Thursday, January 23, 2020

Pertama Kalinya Merasakan Banjir di Jakarta

Awal tahun baru ini ada hal yang lain dari tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya kalau tahun baru itu aku kumpul sama keluarga di rumah. Mainan terompet atau kadang kumpul juga sama teman-teman untuk bakar-bakaran. Eh bukan bakar-bakaran rumah atau ban ya, tapi bakar makanan alias barbecue. Nah di tahun ini aku menghabiskan tahun baru bersama suami. Yes di tahun baru ini statusku yang single sudah berubah menjadi married. ☺️☺️

Banjir (Sumber: Freepik.com)

Selain status yang beda, hal lain yang baru adalah untuk pertama kalinya aku merasakan bencana banjir di Jakarta. Jujur, baru kali ini aku mengalami kebanjiran. Terbangun di pagi hari tanggal 1 Januari 2020, membaca pesan instan dan mendapat pertanyaan "Di rumah aman?" Sontak aku bingung mendapat pertanyaan tersebut. Ternyata pagi hari di tahun 2020 ini, warga Jakarta dan sekitarnya diberikan hadiah berupa kelimpahan air alias banjir. Hihihi.

Setelah mendapat penjelasan bahwa ada bencana banjir, langsung aku membuka pintu beranda (kamarku di lantai 2) dan melihat keadaan di luar. Memang hujan masih mengguyur Jakarta pagi hari itu dan aku kaget karena tanaman palem di berandaku ambruk. Wow dasyat sekali berarti angin di subuh hari tadi. FYI aku baru tertidur sekitar pukul 1 pagi dan memang saat itu hujan sudah turun. Masih hujan kecil sih. Tapi aku dapat info kalau pukul 2 pagi hujan sudah deras mengguyur. Badai malah dibilangnya.
Aku Syok Lihat Kondisi Tanamanku
Puji Tuhan di rumah yang aku tinggali di Jakarta ini, genangan air hanya di halaman rumah saja. Tidak sampai masuk ke rumah. Apalagi rumah yang kutinggali ini didesain lebih tinggi daripada halaman. Jadi otomatis ga sampai masuk ke dalam rumah airnya. Ketinggian air di halaman rumah semata kaki pagi itu... Mama mertua pun langsung menginstruksikan untuk beli ransum alias mi instan di minimart dekat rumah. Langsunglah aku cus pergi ke sana sebelum stok mi instan kehabisan.

Siang hari, papa mertua mengajak kami sekeluarga untuk melihat-lihat keadaan sekitar. Tentunya naik mobil papa yang sudah didesain khusus dengan knalpot yang lebih tinggi supaya tidak kemasukan air. Jujur saat melewati jalanan dekat komplek rumah, aku ngeri lihatnya. Airnya tinggi! Sepaha orang dewasa. Perumahan yang lain yang kami lewati lebih parah lagi karena tinggi dataran yang lebih rendah daripada dataran di jalan raya. Bisa mencapai pinggang orang dewasa sepertinya.


Esok harinya, puji Tuhan pompa di komplek rumah bekerja dengan baik. Tanggal 2 itu halaman rumah sudah tidak tergenang air. Aku sudah siap untuk berangkat ke kantor. Di jalan, si Q memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke halte busway karena tingginya genangan air. Ya, aku ga bisa pergi ke mana-mana karena akses jalanan tergenang air. Akhirnya aku pun minta ijin untuk bekerja dari rumah. Memang dekat komplek rumah, air itu belum surut juga. Malah dapat info kalau tinggi air lebih parah dari sebelumnya. Kali depan komplek rumah sudah penuh sekali. Kalau sampai diguyur hujan deras kembali, pastilah komplek rumahku akan terdampak banjir juga...

No comments:

Post a Comment