Wednesday, August 30, 2017

Book Review: The Naked Marquis

iJak
Judul                       : The Naked Marquis
Penulis                    : Sally Mackenzie
Jumlah Halaman      : 352 Halaman
Tahun Terbit            : 2012
Penerbit                  : PT. Elex Media Komputindo
Sinopsis:
Emma Peterson mungkin hanya putri pendeta, sementara dia adalah marquis baru Knightdale, tapi Charles lebih suka menikahi Emma daripada disuruh mengikuti acara perjodohan. Tapi begitu usulan itu disampaikan, Emma langsung menyambutnya dengan lemparan porselen. Mungkin usulannya agak kurang ajar, tetapi bukankah keduanya akan sama-sama diuntungkan? Ia bisa mendapat pewaris untuk Knightdale, sementara Emma terjamin kesejahteraan dan posisinya. Sederhana, praktis, dan masuk akal. Bagaimanapun Charles harus menenangkan Emma, karena sebenarnya ia pun sudah mulai ... jatuh hati.

Ini adalah historical romance dan series ketiga dari Naked Nobility karya Sally Mackenzie. Lagi-lagi gw baca ini karena novel ini available di iJakarta, aplikasi buat baca e-book gratis. Gw memilih series ketiga ini karena review-nya mengatakan kalau seri yang ini lebih bagus ketimbang seri yang lainnya. Pas dibaca, benar saja...setiap lembarnya bikin berdebar-debar. Emma si anak pendeta yang polos dan dicap perawan tua ini akhirnya memikat sang marquis. Gw juga mesem-mesem sendiri pas baca kelakuan Charles untuk membuat Emma menyetujui permintaannya. Ya sebenarnya ini direkomendasikan untuk pembaca dewasa ya. Soalnya muatan di dalamnya sungguh vulgar untuk dibaca oleh remaja apalagi anak kecil. Sally menggunakan dua sudut pandang dari Emma dan Charles. Peralihan sudut pandangnya pun dibuat smooth dan benar-benar ringan untuk dibaca. Novel yang pas untuk killing my time while I'm waiting something. (・∀・) Nah selain drama, Sally juga sedikit membuat misteri di dalam novelnya. Ini nih yang bikin gw penasaran dan klimaks dari novel ini. Namun gw kurang suka cara Sally menamatkan novel ini.
"Lah kok udah tamat", ujar gw saat menamatkan novel ini.
Menurut gw masih harus dilanjutkan lagi kisah antara Emma dan Charles. Soalnya masih belum pas saja diakhiri saat itu. Ah, mungkin memang ingin dibuat begitu agar pembaca saja yang membayangkan kelanjutan cerita Emma dan Charles.
Oia, gw dapet makna dari novel ini yang cukup mengena buat gw:
"Wanita menganalisa setiap emosi, menelaah setiap tindakan, selalu berharap ada makna yang bisa diketahui. Pria tidak. Aku yakin itu. Kalau seorang pria mengabaikan James-bukannya akan ada orang yang melakukannya-semua aksi menjilat yang harus ia tahan.." Ia mendesah dan menggeleng. "Jadi, kalau seorang pria mengabaikan James, James hanya akan berasumsi bahwa pria itu tidak melihatnya." ucap sang duchess, istri dari James sang duke kepada Emma.
Yah ini memang benar adanya. Kalau wanita selalu beranggapan ada sesuatu atas setiap tindakan. Alasan dibalik tindakan seseorang. Di kala pria hanya cuek saja dan mengabaikannya. Terkadang memang gw perlu untuk berlaku seperti itu. Cuek bebek saja atas sesuatu dan bukannya kepo.
Wajah Emma merah padam. "Yah, tidak ... tapi bagaimana kau bisa tahu apakah yang dirasakan seorang pria terhadapmu itu cinta atau nafsu?"
Nah, ini juga sesuatu. Gimana hayo bedainnya? Tapi di novel ini tergambar kok jawaban atas pertanyaan Emma kepada Sarah, sang duchess. Overall gw kasih dari lima buat novel ini. 

No comments:

Post a Comment