yang sudah diedit ulang sesuai dengan permintaanku dan Kibo. Hahaha. Baiklah, yang penting hasilnya oke, ya ga?

Nah balik lagi ke soal hasil foto pre-wedding dengan vendor Kuang Yee Bridal. Secara keseluruhan, foto-foto yang ada di dalam album tersebut sudah teredit dengan baik. Ya ada si satu yang pengen aku minta diedit lagi. Tapi ga perlu-perlu amat juga sih. Mungkin akunya kali yang terlalu berlebihan, jadinya gatel pengen minta diedit. Hahaha.

Ini aku kasih liat sedikit ya...hihi..



Gimana?? Bagus ga??

Sebenarnya si Kibo agak sebel karena foto dengan background putih doang itu ga dipilih sebagai foto yang akan dicetak di kanvas. Habis aku dan mama Kibo berpendapat "masa backgroudnya putih doang?? Sayang ah". Jadi suara dia saat itu kalah dengan suara kami berdua. Haha...Tapi menurut kakak ipar Kibo dan adiknya Kibo, foto dengan background putihlah yang paling bagus setelah mereka lihat hasil fotonya dari foto-foto yang dikirimkan ke kami beberapa hari lalu. Hmm...selera sih emang...tapi sudah pilih foto yang lain buat dicetak kanvas...gimana dong??

Ya tapiii intinya sih aku sukaaa sama hasil-hasil foto dari Kuang Yee Bridal ini. Meskipun cuma foto studio dan ada satu foto outdoor di hutan Penang, tapi hasil fotonya sesuai dengan ekspektasiku. Hihihi. Terima kasih Kuang Yee Bridal sudah membuat foto pre-wedding impianku terwujud ^^

Mau update review-ku lagi ah!
Jadi pas sebelum lebaran itu sebenarnya dua album foto (yes di paketku, aku dapat dua album foto) milikku sudah selesai dicetak. Namun karena ada libur lebaran dan takut barangnya ga nyampe, jadi kami minta diundur pengirimannya sehabis lebaran saja. Maklum ini kan pengiriman antar negara ya. Riskan aja gitu kalau sampai ga nyampe cuma gara-gara libur lebaran.

Jadiii... setelah album dan dua kanvasnya sampai di tangan, hasilnya adalah....
Dua jempol buat kanvasnya. Good, no cacat! Nah buat albumnya..sayang sekali satu album ada yang belum tertempel sempurna gitu cover-nya. Ya sebenarnya sih cukup lepasin double tape-nya dan bisa tertempel. Cuma Kibo mau aja buat komplain ke Kuang Yee biar bisa dicetak ulang. Huaahahahaa. Nah album yang dikasih ke kami dicetak glossy gitu. Sebenarnya kalau kata ci Elly sih untuk kualitas bagusan yang matte tapi buat durability itu bagusan glossy karena lebih mudah perawatannya. Aku sama Kibo sempat galau-galau nih buat album yang satunya lagi itu bakal dicetak glossy atau matte. Setelah kucari-cari pro-kon dari hasil cetak glossy dan matte, akhirnya kupilih untuk cetak glossy saja. Kenapa? Karena warnanya lebih pop up gitu. πŸ€©

Nah setelah di-printing ulang, ci Elly memberitahu bahwa album tersebut akan dibawa langsung oleh bosnya ke Jakarta. Sekalian si bos kunjungan ke Jakarta gitu deh karena mereka punya rencana untuk bikin store di Jakarta. Oke baik, setelah Kibo ketemu sama bosnya ci Elly. Dia uda cek betul tuh per halaman buat memastikan tidak ada cacat. Dan memang hasilnya bagus tak bercacat. Nah hari Sabtunya, aku bertemu Kibo untuk lihat albumnya dan kemudian dibandingkan dengan album satunya lagi supaya bisa lihat kualitas cetaknya beda apa engga gitu....dan ENG ING ENG. Isi fotonya sama dong. Padahal cover-nya beda, tapi isinya sama kaya foto album yang ga cacat. DOENG. πŸ˜°πŸ˜°πŸ˜°

Komplainlah kami untuk yang kedua kalinya karena kami mendapat album dengan isi yang sama seperti album yang ga cacat. Padahal harusnya kan beda. πŸ˜… Ci Elly pun merespon komplain kami dengan melakukan cetak kembali. Sebenarnya sangat disayangkan sih sampai kejadian seperti ini. Maksudku, ini kan vendor dari luar negeri ya. Buat kirim albumnya tuh ga segampang kalau satu negara. Harusnya kan kesalahan-kesalahan kaya gini ga terjadi supaya bisa minimasi biaya. Sayang aja gitu jadi cetak sampai dua kali gitu. Ya bisa juga si sebenarnya kedua album yang ga sesuai permintaanku ini dipakai oleh mereka buat pameran. Not really lost juga sih sebenarnya.

Oke, jadi untuk pengiriman album ketiga kalinya ini dilakukan via ci Elly yang memang datang ke Indonesia untuk ikut pameran wedding di JCC akhir Juli 2019. Buat pengambilannya si Kibo minta bantuan temannya supaya Kibo ga repot-repot masuk ke pameran. Huahahah.

Sekian update kejadian salah album ini...Overall aku puas sih sama hasil fotonya, album, dan kanvasnya. Good job! πŸ˜πŸ˜

Friday, April 12, 2019

Cara Dapat Uang dari Nulis Blog dengan Google AdSense

Cara dapat uang dari nulis blog?? Emangnya bisa dapat uang dari nulis blog? Ah pertanyaan itu tentunya dapat dijawab dengan "YES", bisa loh dapat uang dari menulis blog. Buat para blogger yang sudah lama berkecimpung dengan dunia blog pasti tahu akan hal ini. Gimana caranya dapat uang dari nulis blog doang??

Buatku sih dengan menggunakan Google AdSense. Fitur iklan di Google yang bisa dimanfaatkan oleh para blogger untuk menghasilkan sedikit tambahan uang. Ya kubilang sedikit, karena emang dapet uangnya sedikit cik. Tapi tetap aja itu uang toh? Seperti peribahasa, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Ya itulah yang aku percayai dengan memasang Google AdSense pada blogku.

Jadi gimana caranya?

Cara yang kutempuh untuk bisa menghasilkan uang dari blogku ini adalah dengan melihat pada pengaturan blogger-ku dan klik pada menu earnings/penghasilan:

Awalnya sih aku iseng-iseng pencet menu earnings ini. Habis kan pengen dong bisa dapat uang dari nulis blog sajaa..Jadilah aku pencet menu earnings tersebut dan tick "Yes" pada pertanyaan "show ads on blog". Kalau dalam Bahasa Indonesia, pertanyaannya jadi "Tampilkan iklan pada blog". Langsung saja diklik pilihan "Ya" saudara-saudara.

Setelah itu di bawahnya akan ada pengaturan tampilan iklan pada blog. Pilihannya ada 3, yaitu:
  1. menampilkan iklan di bawah pos dan di samping pos;
  2. menampilkan iklan di bawah pos; atau
  3. menampilkan iklan pada samping pos.
Aku sih pilihnya yang pertama ya, jadi iklannya muncul di samping, maupun di bawah posku. Kemudian untuk mengatur tampilan iklan dalam versi website, kita musti mengunjungi menu Layout/ Tata Letak.


Pada bagian yang ingin kalian masuki iklan, klik saja "Add a Gadget" kemudian pilih AdSense. Kalau aku, kupilih supaya iklan tampil di sebelah kanan atas pada posku. Jadi kuatur demikian deh.

Nah gampang kan cara nampilin Google AdSense di blog kita?

Ini salah satu pos tentang cara memasang iklan di blog yang cukup bagus juga buat dibaca. Bisa langsung saja klik ke sini.

Untuk kasus tertentu, ada juga pengaturan blog yang ga ada menu "Earnings" sepertiku. Hal ini karena blog Anda belum terkoneksi dengan Google AdSense. Oleh sebab itu, Anda harus daftar terlebih dahulu di Google AdSense dan memasukkan ID Akun blog Anda ke Google AdSense.

Tentunya ada syarat-syarat blog Anda bisa terdaftar dalam Google AdSense ini karena Google ga sembarangan juga ngasih duitnya. Syarat-syaratnya bisa kalian baca sendiri di sini.

Ingat ya, buat di Indonesia, para blogger harus mencapai nilai Rp 1.300.000 dulu baru bisa dicairkan uangnya. Terus jangan juga kalian sengaja ngeklik-ngeklik iklan di blog kalian supaya bisa dapat duitnya cepat. Nanti bakal dihukum loh sama Google. Bisa dengan cara pengurangan uang yang sudah masuk ke deposit kita gitu deh salah satunya. Parahnya ya nanti kita ga bisa masang iklan di blog kita lagi. Jadi cara terbaik, ya sering bikin pos menarik, sering blog walking supaya banyak juga blogger lain yang mampir ke blog kita, juga dengan berdoa supaya viewer makin banyak. Hehe

Happy Blogging!

Thursday, April 11, 2019

Belajar Bahasa Jepang dengan Duo Lingo

Dari sejak jaman sekolah dulu aku sudah suka dengan Jepang. Padahal Jepang ini penjajah kejam tanah air ya. Tapi gimana dong...aku suka dengan hal-hal tentang Jepang karena suka baca manga (γΎγ‚“γŒ) alias komik Jepang. Cita-citaku saat SMP tuh ya pengen pergi ke negeri sakura itu. Puji Tuhan kesampean.. >.<

Nah ga cuma sampe situ aja, aku juga niat untuk mempelajari Bahasa Jepang. Bahkan ayahku sampai membelikanku buku untuk belajar Bahasa Jepang loh...yang pada akhirnya kupelajari untuk menghafal hiragana dan katakana. Emang cuma niat aja ya, pelaksanaannya nihil! Eh ga nihil-nihil amat kok, at least aku sudah lumayan dalam menghafal hiragana.

Hiragana adalah daftar suku kata Jepang dan merupakan salah satu komponen dalam sistem penulisan Bahasa Jepang, beserta dengan katakana, kanji, dan untuk beberapa kasus romaji (Latin Script) (dalam Wikipedia). Hiragana berarti "ordinary" atau "simple". And yes, menghafal hiragana itu ga sesulit katakana apalagi kanji.

Oke balik lagi ke soal belajar Bahasa Jepang. Semenjak disibukkan oleh tugas-tugas sekolah dan berlanjut ke bangku kuliah, aku sudah lama tidak mempelajari Bahasa Jepang. Paling-paling untuk kata-kata yang umum sih masih bisa kuingat seperti γ‚γŸγ— γ― γƒ•γƒͺγ‚Ήγ‚« γ§γ™, atau γ‚γͺた gitu. Untuk tulisan γ‚γŸγ— γ― γƒ•γƒͺγ‚Ήγ‚« γ§γ™ terutama, so pasti kuingat karena setiap kali aku ujian di bangku SMA, aku pasti akan menuliskan hal tersebut di halaman paling belakang lembar jawabanku. Itung-itung ngapalin tulisan Jepang gitu. Hehe. Tapi pas kuliah udah ga kulakukan itu lagi...boro-boro sempet, bisa nyelesaiin ujiannya dalam waktu yang diberikan aja udah syukur....Kalo jaman SMA sih aku termasuk yang cepet nyelesein soal-soal ujian. Makanya karena ga boleh keluar sebelum waktu habis, aku suka nulis-nulis itu di akhir lembar jawabanku. Iseng ya. Hehe.

Ah kan jadi ngelantur ke mana-mana lagi. Maaf mudah terdistraksi pikiran ini. #plak. Oke, jadi untuk belajar Bahasa Jepang kembali, aku menggunakan aplikasi Duo Lingo namanya. Bisa diakses di play store maupun app store. Kaya gini nih icon-nya:


Awalnya aku pakai Duo Lingo ini untuk belajar Bahasa Prancis. Maklum saat pertama kali install, Bahasa Jepang belum ada nih course-nya. Eh pas liat-liat course buat mempelajari bahasa yang lain, ternyata Bahasa Jepang sudah ada dalam applikasi Duo Lingo ini. Makin seneng deh pake Duo Lingo untuk belajar Bahasa Jepang.


Nah saat pertama kali masuk course, tentunya cuma bisa pencet Hiragana 1 karena harus level up dulu untuk bisa lanjut mempelajari hal yang lain. Tapi buat yang udah expert sih bisa lakukan test supaya bisa ngebuka semua course yang ada. Ga semua sih, paling 10 courses gitu. Berhubung aku ini newbie, aku mempelajarinya satu per satu dan sekarang aku sudah level 89 dong dengan 9438 XP dalam mempelajari Bahasa Jepang ini. Mantap ga tuh??

Habisnya asik banget belajar Bahasa Jepang ini lewat Duo Lingo. Interaktif gitu loh. Jadi kan aku mudah buat belajarnya. Terus setiap hari ada batasan XP yang harus kukejar supaya aku ga lose streak gitu deh. Makanya tiap hari aku pasti rutin buka Duo Lingo ini untuk belajar Bahasa Jepang.

Kalian lihat kan masih ada icon yang berwarna abu-abu, itu tandanya aku belum bisa mempelajari course tersebut. Supaya bisa ke course itu, aku harus menyelesaikan course tentang Direction 2. Tapi aku lagi males nih...makin ke bawah makin susah cuy belajarnyaa... iyalaaaah. Terus karena saat ini aku belajarnya malam-malam, aku pengen cepet-cepet selesein gitu biar bisa cepet bobo. Makanya yang kupelajari lagi-lagi course yang mudah-mudah aja. Jadi yang bawah-bawah ga dibuka-buka. Dasar pemalas.


Kalau klik icon bendera Jepang di pojok kiri atas, akan muncul tuh bahasa-bahasa apa saja yang kupelajari. Saat ini sih aku sudah mencoba belajar Bahasa Jepang, Bahasa Mandarin, Bahasa Korea, Bahasa Perancis, dan Bahasa High Valyrian. Iya High Valyrian, bahasa yang digunakan Daenerys di series Game of Throne. Tapi yang rutin kupelajari sih ya Bahasa Jepang. Bahasa Perancis juga udah lumayan sih kebuka 10 courses, yang menandakan aku cukup rutin belajar Bahsa Perancis dahulu.

Meski asik belajar Bahasa Jepang dengan Duo Lingo, tapi masih ada beberapa kekurangan nih. Contohnya saja nih ya, aku suka disalahin gitu karena tidak sesuai dengan terjemahannya. Ah belibet amat jelasinnya. Gini nih. Misal di satu soal aku disuru menerjemahkan tulisan jepang berikut ke Bahasa Inggris. Oia, belajarnya Bahasa Inggris sebagai mother tongue ya, ga bisa tuh pake Bahasa Indonesia, ga ada course-nya. Nah misal aku tulis terjemahannya adalah "She watches movie" dan aku pasti akan disalahin karena kurang kata hubung the atau a. Jadi aku harus benar-benar lengkap gitu nulisnya jadi "She watches the movie" atau "She watches a movie". Baru deh akan dianggap betul. Huhuhu.

Terus kekurangannya lagi, saat sudah menekan tombol next buat ngeliat hasil jawaban kita bener atau engga, Duo Lingo tuh cuma menampilkan tulisannya saja gitu. Ga disebutin lagi kalimat dalam Bahasa Jepangnya. Menurutku sih harusnya bisa dibunyikan juga dalam Bahasa Jepangnya. Jadi bisa listening gitu kan. Lewat Duo Lingo kayanya lebih pas buat reading gitu deh. Buat listening-nya masih kurang.

Terus buat cara penulisan pun ga dikasih tau. Makanya kalau di Duo Lingo ini kita ga akan bisa jago writing deh. Lebih fokus supaya bisa baca gitu...Kekurangan lainnya adalah misal soalnya itu dalam Bahasa Inggris, masing-masing kata itu bisa dipencet untuk melihat apa Bahasa Jepang untuk kata tersebut. Tapi kadang ada kata yang ditampilkan dalam huruf kanji. Ga bisa lah aku menuliskan Bahasa Jepangnya....tau Bahasa Jepangnya aja engga, begimana baca kanji-nya kan?? FYI, ketika harus menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Jepang, Duo Lingo akan langsung mengubah keyboard yang digunakan ke dalam keyboard Bahasa Jepang. Jadi nanti yang keluar ya huruf-huruf Jepang gitu. Bisa hiragana, katakana, maupun kanji. Buat pengguna Apple sepertiku sih begitu ya prakteknya. Daaan aku juga memang sudah mengunduh keyboard Bahasa Jepang. Mungkin karena itu juga kali ya si Duo Lingo langsung mengubah keyboard-ku jadi keyboard Bahasa Jepang.

Secara keseluruhan sih, aku senang menggunakan Duo Lingo untuk mempelajari Bahasa Jepang. Ingat ya, ga cuma Bahasa Jepang, tapi ada juga bahasa-bahasa lainnya yang bisa kalian pelajari. Fitur lain Duo Lingo adalah club. Jadi kita bisa join club atau membuat klub untuk orang-orang yang sedang mempelajari bahasa yang sama dengan yang kita pelajari. Seru kan jadi belajarnya ga sendirian lagi??

Lalu ada juga badge-badge gitu sebagai tanda kalau kita sudah menyelesaikan (accomplish) tugas-tugas yang ditetapkan Duo Lingo. Jadi makin semangat buat belajar bahasanya deh!!

Jadi, kalian tertarik juga ga untuk belajar Bahasa Jepang dengan Duo Lingo?? Aku bukan lagi endorse loh. Tapi ini pure ulasanku karena aku benar-benar terbantu dengan aplikasi ini supaya aku bisa belajar Bahasa Jepang. Gratis juga pula!? Mantap toh?

Wednesday, April 10, 2019

Kontemplasi

Akhir-akhir ini kayanya isi posku tentang review semua. Kebanyakan sih review tentang film yang kutonton atau drama Korea yang sudah kutonton. Kali ini mau kontemplasi sedikit...


Kontemplasi. Kontemplasi adalah renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh (KBBI, 2019). Berkontemplasi adalah merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian. Apa yang mau aku kontemplasikan?

Sebenarnya aku sedang nonton series Barat berjudul Y O U yang diputar di Netflix. Episode pertama dari You ini sudah mencuri perhatianku. Bukan, aku bukan mau membuat ulasan tentang series YOU ini. Sudah bosan kan buat kalian yang mampir ke blogku, isinya tentang review doang??

Jadi kontemplasi soal apa? Cinta. Semua orang tentu senang dengan cerita cinta. Cinta ada berbagai macamnya. Ada cerita cinta dari orang tua kepada anak. Ada cinta anak kepada orang tua. Ada cinta masa-masa di sekolah. Ada cinta bertepuk sebelah tangan. Ah, tidak ada habisnya kalau ngomongin soal cinta. Aku pun sudah bosan dan sedikit banyak ngerti lah soal cinta. Kenapa bisa bilang gitu? Soalnya aku diajarin soal cinta. Hah? Diajarin? Ya, aku ditatar soal cinta...lewat kelas katekisasi pra nikah...atau yang kadang disebut orang BPN a.k.a. Bimbingan Pra Nikah.   Tsaah. So iye banget ga??

Satu kali di kelas BPN tersebut aku diajari mengenal beragam jenis cinta. Ada cinta yang pamrih, ada cinta karena nafsu, juga ada cinta yang tanpa pamrih (unconditional love). Tapi buatku sendiri apa sih arti cinta? Aku pernah ditanyai pertanyaan tersebut. Pernah beberapa kali sama mamaku. Yang kujawab dengan diam. Pernah juga ditanyai saat care group (semacam grup untuk saling sharing dan menguatkan satu sama lain). Untuk pertanyaan yang dilontakan kepadaku saat care group ini harus kujawab. Ga bisa ga kujawab karena setiap anggota care group harus jawab soal itu.

Apa yang ada di otakku?? Jawaban apa yang aku lontarkan? Saat pertanyaan "apa itu cinta" dilontarkan, kalian tahu apa yang ada di isi kepalaku? Ya mana tau lah ya, siapa juga yang bisa baca pikiran orang.

Isinya blank. Ga bisa mikir. Sampai akhirnya giliranku untuk menjawab. Yang bisa kujawab saat itu adalah jawaban teoritis karena aku sudah mendapatkan modal teori tentang cinta dari kelas BPN yang sudah kuikuti. Balik lagi soal kontemplasi. Setelah nonton 8 episode series YOU ini aku jadi mikir. Kok bisa ya si tokoh pria mencintai si tokoh wanita sampai sebegitunya?? Tapi cintanya si pria ini tidak sehat. Terlalu berlebihan...sampai menggunakan cara tidak baik hanya untuk bisa mendapatkan cinta sang wanita. Untuk kasusku?

Bisa dibilang kehidupan cintaku ini bukan yang drama FTV gitu ya. Aku sama Kibo dekat karena main bareng saat tingkat satu. Karena satu jurusan dan punya kesukaan yang sama, kami pun jadi semakin dekat. Sampai akhirnya jadian dan sekarang, kami berencana untuk ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan. Jadi apa arti cinta buatku?

Jawabannya cukup ada dalam pikiranku saja dan aku terapkan dalam kehidupanku sehari-hari....

Tuesday, April 9, 2019

Series Review: Memories of Alhambra (2018)


Memories of Alhambra (2018)
Sumber: IMDb

Sutradara
:
Penulis
:
TV
:
tvN
Jenis Film
:
Romance, Drama
Total Episode
:
16 episode
Tanggal Rilis
:
1 Desember 2018 – 20 Januari 2019
Cast
:

Sumber: asianwiki






































Sinopsis Memories of Alhambra (2018):

Yoo Jin Woo (Hyun Bin) adalah seorang CEO dari perusahaan investasi. Dia memiliki sense yang baik dalam hal kerjaannya dan memiliki spirit yang kuat dalam berpetualang dan memiliki keinginan tinggi untuk menang. Istilah gaulnya mah AMBIS (ambisius). Yoo Jin Woo sedang melalui waktu yang berat secara emosi karena hal-hal seperti pengkhianatan oleh temannya sendiri. Dia mengunjungi Granada, Spayol, untuk urusan bisnis dan menginap di hostel tua yang dikelola oleh Jung Hee Ju (Park Shin Hye). Di sana, Yoo Jin Woo terlibat dalam peristiwa yang aneh.

Review Memories of Alhambra (2018)

Sejujurnya aku cukup ketinggalan untuk nonton drama korea Memories of Alhambra ini. Aku tahu adikku sudah menonton drama ini, tapi somehow aku tidak begitu tertarik buat nonton. Sampai akhirnya aku baca review dari blog temanku soal drama korea ini. Akhirnya aku pun tertarik juga buat nonton. Apalagi ada Hyun Bin dan Park Shin Hye yang main sebagai tokoh utama dalam Memories of Alhambra ini. Bikin makin tertarik kan jadinya.

Curhat dikit, aku suka sama Hyun Bin karena nonton drama korea Secret Garden, sedangkan untuk drama korea yang dibintangi Park Shin Hye sih aku cukup sering menontonnya, seperti You're Beautiful, The Heirs, Pinocchio, dan Doctors. Makanya ketika Memories of Alhambra dibintangi oleh Hyun Bin dan Park Shin Hye, aku cukup excited dibuatnya. Cuma sayang, mengapa di cover drama Memories of Alhambra ini wajah ganteng Hyun Bin sangat berbeda??? Aku ga mengenali si tokoh pria di poster itu Hyun Bin loh! Aneh banget jadi kaya yang tuaaaa banget...sayang sekali...

Episode pertama aku sudah dibuat suka buat ngikutin episode selanjutnya. Soalnya membicarakan tentang game AR gitu. Terus aku menemukan hal menarik juga dari satu cuplikan berikut:


Apa hayo yang aku temukan??? Yak! Tulisan "RAMEN GRATIS". Aku langsung ngeh gitu loh pas ada Bahasa Indonesia. Uwooow jadi tamu Hostel Bonita ini ada juga orang Indonesia ya? Hehehe.

To be honest, aku kurang suka sih sama alur Memories of Alhambra ini. Alurnya lambat. Banget. Untuk dapetin adegan yang klimaks gitu nge-shoot-nya tuh kaya sinetron gitu, liat-liatan antar tokoh yang diganti-ganti kameranya buat nyorot masing-masing tokoh secara close up. Adegan itu bisa 1 menit kali. Makanya aku sering nge-skip adegan yang cuma liat-liatan atau nangis doang gitu. Habis bisa 1 menit sis! Buang-buang waktu aja kan, padahal emosinya ga dapet gitu, malah bikin aku berkata dalam hati "Apaan dah gini doang adegannya lama bener." Di episode akhir malah adegan nangisnya Jung Hee Ju bisa sampe satu lagu dong. Gila ga tuh?! Terus ending Memories of Alhambra ini kurang memenuhi ekspektasi. Gantung. Entah mengapa lagi-lagi film yang ditulis oleh Song Jae Jung ini cuma membuatku penasaran di awal tapi makin ke belakang tuh makin ga menarik jalan ceritanya.

Baca juga: Series Review: W - Two Worlds (2016)

Somehow di film ini juga ada Kim Eui Sung sebagai pemeran antagonis di sini. Aku langsung ngeh dia pasti tokoh jahat karena di drama korea W - Two Worlds dia juga jadi antagonisnya gitu. Aku kurang suka deh sama acting beliau. Maaf ya. Sebenarnya mimik wajah jahatnya udah dapet buat tokoh jahat. Tapi gimana ya, peran villain-nya kurang aja gitu buat aku. #apadah

Kisah cintanya juga kurang dapet. Chemistry Park Shin Hye sama Hyun Bin ga sebagus Ha Ji Won sama Hyun Bin di Secret Garden. Padahal aku berharap bisa kayak gitu chemistry romance-nya. Aaah...sayang sekali. Habis di alur buat dapetin feel kalo Jung Hee Ju dan Yoo Jin Woo ini tuh terasa dipaksakan. Masa tiba-tiba jadi suka? Mungkin maksudnya Hee Ju jadi jatuh cinta karena Jin Woo udah baik banget sama keluarga Hee Ju kali ya? Tapi gimana ya...pembawaan cinta berseminya tuh ga dapet buatku. Soalnya titik berat film ini kan ke pencarian Se Ju dan tentang game AR bikinan Se Ju. Terus saat ada adegan nangis kehilangannya gitu tuh ga dapet loh. Aku ga sampai nangis, malah ga nangis sama sekali saat menonton seluruh episode drama ini. Masih dapet feel sedihnya saat nonton W- Two Worlds deh. Seperti yang kubilang sebelumnya, mungkin karena kebanyakan dalam drama ini tuh nyeritain misteri di balik games AR-nya. Jadi ya gitu, emosi penonton which is emosiku tidak sampai dikocok-kocok kaya nonton Another Miss Oh. Wah gela sih kalo Another Miss Oh tiap episode aku dibikin nangis. Ngenesnya dapet banget coy!

Terus acting dari Chanyeol juga sebenarnya kurang dapet sih. Nerd-nya programmer belom bisa diperankan dengan baik kalau menurut opiniku.

Baca juga: Series Review: Another Miss Oh atau Oh Hae Young Again (2016)

Aku juga menemukan keanehan dalam series Memories of Alhambra ini. Ponsel Jung Hee Ju itu tiba-tiba ganti. Kayanya kru film lupa deh ngeganti ponselnya Hee Ju. Maklum setting tempatnya kan beda negara. Saat sedang main di Granada kan mereka syuting untuk episode awal dan episode tengah-tengah gitu, jadi loncatnya jauh banget pasti. Ga sesuai alurnya. Makanya ada keanehan di situ.

HP saat di Korea
HP saat di Granada
Jadi ceritanya tuh Hee Ju sedang mengemudi dan mendapat telepon dari Jin Woo. Ponsel Hee Ju saat itu berwarna putih kan? Terus kan doi terbang ke Granada buat ketemu sama Jin Woo, eh ponselnya tiba-tiba jadi warna hitam. Daebak. Doi ganti hp secepat itu??

Secara keseluruhan, aku cukup menikmati adegan film yang menampilkan saat pemain sedang memainkan game. Sudut pandang yang diambil kamera bagus lah. Penonton jadi berasa ikutan main gitu. Tapi mungkin karena isi film ini terlalu berat ke pengungkapan misteri dalam game, jadi aspek lainnya kurang gitu. #banyakmaunya

Kayanya kalau dijadikan novel bakalan lebih menarik deh daripada dijadiin film. Soalnya kan kalo berupa novel pembaca tuh punya imajinasi masing-masing saat membayangkan adegan demi adegan. Saat di film tuh adegan-adegannya kurang bisa tersampaikan dengan baik, terutama adegan jatuh cintanya ya. Rasanya kan dipaksakan tiba-tiba suka aja gitu tanpa sebab.

Aku kasih bintang 7 dari 10 buat drama Memories of Alhambra ini. Cukup menarik karena setting film di Granada jadinya kan bisa ngeliat kaya apa Granada itu. Terus efek-efek dalam film juga bagus kok. Tokoh-tokoh NPC-nya juga "didandani" dengan bagus. Terutama buat NPC di Granada. Ciamik banget deh. Satu hal yang bikin aku suka ya saat episode-episode awal. Seru banget ngikutinnya. Apalagi saat Jin Woo dikejar-kejar musuhnya. Wah, aku dibuat tegang. Adegan itu satu-satunya yang bikin emosiku terpancing. Cuma sayangnya itu, makin ke belakang tuh emosiku dibuat datar-datar aja. Ga greget. Ya karena alur ceritanya terlalu lambat kali ya. Itu lagi itu lagi. Jadi kan bosen.

 (7/10)

Monday, April 8, 2019

Book Review: The Proposal of Love

Sumber: iJakarta

Judul
:
The Proposal of Love
Penulis
:
Mayya Adnan
Jumlah Halaman
:
344 halaman
Tahun Terbit
:
2014
Penerbit
:
Elex Media Komputindo
Kategori
:
Contemporary Romance
Sinopsis
:
Aira Maharani, gadis manis nan cerdas yang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Konsultan Politik. Sayangnya kerumitan dalam bertugas mendampingi Vivian Mahesa selama jelang Pemilukada, dianggap belum cukup. Dia masih harus dihadapkan pada tugas baru yang menjengkelkan.

Raditya Putra Mahesa, putra bungsu dari Reynaldi dan Vivian Mahesa adalah sosok pria yang sempurna. Tampan, pintar, dan CEO Mahesa grup. Tapi sikapnya yang playboy dan gemar bersenang-senang sering membuat keluarganya pusing bukan kepalang.

Mampukah Aira menghadapi sikap arogan Raditya? Terlebih setelah Dimas Arya Mahesa, yang tak lain adalah sepupu Raditya, ikut campur?

Mampukah Aira menyelesaikan tanggung jawabnya untuk memenangkan Vivian Mahesa?

Ataukah Raditya justru menambah kekacauan dalam karier, hidup, dan jiwa Aira?

Iseng-iseng cari bacaan di iJakarta, nemulah novel karya Mayya Adnan satu ini, The Proposal of Love. Awal-awal baca sebenarnya agak bingung sih dengan susunan bahasanya. Apa aku yang terlalu dodol ya jadi ga ngerti sama apa yang diceritain? Intinya sih pas aku baca, aku harus baca ulang lagi biar jadi paham maksud yang disampaikan Mayya. Huhu.

Untuk awal cerita sih cukup seru ya. Soalnya aku ngebayangin aja gitu kalau ada di posisi Aira. Meeting pagi dateng telat terus nubruk orang sampai numpahin kopi ke bajunya. Eh mau bantu nolongin malah diomelin abis-abisan. Sudah begitu, malah ketemu orang itu lagi dan baru sadar kalau doi adalah bosnya. Jeng jeng jeng. Typical kejadian drama di Korea gitu dah...

Cerita awal novel ini cukuplah buatku tertarik membaca terus sampai akhir. Meski sebenarnya konfliknya tuh masih dibilang biasa ya. Drama-drama perkantoran gitu deh. Standar. Terus sepertinya novel ini belum di-edit kali ya? Soalnya masih menemukan beberapa kata-kata yang ga pas gitu susunannya. Typo juga. Entahlah, setelah liat review orang-orang di GoodReads, memang banyak yang bilang seperti tidak di-edit dari karya Mayya di wattpad. Hmm mungkin ini kali ya yang bikin baca novel ini agak aneh. Kurang dalam susunan bahasa maksudku.

Karakternya juga somehow ga konsisten. Di sinopsis kan dibilang kalau Raditya ini playboy dan gemar bersenang-senang. Tapi di novelnya sendiri tuh ga begitu keliatan kalau dia tuh playboy. Pacarnya ga banyak. Hahaha.

Secara keseluruhan sih novel ini cukup asik untuk dibaca. Bahkan kayanya aku baca ini lumayan cepat deh. Habis aku kepo gitu sama akhirnya, karena dibuat geregetan karena si Radit dan Aira ini sama-sama gengsi ga mau nanya gitu deh.

Untuk novel The Proposal of Love ini aku kasih bintang 3 deh dari lima. Lumayan lah menghibur meski konflik yang diangkat sebenarnya belum cukup bikin emosiku teraduk-aduk. Hahaha.

(3/5)