Monday, April 30, 2018

Movie Review: Avengers: Infinity War (2018)

Sumber: www.imdb.com

Tinggal di kota Jakarta so pasti peminat Avengers: Infinity War ini banyak sekaleeh! Mau dapetin tiketnya saja sulit dan harus booking jauh-jauh hari. Begitulah yang aku lakukan DEMI nonton film satu ini. Bukan aku sih yang booking tapi si Kibo. Hehehe. Aku penikmatnya saja. Aku nonton di bioskop Cinemaxx yang ada di Plaza Semanggi. Sedikit review untuk bioskopnya, pelayanannya jauh ketimbang bioskop-bioskop besar lain di Indonesia. Masa ya sudah booking tiket dengan biaya jasa booking Rp 5.000/ tiket, untuk ambil tiketnya saja harus antri panjang?! Beda banget sama XXI dan CGV yang memang punya slot untuk pengambilan tiket online. Huh. Jadi menyesal nonton di sana. Terus awalnya kasir untuk beli tiket dibuka hanya satu dari tiga. Sedangkan dua kasirnya lagi dipakai untuk pembelian snack. Ya memang sih penjualan snack itu lebih menguntungkan daripada tiket bioskop. Tapi ga begini juga kali. Baru deh setelah antrian sangat mengular, dibuka satu kasir khusus untuk pengambilan tiket online. Weleh-weleh.
Daripada berkesal-kesal ria, aku mulai saja deh review untuk film Avengers: Infinity War ini!

Avengers: Infinity War
Sutradara : Anthony Russo, Joe Russo
Film Series : The Avengers film series
Produksi : Marvel Studios
Jenis Film : ActionAdventure, Fantasy
Censor Rating : PG-13
Durasi : 149 menit

Sinopsis:
Thanos (Josh Brolin) bangkit bersama para anggota Black Order untuk mecari Infinity Stones yang dapat memberikan kekuatan maha dahsyat kepadanya untuk menguasai dunia. Para Avengers lalu bersatu untuk membendung ancaman baru yang diciptakan Thanos. Mereka harus bersedia mengorbankan segalanya dalam upaya untuk mengalahkan Thanos yang kuat sebelum ia berhasil menghancurkan alam semesta.

Friday, April 27, 2018

Journal: Cover for May

Ya ampun tak terasa sebentar lagi bulan Mei guys! Kemarin rencananya aku melanjutkan nonton drama Korea Another Miss Oh. Tapi rencana ini batal karena aku harus meluangkan waktu membuat cover jurnal untuk bulan Mei. Habisnya kapan lagi aku buat kalau bukan kemarin?! Hari ini aku akan pulang ke kampung halamanku di Karawang. Kalau weekend pasti sibuk dengan aktivitas leha-lehaku dan janjian untuk nonton Avenger Infinity War. So, kemarin aku meniatkan diriku untuk menggambar cover bulan Mei.

Untuk bulan Mei ini aku sendiri bingung mau menggunakan tema apa. Seperti biasa aku mencari inspirasi lewat media sosial Pinterest. Daaannnn...aku menemukan gambar yang ciamik banget menurutku. Nih gambarnya:
Sumber: @write_it_on_the_wall

Bagus kaaan?! Jadi aku pun memutuskan untuk recreate that dan tema untuk bulan Mei ini adalah warna coklat dan jingga dengan nuansa burung-burung kecil. Semoga saja aku bisa menggambar burung dengan baik. Hahaha. (^_^.)
Nah ini hasil yang sudah kubuat:

My Recreation for May Cover

Berhubung aku sudah tidak kos dengan kamar mandi di dalam kamar, jadi habit-ku mengalami perubahan. Habit bersih-bersih toilet sudah kuhilangkan dan aku menambahkan habit belajar menggunakan aplikasi Lingodeer. Sebenarnya aplikasi itu mirip dengan Duolingo. Namun di Lingodeer khusus untuk mempelajari bahasa di Asia, seperti bahasa Jepang, Korea, Mandarin, dan Vietnam. Tentunya di Lingodeer aku memilih untuk belajar bahasa Jepang. Lalu Lingodeer ini membantu banget dalam hal grammar ketimbang menggunakan Duolingo. So, aku menggunakan dua aplikasi tersebut untuk mempelajari bahasa Jepang. Mengasikkan guys. Please try it too ^^

Untuk Sleep Tracker juga mengalami sedikit perubahan. Aku mengubah urutan jam yang kutuliskan. Biasanya aku memulai dari jam 19.00, sekarang aku memulainya dari jam 21.00. Alasannya supaya tinta yang tembus ke halaman Habit Tracker bisa berada di sisi pinggir kanan yang biasanya tak kugunakan. Jadi ga mengganggu bagian yang lain gitu dengan tembusnya tinta dari halaman Sleep Tracker

Untuk weekly log sendiri sih aku sedikit merubah gaya penulisannya dari bulan sebelum-sebelumnya. Sebenarnya dari April sendiri sudah kugunakan sih gaya penulisan begini. Awalnya kan aku membuat slot kotak-kotak untuk menandakan area masing-masing hari. Nah dari sejak April aku sudah menuliskan dengan bebas gitu. Jadi slot untuk masing-masing hari bisa berbeda-beda tergantung seberapa padet hari itu kujalani. Hehe. Lebih mengasikkan juga sih menulis bebas gitu. Terus aku jadi bisa memberikan hiasan doodle kecil gitu di sisi-sisinya. ^^

Yak sekian deh update untuk jurnal bulan Mei mendatang. See you~

Thursday, April 26, 2018

Transportasi Umum dari Kos Ke Kantor

Sudah seminggu ini aku bergulat dengan alat transportasi umum di Jakarta. Yah berhubung aku sekarang tinggal bersama adikku di Jakarta Barat, sedangkan kantorku di Pancoran, Jakarta Selatan, mau tidak mau aku harus menggunakan alat transportasi umum. Jadi gimana ulasannya terkait alat transportasi umum di Jakarta ini?

Sumber: http://picbear.club/tag/scaniak320ia from  @uerie28f

Awalnya dari kos aku naik Gojek seharga Rp 8.000/Rp 9.000 ke Halte Slipi Petamburan. Kemudian aku naik busway arah Pinang Ranti atau PGC dan turun di Tebet dengan mengeluarkan kocek Rp 3.500. Setelah sampai Halte Tebet, aku melanjutkan perjalanan ke kantor dengan berjalan kaki sekitar 800 m. Total ongkos transportasi untuk perjalan pergi adalah Rp 12.500. Namun entah mengapa tarif Gojek naik. Jadi untuk pergi ke Halte Slipi Petamburan saja aku harus mengeluarkan Rp 13.000. Padahal aku berangkat jam 6 kurang. Wah wah wah. Jadi aku memutuskan untuk naik angkot M 11 dengan hanya mengeluarkan kocek Rp 4.000 saja. Jadi total ongkos yang kukeluarkan untuk perjalanan pergi adalah Rp 7.500. Jauh lebih murah ketimbang aku naik Gojek. Tentu dengan ongkos segitu ada kelebihan dan kekurangannya. Saat ini aku berangkat pukul 7 kurang. Angkot M11 tidak begitu padat, sehingga aku hampir pasti dapat angkot. Namun, perjalanan ke arah halte itu selalu tersendat saat memasuki area pasar Rawa Belong dan mendekati lampu merah Slipi. Jadi kekurangannya kalau aku naik angkot ya aku harus bermacet-macet ria dulu dan memakan waktu hampir 20 menit untuk menuju halte. Sedangkan kalau naik Gojek cukup 10 menit saja. Tapi lain cerita kalau aku berangkat jam 6 kurang. Naik angkot jam segitu sudah bebas hambatan deh. Lancar jaya. Jadi waktu perjalanan ke halte pun tidak beda jauh dengan naik Gojek. Selain itu kalau aku naik angkot, aku bisa terhindar dari kehujanan Hihi. So far aku lebih suka naik angkot ketimbang Gojek. Habis ongkosnya jauh lebih mahal dan tentunya kelebihan yang diberikan lebih banyak ketimbang Gojek. Ckck.

Untuk perjalanan pulang dari kantor, aku nebeng teman kantorku hingga Plaza Slipi Jaya. Pas sekali doi harus menjemput sang bunda di sana dan aku jadi bisa turun di sana. Hihihi. Lalu dari Plaza Slipi Jaya aku naik M 24 ke arah kampus Binus Anggrek. Awalnya sih aku pakai jasa Gojek. Tapi lagi-lagi tarifnya mencekek dompetku. Awalnya aku cukup bayar Rp 9.000, tapi sekarang jadi Rp 17.000. Gila ga tuh?! Ya aku akan pilih naik mikrolet sajalah kalau begitu ceritanya. Tapi kekurangan kalau naik M 24, dia akan ngetem sampai penumpang yang naik full. Jadi buat kalian yang mau naik M 24, akan agak sulit dapat angkot nih kalau bukan naik di Plaza Slipi Jaya. FYI, ngetemnya bukan persis di depan Plaza Slipi Jaya ya. Kalian harus jalan dulu menyebrangi flyover di samping Slipi Jaya dan kalian akan menemukan kenek yang berteriak "kampu kampus kampus Anggrek. Ayo kampus kampus!". Nyebrangnya bukan nyebrang flyover sih, tapi nyebrang di bawahnya. Di sana ada semacam pasar malam gitu yang jualan jajanan dan rupa-rupa. Jadi sebelum naik angkot, aku bisa jajan dulu di situ kalau kelaperan. Hihihi.

Naik M 24 ke arah Binus Anggrek itu membuat aku harus berjalan kaki dahulu ke kosku. Karena dari jalan Syahdan, angkot akan berbelok ke kiri untuk ke arah Binus. Sedangkan kalau ke kosku kan harus belok ke kanan ke arah Kebon Jeruk. Jadi aku turun deh di pertigaan Syahdan situ dan lanjut jalan kaki hingga ke kos. Jadi total untuk ongkos perjalanan pulang adalah Rp 4.000 saja. Namun kalau aku tidak bisa nebeng teman kantorku, ya terpaksa aku naik busway. Jadi total ongkosnya sama seperti total ongkos pergi, yaitu Rp 7.500 saja.

Untuk ulasan terkait transportasi umum...aku mulai dari Busway dulu saja ya. Busway yang aku naiki sih sejauh ini selalu datang tidak lama dari waktu aku sampai di Halte. Jadi aku tidak perlu menunggu lama deh untuk naik busway. Selain itu busway yang lewat juga cukup banyak. Ya karena ini memang jam sibuk sih. Jadi armada busway yang disediakan sudah okelah untuk menampung para penumpang. Sejauh ini sih aku selalu nyaman kalau naik busway. AC yang adem dan petugas yang sigap untuk membuat penumpang prioritas dapat tempat duduk membuat busway ini semakin nyaman dinaiki. Tentu jalur khusus busway juga membuat perjalanan naik busway ini bebas hambatan. Dari Halte Slipi Jaya hingga Halte Tebet itu kira-kira memakan waktu 20 menit deh. Jadi biasanya kalau aku berangkat jam 7 kurang, jam 7.40 aku pasti sudah di kantor. Beda lagi kalau aku berangkat jam 6 kurang. Jam 7.30 aku pasti sudah di kantor. Hahaha. Memang kalau pagi-pagi itu lebih lancar sih.

Kalau mikrolet di Jakarta...mengemudinya ngebut-ngebut. Terus yang bikin sebel ya suka berhenti tidak di pinggir jalan dan membuat macet jalanan. Terutama sih di Pasar Rawa Belong. Aku suka lihat banyak angkot ngetemnya tuh kurang pinggir, bikin kendaraan lain susah kalau lewat belokan Rawa Belong. Ckckck. Supir-supir itu tidak mikir apa ya sudah bikin kemacetan begitu. Weleh-weleh.
Hmm, kalau untuk mikrolet pergi sih aku suka-suka saja karena jarang ngetem. Selama hampir 3 hari ini berangkat pakai mikrolet 11 sih tidak pernah ngetem ya. Hehehe. Tapi kalau untuk pulang, si M 24 ini ya ngetem dulu sampai penumpangnya penuh. Cukup lama sih jadi aku harus bersabar-sabar dulu. Kenapa ya angkot-angkot ini tuh selalu ngetem. Memangnya kalau ngetem itu pendapatannya pasti lebih besarkah? Ya tapi karena para penumpangnya juga sudah tahu sih si M 24 ini pasti mangkal di sana, jadi para penumpang yang hendak naik pun akan menuju sana dulu deh. Hmmm. Sistem angkot ini memang sebaiknya dibenahi biar seperti busway yang ada jam berangkatnya gitu. Jalanan pun jadi ga tersendat karena ada angkot yang ngetem. Penumpang yang butuh cepat juga jadi lebih enak karena ga harus nungguin si supir yang entah sampai kapan akan ngetem. >.<

Wednesday, April 25, 2018

Pelayanan di Tim LCD

Setelah aku selesai baca buku The Purpose Driven Life karya Rick Warren, aku jadi menyadari tujuan hidup ini dan salah satunya itu adalah melakukan pelayanan bagi Tuhan. Nah kerinduan pelayanan ini somehow terjawab karena gerejaku di Jakarta ini memang sedang membutuhkan orang untuk pelayanan sebagai tim LCD. Berhubung aku ini memang sudah terbiasa bikin slide presentasi, aku pun berdoa pada Tuhan untuk siap mengambil pelayanan sebagai tim LCD di GII Semanggi dan setia untuk melakukannya.
Setelah bergumul untuk memilih ambil bagian atau tidak, akhirnya kuputuskan untuk terlibat dalam pelayanan LCD tersebut. Kuhubungilah narahubung untuk bergabung dalam tim LCD tersebut. Namanya ci Listya. Sebenarnya ada dua orang sih narahubungnya, yaitu ko Robin dan ci Listya. Karena aku ini cewe, jadi kuhubungi saja ci Listya biar ngobrolnya enak gitu. Terus ci Listya menyambut baik keinginanku untuk bergabung dalam tim LCD tersebut. Kemudian aku diberitahu langkah-langkah apa yang harus aku lakukan untuk memulai pelayanan tersebut.
Nah jadi aku diajari basic-basic-nya gitu, harus mengunduh file apa dan harus apa. Aku diajari via telepon. Awalnya aku harus mengunduh file di Dropbox terlebih dahulu. Baru deh setelah janjian mau telponan jam berapa, kami akhirnya berkomunikasi supaya ci Listya bisa menunjukkan apa-apa saja yang akan dikerjakan. FYI, kami janjian telponan jam 7 pagi hari Sabtu dong. Hahaha. Aku set alarm jam 7 kurang 5 menit dan memang sengaja aku tidak memasang air plane mode sebelum tidur agar WA bisa tetap masuk. Benar saja, jam setengah 7-an ci Listya mengirimiku pesan WA. Aku terbangun oleh notifikasi WA tersebut dan langsung saja aku menyalakan laptop untuk bersiap diajari oleh Ci Listya.
Singkat cerita, pagi itu akhirnya aku mulai belajar sedikit-sedikit tentang pengerjaan slide kebaktian tersebut. Lalu hari Jumat beberapa minggu setelahnya kami janjian untuk bertemu di gereja supaya bisa diajari langsung. Pelatihan berlangsung sekitar 2 jam. Aku berusaha menangkap materi yang sudah diajarkan oleh ci Listya. Ternyata dalam membuat slide kebaktian itu bukan cuma di PPT saja, tapi pakai software bernama EasyWorship gitu. Jadi aku diberikan installer aplikasi tersebut agar aku bisa memilikinya di laptopku.


Nah, Sabtu kemarin aku dipercayakan oleh ci Listya untuk membuat slide kebaktian untuk pertama kalinya. Tapi tentu saja setelah selesai kukerjakan, ci Listya akan melakukan pengecekan untuk melihat hasil yang sudah kubuat tersebut. Berhubung hari Sabtu itu adalah hari yang sudah kutentukan untuk pindahan barang dari kosku ke kos adikku. Aku sibuk dan baru bisa mengerjakan slide sekitar jam setengah 3 sore. Padahal barang-barang pindahan masih belum kubereskan dan masih berantakan banget tuh kamar. Tapi aku harus mengerjakan slide kebaktian terlebih dahulu karena hari Minggu kan sudah digunakan. Awalnya saat dikirimi pesan oleh Ci Listya untuk mengerjakan slide kebaktian hari Minggu kemarin, rasanya aku tuh ingin menolaknya dengan alasan aku akan sibuk pindahan. Namun aku ingat kembali bahwa aku sudah berkomitmen untuk melakukan pelayanan ini. Jadi aku tidak boleh bermalas-malasan dan menggerutu karena harus mengerjakan slide tersebut saat aku sedang sibuk pindahan.
Jadi karena ini perdana aku mengerjakan slide kebaktian, aku mengerjakannya sekitar tiga setengah jam. Si Kibo yang menungguku mengerjakan slide sampai bosan dibuatnya. Hahaha. Maafin ya Bo, jadi harus nemenin aku ngerjain. >.< Saat mengerjakan slide, aku agak panik-panik gitu dan kebingungan harus bagaimana. Untung saja aku sempat mencatat langkah-langkahnya dan sambil chat dengan ci Listya, aku pun akhirnya bisa menyelesaikannya. Saat sudah ku-upload, ci Listya malam-malam mengecek hasil pekerjaanku. Sekitar jam 11 malam aku dikirimi hasil pengecekannya.
Wah luar biasa sekali ci Listya malam-malam masih bisa chat aku sambil mengecek hasil pekerjaanku. Tidak sedikit loh revisi yang harus dilakukan. Huhu. Maafin aku ya ci masih belum oke kerjaannya. >.< Terus komentarnya ci Listya tuh detil banget loh. Wah aku jadi belajar supaya pay attention to detail more. Terima kasih ya ci sudah mau capai-capai chat aku di tengah malam agar aku bisa memperbaiki pekerjaanku ke depannya. Kalau aku jadi ci Listya, aku pasti sudah lelah harus mengecek pekerjaan orang malam-malam di saat aku seharusnya bisa tidur. Huhuhu. Ci Listya The Best deh! (*´∀`)

Tuesday, April 24, 2018

Seminggu Ke Mana Saja?

Sumber: https://catavino.net/essential-guide-spanish-trains/

Kalau kalian sadar, semingguan ini aku tidak update pos di blog nih. Ciee yang minta dicariin, padahal mah kaga ada yang peduli. Kok aku jadi ngenes begini yak. (ーー;)
Jadi semingguan ga update ini lagi sibuk apa sih?
Sebenarnya bukan sibuk sih. Tapi seminggu kemarin aku jatuh sakit. Radang tenggorokan kembali menyerang diriku. Huft. Sudah kesekian kalinya aku terserang radang tenggorokan. Kok bisa? Sepertinya aku kecapekan. Hari Jumat dua minggu lalu aku pulang ke kampung halamanku di Karawang. Kemudian hari Minggunya aku sudah di Jakarta kembali. Ternyata hari Senin sore, mendadak aku harus pergi dinas ke Madiun naik kereta api. Nah di situ deh mulai aku tidak enak badan. Habis makan malam paket panas spesial dari Mc Donald yang kubawa ke dalam kereta, aku langsung sakit tenggorokan. Sepanjang malam aku menderita sakit di tenggorokan. Wah aku mulai radang tenggorokan, pikirku.
Sampai di Madiun sekitar pukul empat pagi. Aku dijemput oleh pihak klien untuk diantar ke tempat istirahat. Di sana aku mandi dan langsung tidur sejenak, berharap supaya lelah dan sakit ini cepat mereda. Sekitar jam 10 pagi, aku dijemput kembali untuk diantar ke tempat klien dan meeting dengan mereka. Sayangnya, untuk sarapan pagi aku diberi makan (kok uda kayak pet saja ya dikasih makan) nasi pecel, makanan khas Madiun. Kuakui aku suka sekali nasi pecel pakai ayam goreng Madiun ini, tapi kondisi tenggorokanku ini sedang tidak baik. Sedangkan nasi pecel Madiun ini agak pedas. Wah semakin menjadi sajalah radang tenggorokanku ini. Huhuhu. 
Belum lagi sebagai makan siang, aku mendapatkan nasi kotak padang yang berisi daging rendang, kentang balado, sayur kacang panjang cabe hijau. Uwoooh~ Why oh why??? Aku terkadang merasa, di saat aku sedang tidak enak tenggorokan, makanan yang aku terima malah pedas-pedas atau gorengan banget yang berakibat memperparah kondisi tenggorokanku. Tapi mau tak mau aku harus makan karena kalau aku kelaparan, semakin banyak jugalah penyakit yang datang menyerang. Untuk itu, menu makan siang tersebut kumakan juga. Tapi aku tidak makan sama sekali kentang baladonya. Hanya sedikit sayur kacang panjang yang tidak terkena sambal dan rendangnya. Meski kutahu sih tetap saja rendang itu akan memperparah tenggorokanku.
Saat sebelum meeting, kondisiku semakin tidak baik. Lemas. Lalu aku akhirnya inisiatif untuk minum Panadol supaya bisa menghilangkan rasa sakit di tenggorokan dan pening di kepala. Puji Tuhan si Panadol ini cukup manjur membuatku bertahan selama meeting. Sekitar jam 5 sore, aku sudah di Stasiun Madiun untuk kembali ke Jakarta. Kereta yang kunaiki adalah kereta Gajayana, sama seperti kereta ketika pergi ke Madiun sebelumnya. Kereta api eksekutif ini bagus loh dan kereta api buatan Indonesia ini tidak kalah sama kereta api di luar negeri. Kalau ga percaya, cobain saja naik kereta api Gajayana ini. Hehe.
Oke kembali ke penderitaanku dengan radang tenggorokan ini. Sudah dari pagi hingga siang aku yang sedang radang tenggorokan ini mengkonsumsi makanan pedas, untuk makan malam aku mencoba untuk membeli makanan yang ramah dengan tenggorokanku. Aku memesan nasi goreng ayam untuk kumakan di dalam kereta. Lalu kemalangan kembali menimpa diriku. Nasi goreng ayam yang seharusnya tidak pedas, malah terasa pedas. Lebih pedas daripada saat aku makan nasi rendang tadi siang. Huft. Aku sudah pasrah. Fix pulang dari sini kondisi tubuhku semakin parah.
Di dalam kereta merupakan suatu penderitaan yang lebih lagi. Suhu di dalam kereta tuh dingin sekali. Waktu badanku masih sehat-sehat saja aku sudah merasa kedingin. Apalagi ini?! Semalaman aku meriang. Tidur pun tak bisa nyenyak. Selalu selang beberapa jam terbangun. Apalagi efek Panadolnya sudah hilang. Sakit tenggorokanku makin hebat. Sedih.Pengen cepat sampai kosan dan tidur di kasurku. Huhuhu.
Jam 5 pagi akhirnya aku sampai juga di kosan dan siap tidur. Saat tiba di Stasiun Jatinegara, aku sudah ijin pada seniorku di kantor bahwa aku tak sanggup untuk masuk kantor. Akhirnya seharian itu aku tidur di kosan. Ckck. Sakit dan sendirian itu rasanya tidak enak. Di otakku saat terbaring di kasur itu pikiran untuk pergi ke dokter. Tapi badan rasanya tak sanggup untuk pergi sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dokter esok harinya.

Esok paginya, aku bangun pagi-pagi untuk bersiap pergi ke puskesmas Cikoko. Di sana aku berobat menggunakan BPJS Kesehatan. FYI, kalau sudah pakai BPJS Kesehatan, berobat di fasilitas kesehatan (faskes) yang kita pilih itu sudah tidak perlu mengeluarkan uang berobat lagi. Hehe. Aku bertanya pada bu dokter, mengapa diriku sering banget kena radang tenggorokan. Bu dokter pun menyarankan agar aku tidak makan gorengan dan perbanyak makan sayur-buah terutama saat aku bepergian. Kemudian juga bu dokter menyarankan untuk minum vitamin agar menambah daya tahan tubuh. Oke deh bu dokter, aku akan berusaha menjaga pola hidupku supaya tidak kena radang tenggorokan lagi.

Sekian update-ku hari ini tentang alasan seminggu kemarin absen. Saat ini aku masih sedikit pilek dan sudah mulai pulih dari batuk. Doakan aku supaya cepat sembuh ya. 

Monday, April 23, 2018

Dilema Pindah Kos

Sumber: https://pixabay.com/en/confused-hands-up-unsure-perplexed-2681507/

Dilema sedang mampir ke dalam hidupku. Aku lagi galau untuk pindah kos ke mana. Masalahnya kosku sekarang sudah tidak nyaman lagi untuk ditinggali. Kosku saat ini terdiri dari 3 lantai. Lantai satu ada 5 kamar, lantai 3 terdiri dari 7 kamar, dan lantai 3 itu satu kamar karena sisanya area untuk jemur pakaian. Awalnya aku tinggal di kamar nomor 3 di lantai 1. Setelah satu tahunan tinggal di sana, aku minta pindah kamar ke lantai 2. Berhubung yang kosong hanya kamar nomor 10, jadilah aku pindah ke kamar 10 bulan Januari kemarin. Alasan aku minta pindah kamar karena kamarku sering bau rokok. Bau rokoknya benar-benar tidak bisa kutolerir. Aku sakit kepala dibuatnya. Selain itu dari lubang saluran air di kamar mandi, sering keluar kelabang. Bukan cuma satu, kadang dua yang muncul ke permukaan. Ukurannya pun dari yang masih baby (sekitar 3cm) hingga yang sudah dewasa (sekitar 10-15cm). Hampir setiap pagi ketika aku mandi, aku membunuh kelabang-kelabang itu. Bahkan pernah si kelabang berjalan di sisi kamarku. Astaga aku selalu panik ketika menemukan kelabang tersebut. Akibatnya, aku sudah tak tahan dan minta pindah kamar ke lantai atas karena kabarnya kamar atas itu bebas bau rokok dan aman dari serangan kelabang.
Hampir empat bulan aku menempati kamar nomor 10, tapi diriku masih saja dibuat tidak nyaman. Memang sih aku sudah terbebas dari bau rokok dan kelabang. Namun kali ini kamarku jadi sarang semut dan rayap! Awal mulanya aku menemukan banyak semut jalan-jalan di kasurku, setelah aku menggeser kasurku, ternyata di bawahnya sudah ada satu titik sarang semut. Semut merah ukuran sedang sih. Akhirnya dengan penuh rasa iba karena harus membunuh para semut terebut, aku pun menyemprotkan obat nyamuk ke titik sarang dan area jalan kaki semut. Setelah beberapa lama, aku pun menyapu dan mengepel area tersebut supaya tetap bersih.
Setelah beberapa lama, semut-semut tersebut sudah tidak muncul kembali. Aku sudah merasa nyaman kembali dengan kamarku yang satu itu. Eh ternyata semut-semut mulai jalan-jalan lagi di kasurku. Benar saja, si semut sudah membuat sarangnya kembali! Akhirnya aku pun harus membersihkannya kembali. Yang membuat aku semakin tidak nyaman, sebelum kejadian sarang semut kedua ini, di kamar mandi (kosku kamar mandi di dalam) aku menemukan garis berwarna coklat menjulur. Bentuknya sih seperti garis lurus. Awalnya cuma sekitar 5 cm, lama kelamaan jadi semakin panjang. Panik dong aku karena merasa geli melihatnya. Untuk itu aku menghubungi mba kos untuk memberitahukan kejadian tersebut.
Selang sehari, mba kos datang ke kamarku untuk membersihkan si garis coklat tersebut. Kata mba kos sih makhluk yang bersarang di situ tidak gigit jadi jangan takut. Namun dalam hati tetap saja aku gundah gulana. Lalu baru sehari dibersihkan, esok malamnya sudah muncul kembali itu garis coklat. Bukan cuma 1 cm, melainkan sudah 5 cm kembali. Gila kan?! Aku merasa kalau itu merupakan sarang rayap. Langsung saja aku browsing tentang ciri-ciri sarang rayap dan bagaimana cara mengusirnya. Ini aku sertakan link tentang cara mengusir rayap di rumah yang efektif dan cepat. Benar saja, yang bersarang di kamar mandiku ini si rayap-rayap itu! Argh stress deh aku dibuatnya.
Segera setelah itu aku menghubungi pemilik kos agar dipanggil pembasmi rayap. Selang beberapa hari, kamarku didatangi sang pembasmi rayap. Saat itu sih aku masih kerja di kantor. Jadi mba kos minta ijin untuk masuk kamarku dengan menggunakan kunci master agar si tukang basmi rayap bisa melakukan pekerjaannya. Sepulang kantor ketika membuka pintu kamar, wuush, tercium bau menyengat cairan kimia yang digunakan untuk membasmi rayap. Kucek deh spot tempat sarang rayap di kamar mandi dan memang sudah bersih. Tapi...tapiiii...si pembasmi rayap melewatkan satu spot di luar kamar mandi yang berarti di dalam kamarku Arrggh!!!
Aku pun komplain kembali kepada mba kos karena masih ada sarang rayap di kamarku. Tapi jawaban si mba agak mengecewakan diriku. Dia bilang karena sarangnya (yang ada di kamar mandi) sudah dibasmi, jadi tak akan kembali lagi dan yang ada di luar kamar itu tidak masalah. Namun kan namanya juga hewan ya, sarang utama dibasmi, ya bisa saja lokasi lain dia jadikan sarang baru. Seperti sarang semut yang kutemukan di bawah kasurku. Awalnya tuh lokasinya di bawah kasur, lalu akhirnya kupindahkan kasurku supaya tempat lokasi sarang semut itu bisa terlihat olehku. Eh ternyata si semut pindah sarang ke bawah kasurku kembali. Nah hal serupa harusnya berlaku juga buat si sarang rayap. Jadi aku bersikeras untuk pindah kos.
Apalagi kak Aji, senior di kantorku, mengatakan kalau rayap itu sudah sampai terlihat sarangnya oleh mata kita, berarti koloninya di dalam kayu-kayu di rumah itu sudah banyak sekali, jadi sudah tidak muat sehingga harus membuat sarang di dinding rumah gitu. Iiiihhhh! Semakin geli aku membayangkannya. Yang kutakutkan itu, rayap kan memakan kayu-kayu, lalu kalau konstruksi rumah pakai kayu sebagai penopang rangka atap, bisa-bisa atap di kamarku ini bisa rubuh. Bahaya kan?! Masalahnya kamarku ini atasnya ya langsung atap, jadi kan berbahayanya kalau rubuh ya aku the end. Hahaha. Maaf ya aku terlalu negative thinking tapi beneran deh aku sudah bulat ingin pindah kos.

Permasalahan selanjutnya adalah akan pindah ke manakah aku? Aku sudah mencari-cari kosan lain di sekitar area kantorku saat ini. Harga kamar kos di area Pengadegan, Pancoran ini sekitar 1,8 hingga 2jt rupiah. Mak?! Mahal kali. Ya itu kalau ingin mendapatkan fasilitas kamar mandi di dalam dan ber-AC. Waduh-waduh. Kalau pindah, harga kamarnya jadi mahal banget. Huhuhu.
Opsi kedua adalah satu kos dengan adikku di Jakarta Barat. Kalau satu kamar kos dengan adikku di sana aku harus mengeluarkan uang sekitar Rp 900.000 selama sebulan. Namun kendalanya aku harus mengelarkan biaya transportasi lagi. Kalau dihitung-hitung, sebulan aku harus mengeluarkan sekitar Rp 1,9jt. Hmm. Kalau kos di area Pengadegan 1,8jt belum termasuk listrik dan laundry. Kalau di kos adikku sudah termasuk listrik dan laundry. Tergiur dong aku untuk pindah ke kos adikku.

Akhirnya aku mencoba trial dulu untuk pulang pergi ke kos adikku. Setelah satu kali coba, aku rasa masih oke untuk menghabiskan waktu sekitar 20 menit di jalan dan total 40 menit di jalan untuk pulang pergi kantor. Toh di kos aku jadi punya teman makan dan ngobrol dibanding di kos terpisah dengan adikku. Huhuhu. Jadi mulai hari ini, aku resmi pindah kos ke kos adikku di Jakarta Barat. Semoga aku bisa betah deh ya.

Wednesday, April 11, 2018

Permulaan

11 November 1988

Dear diary, hari ini adalah hari pertunanganku. Pestanya diadakan sederhana saja. Hanya memesan beberapa meja untuk keluarga dekat dan relasi dekat saja. Aku memang sengaja untuk mengadakan pesta kecil-kecilan. Bukan karena pelit, tapi memang aku tak suka menghamburkan uang yang dengan susah payah kudapatkan. Kau harus tahu bagaimana sulitnya mencari uang sendiri. Ayahku sudah tiada sejak aku SMA dan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang tak bisa menyokong kehidupanku. Oleh sebab itu, untuk menghidupi diriku sehari-hari, aku coba kerja part time di sana sini karena aku tak berani meminta uang pada ibuku yang sudah tak mendapat penghasilan lagi.
Diary, kau tentu masih ingat kan ceritaku saat aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Yah, saat itu memang aku sudah bertekad untuk cari kerja saja selepas SMA karena aku pun sadar diri bahwa ibuku tak akan mampu untuk membiayai kuliahku. Namun dengan dukungan dari sahabatku agar aku menjadi wanita yang pintar dan bisa menyelesaikan kuliah, akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta uang dari ibuku untuk membiayai kuliah. Memang kasih ibu sepanjang masa, ibuku pun akhirnya menjual emas simpanannya yang bisa untuk menghidupi kehidupan masa tuanya agar aku bisa kuliah. Sebagai gantinya aku pun bertekad untuk cepat lulus kuliah dan membalas jasa ibuku. Bahkan saat kuliah pun aku masih tetap bekerja part time untuk menambah uang jajan. Karena ibuku memang hanya bisa membiayai pendidikanku, tidak dengan uang jajanku.
Ah tak terasa sebentar lagi aku akan memulai kehidupan baru bersama calon suamiku. Aku akan hidup bersama dengannya dan pindah ke rumahnya di luar kota. Aku pun akan berpisah dengan ibuku, meninggalkan dirinya di rumah masa kecilku dan segala macam kenanganku di sana. Sedih sih pasti. Tapi aku tetap harus melangkah karena aku dilahirkan sebagai seorang wanita, yang kodratnya akan dibawa oleh laki-laki. Jadi mau tak mau aku harus pergi meninggalkan ibuku untuk ikut bersama suamiku kelak.

Tuesday, April 10, 2018

Tingkat Dua di ITB - Ospek Jurusan Teknik Industri

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) ini aku alami dua kali selama menjadi mahasiswa. Pertama kali itu saat aku resmi menjadi mahasiswa ITB dan yang kedua kalinya saat resmi jadi mahasiswa Teknik Industri (TI). Cerita ospek gabungan saat tingkat satu bisa dibaca di sini. Sedangkan ospek jurusan (osjur) yang aku alami akan kuceritakan di pos kali ini.

2011 saat osjur dengan seragam wajibnya

Friday, April 6, 2018

Tingkat Dua di ITB - Aku Masuk Teknik Industri

Semester 2 berakhir menandakan libur panjang selama tiga bulan akan datang! Hore!!!!! Eits, di samping itu, nilai IPK tingkat satu pun muncul di situs ol.akademik.itb.ac.id. Nah di situ juga kita akan mengetahui jurusan kita nanti di semester 3. Kita juga bisa jadi akan berpisah dengan teman-teman sekelas dulu di tingkat satu dan akan memulai lembaran kehidupan baru menjadi mahasiswa tingkat dua. FYI, di FTI 2011 itu terbagi menjadi lima kelas karena saking banyaknya maba yang masuk FTI. Nama kelasnya FTI-A, B, C, D, dan E. Aku termasuk ke dalam kelas FTI-C. Jadi sejujurnya aku tak kenal seluruh anak FTI, kalau anak FTI-C puji Tuhan aku tahu lah nama dan mukanya karena dulu sempat ikutan makrab FTI-C di villa Lembang. Dari situ kami sekelas jadi saling kenal dan makin akrab :" Sedih rasanya pisah sama mereka. Anak-anak FTI-C pun berinisiatif untuk membuat kenang-kenangan foto kelas gitu. Jadilah kita sekelas pergi ke Jonas Banda buat foto kelas.

Wednesday, April 4, 2018

Tingkat Satu di ITB - OHU dan UKM

Lanjut cerita tingkat satu di ITB-nya. Setelah sebelumnya cerita tentang apa itu TPB dan ospek gabungan saat pertama kali resmi jadi mahasiswa ITB, sekarang aku mau cerita tentang unit yang aku ikuti di ITB dan apa itu OHU. Yuk-yuk disimak.

Hari Sabtu, 6 Agustus 2011 adalah hari saat OHU berlangsung. Apa sih OHU? OHU itu singkatan dari Open House Unit. Namanya juga open house, jadi semua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di ITB ini membuka stand untuk mempromosikan unitnya. Suasana saat OHU tuh udah seperti bazaar. Mahasiswa baru (maba) bisa mampir ke stand unit yang diingininya dan mendaftar agar bisa menjadi anggotanya. Daftar UKM yang ada di ITB bisa lihat di sini nih. Mana tahu ada anak maba yang lagi mampir ke blogku dan penasaran sama UKM yang ada di ITB itu apa saja. Jadi si maba bisa curi start nih buat milih mau masuk UKM apa. Hihi.

Saat itu aku termasuk maba yang daftar ke banyak unit. Maruk banget ga sih gw?! Aku daftar ke unit KSEP - Ekonomi, ATLAS - Atletik, dan U-GREEN - Lingkungan deh. FYI, ketika resmi menjadi mahasiswa ITB, kalian pun akan otomatis masuk menjadi anggota di unit agama. Karena aku ini beragama Kristen, jadi otomatis aku masuk di unit Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) ITB. Nah karena sudah terdaftar, jadi total ada 4 unit yang ingin aku ikuti.

Setelah selesai daftar-daftar itu, esokannya kita akan dihubungi melalui SMS (jaman itu WA masih belom banyak dipakai, paling sering pakai BBM) ke nomor hp yang kita cantumkan saat daftar pas OHU itu. Nah SMS itu berisi pemberitahuan untuk berkumpul pertama kali. Karena aku daftar ke 4 unit, jadinya ada unit yang tak bisa kudatangi. Habis jadwalnya bentrok. Tapi aku sempat mencoba hadir di semua unit yang aku datangi itu. Setelah itu aku jadi memilih untuk ikut KSEP, ATLAS, dan PMK saja. Kalau dipikir-pikir, kenapa aku tidak ikut unit kesenian ya. Hmmm.

Karena aku tergabung di KSEP, ATLAS, dan PMK. Jadi aku mau ceritain pengalamanku berunit di tiga unit itu ya...

Tuesday, April 3, 2018

Tingkat Satu di ITB - PROKM 2011

Lanjutan dari pos Tingkat Satu di ITB kemarin. Sesuai janjiku, aku mau berbagi cerita tentang UKM dan OSKM. Aku mau klarifikasi sedikit, pada jamanku (2011), OSKM itu disebutnya PROKM. PROKM ini singakatan dari Pengenalan Ruang dan Orientasi Keluarga Mahasiswa (sepertinya ini singkatannya. haha), sedangkan OSKM sendiri singkatan dari Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa. Nama OSKM sendiri baru muncul saat 2012. Jadi bisa keliatan deh tuh mana mahasiswa angkatan tuir dan mana yang baru dari nama ospek yang diikutinya. (≧▽≦)

Sebelum bahas tentang UKM, tentunya diawali dengan PROKM 2011 dulu yah. Gini nih ceritanya~

Monday, April 2, 2018

Tingkat Satu di ITB - TPB

Wah cerita aku ini kayaknya sudah lamaaa sekaleeehhh berlalu. Tepatnya 7 tahun yang lalu, yaitu tahun 2011 saat aku pertama kalinya jadi mahasiswa di ITB yang katanya Institut Terbaik Bangsa itu. Kalau pengen tahu perjalananku bisa masuk ITB ini, bisa baca di part 1, part 2, dan part 3 nih. Di situ aku membagikan kesaksianku tentang rencana Tuhan yang sungguh indah buatku. Memang tidak sesuai dengan keinginanku pada awalnya, bahkan aku harus ngerasain hal yang ga enak. Tapi emang Tuhan itu baik. Pasti hasil akhir yang aku dapat adalah happy ending. (・∀・)
Sumber: Harnas.co