Monday, March 5, 2018

Movie Review: Black Panther (2018)


Bertepatan dengan hari kasih sayang, film Marvel satu ini dirilis. Yap tanggal 14 Februari 2018 kemarin akhirnya si Black Panther ini keluar guys. Namun saat itu aku dan teman-temanku nonton Eiffel I'm in Love 2 dulu dong daripada si panther satu ini. Kenapa? Ya karena kami sudah janjian buat nonton Eiffel I'm in Love 2 di hari kasih sayang saja sih. Habis lagi pengen nonton yang romantis-romantis ketimbang yang action. Hihihi. Baru deh tanggal 23 Februari 2018 lalu akhirnya aku nonton Black Panther. Aku nonton di CGV Slipi Jaya. Pas banget nih lagi ada diskon dari BCA karena BCA sedang berulangtahun. Lumayan nih jadi nomat alias nonton hemat. Hehehe. Satu tiket untuk hari Jumat saat itu Rp 40.000. Berhubung dapat diskon, jadi Rp 31.900 per orangnya. Wah lumayan banget kan?! Aku nonton jam 19.30 WIB padahal dari jam 18.00 WIB aku dan Keket sudah di sana. Oh ya, aku nonton sama Keket dan Olen. Janjian ketemuan sama Olen di Slipi Jaya. Sebelum nonton, kami makan dulu di Solaria. Daripada nanti perut bunyi saat nonton film. Kan malu. Hehe

Black Panther
Sutradara : Ryan Coogler
Produser : Kevin Feige, David J. Grant
Penulis : Joe Robert Cole, Ryan Coogler
Produksi : Walt Disney Pictures
Jenis Film : Action, Adventure, Sci-Fi
Censor Rating : 17+
Durasi : 134 menit

Sinopsis:
Sebagai Raja baru dari Wakanda, T'Challa (Chadwick Boseman) masih bergumul mengenai perasaannya atas meninggalnya sang ayah, T'Chaka (John Kani). Namun ia kemudian memutuskan untuk meneruskan perjuangan sang ayah.

Ketika Wakanda berada dalam ancaman dua musuh berbahaya yang dapat mengancam keselamatan negara, Black Panther berusaha membuktikan diri sebagai raja sejati Wakanda. Ia harus menggunakan kostum barunya serta kekuatannya untuk membela Wakanda dan negara lainnya.

[Review]
Secara keseluruhan film ini dikemas begitu apik dengan tema teknologi masa depan dan font yang digunakan pun turut membangun tampilan visual yang menarik. Font yang digunakan dalam film ini memiliki unsur budaya Afrika namun juga futuristik. Cukup eye catching sih font-nya, bagus dan tidak norak. Efek-efek visual yang diberikan juga keren! Membuat penonton, ya khususnya aku sih, terkesima menyaksikan adegan-adegan action dibalut efek-efek visual yang keren. Meski begitu, alur ceritanya menurutku sih mudah ditebak ya. Seperti film superhero kebanyakan. Sang jagoan pasti akan kalah di awal dan sukses di akhir. Tapi aku cukup menikmatinya kok.
Adat budaya saat melantik raja baru cukup menarik untuk disaksikan. Terutama adegan menegangkan saat sang calon Raja harus membutkikan dirinya layak menjadi Raja dengan bertarung dengan kepala suku yang menantangnya. Wah cukup bikin aku dag dig dug dan berharap dia berhasil untuk menang.

Sumber: Marvel Entertainment

Selipan lelucon-lelucon ringan yang diberikan juga tidak garing. Cukup membuat penonton di studio saat itu tertawa. Aku suka melihat adegan saat T'Challa memasuki lab milik sang adik, Shuri (Letitia Wright), kemudian Shuri menunjukkan barang-barang hasil ciptaannya. Kakak beradik tersebut berseda gurau dan terlihat begitu akrab. Biasanya kan persaudaraan kerajaan itu kaku, namun ini tidak, seperti kakak beradik kebanyakan gitu. Hehe.
Oh ya, kalau tidak salah, film Black Panther ini menggunakan cast yang hampir sebagian besar orang berkulit hitam. Hal ini membuat orang kulit hitam, khususnya warga Afrika merasa bangga dan berterima kasih karena sudah mengangkat film Black Panther ini. Maklum sih film box office yang cast-nya kebanyakan orang kulit hitam itu jarang ga sih? Kebanyakan pasti tokohnya orang kulit putih deh. Ya ga?
Film ini juga memiliki pesan moral yang bagus loh. Wakanda di mata dunia itu hanyalah sebuah negara petani yang bisa dianggap sebelah mata. Namun sebenarnya dibalik itu, Wakanda lebih maju ketimbang negara-negara lain. Namun Wakanda menutup diri agar teknologi yang dimilikinya ini tidak disalahgunakan dan untuk menjaga Wakanda tetap tentram dan damai. Namun apakah itu merupakan cara yang terbaik? Berpuluh-puluh tahun Wakanda menutup identitas sejatinya dari dunia, sampai ada satu oknum yang ingin membongkar identitas asli dari Wakanda ini untuk menolong kaumnya yang tersiksa di luar Wakanda. Tau sendiri kan di negara sono orang kulit hitam itu didiskriminasi. Ya sama kaya di Indonesia ini juga masih kerasa ya kadang-kadang isu tentang ras ini. Apalagi saat pilkada Jakarta kemaren. Huft. Jadi ngelantur kan. Balik ke topik.
Nah dari situ mulai deh ada konflik internal. Di satu sisi tidak ingin teknologinya sampai diketahui dunia dan disalahgunakan. Di sisi lain dengan ketertutupannya ini, kaumnya di belahan dunia yang lain tidak bisa merasakan manfaat dari teknologi yang dimiliki oleh Wakanda ini. Jadi kira-kira solusi apa yang terbaik untuk ini? Tonton saja deh filmnya. Hihihi.

Oh ya, di film ini ada satu orang kulit putih yang cukup berperan penting.
Sumber: Marvel Entertainment

Yap dialah Everret K. Ross alias agen Ross (Martin Freeman). Kalau nonton film Marvel sebelumnya pasti tidak lupa dong dengan tokoh satu ini. Sayangnya aku kelewatan dua film Marvel sebelum Black Panther ini. Jadilah aku agak-agak sedikit tidak nyambung. Beruntung Keket menjelaskan agar aku tidak roaming-roaming amat gitu. Ya begitulah tipikal film Marvel. Suka ada selipan sedikit dari film yang sebelum-sebelumnya. Kalau nonton semuanya pasti jadi ngerti deh sebab akibatnya. Hehe. Nanti deh aku akan menebus untuk nonton Civil War dan Thor Ragnarok.
Satu lagi nih tipikal dari film Marvel. Di akhir cerita pasti akan ada dua credit. Kredit pertama itu biasanya menceritakan guyon saja. Namun kredit yang kedua nih yang penting. Ditempatkan benar-benar di ujung kredit sampai-sampai bikin tidak yakin kalau akan ada cuplikan film pendeknya. Nah cuplikan film yang kedua ini nih yang menjadi cikal bakal film Marvel selanjutnya. Cuplikan kedua di film Black Panther ini menampilkan si Winter Soldier dengan satu tangannya yang sudah buntung sedang dirawat oleh Shuri di Wakanda. Pengantar banget ga sih untuk film Avenger selanjutnya. Hihihi.
Kalau rating dari IMDb sih 7.8 dari 10 ya. Kalau menurutku dibulatkan saja deh jadi 8 bintang. Hihi.

 (8/10)

2 comments:

  1. aku juga suka bagian yang nunjukin adat-adat afrikanya pas pengangkatan raja itu, keren gitu visual + adatnya sendiri. Aku kelewat juga nih nonton Thor, tapi sempet nonton Civil War. Tapi nggak ngeh, emang ada hubungan apa sama agen Ross? wkwk

    ReplyDelete
  2. iyaaa keren yaaa..trus warna warni gituuu hehehee

    iya di sebelumnya kan si agen Ross ini ada misi gitu trus ketemu sama si T'challa kan? Makanya di yang Black Panther ini si Ross kaya uda kenal gitu kan sama T'challa. Nah karena sampe detik ini aku belum nonton, jadi aku sndiri ga tau gimana pertemuan pertama mereka terjadi seperti apa..hahaha

    ReplyDelete