Jalan-Jalan ke Jepang: Osaka Museum of Housing and Living

Osaka Museum of Housing and Living

Sebelum aku ceritain jalan-jalanku di Osaka pada hari ketiga, aku mau bagiin itinerary yang telah aku suami buat.

Itinerary Hari Ketiga

Nah jadi pagi-pagi kami berangkat dari penginapan langsung ke Osaka Museum of Housing and Living yang berada di Tenjimbashi, Osaka. Sebelumnya, kami sarapan dulu cup noodle dari Jepang rasa kari. Enaak! Bedanya sama cup noodle di Indonesia, cup noodle ini tuh bumbu dan topping-nya ga diplastikin lagi. Jadi langsung saja seduh dengan air panas. Ga perlu acara gunting-gunting pembungkusnya kaya di Indonesia. Selain ga bikin banyak sampah plastik, juga bikin lebih cepat bikin mi instannya. Eh tapi karena ga diplastikin, jadi ga bisa seawet cup noodle Indonesia.

Sarapan Cup Noodle Rasa Kari

Oke lanjut! Kami memutuskan ke Osaka Museum of Housing and Living karena rekomendasi dari Kitin, teman kuliah kami dulu yang memang tinggal di Osaka saat ini. Sesuai dengan rute yang tertera pada itinerary, kami turun di stasiun Tenjimbashisujirukochome lalu jalan kaki ke Osaka Museum of Housing and Living.

Lokasi museum ini berada di sebuah gedung gitu. Kami sempat bingung menemukannya. Soalnya ga gitu keliatan sign dari museum ini!! Menurut Google Maps, kami sudah sampai di lokasi. Tapi saat melihat sekitar, kok kaya ga ada museum gitu. Oh ternyata oh ternyata, kami harus masuk ke dalam gedung gitu. Terus baru deh menemukan museumnya!!

Setelah melewati eskalator nan panjang, kami langsung melihat tempat masuk ke museum. Lalu kami membeli tiket masuk serta diminta untuk meletakkan barang-barang kami ke dalam loker. Iya, tas ga boleh masuk ke dalam museum. Jadi kami cuma bawa ponsel dan dompet. Setelah itu, kami pun memulai perjalanan seru kami di dalam museum.

Jadi pertama-tama kami lewat lorong gitu. Di lorong tersebut kita bisa melihat ke bawah lewat jendela kaca besar, lokasi desa Osaka jaman dulu. Bukan miniaturnya loh. Tapi dibuat replikanya gitu. Jadi kita beneran bisa berpetualang di desa itu. Tidak besar sih. Tapi cukup lah untuk merepresentasikan kota Osaka saat itu. Nah habis itu kita bisa masuk deh ke replika desa tadi. Ada toko mainan, toko aksesoris, toko alat tulis, toko buku, tempat permandian air panas, toko baju (kimono), juga rumah penduduk.

Saat memasuki desa, kita ditawarkan untuk menyewa kimono yang bisa kita pakai selama di museum. Tapi kami tidak sewa, selain karena mahal, juga karena sayang aja cuma pakai sebentar. Hehe.

Di area toko mainan, kita bisa mencoba permainan jaman dulu. Seperti baling-baling yang bisa berputar kalau kita gesek-gesekkan kayu ke batang baling-baling. Ada pula mainan dari kayu dan kain gitu yang kalau kita putar, dia akan berbalik-balik dan berubah warna. Sulit dijelaskan. Harus dicoba langsung! Hehe. Unik banget mainan yang satu ini.

Di area ini juga kita bisa nonton pemutaran film pendek gitu. Dalam Bahasa Jepang sih. Jadi aku ga begitu mengerti saat nonton. Intinya sih diceritakan tentang seorang anak kecil yang hilang dan dicari-cari di area pertokoan yang ada di museum tersebut.

Lampu dan back sound di area ini juga berubah loh. Jadi ada nuansa pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari. Bahkan ada nuansa hujan jugaa! Berasa beneran kaya di desa. Hehehe. Aku pun berasa kaya di luar ruangan gitu loh! Padahal sebenarnya ini tuh di dalam gedung. Pas lagi nuansa hujan, aku refleks bilang ke suami gini dong "Wah hujan!!! Kita ga bawa payung, ayo neduh!!!!" Terus langsung dikasih tampang meh sama suami dan bilang "Kita di dalam gedung oi!" Terus ku cuma bisa senyum dan garuk-garuk kepala. "Iya juga ya. Berasa kaya lagi di luar sih!!"

Lanjut ke area miniatur, di sini kita bisa lihat miniatur-miniatur kota Osaka dari masa ke masa. Sungguh cantik! Miniaturnya ada yang bisa bergerak juga. Keren sekali.

Osaka Museum of Housing and Living

Foto di atas dari kiri atas itu adalah tiket Osaka Museum of Housing and Living. Sebelah kanannya itu mesin jahit jaman dulu. Mesin jahit ini seperti mesin jahit mamaku yang digerakkan dengan menginjakkan kaki pada pedal supaya jarum jahitnya bisa bergerak. Lalu di kanan bawah itu foto toko mainan di area replika desa Osaka. Sebelahnya adalah foto yang kuambil dari area miniatur. Cantik ya miniaturnya!

Miniatur Taman Ria

Miniatur taman ria tersebut bisa bergerak loh! Sungguh cantik dan bagus! Terawat juga. Memang harga yang dibayarkan sebanding dengan perawatan yang dilakukan. Semoga museum di Indonesa bisa meniru perawatan yang ada di Jepang ini.

Miniatur Perlombaan Perahu

Mendekati jam makan siang, kami memutuskan untuk menyudahi sesi jalan-jalan kami di Osaka Museum of Housing and Living. Selanjutnya kami berjalan ke arah Den Den Town. Kami ga jadi ke Shinsekai karena tidak memungkinkan bagi kami untuk ke sana. Sudah keburu kelaparan. Jadi kami pilih makan siang di kedai seadanya. Eh tapi ga seadanya juga sih. Kami makan di Ehiya yang berlokasi di pasar gitu. Tapi rasa tendon yang kami pesan super enak!

Tendon ini adalah rice bowl gitu dengan beberapa macam gorengan. Ada tempura alias udang goreng, ubi goreng, ikan goreng, serta telur goreng. Wah ini enak banget! Padahal tempatnya ga begitu besar dan berada di pasar gitu. Tapi rasanya uenak pol!

Usai makan kenyang, kami belanja ria deh di Den Den Town. Di sini tempatnya buat para pecinta anime. Action figure di sini murah-murah loh! Perlu dicatat, soal harga di sini menurutku paling murah sih. Soalnya kalau di Yodobashi gitu masih lebih mahal sedikiittt. Bahkan dibanding di Radiokaikan pun masih lebih murah di sini. Menyesal ga beli banyakan di sini #eh

Kalap Liat Spot Studi Ghibli

Sesuai jadwal, kami ga bisa berlama-lama di Den Den Town. Makanya kami ga begitu banyak belanja di sana. Dari Den Den Town kami jalan kaki ke Namba-Yasaka Shrine. Iyah jalan kaki ๐Ÿ˜ฃ FYI, jaraknya sekitar 1 km lebih... Pas jalan ke arah Namba-Yasaka Shrine ini, suami berasa napak tilas ke tempat penginapan dia di Osaka tahun lalu. Benar saja! Ternyata di sebrang Namba-Yasaka Shrine ini adalah penginapan doi. Tapi saat itu, dia malah ga ke Namba-Yasaka Shrine yang cuma tinggal nyebrang selemparan batu doang. Eh malah ke Namba-Yasaka Shrine sama aku yang butuh effort jalan kaki 1 km. HAHAHA.

Namba-Yasaka Shrine ini khasnya adalah patung kepala singa besar. Jadi pastikan untuk berfoto bersama icon Namba-Yasaka Shrine ini. Hehee.

Namba-Yasaka Shrine

Usai foto-foto di Namba-Yasaka Shrine, kami melanjutkan perjalanan kami untuk shopping spree ke Yodobashi dan Hankyu Sanba Gai. Untuk mencapai dua toko ini, kami ke Namba Station dan turun di Umeda Station. Di sini kami belanja sambil nunggu Kitin yang kami ajak untuk ketemuan.

Oia, di sini aku memohon sama suami untuk mampir ke toko sepatu karena aku ga kuat lagi untuk pakai ankle boots. Sumpah ya. Mau sok gaya-gayaan tuh cuma menyiksa diri ini. Dari awalnya aku pede untuk pakai boots terus selama di Jepang, akhirnya hari ini aku nyerah juga dengan beli sneakers. Soalnya aku jalan uda kaya siput. Apalagi kalau nemu tangga! Beuh like hell! Jadi saranku, kalau mau gaya sok-sokan pakai heels, mending bawa sepatu cadangan juga. ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

Di Hankyu, banyak barang yang unik-unik. Salah satunya benih tanaman yang bisa kita tumbuhkan di rumah. Tempatnya di dalam botol kecil, ada juga yang di semacam keramik? Ingin kubeli rasanya, eh tapi ga bisa karena itu tanaman. Nanti kena di imigrasi lagi.

Nanam Nanas?

Setelah bertemu Kitin, kami melepas rindu dan kami diajak kitin makan ramen kaldu kerang di tempat langganan doi. Awalnya kami mau makan ke kedai yang menjual kushikatsu enak. Eh tapi kedainya tutup dong. Apes... Jadi kami diboyong untuk cobain ramen kaldu kerang deh yang tidak jauh dari Umeda.

Tempat ramen ini dua lantai, namun tetap saja kecil. Buat makan di sini kami harus nunggu 3 antrian. Wuooow ramenyaa. Kata Kitin, tempat ini terkenal dan ga heran makannya harus antri. Untuk antrinya, kami berdiri di luar kedai, ada spot untuk antrinya gitu pake tiang. Pernah ingat ga antrian boba Xin Fu Tang pas baru buka? Nah antrinya begitu kira-kira kalau sedang ramai. Kitin bilang kami termasuk yang beruntung karena cuma menunggu 3 antrian. Biasanya bisa kaya antrian Xin Fu Tang yang baru buka ituuu. Panjaaang bos kaya ular.

Berhubung sedang musim gugur dan malam hari, suhu saat itu cukup dingin buatku. Untung aku ga begitu lapar. Masih bisa tahan jadinya. Hehe. Kalau ke daerah sini, jangan lupa kalian cobain ramen kaldu kerang ini! Rasa ramennya lain daripada yang lain!!! Eh tapi buatku sih tetap masih lebih suka yang berkaldu creamy alias tonkotsu ramen. Cuma ramen yang ini unik rasanya dan enak.

Usai makan kenyang, aku bilang ke Kitin pengen ngerasain makan di izakaya. Lalu kami pun diantar untuk pergi sana. Hihihi. Izakaya itu semacam kedai angkringan malam gitu. Jual jajanan dan minuman keras tentunya.

Di izakaya yang kami pilih cap cip cup, kami pesan sate-satean dan cocktail. Kitin sendiri sih pesannya sake. Aku dipilihkan untuk beli cocktail karena rasanya manis dan enak. Betul loh rasanya enak!! Eh tapi kalau belum cukup umur jangan minum ya! Beralkohol. ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Meski kadar alkoholnya tidak begitu besar, mukaku merah dong kaya tomat!!! Wadow wadow. Disangka mabuk kali ya aku sama orang-orang. Padahal aku ga mabuk sama sekali loh! Paling sedikit keleyengan #eh

Setelah itu kami berpisah deeeh dan kembali ke tempat masing-masing. Kitin sendiri memang tinggal tidak jauh dari tempat penginapan kami. Paling beda satu stasiun saja....

Begitulah perjalanan hari ketiga kami di Osaka.

Kalau kalian, ada yang suka pergi ke museum juga? Atau shopping spree aja? Hehehe.

18 comments:

  1. Kalau liburan paling males ke museum! Paling suka ke tempat2 tourist hehe. Tapi ini museum nya bagus! Jadi pingin dikunjungi nanti kalau ada rejeki buat ke jepang☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya museumnya kalau bagus sih oke yaa... Tapi kalau yang ditampilkan berdebu dan ga terawat jadi males juga huhuhuu

      Ayo disusun duluuu jadwalnya. Manatau nanti bisa diwujudkan setelah corona usai hehe

      Delete
  2. Aku juga suka ke Museum, apalagi museum yang unik-unik gitu. Baca blog ini jadi pengen main ke Jepang.. dari dulu belum kesampaian, eh sampai akhirnya sekarang Covid huff.. Semoga covid cepet kelar dan bisa keluyuran lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiiinnn
      biar kesampaian main ke Jepang juga ya hehehe

      Delete
  3. Kadang saya suka main ke museum mba, tapi tergantung isi museumnya apa ๐Ÿ™ˆ kalau seperti yang mba jabarkan pasti saya akan suka. Sebab banyak yang dilihat dan nggak monoton isinya ๐Ÿ˜†

    Nah kalau soal belanja jangan tanyaaa ~ suka banget tapi lebih buat lihat-lihat sebab tau diri kopernya nggak akan muat. Nama pun ke mana-mana cuma bawa koper kabin jadi nggak mungkin belanja nanti mau taruh di mana belanjaannya ๐Ÿคฃ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang ga disukain museum apa kak? hehehe

      yaaaah emg sengaja bawa kopernya koper kabin yaa
      aku sih emg niatan belanja banyak jadilah bawa koper besaar dan koper kosong hehehehe

      Delete
  4. Totoro!!!! i love that creatures ..
    atie masih belum kesini lagi, di osaka tak pernah jalan-jalan yet kecuali Umeda Shopping Arcade itu juga hanya sebentar,mostly touch down then terus shinkansen ke Tokyo atau Lain2... Hope after covid bisa jalan2 ke Osaka dan bisa explore

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin Atie
      Kenapa buru-buru pergi dari Osaka? hihi
      Lain kali coba explore lebih deh di Osaka
      aku malah lebih suka di Osaka ketimbang Tokyo >.<

      Delete
  5. Waaah Osaka ya. Aku ingatnya sekitar 10 tahun lalu, sepakbola Liga Champion Asia. Tim asal kota itu, Gamba Osaka FC menjadi juaranya. Kemudian, di tahun berikutnya. di babak penyisihan grup, Gamba Osaka bertemu dengan klub asal Indonesia, Sriwijaya FC. Hasilnya udah jelas, Sriwijaya kalah dari Gamba Osaka ๐Ÿ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaaaah jadi sepak bola ๐Ÿ˜‚
      aku malah buta soal sepak bola hehehe

      Delete
  6. 7 tahun tinggal di daerah yang cuma setengah jam dari Osaka, kok ya saya belum pernah ke Museum itu... ^^"

    Ke Den den town sama Namba Shrine-nya juga belum, dong... *facepalm*

    Paling rajin cuma ke Yodobashi Camera, menikmati gadeget-gadget terkini. Lihat dan ngetest-ngetest doang tapi, beli kaga XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. biasanya gitu sih memang kak. Kalau tinggal menetap di kota itu, malah ga explore ke mana2 hihih
      musti jadi turis dulu baru explore deh hehehe

      Iya seru ya ke Yodobashi
      aku bisa berjam-jam cuma di situ doang hehehe

      Delete
  7. Hai Frisca, kalau saya gak suka dua-duanya hahaha. Gak suka ke museum, gak suka belanja. Tapi menikmati cerita orang-orang yang ke sana. Saya sendiri baru tau ada shrine yang gak harus pake gerbang torii atau bangunan merah, Namba-Yasaka shrine unik banget! Kayak pas berdoa bisa dimakan sama kepala singanya hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah ini jalan-jalan yang paling hemat nih kak hehehe Ga perlu keluar uang tapi merasakan seperti sudah ke sana juga ya? hehe

      Iya biasanya banyak kan ya yang pake bangunan merah. Nah ini bentuk kepala singa gitu. Hehe Makanya aku sengaja sempatin datang ke sini buat liat langsung hehehe

      Delete
  8. Ramen kaldu kerang nya itu pake kerupuk ya mbak? Cara santap nya gimana itu pake nasi atau ketan?? ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang warna pink di pinggirnya itu??? Sayang sekali itu bukan kerupuk pasir/kerupuk kupat padang kak! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Itu sejujurnya slice of meat gituuu.

      Cara santapnya seperti makan ramen pada umumnya kok kak ๐Ÿ˜†
      Pakai sumpit untuk ambil mi dan sendok untuk minum kuahnya. Hehe

      Delete
  9. Aku cateeeetttt museumnyaaa :D. Sbnrnya THN depan itu planning ku ke Jepang lagi mba. Mau jelajah selatan dan Utara. Tapi aku dgr Jepang baru buka bordernya April 2021. Sementara aku mau kesana pas winter. Jd kayaknya bakal diundur LG sih.

    Seruuu banget museumnya, bisa kayak berasa di luar :). Fix aku catet :).

    Eh mie ramen kerangnya juga menarik. Akupun suka ramen. Pas di Jepang, bbrp kali makan mie ramen, walo agak susah nyari yg kaldunya bukan pork :D. Tp Nemu juga. Di Hachinohe aku Nyasar dan akhirnya makan di warung ramen, kecil, tp ternyata enaaaakkkk :D. Bisa jd karena laper juga, mana winter dan suhu minus hahahahaha.

    Tapi kalo disuruh milih aku jg LBH suka ramen yg kaldunya creamy mba. Kayak ramen Honolu tuh. Abis pilihanku ga banyak kalo udh menyangkut ramen :)

    ReplyDelete
  10. Wadow itu jelajahnya dari ujung atas ke ujung bawah yaak.
    Diundur jadi Desember 2021 dong ya kak?

    Iya aku tanpa sadar ngira lagi di luar ruangan..Padahal itu di dalem gedung ๐Ÿ˜…

    Wah iya, buat ramen halal agak susah ya nyarinya karena hampir semuanya mengandung pork. Tapi kayanya sekarang-sekarang ini Jepang sudah mengagaskan untuk menjual makanan halal karena tau turis Indonesia banyak yang ga makan pork hehe

    Iya aku juga lebih suka yang creamy alias dimasak ala tonkotsu gituu seperti ichiran ramen hehe Eh tapi ini non-halal >.<

    ReplyDelete

Follow Me

Instagram

Labels