Tuesday, May 8, 2018

Menerima Bantuan

Sudah dua minggu lebih aku tinggal bersama adikku di Jakarta Barat. Akhirnya aku mulai menemukan ritme yang pas untuk pergi-pulang ke kantor. Awal-awal kos di JakBar, aku bangun jam 5 pagi, alhasil aku kepagian datang ke kantor. (・∀・) Jadi aku memutuskan untuk bangun jam 6 pagi saja dan berangkat sekitar jam 7 pagi. Hasilnya aku sampai kantor sekitar jam 8 pagi. Waktu yang pas buat aku datang ke kantor. Hehe.
Buat yang pernah baca posku tentang transportasi umum yang kugunakan untuk pulang pergi kos-kantor, tentu kalian tahu kalau aku harus berjalan kaki dari halte Tebet hingga ke kantor. Nah selama melakoni ritme tersebut, sudah dua kali aku bertemu dengan mamang ojek online (ojol) yang berbaik hati mengantarkanku ke kantor dengan gratis. Yaah sebenarnya ada juga sih yang simbiosis mutualisme....Hah maksudnya???

Sumber: Pickthebrain.com

Jadi gini, pengalaman pertama mendapat kebaikan hati mamang ojol itu saat aku sedang asik-asiknya jalan kaki, tiba-tiba ada satu mamang ojol menegurku dari atas motornya. Ia menanyakan apakah aku menggunakan aplikasi ojol Grab. Kujawab saja kalau aku memang punya aplikasi tersebut dan aku memang menggunakannya. Terus dia memintaku untuk menggunakan jasa Grab Now dengan tujuan Stasiun Kalibata supaya dia tidak narik kosong. Wah wah si mamang ojol ini cerdik sekali memanfaatkan celah dari sistem Grab Now tersebut untuk mendapatkan poin tambahan.
Awalnya aku tak mau, tapi yasudahlah aku mengiyakan. Jadi kupesan tuh jasanya dengan menggunakan Grab Now. Jujur ini baru pertama kalinya aku menggunakan Grab Now. Biasanya sih yang nunggu supir dulu gitu. Terus dia pun menawarkan untuk mengantarku hingga ke tujuanku karena sudah mau membantunya mendapatkan poin dari pemesanan Grab Now tersebut. Ah yasudah kunaik saja... Awalnya sih aku tak mau karena memang benar-benar sudah dekat, mungkin sekitar 200 meter lagi sampai ke kantor. Tapi dia tetap menawarkan karena mungkin ia tak enak hati sudah memintaku memenuhi permintaannya tersebut. Yasudah deh aku mengiyakan kembali.

Pengalaman kedua itu mirip. Tapi kali ini yang menegurku adalah mamang ojol dari Gojek. Berhubung Gojek tidak punya sistem seperti Grab Now, jadi si mamang Gojek ini memang pure mau membantuku karena ia merasa sayang saja kalau penumpangnya kosong. Sebelumnya sih si mamang Gojek ini menanyakan tujuanku ke mana. Kalau searah dengan Stasiun Kalibata (lagi-lagi mamang Ojolnya ke Stasiun), ia mau mengantarkanku. Awalnya sih aku menolak. Tapi dia tetap menawarkan dan akhirnya yasudah (lagi-lagi pasrah) aku naik juga.
Dia bercerita kalau ia memang sering menawarkan pejalan kaki untuk naik motornya dengan alasan sayang saja penumpangnya kosong. Dia juga memang bilang suka ada yang menolak karena mungkin si pejalan kaki takut. Terus dia bilang, buat apa takut, toh saya juga sudah tua, bukan mau godain gitu maksudnya. Hahaha si bapak... Menurutku sih wajar ada yang takut, secara di kota Jakarta ini kan tingkat kriminalnya tinggi. Jadi terkadang maksud baik dari seseorang suka disalahartikan sebaliknya. Hmmm. Awalnya juga aku mikir gitu pas aku pertama kali ditawari. Tapi karena itu masih pagi dan kalau diapa-apain aku bisa teriak, jadi aku ikut-ikut saja. Hahaha.

Dari kedua pengalaman tersebut, yah buat pengalaman kedua sih tentunya...ternyata di Jakarta ini masih ada orang berbaik hati. Kupikir di Jakarta ini orang-orangnya sudah individualis gitu. Tapi masih ada orang baik yang mau peduli kepada orang lain. Memang sih pasti yang awal ada di dalam pikiran si penerima bantuan adalah hal-hal negatif. Tapi begitulah...efek mendengar berita-berita kriminal yang berseliweran pasti jadi begitu. Mungkin kalau kalian di posisiku juga akan melakukan hal yang sama. Menolak pada awalnya. Hehe.

No comments:

Post a Comment