Monday, July 24, 2017

Book Review: The Girl on The Train

iJak
Judul                       : The Girl on the Train
Penulis                    : Paula Hawkins
Jumlah Halaman   : 440 Halaman
Tahun Terbit          : 2015
Penerbit                  : Noura Books Publishing (PT. Mizan Publika)
Sinopsis:
Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. �Jess dan Jason,� begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.
Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait. Apakah dia telah melakukan kejahatan alih-alih kebaikan?


Tentang Penulis 
Paula Hawkins bekerja sebagai jurnalis selama lima belas tahun, sebelum mulai menulis fiksi. Lahir dan dibesarkan di Zimbabwe, Paula pindah ke London pada 1989 dan tinggal di sana semenjak itu. The Girl on the Train adalah novel thriller pertamanya. 

"Novel thriller ini menjanjikan perjalanan yang mengejutkan" - US Weekly
"Novel suspense baru yang sangat menggelisahkan... sebuah thriller psikologis yang menakutkan dan kompleks...Inilah jenis novel yang akan terus membuat kita membalik halamannya meski sebenarnya tak tahan. Benar-benar mengerikan dan mengejutkan." - New York Daily News
"Benar-benar sebuah novel suspense yang hebat. Membuatku tak bisa tidur hampir sepanjang malam. Karakter sang narator yang alkoholik sungguh sempurna." - Stephen King, penulis bestseller 54 novel horor kontemporer, supranatural, suspense, sci-fi, dan fantasi
"Sangat menegangkan, menggelisahkan, dan sungguh tak dapat ditebak. Membacanya menghabiskan seluruh sisa hariku. Jangan lewatkan!" - Tess Gerritsen, penulis bestseller 19 novel thriller
"Sekumpulan karakter yang wow, situasi yang wow, buku yang wow! Ini adalah Alfred Hitchcock untuk generasi baru." - Terry Hayes, penulis bestseller novel I am Pilgrim dan novelisasi Mad Max
"Cerdas, menegangkan, dan memuaskan secara menyeluruh! Membuatku menebak-nebak sampai akhir." - Lisa Gardner, penulis bestseller 20 novel thriller
"Perjalanan yang berkecapatan tinggi, penuh putaran dan belokan. Kini, menatap ke luar jendela kereta tak akan sama lagi." - Colette McBeth, penulis novel thriller psiklogis, The Life I Left Behind
"Menyebabkan kecanduan." - Vanity Fair
"Narasi yang penuh kejutan mengantarkan pada klimaks yang menggoncangkan, seperti halnya sebuah kekacauan, novel ini menakutkan sekaligus menarik." - Publisher's Weekly, resensi berbintang
"Seperti kereta api, kisahnya meluncur cepat menembus stagnansi kehidupan di pinggiran London dan pembaca tak akan bisa berhenti membalik halamannya." - The Boston Globe
"Pembaca yang paling cerdas sekali pun akan terkejut saat Hawkins perlahan melepaskan gulungan fakta-fakta, memaparkan kenyataan pahit tentang keterkaitan yang tak terhindarkan antara cinta dan obsesi dengan kekerasan." - Kirkus, resensi berbintang
"Novel yang memiliki alur sempurna, dari awal yang memukau sampai akhir yang tak terduga...yang membuat novel ini sangat mengagumkan adalah pemahaman Hawkins yang luar biasa mengenai batas dari pengetahuan manusia, dan derajat ketika ingatan dan imajinasi bisa menciptakan keraguan." - NPR.org
"Novel ini mengawinkan gaya film noir dengan muslihat sastrawi...berpeganganlah. Anda akan terkejut melihat kengerian yang bersembunyi di dalamnya." USA Today
"Ditulis dengan sangat baik dan dirancang dengan genius." - The Washington Post
"Menampilkan muslihat paling sulit di dalam sebuah novel thriller: dirancang dengan sangat lihai sehingga kita merasa tahu semuanya, sampai akhirnya mengungkapkan sesuatu yang tak kita sadari kehadirannya sama sekali." - Entertainment Weekly

 My Review of The Girl on the Train
Ini pertama kalinya gw baca novel thriller. Pas baca prolognya gw ga begitu paham tapi cukuplah membuat terkagum setelah selesai baca keseluruhan novelnya dan kembali membaca prolognya. Sejujurnya gw agak bosan awal-awal membaca kisah dari kehidupan si tokoh utama. Begitu panjang~ tapi lama-lama gw sadar betapa cerdasnya Paula Hawkins menuangkan kisah kehidupan para tokohnya. Kisah dari ketiga tokoh diceritakan sedikit demi sedikit dan menjelaskan alasan mengapa setiap tokohnya menjadi seperti itu. Dalam menceritakan setiap kisah mereka, Hawkins menuliskannya dalam tiga sudut pandang. Rachel si tokoh utama karena proporsi sudut pandangnya paling banyak, kemudian sudut pandang Anna dan Megan. Tiga wanita yang kehidupannya saling beririsan dan membuat gw berdebar-debar membacanya. Awalnya gw cukup takut-takut membacanya karena gw pikir ini kan thriller ya trus horor dan creepy gitu, apalagi judulnya The Girl on the Train, bikin gw berimajinasi tentang hantu cilik di kereta. Tapi ternyata tidak semenyeramkan itu.
Novel ini mengisahkan tentang kehidupan tokoh yang alkoholik, tokoh satu ini sukses bikin gw gregetan karena dia kerjaannya mabok mulu dan ga tobat-tobat. Padahal kecanduannya akan alkohol itulah yang membuat hidupnya bertambah buruk. Kemudian kehidupan tokoh perebut suami orang yang sukses juga membuat gw kesal karena dia tega banget melakukan itu. Padahal seharusnya dia tahu konsekuensi dari itu, yaitu cowo yang sudah direbutnya itu pun tentu akan tega melakukan hal yang sama terhadap dirinya, ya selingkuh (lagi) dari dirinya. Terakhir si tokoh depresi dan mencoba menyembuhkan sakitnya itu. Kehidupan tokoh yang terakhir ini pun ternyata tidak sesempurna yang gw pikir awalnya. Sungguh kelam bahkan.
Ada beberapa kalimat yang cukup membuat gw tergelitik....
"Perempuan masih benar-benar dihargai untuk dua hal saja - tampang mereka dan peran mereka sebagai ibu. Aku tidak cantik dan tidak bisa punya anak, jadi apa yang tersisa untukku? Aku tidak berguna." - Rachel.
Setujukah kalian dengan Rachel, hai kaum hawa? Pemikiran Rachel ini cukup membuat gw menerawang ke depan. Sebegitu tidak bergunanyakah kalau seorang wanita tidak bisa memiliki anak dan juga tidak memiliki paras cantik. Hmm 
Di sisi lain, gw juga suka dengan pemikiran dari Anna. Dia benar-benar menggambarkan bagaimana perjuangan seorang ibu yang mengasuh anaknya seorang diri. Tanpa bantuan dari pengasuh bayi.
"Aku menggendong Evie dan kami pergi ke kebun bersama-sama. Dia mendorong troli kecilnya mondar-mandir, terkikik sendiri ketika melakukannya, kemarahan pagi tadi terlupakan. Setiap kali dia menyeriangai kepadaku, aku merasa seakan jantungku hendak meledak. Tak peduli betapa aku merindukan pekerjaan, aku akan lebih merindukan ini." - Anna.
Dia memang cemburu dengan suaminya yang bisa berpakaian rapi dan hendak pergi bekerja. Tak seperti dirinya yang lusuh, tidak bersolek lagi seperti waktu gadis, dan tidak mengenakan pakaian bagus. Dia ingin kembali bekerja seperti sebelum memiliki anak. Dia pun kesal saat harus menghadapi keributan dan suasana porak poranda yang telah dibuat oleh Evie, anaknya semata wayang. Tapi pada akhirnya dia sungguh bahagia dengan keputusannya untuk tidak bekerja. Karena menurutnya tidak ada pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaan mengasuh anak.

Kemudian gw menemukan ada typo yang sempat membuat gw bingung. Seharusnya ditulis Minggu, 18 Agustus 2013. Tapi disitu tertulis Sabtu, 18 Agustus 2013. Padahal sebelumnya sudah dibahas kejadian hari Sabtu, 17 Agustus 2013 dan bahkan dilanjut sampai hari Minggu. Gw pikir alurnya mundur. Gataunya ini typo Hahaha.. gw sampe bener-bener buka kalender dong buat meyakinkan tanggalnya.

Lalu gw juga senang saat Bali disebut-sebut sebagai pilihan destinasi liburan untuk si tokoh suami dan istri. Ternyata saat itu, Bali cukup terkenal juga ya untuk masuk sebagai destinasi liburan bulan madu gitu. Hihihi 

Secara keseluruhan, novel ini memang bagus. Gw kasih rating 3 dari 5 d. Buat yang penasaran buat baca novelnya, langsung aja cus beli novelnya. Kalau mau gratis, bisa juga nih baca e-booknya The Girl on the Train ini lewat applikasi iJakarta. Eh malah promosi ya gw  Yup, sekian review buku The Girl on the Train dari gw 

UPDATE!
Jadi novel ini tuh difilmkan dan gw baru kemaren nonton filmnya. Filmnya keluar tahun 2016. Overall filmnya oke, cuma lebih seru baca novelnya lah ya karena dijelaskan dengan detil. Selain itu ada beberapa cerita yang berbeda dari novelnya. Ya biasanya memang begitu sih. Film dibuat tidak sama banget dengan isi novelnya. Tokoh Rachel di film pun tidak seperti yang tergambar di novelnya. Gw pikir yang bakal berperan sebagai Rachel itu memiliki postur tubuh yang gemuk. Ternyata di film langsing bo.... Ending filmnya sih sebenarnya sama kaya di novel. Cuma gw tetap menyayangkan aja feel yang didapatnya kurang gituuuu. Gw prefer baca novelnya daripada nonton. Apalagi jalan ceritanya tuh kayanya membingungkan buat orang yang ga baca novelnya. Soalnya si Kibo nanya-nanya mulu ke gw pas nonton itu. Weleh...Kan jadi spoiler yak gw kalo jawabin pertanyaan dia. 

No comments:

Post a Comment