Pregnancy - Our First Meet

August 22, 2022

Saat masih dalam kandungan, tentu saja ada rasa penasaran dan keinginan untuk segera bertemu dengan si buah hati. Untunglah sekarang sudah ada teknologi USG 4D, jadi kita bisa melihat gambaran rupa si bayi meski masih di dalam perut. Semasa hamil, gw melakukan 2x pengambilan USG 4D ini. Pertama kali USG 4D, baby Z menampilkan pose muka datar dengan alisnya yang mengkerut. USG 4D yang kedua, baby Z menampilkan pose duck face dengan pipi chubby-nya. Sungguh menggemaskan dan rasanya ingin segera berjumpa dengannya.

Saat kontrol kehamilan terakhir kalinya tanggal 13 Juli 2022, gw dan Mr. Q sudah book tanggal lahiran di RS. Yah apa daya, Tuhan punya rencana sendiri. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Tanggal 16 Juli 2022 kemarin merupakan our first meet with baby Z. Yup, insiden pecah ketuban membuat gw harus lahiran di hari itu, melenceng dari rencana yang sudah ditetapkan. But it's ok, semua hari baik kok. ^^

Kala itu gw harus menunggu hasil PCR negatif terlebih dahulu supaya operasi bisa dilakukan di gedung utama. Kalau hasil PCR belum keluar, operasinya hanya bisa dilakukan di ruang operasi darurat which is kurang nyaman lah. Jadi dr. Hendrik Sutopo (dokter kandungan gw) menyarankan untuk tunggu saja hasilnya, toh memang kondisi gw masih memungkinkan untuk menunggu hingga jam 1 siang.

Selama menunggu itu gw diberikan obat infus untuk meredakan kontraksi. Mau tau gimana rasanya kontraksi? Perut tiba-tiba mengeras diiringi dengan rasa sakit. Rasa sakitnya seperti rasa sakit menstruasi hari pertama gitu deh. Mulas-mulas gimana gitu. Tiap gw merasakan kontraksi, gw diminta untuk memanggil suster. Nah saat dipanggil, suster mengatur aliran infus obat. Jadi kadang dinaikan dan kadang diturunkan gitu alirannya. Pengaruh obatnya cukup cepat, kontraksi lambat laun berkurang. Namun sesekali gw merasakan air ketuban masih suka keluar. Sungguh tak nyaman rasanya.

Puji Tuhan hasil PCR-nya keluar lebih cepat, sehingga jam operasi pun maju setengah jam. Sebelumnya, gw dibawa ke ruang persiapan operasi menggunakan kursi roda. Mungkin sekitar jam 11an gw mulai diboyong ke ruang persiapan operasi. Di sana, baju gw diganti menjadi baju operasi dan bagian belakang gw diberikan salep gitu. Kata suster sih itu salep supaya gw merasa baal ketika gw disuntik bius lokal. Infus gw pun diganti menjadi cairan lain yang entah itu buat apa. Saat gw diinfus, rasa sakit ditusuknya lebih mantep daripada rasa sakit ditusuk oleh jarum infus yang pernah gw rasakan. Suster memang sudah memperingatkan bahwa akan terasa sakit karena jarum infusnya besar. Sampai tulisan ini dipos, bekas tusukan jarum infusnya masih ada loh di tangan gw. Hmm.

Setelah persiapan selesai, gw hanya terbaring saja di kasur menunggu jam operasi dimulai. Di sebelah kiri gw, sudah ada satu ibu yang juga akan dioperasi hari itu. Ibu itu terlebih dahulu masuk ke ruang operasi. Ga seberapa lama, giliran gw deh yang akan masuk untuk dibelek operasi. Perasaan gw mulai menegang. Gw bertanya pada suster yang ngurusin gw di sana soal seberapa sakit sih suntikan obat bius itu. Konon kata orang-orang kan sakit banget. Plus penasaran juga bagaimana rasanya nanti dibelek. Suster mengatakan bahwa lebih sakit saat dipasang infus tadi daripada disuntik bius lokal. Selain itu lahiran c-sect itu tidak berasa sakit sama sekali. Hanya seperti dipegang-pegang. Oke baik, gw mulai membayangkan apa yang suster tadi ucapkan. Sepertinya suster ini sudah pengalaman operasi c-sect karena dari ucapannya seperti sharing pengalaman dia saat operasi dulu. Semoga operasi gw nanti berjalan lancar. Amin.

Di dalam ruang operasi gw melihat lampu operasi, beberapa suster, dan alat-alat operasi lainnya. Penampakan yang suka gw lihat dari series The Good Doctor gitu. Gw diangkat oleh tiga suster (kalo ga salah ingat) dari kasur ruang persiapan operasi ke kasur ruang operasi. Karena kasurnya lebih kecil, gw diminta untuk tidak banyak bergerak. Lalu ada tumpuan untuk meletakan tangan gw yang direntangkan. Tangan kanan gw dipasang alat ukur tekanan darah sedangkan tangan kiri gw terpasang infusan. Sebelum dipasang alat ukur tekanan darah, gw diminta untuk duduk oleh dokter anestesi dan disuntikan obat bius lokal di punggung bawah gw, tempat si salep sebelumnya diolehkan. Oke betul kata si suster tadi, rasa sakitnya lebih sakitan saat jarum infus ditancapkan. Yang ini mah ga gitu berasa sakit, kaya digigit semut aja. Malah lebih sakitan suntik vaksin Covid deh.

Seusai dibius, dr. Dedy (dokter anestesi) bertanya apakah gw merasakan kaki gw kesemutan. Gw jawab iya. Lebih kaya aliran listrik (?) yang menjalar setiap kali kaki gw dipegang. Lalu dr. Dedy seperti menyuntikkan jarum di perut kiri gw. Gw sebetulnya ga bisa melihat apa yang sedang dr. Dedy lakukan karena sudah terbentang tirai dari baju operasi gw menutupi area dari dada gw ke bawah. Gw bilang saja kalau terasa sakit. Kemudian dr. Dedy bingung dan sepertinya menyuntikkan kembali jarum di perut kanan gw. Gw refleks bilang, "aw"-saat dr. Dedy melakukan tindakannya. Kemudian dr. Dedy bilang ke gw kalo gw harus bisa bedain mana rasa sakit dan bukan. Sepertinya dr. Dedy bingung kenapa gw masih merasa sakit. Akhirnya dr. Dedy melakukan tes dengan mengusapkan kapas yang sudah diberi alkohol pada bahu gw dan bertanya,"Di sini kamu rasakan dingin ga?" "Iya dok." "Kalau di sini (area perut gw) rasanya dingin ga?" "Engga dok. Cuma kaya diusap aja." "Nah itu artinya biusnya bekerja. Sekarang kamu coba angkat kaki kamu. Bisa ga?" Otak gw pun mulai mengirimkan sinyal-sinyal perintah kepada kaki gw untuk diangkat. "Ga bisa diangkat dok." Wow jadi gini ya rasanya dibius setengah badan. 😯 "Ga bisa kan? Yaudah berarti obat biusnya bekerja."

Tak berapa lama, giliran dr, Hendrik beserta dr. Mediana (selaku dokter asisten dalam operasi ini) datang dan bersiap untuk membedah gw. "Halo Frisca. Kita mau mulai ya operasinya. Kamu mau diputarin lagu apa?" "Hmm, apa aja dok." "Yauda saya puterin lagu instrumental aja ya biar kamu rileks." "Ok dok."

Terus mulai deh intro kaya di film-film bergenre kedokteran yang menandakan dimulainya operasi. Gw dalam keadaan sadar saat itu karena tidak dibius total. Perasaan tegang mulai menjalar. Rasanya badan gw mulai gemetaran. Gw cuma bisa pasrah dan dalam hati berdoa kepada Tuhan meminta kekuatan untuk melewati operasi ini. Ga lama, gw merasa perut gw mulai diobok-obok. Tapi tentu saja gw ga melihat pembedahannya karena ditutupi oleh tirai dari baju operasi gw itu.

Begini toh rasanya dioperasi setengah sadar, batin gw. Lama-kelamaan, gw merasa kesulitan bernafas, bak berada di ruang hampa udara. Meski sebetulnya gw juga ga tau sih rasanya ada di ruang hampa udara bagaimana. Tapi kondisi gw saat itu terbayang seperti berada dalam ruang hampa udara. Berusaha menghirup udara, tapi rasanya tak ada oksigen yang kunjung masuk ke paru-paru gw. πŸ˜–

"Sus, engap," ucap gw dengan lemah.

Selang oksigen pun ga lama dipasangkan di hidung gw.

"Hirup ya oksigennya," ucap salah satu suster.

Gw berusaha menghirup oksigen yang dipasang. Rasanya sama saja. Tak ada bedanya saat sebelum dipasang selang oksigen maupun sesudah dipasangkan.

"Tetap engap sus."

"Maaf ya saya dongakkan kepala ibu supaya nafasnya mudah."

Suster pun mendongakkan kepala gw. But nothing change. Dalam hati gw berkata hanya ingin melewati ini sekali saja. Ga mau lagi deh rasanya dioperasi kaya begini. Tak lupa gw juga berdoa juga kepada Yang Maha Kuasa supaya gw bisa melewati ini. Mata gw terpejam. Kesadaran gw sepertinya mulai hilang karena gw mulai tertidur.

"Bu ... buuu ...," panggil suster yang memasang selang oksigen tadi sembari mengguncang pundak kanan gw.

Gw ingin menjawab "iya" kepada suster itu tapi rasanya malas untuk mengeluarkan suara karena kesulitan bernafas ini. Jadi gw jawab dengan membuka mata gw yang sedari tadi terpejam.

Tak lama ...

"Happy birthday yaaa. Selamat ya bayinya sudah lahir dengan selamat. Sehat dan normal," ucap dr. Hendrik sembari menunjukkan bayi yang masih merah dan basah. Berlumur air ketuban dan darah.

Perasaan gw saat itu to be honest agak takjub karena beneran tidak berasa sama sekali sayatan pisau bedah. Tau-tau baby Z sudah lahir saja. Selain itu perasaan bahagia belum gw rasakan saat itu karena gw sedang berjuang untuk bernafas dan ingin operasi ini segera selesai.

Setelah baby Z dibungkus kain, muka baby Z ditempelkan dengan muka gw. Tak lupa suster mengabadikan momen tersebut. Tentu saja gw masih agak setengah sadar saat itu. Tak ada senyum yang gw kembangkan saat difoto. Meski sebetulnya mulut gw ditutup masker juga sih jadi ga akan kelihatan juga kalau gw tersenyum atau tidak. Namun bisa terlihat dari mata gw yang tak memancarkan mata senyum. Tau kan kalau tersenyum mata kita terlihat 'tersenyum' juga? Nah di foto, mata gw menunjukkan mata yang 'jutek'. 🀣

Sesi foto selesai, baby Z dibawa keluar dari ruang operasi untuk dibersihkan. Dr. Hendrik dan tim juga kembali melakukan closing operasi, yaitu dengan menjahit perut gw. Again, gw merasakan perut gw seperti diobok-obok. Tapi tusukan jarum jahit tak gw rasakan. Gw fokus memperhatikan pembicaraan dr. Hendrik dan dr. Mediana untuk mengalihkan perhatian gw dari rasa diobok-obok itu. Mereka sedang berbincang tentang pertemuan yang mereka lakukan di minggu lalu sepertinya. Gw juga mendengar arahan dr. Hendrik kepada dr. Mediana. Sepertinya sedang diajarkan untuk menjahit yang rapi? Entahlah. Gw tidak begitu jelas juga nguping pembicaraan kakak-beradik ini. Yes, dr. Hendrik dan dr. Mediana ini bersaudara.

Kemudian dari kejauhan gw mendengar tangisan pertama baby Z yang sepertinya sedang dibersihkan oleh suster. "Eaaa ... Eaaa ... E ... aaa ..." Suara tangisannya tidak begitu cempreng dan menggebu-gebu. Namun suara tangisan itu rasanya memberikan kebahagiaan di hati gw saat itu. Syukur kepada Tuhan baby Z bisa lahir dengan selamat.

Setelah operasi gw selesai, gw dibawa ke ruang observasi. Gw hanya terbaring lemah dan badan gw menggigil. Gw pun bilang ke suster di sana bahwa badan gw rasanya gemetaran. Tapi sepertinya ini adalah reaksi yang wajar. Salah satu efek samping dari obat bius. Jadi suster pun tidak melakukan tindakan apapun. Gw hanya bisa menahan rasa menggigil itu dan tak lama tertidur. Dua jam gw di ruang observasi sebelum akhirnya dibawa ke kamar inap gw, kamar nomor 202.

Di kamar sudah ada Mr. Q yang menunggu, namun baby Z masih belum dibawa ke kamar. Infonya akan diantar nanti. Dua suster membantu gw berpindah kasur dan memakaikan korset after melahirkan. Tentu saja korset bawaan sendiri karena memang menjadi salah satu hal yang harus dibawa saat melahirkan. Gw sudah boleh makan dan minum saat itu. Beda dengan operasi c-sect terdahulu yang masih mengharuskan puasa setelah operasi, metode ERACS memperbolehkan pasien untuk makan dan minum setelah operasi. Mr. Q membantu gw makan dan minum dengan menyuapi bubur dan memberi minum air putih saat itu.

Tak lama dari itu suster dari ruang bayi mengantarkan baby Z ke kamar.

"Halo baby Z!" ucap gw yang masih terbaring lemah di kasur. Gw masih belum bisa menggendongnya, jadi cuma bisa mengusap-usapnya dari samping. Sungguh mungil makhluk yang ada di samping gw ini dan wajahnya masih terlihat tua karena keriput-keriput kulitnya. Terlihat juga ruam-ruam merah di leher dan tangannya. Baby Z lahir dengan berat 2,71 kg dan panjang 49 cm. Seulas senyum merekah di wajah gw melihat kehadiran makhluk kecil ini. Yaampun gw sudah jadi seorang ibu... 🀱🏻

12 comments:

  1. Mbak Frisca, congratulations, welcome to the world baby Z
    aku bacanya tegang, bersyukur ibu dan debay sehat sehat semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you kak Ainun πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

      Delete
  2. Pengalaman yang sangat menegangkan mbak, semuanya sama seperti istri saya waktu mau operasi Caesar. Katanya ditutupi tirai, terus tubuhnya di tes, udah kebal apa belum.

    Selamat mbak, sudah punya bayi imut πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo belom kebal, nanti kan kesakitan pas dibedah ya mas. Kaya di film House of the Dragon saat queen Aema melahirkan c-sect tanpa bius πŸ‘ Aku sampe ngilu-ngilu liatnya 🀣

      Makasih ya mas Agus πŸ™

      Delete
  3. Yaampun, Ciii, aku bacanya ikut deg-deg-an dan terharuuu. Berasa kayak lagi di ruang operasi nontonin Cici lagi di caesar πŸ˜‚. Selamat ya, Ci atas kelahiran baby Z! Semoga Z bisa menjadi anak yang berbakti pada orangtua dan semua doa yang terbaik untuknyaa πŸ₯Ί

    Ngomong-ngomong, bagaimana pemulihan pasca lahirannya, Ci? Cici bisa jalan setelah berapa jam pasca operasi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiinnn Lia! Makasih yak. Doa yang baik-baik juga untuk Lia.

      Kelar operasi jam 1 siang, jam 7 malem uda disuruh duduk dan jalan sama dokter. Cepet yak. Tapi benar-benar pulih sih semingguan Lia.

      Delete
  4. Welcommmeeee Baby Z... πŸ₯°
    Selamat buat Mba Fris dan misuaa.. Yihuyyy 😁 Semoga Baby Z tumbuh sehat dan selalu dicurahi kebahagiaan. Disayangi oleh semua orang..
    Ya ampunnn Mba. Dag dig dug ser aku bacanya.. Itu pas engap penyebabnya apa ya mba? Efek bius kah? atau efek karena di belek??. Aku pernah lihat proses Cesar di Internet. *Bukan animasi* dan ya ampun ngiluu banget lihatnya, Dokternya apa lagi, sat set sat set gtu ngeluarin bayinyaa.. Ya Ampunnn kadang smpe ngak ke proses di otakku kalau udah ngeliat dunia kesehatan tuhhh... πŸ˜‡

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Thank you Bayu untuk ucapan dan doanya. πŸ₯°πŸ₯°

      Kata dokter sih bisa jadi karena efek bius atau saat dibelek itu, ada organ yang tertekan. Aku ga berani Bayu untuk liat operasi sesar secara langsung gitu. Ngiluuuu ahahaha

      Delete
  5. Ya ampun.. Pika yg dioperasi kok g yg tegang bacanya 😡😡 Hebat banget perjuangan u, Pik. *huhu jadi terharu 🀧🀧*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Mei… Sini kukasih tissue πŸ˜†

      Delete
  6. woowww..maaf terlambat Fris tuk mengucapkan congratulation ya..selamat menjadi ibu...Best wishes wat baby Z dan semoga menjadi anak yang membuat bahagia dan bangga kedua orangtuanya..congratulation

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas Anton πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

      Delete

Powered by Blogger.