Wednesday, March 7, 2018

Jalan-Jalan ke Madiun: Kota Gadis

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 25 Februari 2018, aku mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Kota Gadis alias kota Madiun. Penasaran ga sih kenapa disebut Kota Gadis? Awalnya aku sendiri tak tahu kalau Madiun ini disebut sebagai Kota Gadis. Sampai akhirnya teman kantorku nyeletuk, "Tau ga kenapa Madiun disebut Kota Gadis?". Baru deh aku ngeh soal sebutan kota Madiun ini. Nah kalian sendiri tahu tidak kenapa? Kalau tak tahu, aku kasih tahu deh. Aku kan baik #plak malah muji diri sendiri. Tak apa dong, daripada tak ada yang muji. Hihi. Jadi, Madiun disebut Kota Gadis itu bukan karena di Madiun banyak wanita-wanita yang masih jomblo eh belum menikah maksudku. Tapi disebut gadis karena merupakan singkatan dari perdaGAngan, penDIdikan, dan induStri. Disingkat jadi GADIS deh! Hihi. Lucu ya.
Aku menghabiskan waktu 5 hari di Madiun. Berangkat hari Minggu naik kereta api Gajayana Eksekutif dari Stasiun Gambir, Jakarta, jam 17.40 WIB. Keretanya bagus loh guys dan tepat waktu. Puji Tuhan ya kereta api Indonesia ini tidak kalah sama kereta api yang aku naiki saat jalan-jalan di Jepang. Bagus! Beneran deh aku kagum. Nih penampakan interior dalamnya saat aku naik kereta api Gajayana Eksekutif:
Sumber: https://travel.dream.co.id
Bagus kaaan?! Toiletnya pun bersih loh. Tidak seperti bayanganku. Dulu saat aku ke Yogyakarta, toilet kereta apinya tuh bau pesing. Lalu lubang kloset jongkoknya itu langsung ke rel kereta gitu. Airnya pun tak ada, sehingga membuat aku nahan-nahan pipis agar sebisa mungkin aku tidak ke toilet. Huft. Tapi toilet kereta api Gajayana ini beda. Toiletnya duduk, ada semprotan airnya, ada wastafel-nya, tidak bau, ada tissue-nya, ada tong sampahnya, ya intinya nyaman untuk digunakanlah. Jadi aku tidak harus nahan pipis deh selama perjalanan. Informasi saja nih, perjalanan dari Jakarta ke Madiun itu sekitar 10 jam guys. Aku sampai di Madiun pukul 04.12 WIB, jadi kebayang dong kalau aku harus nahan pipis selama itu. Hiks.

Selama di Madiun, di samping urusan kerjaan, aku dan teman-teman kantorku menyempatkan untuk jalan-jalan malam. Kami mencoba pergi ke Warunk Gacoan yang berlokasi tidak jauh dari tempat kami menginap. Kami jalan kaki loh ke sananya. Sekitar 500 meter lah dari tempat nginap kami. Sebelum ke sana, kami melewati lapangan Gulun dulu. Di sana biasa dipakai untuk lari sore gitu dan banyakan jajanan atau angkringan gitu. Makin malam makin ramai deh tuh angkringannya. Ada yang jual es degan, ada yang jual nasi pecel, soto, ayam goreng, dan macam-macam. Aku takjub melihat harganya. Masa ya, soto daging dibandrol dengan harga Rp 6.000 saja?! Lalu nasi dengan ayam penyet bisa didapatkan dengan harga Rp 9.000. Alamak?! Kalau di Jakarta mana dapat kan... Aku bahagia melihat harganya. Haha.

Di hari jalan-jalan Madiun pertama, aku hanya mampir ke Warunk Gacoan. Warung ini bukan "warung" seperti yang ada di gambaranku. Tempatnya itu seperti food court kekinian gitu deh. Lighting-nya bagus. Kursi dan mejanya ada yang pakai payung gitu seperti di taman gitu, ada juga yang kursi dan meja biasanya. Pokonya hits gitu deh, seperti di Jakarta. Namun sayangnya di sana hanya menggunakan AC alam. Jadi tidak ada kipas anginnya ataupun AC. Makanan yang dijual di sana ada Mie Setan dan Dim Sum. Minumannya ada semacam es dengan nama-nama hantu gitu. Ada Es Kuntilanak, Es Genderuwo, dan Es hantu-hantu lainnya. Saat itu aku pesan Mie Curry ukuran standar seharga Rp 9.000 dengan tingkat kepedasan level 1 dan minumnya Es Kuntilanak seharga Rp 7.000. Bentukannya seperti ini:

Mie Curry

Es Kuntilanak

Selain dua itu, kami juga memesan dim sum sebagai camilan tambahan. Kami memesan Kaciak dan Udang Keju.
Kaciak
Udang Keju
Untuk review dari keempat pesanan tersebut bisa dilihat di @furisukabofood ya. Sudah kupaparkan di sana. Hihi.

Jalan-jalan kedua, kami ingin mencoba es dawet. Karena lokasinya cukup jauh dari tempat menginap kami, jadi kami memesan taksi online deh. Puji Tuhan di kota Madiun ini tidak sulit untuk memesan taksi online, jadi ke mana-mana mudah deh. Kami berangkat sehabis Maghrib. Namun, sesampainya kami di lokasi es dawet incaran kami, eh tokonya malah tutup. Sedih. (ಥ﹏ಥ) Untunglah toko es dawetnya tidak jauh dari alun-alun. Alhasil kami menyusuri alun-alun kota untuk mencari jajanan. Daaan didapatlah sate tahu. Aku memang kepingin untuk cobain sate tahu. Habis unik gitu kan. Aku belum pernah coba. Di alun-alun ini cukup banyak juga ya penjual sate tahu. Sebungkus isi 10 tusuk dan dihargai Rp 5.000 saja.

Sate Tahu
Selesai mencicipi sate tahu yang sebenarnya kebanyakan acinya daripada tahunya, kami pun melanjutkan jalan kaki ke toko oleh-oleh Mirasa. Di toko oleh-oleh Mirasa ini kami pun berbelanja oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta. Aku membeli semprong rasa pisang, sirup lemon squash Mimosa yang terkenal itu, dan brem. Ya ketiga makanan yang kusebutkan tadi itu merupakan oleh-oleh khas Kota Madiun. Harganya bisa dibilang terjangkau kok, berkisaran di harga Rp 20.000. Oh ya, ada satu lagi oleh-oleh khas Madiun, yaitu roti Blunder. Karena roti ini kaya roti sobek gitu, jadi aku tidak membelinya. Habis hanya tahan untuk beberapa hari saja. Hasil pencarianku, roti blunder yang terkenal itu roti blunder Cokro. Tokonya semacam kaya pabrik roti gitu dan buka sampai jam 21.00. Aku sempat mampir ke situ, namun karena bentuknya seperti toko roti saja, jadi kami tidak jadi ke sana karena kami mencari tempat nongkrong gitu.

Roti Blunder

Dari situ, kami melanjutkan jalan kaki kami ke Waroeng Latte. Sebelumnya, kak Aji ini sudah pernah ke sini untuk bertemu dengan teman sekolahnya. Jadi kami ke sana lagi deh karena memang tempatnya oke dan makanannya pun oke. Aku memesan minuman Semoga Enak. Itu bukannya aku berdoa agar minumannya semoga enak ya, tapi memang nama minumannya Semoga Enak. Sebenarnya sih rasa limun soda gitu. Malah aku berpikir, jangan-jangan minuman ini pakai sirup lemon squash Mimosa itu. Hihi.

Semoga Enak

Di samping minuman, kami juga memesan Tahu Crispy dan pisang bakar untuk dimakan ramai-ramai. Tahu Crispy-nya enak! Sebagi pecinta tahu, rasa kangen makan tahunya terbalaskan dengan makan sate tahu dan tahu crispy ini. Kenapa kangen? Soalnya selama di Madiun itu aku dikasi makan nasi kotak gitu. Dan selalu deh side dish-nya itu hanya tempe goreng. Tidak ada tahu gorengnya. Padahal kan aku lebih suka tahu goreng daripada tempe goreng. Huhu.

Tahu Crispy

Satu lagi nih. Kalau ke Madiun jangan lupa untuk makan nasi pecel ya. Rasa bumbu pecelnya itu beda dari rasa bumbu pecel di Jakarta. ENAK! Aku tiga kali makan nasi pecel. Dua kali nasi pecel dengan tempe dan telor ceplok, lau sekali nasi pecel pakai ayam goreng. Aku lebih suka kalau pakai ayam goreng. Bukannya aku karnifor ya tapi aku ga suka tempe goreng. Trus tempe gorengnya itu tebal dan besar. Aku pasti selalu menyisihkan si tempe goreng ini. Maafin aku ya. Terus kenapa malah pesennya nasi pecel pakai tempe?! Ya jadi aku tiga kali makan nasi pecel itu bukan aku yang pesan sendiri di warung nasi pecelnya. Melainkan aku dikasih dan sudah tinggal makan saja itu nasi pecel. Jadinya aku tidak bisa memilih mau pakai apa deh. Huhu. Oh ya, sayuran di nasi pecelnya ini ada yang unik. Selain pakai sayuran-sayuran biasanya seperti kacang panjang, kol, toge, kemangi,  kangkung, nasi pecel sini pakai sayuran mirip pete tapi ukurannya kecil-kecil lebih kecil dari kuaci namun tidak bau dan tidak berasa. Aku lupa namanya apa. Haha. Kalau inget aku update deh.

Nah gitu deh kira-kira perjalanan kulinerku di Madiun. Aku kembali ke Jakarta naik kereta Bangunkarta dari Stasiun Madiun jam 18.40 WIB. Aku turun di Stasiun Jatinegara sekitar pukul 05.00 WIB. Sayangnya kereta eksekutif Bangunkarta ini tidak sebagus kereta Gajayana saat aku pergi kemarin. Tuas untuk menyenderkan kursinya saja masih pakai tuas dari besi gitu dan sudah sedikit berkarat. Tidak seperti di Gajayana yang sudah menggunakan tombol seperti di kursi pesawat. Toiletnya pun berbeda. Toilet jongkok dan lebih sempit. Tapi masih oke kok. Hehe.

No comments:

Post a Comment