Friday, April 6, 2018

Tingkat Dua di ITB - Aku Masuk Teknik Industri

Semester 2 berakhir menandakan libur panjang selama tiga bulan akan datang! Hore!!!!! Eits, di samping itu, nilai IPK tingkat satu pun muncul di situs ol.akademik.itb.ac.id. Nah di situ juga kita akan mengetahui jurusan kita nanti di semester 3. Kita juga bisa jadi akan berpisah dengan teman-teman sekelas dulu di tingkat satu dan akan memulai lembaran kehidupan baru menjadi mahasiswa tingkat dua. FYI, di FTI 2011 itu terbagi menjadi lima kelas karena saking banyaknya maba yang masuk FTI. Nama kelasnya FTI-A, B, C, D, dan E. Aku termasuk ke dalam kelas FTI-C. Jadi sejujurnya aku tak kenal seluruh anak FTI, kalau anak FTI-C puji Tuhan aku tahu lah nama dan mukanya karena dulu sempat ikutan makrab FTI-C di villa Lembang. Dari situ kami sekelas jadi saling kenal dan makin akrab :" Sedih rasanya pisah sama mereka. Anak-anak FTI-C pun berinisiatif untuk membuat kenang-kenangan foto kelas gitu. Jadilah kita sekelas pergi ke Jonas Banda buat foto kelas.


Sebelum masuk ke tingkat dua, kalau hasil IPK TPB kita ini tidak mencapai 2.00, maka otomatis kita harus mengulang kembali satu tahun. Cerita tentang TPB itu apa bisa dibaca di sini.

Puji Tuhan, sesuai dengan pilihan jurusan yang aku isi di Suvei Jurusan, akhirnya aku masuk ke jurusan Teknik Industri, jurusan yang aku inginkan sejak aku kelas XII. Di ITB, kalau sudah masuk jurusan, kita akan merasakan ospek kembali. Ospek jurusan alias osjur, merupakan ospek sebelum kita diterima resmi menjadi anggota himpunan jurusan. Untuk TI sendiri nama himpunannya adalah MTI alias keluarga Mahasiswa Teknik Industri. MTI ini menaungi dua jurusan sekaligus, TI dan Manajemen Rekayasa Industri (MRI). Maklum MRI ini jurusan baru dan merupakan pecahan dari TI, jadi si MRI ini kalau mau berhimpun ya di MTI. Otomatis MTI ini adalah himpunan dengan jumlah anggota yang banyak. Bisa dibayangkan ga kalau rapat kaya gimana? Wuih udah kaya kelas kuliah sendiri. RAME! Cerita tentang MTI-nya nanti dulu deh. Kan mau cerita tentang masuk jurusan dulu. Eheheh.

Tingkat dua di TI merupakan tingkat yang punya tantangan tersendiri buat aku. Jujur di TI ini aku sempat "kaget" lagi dalam beradaptasi akademik. Setelah sebelumnya lega sudah melewati TPB dengan baik, sekarang di semester 3 lagi-lagi aku harus bisa adaptasi. Well kuakui aku jatuh di semester 3 ini. Nilaiku ambrul hahaha. Tapi Puji Tuhan masih terhitung 3 koma sekian lah. Jadi buat kalian mahaiswa ITB yang memasuki semester tiga, siap-siap aja sih menghadapi cara belajar yang berbeda dari sebelumnya di TPB. Ya gimana engga, dulu di TPB tuh jadwal tertata rapi. Masuk jam sekian, istirahat jam sekian, pulang jam sekian, bahkan ujan pun sudah bisa diprediksi kapannya. Jadwalnya jadi kaya masih sekolah gitu. Ga berantakan kaya di semester tiga dan semester seterusnya.

Awal memasuki semester tiga, aku harus mengisi kartu akademik dengan SKS yang akan kupilih. Di semester tiga ini nih kita bisa milih mau ambil mata kuliah apa di samping mata kuliah wajib yang sudah di tentukan. Saat itu aku mengambil total SKS di semester 3 sebanyak 18 SKS. FYI, banyak mahasiswa yang rela begadang nungguin situs akademik buka demi bisa dapat mata kuliah pilihan yang diingini loh. Biasanya sih mata kuliah yang vitamin A gitu, alias udah pasti dapet A seperti Psikologi Persepsi misalnya.

Di TI itu, kerja berkelompok adalah makanan sehari-hari. Sepertinya semua tugas itu dikerjakan secara berkelompok deh. Udah gitu aku harus mulai membiasakan diri untuk tidur larut karena selain harus bisa membagi waktu buat kerjain tugas akademik, aku juga harus menyelesaikan tugas osjur yang segabrek. Ah. Rasanya aku menjalani osjur itu selama tiga bulan deh. Yang berarti hampir satu semester aku harus management waktu antara akademik dan osjur. Berhubung di ITB itu satu semester bisa dibilang cuma empat bulan, sisanya ujian dan liburan. Wah pokoknya antara otak dan fisik benar-benar digenjot deh.

Masuk semester tiga itu pertama kalinya aku tidur subuh. Hampir setiap malam rasanya. Padahal dulu di tingkat satu aku itu tidur bisa dari jam 22.00 WIB. Nah di semester tiga ini aku baru bisa tidur jam 03.00 WIB. Gila kan?! Buat aku sih gila. Tapi kalau kata kakak kelas dan ada dosen juga sih yang bilang, tidur subuh itu sudah biasa lah di ITB. Hmm. Jujur aku benci harus tidur kurang. Jadi teringat segitiga dilema mahasiswa. Jadi ada semacam segitiga sama sisi, sudut yang satu itu tidur cukup, sudut yang lainnya itu akademik yang baik, dan satu lagi adalah berorganisasi.

Segitiga Mahasiswa

Kita sebagai mahasiswa itu hanya akan bisa sanggup memenuhi dua sudut saja. Misal, kalau aku mau tidur cukup dan berorganisasi, berarti nilai akademikku akan biasa-biasa saja. Sedangkan kalau aku mau tidur cukup dan nilai akademik yang bagus, berarti aku pasti tidak aktif berorganisasi. Well kalau dipikir-pikir segitiga dilema itu bener juga loh. Kalau mau excellent tiga-tiganya tuh pasti ga bisa deh. Kecuali lo jenius abis. Hahaha. Buat aku sih jadinya ya tinggal tuker-tuker aja tuh. Pokoknya pasti cuma dua deh bisa kupenuhi, sisanya kukorbankan. Kebanyakan sih di semester tiga ini aku mengorbankan waktu tidurku. Habis mau gimana lagi. Kalau engga aku ga bisa menyelesaikan tugas akademik dan himpunan.

Di semester tiga itu ada namanya mata kuliah Dasar Perancangan Teknik Industri (DPTI). Mata kuliah ini tuh ada praktikumnya gitu. Tugas besarnya bikin part-part gitu di aplikasi SolidWorks yang sebelumnya selama perkuliahan itu diajarkan apa itu gambar teknik, gimana cara pakai Solid Works dan sebagainya dan sebagainya. Wah pokoknya tugas besar DPTI ini nih yang bikin nguras waktu banget. Gimana engga. Jadi tuh kami akan terbagi menjadi tiga kelompok besar. Ada yang ngurusin mesin bubut, ada yang mesin gergaji, dan ada mesin milling kalau tak salah. Aku sih masuk ke dalam kelompok mesin bubut. Di waktu praktikum, kelompok mesin bubut akan mereteli itu mesin dan di kelompok mesin bubut sendiri akan dibagi lagi. Aku lupa dibagi jadi berapa kelompok yang jelas masing-masing kelompok kecil mesin bubut itu akan kebagian part. Tugas kelompok kecil ya bikin 3D model itu part di SolidWorks. Kemudian nanti akan ditunjuk Penanggung Jawab (PJ) Bill of Material (BOM) dan ada PJ Assembly. Soalnya nanti dari kelompok kecil ini sendiri akan bikin part-part dan menggabungkan part tersebut menjadi sub-assembly part. Nah nanti dari part-part sub-assembly kelompok-kelompok kecil itu akan digabungkan kembali oleh PJ Assembly hingga terbentuklah model 3D mesin bubut yang utuh.

Kalian pasti membayangkannya ini mudah. Kenyataannya? Gile ini nih tugas besar pemecah angkatan! Soalnya kan kadang ada aja gitu kelompok yang bikin part-nya asal jadi. Alhasil ukurannya tidak sesuai dan pas di-assembly tuh tidak pas. Udah gitu buat ngegabungin part-part sub-assembly ini tuh butuh spek komputer yang wah lah. Bahkan bikinnya tuh harus di PC bukan di laptop. Soalnya kalau di laptop, dijamin laptopmu nge-hang. Berat banget deh buat ngejalanin aplikasinya. Bahkan kalau yang ga kuat-kuat nahan amarah, bisa-bisa meledak dan berakhir dengan keributan angkatan. Hahaha. Puji Tuhan angkatan aku bisa menyelesaikan tugas besar ini dengan baik. Walau pasti ada deh hati dongkol karena sebel dengan kerjaan teman yang ga bener. Hahaha.

Di samping tugas DPTI ini, ya kembali lagi, aku dan teman-teman 2011 harus menyelesaikan tugas osjur berupa buku angkatan, buku massa, dan tugas-tugas perintilan lainnya. Wah hidup tak tenang deh di semester tiga ini. Masa-masa semester tiga ini memang masa yang senang untuk dikenang namun tak akan pernah mau diulang. Hahaha.

Oh ya, sebenarnya si DPTI ini sudah tidak ada lagi di semester 3 TI. Gantinya ya anak-anak TPB ini akan merasakan mata kuliah Gambar Teknik. Waduh pas aku mendengar DPTI dimasukkan sebagai SKS Wajib TPB aku cuma tertawa saja. Selamat ya adek-adek TPB, semoga SolidWorks-nya ga error dan bisa solid satu angkatan. Hihihi.

Ah udah dulu deh cuap-cuapnya. Nanti disambung lagi. Cao~

No comments:

Post a Comment